
"Omong kosong. Ketiga keluarga itu sudah berencana untuk membuat orang tua Livia meninggal dan merebut perusahaannya."
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Tiara tersenyum penuh arti, "Ayah akan tahu nanti apa yang aku dan Livia rencanakan." Ia pergi masuk dalam kamar.
*****
Papa Yeni mendatangi penjara untuk menemui temannya, "Kau sepertinya semakin betah berada disini." ujarnya menatap temannya yang baru saja datang ke ruangan kunjungan dengan dikawal dua orang polisi.
"Ada apa kau datang kemari?" tanyanya mengabaikan pernyataan pria paruh baya yang seumuran dengannya.
"Aku datang untuk memberikan kabar baik untukmu."
"Apa itu?"
"Aku sudah mendapatkan orang yang membuatmu berada disini."
"Sungguh? Siapa yang berani membuatku masuk dalam penjara?"
"Aku belum tahu. Orangnya sudah dibawa anak buahku ke gudang terpencil." Ujarnya setengah berbisik. "Nanti aku akan kesana."
"Laporkan padaku nanti mengenai siapa orang yang sudah membuatku masuk dalam penjara."
"Nanti saja aku bawa saat persidanganmu. Tinggal beberapa hari lagi 'kan? Apakah kau sudah mendapatkan uang ganti rugi padaku atas perusahaanmu itu yang sudah terbakar?"
"Aku menunggu kabar dari Jimmy agar mendatangi pengacara untuk mengurus arsuransi akibat kejadian itu." David Kurniawan bergumam kata-kata kasar saat mengingat kembali apa yang sudah didapatkannya.
Papa Yeni hanya tertawa kecil, "Jangan terlalu mendramatisir. Seharusnya kau tidak perlu sesedih itu." Ia memajukan badannya lalu berbisik, "Bukankah yang hancur itu adalah perusahaan Wijaya? Perusahaan aslimu tentulah masih ada 'bukan? Kau tak serugi itu. Tidak mungkin pemilik perusahaan paling besar se-Indonesia tidak menanamkan dan memperbanyak uangnya untuk berinvestasi dimana-mana."
"Perusahaan itu memberikan keuntungan paling besar untukku dibandingkan dengan perusahaan yang memang dari awal sudah aku bangun susah payah."
******
Livia berjalan ke arah jalanan sepi dan kecil, sungguh menyeramkan sekali. Ia mengucapkan kata-kata makian pada Tiara yang mengundangnya untuk datang ke daerah kumuh juga penuh dengan preman-preman yang menatapnya seakan ingin memakannya hidup-hidup.
Seharusnya aku mengajak Robert saja untuk menemaniku.
"Hai cantik, mau kemana?" Dan benar saja empat orang pria bertato menghampirinya.
"Maaf, saya harus pergi." Ia mencoba untuk pergi namun, ditahan oleh salah seorang diantara mereka.
"Jangan pergi dong manis, lebih baik kau menemani kita disini saja." Goda salah satu diantara mereka.
"Lepaskan. Aku datang untuk menemui Tiara." Saat mendengar nama itu, keempat pria tersebut berubah menjadi baik.
"Maafkan kami, kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau ingin bertemu dengan Bos Tiara. Ash, kalian antarkan dia ke beliau." Perintahnya pada ketiga anak buahnya.
Livia berkedip berulang kali tak menyangka nama Tiara sungguh membawa efek pada mereka. Kini gadis itu sadar, betapa kuatnya kekuasaan wanita tersebut di daerah ini. Dan dengan segala ke-egoisannya dan rasa dendamnya membawa dia terlibat dalam dunia hitam.
Setelah beberapa menit berlalu, tibalah ke tempat yang penuh dengan kupu-kupu malam yang menatapnya sinis. Sungguh mengerikan sekali. "Hei, kalian membawa gadis baru kesini." Seorang pria paruh baya botak menghampiri mereka. "Bagi-bagi dong, aku mau gadis cantik ini."
Livia sungguh risih ditatap dari atas hingga kebawah seperti itu. "Mana bos Tiara?" tanya seorang pria bertato yang mengawalnya pada pria botak itu.
