
"Saat ibu Jasmine berkerja disini Pak David (Papa Jimmy) sudah menjadi CEO disini ?"
Bu Jasmine tersenyum, "Ya iyalah. Kan dia yang punya perusahaan ini."
"Oh gitu.." Livia terdiam. Jika ia bertanya langsung pada om David akan sangat mencurigakan. Apa yang harus ia lakukan untuk mencari informasi itu?
Sial.. mana Paman dan bibinya tak pernah memberitahunya saat ia pernah bertanya dan sekarang mereka sudah meninggal.
Aku harus menunggu selama 3 bulan ke depan agar bisa mencari informasi di rumah mereka..
Jinmy membuka pintu ruangannya, "Kau malah enak-enakkan duduk disini."
"Baru juga duduk sebentar. lagi pula pekerjaan saya sudah selesai."
"Siapa bilang ? Kau lupa, saya pernah memberimu tugas mentranslet dokumen-dokumen saya ?" (Baca Part 10)
Sial.. aku benar-benar lupa soal itu.
Livia hanya tersenyum kecil, "Lupa pak."
Jimmy menatapnya tajam, "Cepat masuk dan kerjakan !!"
Dengan malas Livia berjalan masuk ke dalam. "Sebanyak ini ?" Gadis berkacamata itu melihat ada banyak dokumen di mejanya.
"Ya. Sebanyak itu. Sambil menunggu video dari devisi Multimedia. Kau bisa mentranslet itu, adik angkatku ?" Livia mengabaikannya dan duduk mengerjakan tugas itu.
Jam makan siang....
Livia berjalan ke meja Jimmy, "Pak. Ini sudah jam makan siang. Saya pamit makan siang dulu ya."
"Kamu boleh makan siang nanti 10 menit lagi."
"Tapi pak.." Ucapan Livia terhenti saat perutnya berbunyi. Wajahnya seketika memerah.
Jimmy yang mendengarnya hanya tersenyum, "Ya sudah sana pergi. Cacingmu berteriak minta makan."
"Permisi."
"Kalau mau makan ya makan disini saja tidak usah makan di pantry setiap hari."
"Saya hari ini pergi keluar."
"Sama siapa ?"
"Dokter Robert."
Jimmy tampak memikirkan sesuatu, "Saya ikut."
Livia membulatkan matanya.
Ngapain pria ini ikut segala ?
"Bapak tidak salah ikut dengan kami ?"tanya nya pada Jimmy yang tengah memakai jas.
"Tidak salah. Ayo pergi." Jimmy mengunci pintu ruangannya, "Kau boleh makan siang dulu." Pria itu menarik tangan Livia.
"Jangan menarik tangan saya." Jimmy tidak mendengarkan dan malah menarik Livia masuk dalam lift. Sesampainya di Lobby, mereka jadi bahan tontonan.
Livia melepaskan tangan Jimmy yang dari tadi menariknya, "H..hai.." Gadis itu menatap Robert.
"Kenapa dia menarikmu sampai seperti itu ?"
Jimmy melipat kedua tangannya di dada, "Kau lupa kalau dia adalah...Aww.. Sakit Livia." Gadis itu mencubit tangan Jimmy.
"Ayo pergi." Livia menarik tangan Robert sementara Jimmy mengekori dari belakang.
"Kenapa dia mengikuti kita ?"
"Saya mau makan siang bersama kalian."
Robert menatap Livia meminta penjelasan, "Aku tidak tahu kenapa tiba-tiha dia ingin ikut." Livia memberhentikan angkot di depannya.
"Apakah harus naik angkot?"
"Jika tak mau ikut ya sudah." Robert menarik tangan Livia. Mereka berdua memang dari dulu kalau kemana-mana memang naik angkutan umum bahkan sejak dari masa pacaran. Maka dari itu lah, sisi Livia yang tak ia temui di wanita lain. Jimmy pun terpaksa mengikuti mereka dengan naik angkot.
Semasa hidupnya tak pernah sekalipun ia naik angkutan umum, hanya taksi yang pernah dinaikinya. Kalau bukan untuk mengacaukan kedua orang itu makan bersama dia juga ogah mengikuti mereka sampai disini.
5 menit kemudian mereka tiba di sebuah Mall. Gila mau ditaruh dimana wajah Jimmy kalau sampai teman-temannya tahu dia datang ke Mall dengan naik angkot. Ck.
