
Itu diluar rencana Livia dengan Tiara, gadis itu bahkan tidak tahu sekali akan kejutan dari wanita tersebut. Tapi, ia menyukainya..
Livia menghapus air mata lalu berbalik menatap video yang ditampilkan itu.
Tiara memang hebat.
Gadis itu berbalik menatap kekasihnya sambil tersenyum penuh arti dan dimulai-lah aktingnya.
"Apakah itu benar?" Livia menatap tak percaya pada Yeni.
Semua wartawan berbalik mengajukan berbagai pertanyaan pada Papa Yeni terkait hal tersebut. Tiara berbisik pada Nia, "Sekarang kau liat sendiri 'kan siapa yang lebih jahat."
Livia berjalan mendekati Yeni, "K..kau tahu akan semua rencana papamu?"
"Yeni..Jawab apakah semua yang dikatakan papamu itu benar?" Kali ini Narul ikut bertanya.
Livia mulai menangis palsu, "Aku tak menyangka.. Jadi, selama ini kau tahu aku adalah penerus keluarga Wijaya yang asli? Kau berteman padaku karena suruhan papamu agar dapat menguasai seluruh harta keluargaku, begitu?"
Tiara tertawa merendahkan, "Jelaslah apalagi kalau bukan tujuannya itu. Pantas saja papamu begitu semangat untuk menjodohkan Livia dengan Raka." Wanita itu tersenyum merendahkan sambil melipat kedua tangannya di dada, "Ternyata hanya demi harta. Masih kurang 'kah kekayaan yang kalian miliki sekarang sampai-sampai harus mengambil hak orang lain juga? Kasihan sekali."
"Kau!!" Yeni mencoba untuk melabraknya namun, ditahan oleh Hanna.
"Apa maksud dari perkataan 'menguasai perusahaan Wijaya'? Bukankah perusahaan Wijaya tidak ada sampai sekarang?" Tanya Ai Chan.
Perusahaanku sudah dikuasai sama mereka.
Ingin sekali Livia mengatakan hal itu tapi, tidak bisa. Semuanya akan hancur dan pembalasan dendamnya tidak akan berjalan dengan lancar.
"Mana aku tahu maksudnya apa." Jawab Yeni.
Tiara menatap Jimmy, "Kau juga pasti tahu sesuatu 'kan? Tidak mungkin orang tua kalian bersekutu untuk menghancurkan Livia dan diantara mereka tidak ada yang tahu sama sekali." Wanita itu berbalik menatap Hanna, "Papamu tidak terlibat juga 'kan?"
Keluarga Yeni, Hanna dan Jimmy dalam hati sangat mengutuk akan hadirnya Tiara dalam acara ini malah membuat mereka kian tersudut.
Sial.. Wanita itu tahu semua informasi ini darimana?
Yeni mengepalkan kedua tangannya. Apa yang harus gadis itu lakukan sekarang?
Hanna tertawa kecil, "Kau sedang mencoba kambing hitam ya?" Tanyanya pada Tiara.
"Aku punya loh bukti dimana kau sangat membenci Livia dulu bahkan sampai mempermalukannya?" Hanna menatap Livia, "Kau sedang tidak bersekutu dengannya untuk menghancurkan aku dan Yeni 'kan?"
Livia menatap tak percaya akan apa yang baru saja ia dengar. Oh astaga..
Tadi Nia membencinya sekarang Hanna juga ikutan.
Astaga..
Pertemanan macam apa ini?
Tidakkah mereka berdua sadar betapa rendahnya keluarga mereka yang harus memakai cara licik untuk mendapatkan harta?
Kini gadis itu seakan tersadar...
Inilah kenapa orang yang menusukmu adalah teman dekat atau bahkan sahabatmu sendiri. Memang tak salah.
Tapi, ucapannya memang benar sih. Livia berniat untuk menghancurkan mereka.
"Untuk apa aku harus menghancurkan kalian? Memang kau ada salah apa padaku? Kalau Yeni, dia harus jelaskan dulu apa maksud dari video itu." Livia menatap ke Yeni.
"Yeni, kenapa kau diam aja sih? Jelaskan maksud dari video itu." Desak Nia.
"Kau bisa tanyakan sendiri ke papaku apa maksudnya itu. Aku mana tahu, lalu mengenai perusahaan Wijaya ya jangan tanyakan padaku. Tanyakan saja pada Livia yang pewaris tunggalnya, ada dimana sekarang perusahaan orang tuanya itu."
Pernyataan Yeni membuat semua orang memandangnya termasuk para wartawan menanti sebuah jawaban yang selama 12 tahun mereka tunggu.
Jika ahli waris Wijaya sungguh masih hidup, lalu dimana perusahaan itu sekarang?
Livia terdiam mengepalkan kedua tangannya. Perusahaan keluargaku sudah kalian rebut dan ganti balik nama menjadi Sapphire Blue Corp.
Gadis itu harus berhati-hati dalam melakukan tindakan. Jika salah, maka akan rusak semua.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
-To Be Continue-