
Gea menyenggol lengan Mia, "Kau itu tanya pada kakak yang itu dan itu. Jangan pada kakak yang lain, karena jelas mereka semua kaya, kecuali kedua kakak itu." Gea menunjuk kepada Livia dan Narul.
"Maksudnya apa ya ?" Narul mulai tersinggung.
"Tidak ada apa-apa hehe. Permisi." Gea menarik Mia masuk kembali dalam kelasnya.
"Apa karena kita bukan anak orang kaya jadi tidak boleh temanan gitu ama yang kaya ?"
"Sudah, si Yeni nungguin tuh. Ayo kita pergi." Bujuk Ai Chan.
"Tapi, aku masih tidak terima Ai. Liv, kau juga tidak terima kan digituin ?"
Livia tersenyum kecil, "Aku sudah biasa digituin. Uda males ladenin mereka. Kita temuin Yeni aja ntar dia ngamuk loh kalau nunggu lama-lama."
"Kok kalian lama banget sih ?" Yeni menatap ke arah teman-temannya.
"Tadi anak-anak itu masih penasaran ama lu. Makanya, lama." Jelas Nia.
"Kalian ngapain harus meladeni mereka ? Sudahlah biarkan saja. Mereka tuh mau pansos doank. Besok jadi kan pergi ?"
"Iya jadi." Jawab mereka serempak.
"Liv, kau tidak akan mengajak cowomu datang kan ?" Yeni menatapnya.
Lift berbunyi, mereka semua masuk kedalam, "Cowo ? Siapa ?"
"Robert ama Jimmy-lah. Siapa lagi. Kau jangan mengajak mereka ikut. Besok hanya kita-kita saja yang kumpul."
"Kalau Jimmy emang tak ada niat, lalu Robert sempat ngajak sih tapi dia sakit."
Livia terdiam sejenak. "Mungkin." ia tersenyum kecil membuat dua orang temannya saling menatap satu sama lain. Yeni dan Hanna. Mereka tidak bisa membayangkan kalau Livia mengetahui dalang dibalik kematian orang tuanya dan hilangnya perusahaan Wijaya adalah ulah orang tua dari temannya sendiri.
Tak sadar mereka tiba di lobby kampus, "Kalian naik mobilku aja. Nanti aku antar pulang." Ujar Yeni.
"Besok aku agak telat ya datangnya karena Yeni kasih kerjaan dan Senin uda harus kelar." Ujar Hanna ketika mereka mau masuk dalam mobil Yeni.
"Iya ga apa-apa." Ujar Narul. "Yang penting nanti kau menyusul kan ?"
"Pasti." Hanna tersenyum.
"Eh, kalian pernah dengar kabar Tiara ?" Livia mengalihkan pembicaraan.
"Tidak." Ujar Yeni yang diikuti jawaban serupa oleh teman-temannya yang lain.
"Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang Tiara ? Bukankah bagus dia sudah tidak muncul lagi dalam hidup kita?" Tanya Yeni.
"Hanya penasaran dan aneh aja dia yang selalu menggangu ku dari dulu dan sekarang hilang entah kemana juga tidak ada kabarnya."
"Sudahlah tidak usah dipusingkan orang begitu. Malah bagus kalau dia pergi jauh-jauh dari kita. Jadi, kerjaan ku dan kak Raka tidak akan diganggu olehnya." Yeni menjawabnya.
"Iya sih, lagipula aku juga penasaran siapa yang menculikku beberapa waktu yang lalu." Ucapan Livia membuat Hanna dan Yeni terdiam. Mereka sungguh tak ingin mengungkit masalah seperti itu. Sudah cukup kelakuan orang tua mereka terhadap keluarga Livia beberapa puluh tahun yang lalu. Dan mereka hanya bisa berharap agar Livia tidak mengetahui sama sekali mengenai hal itu. Biarkan itu terkubur samgat dalam.
Akan tetapi, bukankah ada pepatah sepandai-pandainya menyimpan bangkai akan tercium juga bau nya suatu hari nanti. Ya. Entah kapan suatu hari nanti yang jelas, Livia pasti akan mengetahui semua kebenaran ini. Saat waktu itu tiba, entah mereka harus bersiap jika Livia akan membenci mereka seumur hidupnya.
-To Be Continue-