
"Kakak kenapa terdiam seperti itu ?"
"Ada hal yang kakak pikirkan."
"Apa itu ?"
Jimmy tersenyum dan berbisik, "Bagaimana caranya membuat Livia mau menikah dengan kakak."
"Kakak. Kak Livia itu cocoknya dengan Kak Robert bukan dengan kakak."
"Ash.. cerewet."
1 jam berlalu, Jimmy masuk ke ruangannya mendapati Livia sedang asyik berkerja. Pria itu berjalan melihat apa yang gadis itu lakukan. "Ash.. Pak.. jangan muncul tiba-tiba seperti itu." Livia melepaskan earphone miliknya.
"Siapa coba yang berniat mengagetkanmu seperti itu. Makanya, kalau kerja jangan melamun."
"Siapa juga yang melamun. Oh iya, paman dan bibi serta Tasya mana ?"
"Mereka calon mertuamu jangan panggil paman dan bibi."
"Ck. Mereka calon papa dan mama angkat saya pak."
"Coba saya lihat video editanmu." Livia memutarkan video itu.
Setelah selesai Jimmy berjalan ke meja kerjanya, "Oke sudah bagus. Lanjutkan."
"Lanjutkan apa pak ? Saya kan hanya tinggal menunggu video selanjutnya dari devisi multimedia."
"Kerjaanmu yang aaya suruh translet mana ?"
"Sudah saya kirim ke email bapak."
"Kamu sudah tak ada kerjaan ?"
Livia menggeleng, "Tidak ada pak."
"Ya sudah kamu kemari." Livia menurutinya. "Duduk."
"Saya harus bantu bapak mengerjakan apa lagi ?"
Jimmy memberikan kalender, "Pilih tanggal dan bulan yang bagus menurutmu. Tapi, yang jatuh di hari sabtu atau minggu ya."
"Untuk apa ?"
"Pilih saja."
Livia merasa ada hal yang aneh. Ahh.. sudahlah mungkin dirinya yang lagi sensitif dan terlalu memikirkan hal-hal negatif. Dengan malas ia melihat setiap bulan dan tanggal yang ada. "Sudah pak. Tanggal 21 December 2019. Jatuh di hari sabtu."
Jimmy melingkari tanggal tersebut dengan pulpen merah, "Kenapa kau memilih tanggal tersebut ?"
"Saya hanya suka dengan waktu libur yang panjang menjelang natal dan tahun baru."
Jimmy tersenyum, "Oh ya ? Kau suka berlibur kemana ?"
"Banyak tempat yang saya ingin kunjungi sih pak. Kalau disuruh milih mungkin ke Kyoto, Jepang."
"Kenapa dari sekian banyak tempat kamu memilih itu ?"
Livia terdiam. Kenapa rasanya sama persis kayak di interview begini sih ?
"Saya suka dengan pemandangan disana. Ya.. walaupun saya melihatnya hanya dari TV dan internet sih. Tapi, sepertinya bagus."
Jimmy mengganguk, "Kalau disuruh memilih kamu mau liburan kesana berapa lama ?"
"Ya 2 minggu mungkin."
Jimmy menuliskan sesuatu di kalendernya, "Baiklah. Tanggal 21 December 2019 Hari pernikahan kita..." Ucapannya terhenti karena gadis itu memotong pembicaraannya.
Livia terkejut mendengarnya, "Bapak sudah gila ?"
Jimmy mengabaikan ucapannya, "Pada besoknya kita akan bulan madu ke Kyoto, Jepang selama 2 minggu. Oke FIX."
"Bapak mengerjai saya ?"
"Tidak."
"Saya tidak mau menikah dengan bapak."
"Saya tidak perduli."
"Pria sinting." Livia kembali ke meja kerjanya.
"Kenapa kau begitu kurang ajar sekali pada atasanmu ? Tidak pernahkah orang tuamu mengajari sopan santun?"
Ucapan Jimmy membuat Livia berhenti dan berbalik memandangnya tajam, "Tidak ada yang mengajari saya sopan santun karena orang tua saya sudah meninggal 12 tahun yang lalu. Saya sebatang kara dari kecil sampai sekarang. Kalau bapak mau pecat ya pecat saja. Saya tak perduli." Livia kembali ke meja kerjanya
Jimmy tersenyum kecil, "Maka dari itu karena kau sebatang kara di dunia ini. Kau harus menikah denganku agar bisa merasakan rasanya punya keluarga utuh." Tidak ada kata minta maaf yang keluar dari mulut pria itu karena sudah menyinggungnya. Biarkan saja. Dia sengaja ingin membuat gadis itu menderita beribu kali dari pada dirinya yang ditinggal oleh kakek dan neneknya akibat ulah gadis yang berada tak jauh dari hadapannya ini.
