
Ketiga pria paruh baya itu tersenyum bahagia akan rencana mereka, Tiara yang ikut tertawa atas rencananya begitu pula dengan Livia dengan Robert yang tersenyum. Mereka memiliki kesamaan yaitu, pada hari ulang tahun perusahaan besok akan ada kejadian yang sangat menarik.
Besok akan menjadi penentu.
Siapa yang akan tertawa bahagia?
Dan siapa yang akan dipermalukan?
******
Malam harinya, Livia tertidur di kamar tamu yang sudah dirubah menjadi kamar pribadinya. Pertama kalinya gadis itu menjadi bagian dari keluarga Kurniawan. Gadis itu berdiri menatap ke langit.
Aku tahu hal yang kulakukan ini salah.
Semua ini untuk merebut kembali apa yang sudah menjadi milik kita.
Aku sudah menderita selama 12 tahun ini, Pa.. Ma..
Aku pantas 'kan untuk merebut kembali apa yang memang sejak awal harusnya milikku?
Tidak ada seorang anak pun yang bisa merelakan kematian orang tuanya terlebih lagi orang tuanya meninggal sudah direncanakan oleh orang lain.
Aku merindukan kalian..
Ponsel gadis itu berdering, "Ya. Ada apa?"
"Kau menangis? Kau baik-baik saja 'kan?" Robert mulai panik.
Livia menghapus air matanya, "Aku hanya merindukan papa dan mama, juga memikirkan akan semua ini. Aku mencoba untuk melepaskan dan merelakan tapi tak bisa." Air matanya pun tumpah. Jimmy yang berniat untuk mengetok pintu kamar gadis itu pun tak jadi karena mendengarnya menangis. Akhirnya, memilih untuk terduduk depan pintu kamar gadis itu.
"Lepaskan sayang. Keluarkan semua emosimu. Aku berada disini." ujar Robert mencoba menenangkannya.
"Mereka tidak akan melepaskanku. Aku lelah Robert, trauma itu masih ada. Nia membenciku, dan mereka... mereka ingin membunuhku dan menguasai harta keluargaku. Apa yang harus aku lakukan?"
"Sayang, tenanglah. Aku selalu ada disampingmu. Tidak ada yang berani menyakitimu Via." ujar Robert menenangkannya. Sementara itu, Jimmy berdiri lalu pergi meninggalkan kamar Livia.
******
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Livia menatap dirinya di cermin, balutan dress biru muda dengan rambut yang dicepol. Suara ketokan pintu menarik perhatiannya, "Kakak.." Tasya masuk dalam kamarnya.
"Hai Tasya." ujarnya tersenyum.
"Kak Robert menunggu dibawah." Tasya memeluk Livia, "Akhirnya aku punya kakak perempuan."
Gadis itu hanya tersenyum kecil mendengar ucapan adik angkatnya. Entah pernyataan yang baru saja dilontarkan tulus atau hanya bersandiwara saja. "Ayo turun kasihan papa dan mama sudah menunggu." ajak Livia.
Kedua gadis itu menuruni tangga mendapat tatapan terkejut dari dua pria muda yang tengah menatap mereka. Ah tidak, menatap dengan terpesona pada Livia lebih tepatnya. Tentu saja karena selama ini gadis itu hanya memakai make up yang tipis, siapa sangka dia bisa berubah bak seperti bidadari yang sangat cantik.
"Kau cantik sekali." Puji Robert padanya.
"Tidak salah suamiku mengangkatmu jadi bagian dari keluarga ini." Ucap Mama angkat Livia.
Mereka bercanda ria seakan-akan tidak ada hal yang akan terjadi. Livia masuk ke dalam mobil Robert, tidak satu mobil dengan Tasya juga mama angkatnya. "Mereka tidak melakukan hal aneh padamu 'kan?"
"Tidak. Aku ingin memberitahumu kalau aku mengundang Tiara untuk datang."
"Kenapa? Bukankah dia sangat membencimu?"
"Dari dulu dia mengincar Raka 'kan? Aku hanya mempermudahnya agar bisa memberikan image yang baik pada Om Kusuma agar beliau merestui hubungan puteranya dengan Tiara." jelas Livia yang tidak sepenuhnya benar, gadis itu memang sengaja mengundang Tiara untuk datang kesana.
Dia tahu keluarga angkatnya sekarang, keluarga Yeni dan Hanna sangatlah membencinya. Livia ingin memberikan hadiah pada mereka dengan menghadirkan Tiara. Mungkin sebentar lagi mereka semua akan memarahi atau bahkan membencinya.
Robert tertawa sinis, "Aku merasakan akan ada banyak kejutan nantinya."
"Maksudmu?"
"Aku sudah mempersiapkan kado untukmu. tapi, rahasia."
