Our Love

Our Love
Part 97



Livia memijit keningnya, masalah baru dan itu kesalahpahaman. Matanya menatap Raka yang masih minum, semua ini karena pria itu. Dengan segera Livia pergi namun, ditahan oleh tangan Raka yang memegangnya.


Pria itu berdiri, "Semua ini karenamu." Livia terdiam. Pria ini benar-benar sudah mabuk.


Gadis itu melepaskan tangan Raka lalu pergi meninggalkan pria itu sendirian. Ia mengambil ponselnya, "Halo. Yen, kak Raka lagi mabuk. Kau bisa datang kesini nanti akan aku chat alamatnya."


Livia mematikan panggilannya sepihak lalu mengirimkan alamat Raka sekarang padanya, baru saja ia ingin memanggil taksi namun, Raka datang memegang tangannya. "Lepaskan!"


"Aku tidak mau tahu. Kau harus membatalkan perjodohan itu."


Pria itu benar-benar sudah mabuk, Livia mencoba untuk menelepon kekasihnya. "Bisakah kau datang menjemputku? Aku berada di restaurant Sky. Cepat."


'Aku akan segera kesana.' Robert mematikan panggilannya secara sepihak.


"Lepaskan. Tanganku sakit." Gadis itu menendang kaki Raka. Dia harus segera kabur dari sini. Dengan cepat Raka menjambak rambutnya, "Kau.. Karena kau, aku jadi tidak bisa mendekati gadis yang aku suka."


Livia menatap orang-orang yang menatapnya, "Tolong.."


Raka semakin menjambaknya, "Kau harus menanggung semua akibatnya."


Ada yang tidak berani mendekatinya, ada yang terlihat cuek bahkan beberapa ada yang merekamnya. Merasa kasihan akan Livia yang menangis merintih kesakitan, beberapa ibu dan bapak-bapak menghampiri mereka. "Nak, lepaskan kasihan gadis itu. Kau tidak boleh memperlakukannya seperti itu." tegur seorang ibu-ibu padanya.


"Jangan ikut campur!" teriak Raka membuat orang-orang itu terdiam.


Robert dan Yeni datang disaat yang bersamaan pun langsung menghampiri mereka.


"Livia.." Robert mendorong Raka agar tangannya terlepas dari rambut Livia. Dengan segera ia memeluk kekasihnya yang menangis.


"Kakak sudah gila ya? Jangan membuat kekacauan seperti ini!" teriak Yeni.


"Neng, dijaga baik-baik tuh kakaknya. Jahat banget sih gadis seperti itu dijambak." tegur ibu-ibu yang lain padanya.


"Saya minta maaf atas kelakuan kakak saya." Yeni membungkuk meminta maaf pada mereka. Masyarakat sekitar situ pun bubar meninggalkan mereka.


Yeni segera menghampiri Livia, "Maaf ya Liv. Atas kelakuan kakakku. Dia tuh tidak pernah mabuk-mabukan begini."


"I..iya." ujar Livia dengan suara bergetar.


"Kalau begitu aku permisi untuk membawa Livia pulang." Robert pamit pada Yeni, "Aku tidak mau kalau sampai ada kejadian seperti ini lagi padanya. Jaga kakakmu dengan benar."


"Iya. Aku minta maaf atas kelakuan kak Raka." Yeni membungkuk sebagai rasa permintaan maaf dan penyesalannya atas apa yang sudah kakaknya perbuat pada Livia. Selepas kepergian Robert dan kekasihnya, ia menghampiri sang kakak.


"Kenapa kau melepaskan dia? Gadis itu sudah membuat kakak tidak bisa mendekati gadis yang kusukai."


"Livia tidak bersalah kak, yang salah itu adalah kakak."


"Argh.." Dengan berjalan sempoyongan Raka masuk dalam mobil Yeni. Malam-malam yang harusnya dipakai untuk waktu bersantai malah harus mengurusi kakaknya yang mabuk begini.


Kapan sih masalah ini cepat selesai?


*******


Mentari pagi masuk melalui cela-cela jendela kamar menandakan hari baru telah dimulai. Raka menutup wajahnya dengan tangan agar cahaya matahari tidak langsung mengenainya. Baru beberapa detik pria itu terbangun kemudian berlari menuju kamar mandi, memuntahkan semua yang ia makan semalam.