"Saya sudah merasakan punya keluarga dari Yeni dan Robert pak. Keluarga mereka sangat baik pada saya."
"Kau tak ingin menikah dan punya keluarga kecil ?"
"Kenapa orang tuamu meninggal ?"
"Bukankah kau sudah tahu alasannya."
"Ah, iya. Lupa. Karena kecelakaan mobil itu."
"Sampai sekarang aku belum tahu apa alasannya bisa sampai kecelakaan seperti itu ?"
Livia terdiam.
*Karena boneka yang kau berikan itu.
Gara-gara boneka itu terjatuh.
Gara-gara boneka itu orang tuaku meninggal.
Argh.. Dasar bodoh.. Boneka itu adalah benda mati yang tak bisa kau salahkan.
Aku lah yang menyebabkan mereka meninggal.
Ah.. haruskah aku menyerahkan diri ke polisi karena menjadi penyebab orang tuaku meninggal ?*
"Kenapa kau terdiam ?" Jimmy membuyarkan lamunan gadis itu.
"Tidak ada."
"Kau masih belum tanya apa alasan orang tuamu meninggal ?"
"Kau bisa tanya orang tuamu."
"Kau adalah saksi mata. Kenapa aku harus repot-repot bertanya sementara kau ada di depanku ?"
"Aku tak ingin membahasnya."
"Aku penasaran.. ayolah.." Livia mengabaikannya. "Ya sudah. Kalau kau tak mau beri jawaban maka akan aku percepat tanggal pernikahan kita."
Ya.. terserah.. Aku sudah lelah akan semua ini...
Jimmy menatap bingung karena gadis itu tak kunjung meresponnya. "Dari yang seharusnya kita menikah tanggal 21 December menjadi 8 September bulan depan tepat di hari ulang tahunmu."
Livia hanya bisa terdiam. Entahlah di pikirannya sudah penuh akan banyak masalah. Mengenai 2 laporan kampus yang harus ia selesaikan dalam 1 semester, Robert yang ingin mempertemukan dirinya dengan keluarga pria itu yang dimana ia belum siap sama sekali, Robert yang ingin berbalikan dengannya, info yang ia cari juga belum membuahkan hasil dan sekarang pria sinting itu membuat keputusan sendiri soal pernikahan mereka.
"Pak.. Kalau saya mengundurkan dari sini bisa?"
"Kau harus bayar ganti rugi. Masa kontrakmu belum selesai. Kenapa ?"
"Saya pusing pak. Tiap hari ketemu bapak tuh buat saya cape pikiran dan fisik untuk berdebat mulu sama bapak."
"Kamu sendiri yang tak mau menurut."
"Bagaimana saya bisa menurut kalau permintaan bapak aneh-aneh semua? Saya harus bayar ganti rugi berapa ?"
"500 juta. Kau tak'kan mampu bayar. Sudahlah disini saja sampai kau selesai magang. Lagian saya bingung ya sama kamu. Diajakin menikah kagak mau. Padahal di luar sana banyak yang mengantri untuk saya nikahi."
"Ya sudah nikahi saja mereka."
Jimmy menatap Livia sambil tersenyum, "Sayangnya saya lebih mencintai kamu. Gimana donk ?"
"Ya uda buang saja perasaan itu."
"Kamu tak menyesal ?"
"Tidak."
"Yakin ?"
"Iya."
"Kamu harusnya beruntung loh karena saya bisa cinta dan sayang sama kamu."
"Gitu ya ? Kalau bapak cinta saya, bapak akan mengabulkan semua permintaan saya ?"
"Tentu saja."
"Apapun ?"
"Apapun honey." Jimmy tersenyum.
"Kalau bapak cinta sama saya tolong kabulkan 1 permintaan saya."
"Apa itu sayang ?"
"Batalkan kontrak kerja saya disini."
Senyuman Jimmy lenyap begitu mendengarnya.
-To Be Continue-