Sapphire Blue Corp...
Para karyawan tampak bergembira dengan adanya acara ulang tahun perusahaan. Wartawan juga berkumpul di deretan terdepan dekat panggung untuk mengabadikan moment bahagia tersebut.
"Aku dengar ada penerus terakhir Wijaya sudah ketemu." ujar salah satu karyawan.
"Bukankah memang masih hidup? Dulu pernah tampil di publik sampai nangis-nangis segala." timpal karyawan yang lainnya.
"Eh, aku dengar ada yang mau diangkat jadi bagian dari keluarga Kurniawan."
"Sungguh?" teriakkan para karyawan yang membuat wartawan berlari mendekati mereka.
"Apakah itu benar?" tanya seorang wartawan.
"Anda mendapatkan informasi tersebut dari siapa?"
Pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan para wartawan hingga mereka berhenti ketika Jimmy naik ke atas panggung untuk menyampaikan sepatah dua patah kata mengenai acara ulang tahun perusahaan sekaligus menandakan acara tersebut akan dimulai. Tidak lupa Yeni dan kawan-kawan telah tiba begitu juga dengan orang tua mereka.
"Kenapa anak baru itu berada di dekat keluarga Pak Jimmy? Jangan bilang kalau..." ucapan salah satu karyawannya terputus saat CEO mereka telah menyampaikan pidato singkatnya.
"Di hari yang berbahagia ini. Kami dari keluarga Kurniawan selaku pemilik Sapphire Blue Corp." Ucapan Jimmy membuat Livia tersenyum merendahkan. Pria gila. Itu adalah perusahaanku yang kalian rebut. "Akan ada pengumuman penting selain dari acara hari ini yaitu, kami akan memperkenalkan keluarga baru dari Perusahaan Sapphire Blue Corp. Kalian sudah mengenalnya." Jimmy berjalan mendekati Livia lalu membawanya ke atas panggung. "Livia sekarang akan menjadi anak angkat dari keluarga Kurniawan."
Tak urung membuat semua karyawannya saling berbisik satu sama lain membicarakan akan bagaimana bisa karyawan baru langsung diangkat menjadi anak. Hal-hal negatif pun keluar dari mulut mereka terkait bagaimana hebatnya Livia mendekati keluarga kaya itu hingga bisa diangkat jadi anak mereka.
Melihat para karyawan lain yang saling menatap menjijikan juga merendahkannya membuat Livia kembali teringat akan masa lalunya.
Masa dimana teman-teman sekolahnya membicarakannya karena tidak memiliki orang tua, dianggap sebagai anak haram hingga dituduh pembunuh orang tuanya sendiri.
Jimmy yang merasakan tubuh Livia mulai bergetar langsung memegang tangannya, mencoba agar bisa memberikannya ketenangan.
Dari jauh Robert menatap tajam akan apa yang Jimmy lakukan, ia mengepalkan kedua tangannya. Dengan segera pria itu naik ke atas panggung memeluk Livia. "Mari kita ucapkan selamat atas pengumuman yang sangat mengejutkan ini." ujar Robert dan disaat yang bersamaan. Lampu-lampu ruangan tersebut padam.
Tergantikan dengan berbagai macam foto-foto dan video Livia waktu kecil dengan orang tuanya. Para wartawan juga semua orang berbisik satu sama lain. Mereka mengenal pria dan wanita dalam video dan foto-foto itu. Livia menatap ke arah Robert yang tampak tersenyum bahagia lalu berbisik, "Bagaimana kau suka?"
"Bagaimana bisa kau dapatkan foto-foto juga video itu? Aku tidak pernah memberikannya padamu." tanya Livia yang berbisik padanya.
"Rahasia." katanya sambil tersenyum.
"Jadi.. Anak baru itu sungguh penerus terakhir keluarga Wijaya? Sulit dipercaya." ujar salah seorang karyawan.
Papa Yeni dan Papa Hanna sama-sama mengepalkan kedua tangan mereka.
Sial...
Seharusnya tidak seperti ini.
Dengan segera Papa Yeni mengambil Mic lalu mengatakan, "Sekali lagi saya ucapkan selamat atas ulang tahun perusahaan Kurniawan juga.." Ia menatap Livia sambil tersenyum, "Kepada Livia yang kini menjadi bagian dari keluarga besar Sapphire Blue Corp."
Livia tersenyum palsu, "Terima kasih om."
"Ijinkan saya memberikan hadiah juga untuk acara hari ini." Papa Yeni berdiri menghadap semua orang yang ada disana, "Saya dan Pak David selaku ayah angkat dari Livia telah sepakat untuk menjodohkan Livia dengan putera saya, Jimmy."
-To Be Continue-