Our Love

Our Love
Episode 104 : Ulang Tahun Perusahaan (3)



Livia melepaskan pegangan tangan Jimmy darinya, "Aku akan bergabung dengannya."


Pria itu menarik paksa tangan gadis itu, "Jangan kau hancurkan acara ini dengan kau duduk bersamanya."


"Kau itu kenapa sih? Baru sehari jadi kakak angkatku malah seperti ini."


"Aku tidak akan seperti ini kalau kau menuruti perkataanku."


Livia menatap Robert seakan memberikan arti agar pria itu agar melepaskannya juga menyetujuinya, "Baiklah. Kau boleh berkumpul bersama dengan mereka." ujarnya.


Gadis itu menatap tajam ke Jimmy lalu meninggalkannya menuju meja dimana mama angkatnya juga Tasya berada. "Mama.." Ia tersenyum palsu padanya.


"Kakak sungguh akan menikah dengan Robert?" tanya Tasya dengan antusias.


Livia tersenyum, "Tentu saja."


Narul dan yang lainnya datang menghampiri Livia, kecuali Nia. "Via, selamat ya.." Ai Chan memeluknya.


"Makasih ya kalian sudah mau datang ke acara ini." ujar gadis itu.


Pintu ruangan auditorium terbuka membuat semua tamu memandang ke satu arah. Mereka terkejut akan kedatangan tamu yang tak diundang tengah berjalan santai menghampiri Livia. "Selamat ya kini kau resmi menjadi bagian dari keluarga ini." Tiara tersenyum padanya.


"Kenapa kau bisa berada disini?" Tanya Yeni kesal. "Kau tamu tak diharapkan."


"Aku yang mengundangnya." ujar Livia menjawab pertanyaan temannya.


Tiara tertawa kecil, "Kau sudah mendengarnya sendiri 'kan?"


"Kenapa kau malah mengundangnya sih? Kau lupa akan apa yang dia perbuat dulu padamu?" tanya Hanna yang juga tak terima akan hadirnya Tiara dalam acara tersebut.


Aku memang sengaja..


Nia berjalan menghampiri mereka, "Kalian masih tidak sadar juga? Livia sekarang bersekutu dengan Tiara."


"B..bersekutu? Jangan bicara sembarangan Nia." bela Livia.


"Aku tidak berbicara sembarangan. Apakah kalian masih ingat mengenai Tiara yang dulu mengaku-ngaku sebagai penerus terakhir keluarga Wijaya? Livia terdiam saja tidak melakukan apa-apa akan hal itu 'kan? Apa artinya coba kalau memang sudah sejak saat itu mereka bersekutu."


Livia tertawa tak jelas, ia sungguh tak percaya akan yang baru saja didengarnya.


Gadis itu tidak menyangka Nia akan menjadi seperti ini.


Dia menghela nafas dengan berat.


Inikah yang sebagian orang katakan bahwa, jika kau menceritakan semua masalahmu pada orang yang paling kau percayai maka, mereka akan membelamu apapun yang terjadi karena mereka sudah mengetahui apa yang sudah kau lalui selama ini.


Kini ia sadar. Semua itu bohong.


Hanya sebuah kalimat yang membuatmu merasa tenang saj, tapi kenyataannya tidak begitu.


Livia mempelajari suatu hal baru sekarang.


Jangan pernah menceritakan semua hal pada sahabat apalagi teman dekatmu sendiri. Suatu saat nanti jika kau dan dia bermusuhan maka, ia akan membongkar semua masalahmu termasuk aibmu pada semua orang.


Astaga.. kenapa rasanya sesakit ini?


Orang yang paling kita harapkan dari sahabat dan teman dekat yaitu saat ada masalah, maka merekalah orang paling depan untuk membelamu.


Tapi kenapa...


Kenapa justru sebagian dari mereka yang malah menyudutkan dan menyalahkanmu?


"Jadi begini ya rasanya..." Livia tertawa sedih, "Rasanya.. disaat aku sangat percaya padamu. Aku menceritakan semua masalahku, menceritakan rahasiaku padamu. Ini yang aku dapat?" Gadis itu menatap Nia, "Kau yang sekarang membenciku malah membalas dendam atas kesalahan yang tidak aku lakukan dengan mempermalukanku berulang kali di depan semua orang. Aku tidak menyangka kau bisa sejahat itu, Nia!!"


Nia terkejut mendengarnya, "K..kau?!" Gadis itu ikut mengela nafas dengan kesal, "Kau memang pantas mendapatkannya. Kini kau mau agar semua orang merasa kasihan padamu." Ia menatap Tiara lalu berbalik menatap Livia, "Atau jangan-jangan memang dari dulu kalian berdua bersengkongkol membuat drama dimana seakan-akan bahwa di dunia ini kau-lah yang paling kasihan dan orang lain harus merasa iba padamu, begitu? Astaga.. segitu rendahnya harga dirimu, hah? Sampai-sampai kau harus merasa dikasihani. Kau senang ya jadi perhatian semua orang?"