"Ebi Furai. Sudah lama aku tak memakannya." Kedua pria itu tersenyum mendengarnya. Livia memang menyukai makanan itu sejak kecil bahkan dulu sering sekali pergi ke rumah Jimmy kecil hanya untuk memakan masakan itu buatan ibunya.
"Hitung saja untuk makanan saya dan gadis ini." Kedua pria itu mengucapkan hal yang sama.
"Sudah aku saja yang bayar Jimmy." Ujar Robert mengeluarkan dompetnya.
"Tidak.. tidak. Aku lah yang harus membayarnya. Aku tidak suka ada hutang dengan orang lain."
"Ya sudah. Mba, hitung punya saya dengan gadis ini aja."
"Biar punya Livia aku yang bayar, Robert."
"Aku yang bayar punya Livia. Kau bayar saja untuk dirimu sendiri."
Livia sebenaenya tak mau ikut campur akan masalah mereka berdua. Tapi, mereka malah membuat antrian di belakangnya semakin panjang. Ash, kenapa masalah bayar seperti ini saja ribut sekali. "Mba, kita bayar sendiri-sendiri saja."
"Tapi..." Ujar Robert dan Jimmy bersamaan.
"Bayar sendiri-sendiri atau kita tidak usah makan." Kedua pria itu terdiam dan membayar makanan mereka sendiri.
"Aku penasaran sejak kapan mengikuti karyawanmu makan siang." Robert membuka pembicaraan mereka saat sudah di meja. Pria itu dan Jimmy duduk bersebelahan meninggalkan Livia yang duduk sendirian.
"Sejak sekarang. Lagi pula dia nanti akan jadi adik angkatku. Tentu saja aku harus tahu pria mana saja yang cocok dengannya."
"Aku tahu Robert ini pria baik-baik. Kau tak perlu sampai segitunya." Ucap Livia pada Jimmy. Mereka sudah tidak di kantor jadi tidak ada kata 'Pak'.
"Kenapa kau begitu tahu ?"
Robert tersenyum pada Livia, "Dia mantanku saat SMA dan aku masih mencintainya sampai sekarang." Ucapannya membuat wajah Livia memerah.
Jimmy terdiam melihat mereka.
*Tidak.. Robert tak boleh berbaikan dengan gadis pembunuh itu..
Dia gadis jahat..
Aku tidak akan membiarkan orang-orang terdekatku bersama dengan gadis pembunuh ini.*
"Tapi sayangnya mantan pacarmu itu menciumku." Jimmy mengabaikan tatapan tajam Livia padanya.
"I...itu tak sengaja." Livia menceritakan bagaimana kejadian itu.
"Dia itu bukanlah OG /Office Girl, Jimmy. Kenapa kau tak suruh OB saja yang membuatkannya ?"
"Sekali-kali dari pada dia tak ada kerjaan."
"Tak apa dia senang kok aku suruh-suruh juga."
"Siapa juga yang senang. Robert, ayo kita balik lagi ke kantor."
"Kalian itu tega sekali meninggalkan aku sendirian." Mereka berhenti di Lobby Mall.
"Hujan deras."Gumam Livia pelan. Jimmy memanggil taksi untuk mengantarkan mereka kembali ke kantor. Sepanjang perjalanan tak satu pun dari mereka berbicara. Begitu di kantor, lift hingga Livia dan Jimmy berada di lantai atas.
"Sudah aku duga kalian pergi bersama." Tiara menunggu di depan ruangan Jimmy.
"Kenapa kau kemari ?"
"Ada yang ingin aku bicarakan."
"Baiklah. Ada yang ingin aku bicarakan juga. Livia kau tunggu di luar sebentar."
"Baik pak."
Di dalam ruangan, Jimmy mempersilahkan Tiara duduk. "Apa yang ingin kau bicarakan ?"
"Bantu aku singkirkan teman Livia dan Yeni yang bernama Nia itu."
"Kenapa aku harus menyingkirkan dia ?"
"Dia sebentar lagi akan menjadi kekasih raka dan aku tak suka. Sebagai gantinya kau boleh meminta apapun dariku."
"Bagaimana jika aku ingin kau menghancurkan hubungan Livia dan Robert ?"
-To Be Continue-