Setelah merasa cukup mendingan, Raka mencuci wajahnya lalu menatap cermin yang ada di depannya. Mencoba untuk mengingat kejadian semalam akan tetapi, sia-sia saja. Tidak ada satupun yang diingatnya. Hanya ia meminta bertemu dengan Livia di sebuah restaurant dan selesai. Yang dapat diingatnya hanya sebatas itu saja.


Sementara itu di lantai bawah, Yeni sibuk menelepon kedua orang tuanya. "Iya pa. Nanti aku akan menanganinya. Papa dan Mama liburan saja dulu, baru juga pergi kemarin masa harus pulang lagi." katanya sambil memijit kening.


"....."


Nia: Yeni..di video yang beredar itu beneran?


Belum sempat Yeni menjawab, ia menatap kakaknya yang baru saja selesai mandi. "Sudah puas sekarang?"


Raka menatapnya bingung sembari menarik kursi lalu mendudukinya, "Apa maksudmu pagi-pagi begini?"


Yeni melempar ipad putih padanya, "Lihat apa yang sudah kakak perbuat semalam."


Raka mengambil ipad tersebut lalu melihat video amatir dimana dirinya menjambak rambut Livia, "I..ini.." Dia menatap Yeni.


Pria itu sama sekali tidak mengingat akan kejadian itu.


Sial..


Akibat terlalu banyak minum alkohol semalam sehingga dirinya menjadi tak terkontrol hingga muncul masalah baru.


"Ya. Itu kakak dan sekarang video itu tersebar di dunia maya juga media massa. Kakak puas membuatku mendapatkan masalah baru karena harus melenyapkan semua video-video ini tidak lupa para wartawan yang sudah berkumpul di depan kantor." Yeni tak habis pikir akan apa yang kakaknya pikirkan sampai-sampai bisa mabuk seperti itu.


"Papa dan mama mengetahuinya?"


"Tentu saja. Papa sangat murka atas apa yang sudah kakak perbuat pada Livia. Lalu, kakak dan Livia membahas apa semalam?" tanya Yeni penasaran.


"Kakak sangat emosi dan tidak menerima perjodohan kakak dengan Livia. Kakak jadi tidak bisa mendekati Nia, temanmu." balasnya.


"Astaga kakak.. Bisakah kakak berhenti menambah masalah baru untukku dan Livia? kalau kakak suka pada Nia katakan saja langsung padanya jangan pengecut seperti ini. Gara-gara kakak Livia jadi dikeluarkan dari grup chat kita sama Nia yang cemburu atas perjodohan kalian." Yeni tak habis pikir kakakknya bisa berpikir sempit dan pengecut seperti ini.


"Kenapa kau jadi membelanya sih? Aku itu kakak kandungmu bukan dia!" Raka tak terima atas apa yang dikatakan oleh adiknya. "Kau terlalu lama bergaul dengan gadis itu sehingga jadi seperti ini!"


"Livia tidak memberikan dampak buruk padaku! Justru kelakuan kakak-lah yang bersikap pengecut seperti ini membuat masalah bagi banyak orang!"


Raka membanting meja, "Sudahlah kakak tidak nafsu makan lagi."


"Kakak.. Kakak!!" teriak Yeni padanya namun, diacuhkan.


Yeni mengacak rambutnya, sekarang apa yang harus ia lakukan.


******


Livia yang baru saja selesai mandi langsung mendapatkan telepon dari Jimmy, "Ada apa?"


'Kau baik-baik saja 'kan? Aku sudah melihat video amatir antara kau dan Raka semalam.'


Gadis itu terdiam sesaat, ia tak menyangka akan ada video mengenai hal itu.


"Tak apa." jawabnya singkat.


'Kau yakin?'


"Ya."


'Aku akan meminta papa agar menolak perjodohanmu dengan Raka. Aku tidak mau nanti kau malah semakin tambah bahaya jika jadi menikah dengannya. Kalau ada apa-apa hubungi aku.'


Livia hanya ber-hmmh ria lalu mematikan panggilan telepon itu secara sepihak. Gadis itu tidak mau terlalu ambil pusing akan dari mana video amatir itu berasal. Yang sekarang dipikirkannya adalah skripsinya itu, ahh.. ya.. juga masalahnya dengan Nia.


Apakah ia harus menceritakan semuanya pada Nia?


-To Be Continue-