"Kalian tidak ada komentar?" Tiara menatap teman-teman Nia yang dari tadi tidak ada satu katapun keluar dari mulut mereka.


Jimmy berjalan memegang tangan wanita itu, "Meskipun Livia mengundangmu. Aku tidak perduli. Kau harus pergi dari sini."


Tiara menghempaskan tangan Jimmy darinya lalu berjalan menatap Livia, "Kini kau sadar 'kan bahwa mereka semua." Ia menunjuk semua teman-teman dekat gadis itu. "Tidak ada satupun dari mereka yang membelamu, Livia!!! Sadarlah mereka semua tidak ada yang baik."


"Lalu, kau? Memangnya kau merasa dirimu baik, hah?" Narul pun akhirnya bersuara.


Tiara tertawa kecil, "Setidaknya aku.." Wanita itu menatap Yeni dan Hanna dengan tajam lalu kembali melihat Narul, "Aku bukan anak dari orang tua pembunuh keluarga temanku sendiri."


Robert membalikkan Livia mencoba menghapus air mata kekasihnya, "Jangan menangis ada aku disini."


Wanita itu menatap Jimmy sekilas kemudian berbalik menatap semua orang yang berada disana. "Tidakkah kau sadar bahkan ada 2 munafik selain aku?"


Livia tertawa kecil mendengar ucapan Tiara yang menyinggung keluarga Yeni, Hanna dan Jimmy.


Inilah alasan kenapa ia mengundang Tiara.


"Kau!!! Pergi kau dari sini!!!" teriak Yeni yang dari tadi menahan emosinya.


Tiara pura-pura terkejut, "Aw.. kenapa kau marah sekali Yeni Kusuma? Jika Jimmy marah padaku itu wajar karena ini acaranya. Namun, kau hanyalah tamu sama sepertiku."


Hanna menatap Jimmy, "Tidak bisakah kau panggil security untuk membawanya?"


"Kau seharusnys berterima kasih karena kami tidak menuntutmu atas pengakuan palsu yang kau berikan pada Livia." ujar Ai Chan.


"Baru sekarang kalian membelanya?" Tiara berjalan menepuk pundak Livia, "Aku sangat kasihan padamu karena punya teman-teman seperti itu. Saat Nia marah dan mempermalukanmu mereka diam saja. Lalu, jika aku yang menyakitimu mereka sok bersikap bak pahlawan kesiangan untuk membelamu. Mungkin dulu aku tidak ada harga dirinya karena meminta kompensasi pada Yeni atas apa yang ia lakukan. Haduh.. aku bingung pada orang-orang yang mengatakan hal-hal jahat pada orang lain tapi, mereka suka tak sadar diri kalau diri mereka sendiri jauh lebih jahat."


Jimmy menyeret tangan Tiara, "Sudah cukup. Kau harus pergi dari sini."


Wanita itu terdiam lalu tersenyum, begitu pintu ruangan tersebut terbuka. Mereka berhenti, akan sebuah rekaman video yang termpang jelas. Semua orang fokus akan video itu sedangkan Tiara tersenyum puas.


Video yang mengejutkan semua orang termasuk para wartawan yang berada disana sibuk merekamnya.


Ya itu rekaman video tersebut diambil saat Tiara yang awalnya ingin mengunjungi Pak David (Papa Jimmy) justru malah mendapatkan momen emas (Ada di Part 71-72) dan sekarang inilah hadiah yang ingin dia berikan dalam acara ini.


Rekaman video tersebut berisikan tentang percakapan Papa Yeni, Papa Hanna dan Papa Jimmy.


"Hei.. kalian tidak ingin mengeluarkan aku dari penjara ?"


Papa Yeni berhenti memandang temannya yang kini menjadi tahanan, "Sepertinya lebih bagus karena aku bisa menghilangkan kau dari keinginanku untuk menguasai perusahaan Wijaya."


"Kau !!!!"


"Ah iya." Papa Yeni berjalan menghampirinya, "Kau pasti punya bukti kuat bahwa Livia adalah penerus asli kan ? Kalau kau ingin aku bebaskan dari sini maka, berikan informasi hal itu padaku. Hanya dengan itu kita akan menghancurkan wanita bernama Tiara itu. Bagaimana ? Kalau kau tidak mau ya tidak apa-apa, kau diam saja disini."


Itu diluar rencana Livia dengan Tiara, gadis itu bahkan tidak tahu sekali akan kejutan dari wanita tersebut. Tapi, ia menyukainya..


Livia menghapus air mata lalu berbalik menatap video yang ditampilkan itu.


Tiara memang hebat.


-To Be Continue-