"Disana." Ia menunjuk gudang besar yang tepat berhadapan dengan diskotik penuh kupu-kupu malam itu. Pria botak tersebut merangkul Livia, "Ayo kau temani aku saja malam ini. Argghh.." Teriaknya saat mendapatkan pukulan hingga terjatuh dari pria-pria bertato yang mengawal Livia.
"Kalian ini kenapa sih?" Tanyanya sambil berdiri mengelap ujung bibirnya yang berdarah.
Pria botak itu angkat tangan seakan memberi tanda ia menyerah dan tak ingin ikut campur, "Kenapa kau tidak mengatakan hal itu dari tadi? Sana bawa dia pergi." Pria botak tersebut masuk dalam diskotik.
Sementara di dalam, Tiara tengah sibuk akan melihat dan memilih senjata-senjata ilegal yang baru saja datang. "Bos, ada tamu yang mau menemuimu." ujar seorang kepercayaannya.
"Masuk saja." perintahnya.
Livia tampak terkejut akan yang dilihatnya saat memasukki gudang tersebut, ada banyak sekali pria dan wanita merokok, bertato yang menatapnya tajam dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Sepertinya mulai hari ini, ia berjanji adalah pertama dan terakhirnya berada disini. "Oh, kau sudah datang. Apa anak buahku ada yang menggangumu tadi saat masuk?" tanyanya menghampiri Livia.
"Ti..tidak ada." Jawabnya gugup.
"Kau yakin?" Tiara menatap tajam pria bertato yang dari tadi mengawal Livia hingga ke markasnya. "Aku sangat yakin mereka akan menggangumu. Kalau kau tidak mau jujur, bagaimana jika aku membuat mereka jujur saja."
Livia menghentikan Tiara, dia tidak mau datang jauh-jauh kemari hanya untuk melihat pertumpahan darah. "Bagaimana jika kita langsung saja berbicara?" tawarnya pada wanita itu.
"Baiklah. Ayo kita ke ruanganku saja."
Gadis itu mengekor dari belakang. Ini gila, bagaimana bisa dengan berani mendatangi boss mafia obat-obatan terlarang dan penjualan senjata ilegal. Jika salah dikit saja, sudah dipastikan nyawanya akan hilang malam ini.
"Duduklah." Ujar Tiara saat berada di satu ruangan. Livia menurutinya, "Aku baru mendapatkan kabar kalau salah satu anak buahku yang menjerumuskan David Kurniawan telah tertangkap oleh Papa Yeni."
Livia tampak terkejut mendengarnya, "Lalu, apa yang kau lalukan?"
"Karena itulah aku mengundangmu untuk datang. Aku tengah berpikir untuk membunuh anak buahku itu." Tiara menatap Livia dengan tajam, "Ataukah mencari kambing hitam baru."
"Aku? Kau ingin mengkambing-hitamkan aku dalam masalah itu?"
"Bukankah tujuan kita sama yaitu ingin menghancurkan ketiga orang jahat itu?"
"Kenapa kau jadi berpihak padaku sekarang? Padahal kau dulu sangat membenciku?"
"Tidak semua hal harus kau ketahui nona kecil. Jangan bilang kau juga tidak tahu kalau keluarga Kurniawan memiliki perusahaan lain selain Sapphire Blue Corp."
"Aku tahu itu."
"Tapi, kenapa kau malah mau menghancurkan perusahaan orang tuamu sendiri?"
Livia menyender badannya ke sofa sambil melipat kedua tangannya didada, "Dan jangan bilang kau juga tidak tahu bahwa orang tuaku memiliki perusahaan lain."
Voila.
Benar sekali dugaan Livia. Wanita itu tidak mengetahui sama sekali akan hal ini.
Tiara membulatkan matanya, sungguh sebuah fakta baru untuknya. "Lalu, kenapa kau tidak menjadi penerus di perusahaan keluargamu yang lain untuk melawan mereka saja tanpa harus bersusah payah menghancurkan salah satu perusahaanmu itu."
"Aku tidak akan puas hanya dengan itu saja. Baiklah, kau bisa mengkambing hitamkan aku untuk masalah orangmu yang tertangkap itu. Maka, akan dengan mudah aku akan menarik mereka semua masuk dalam penjara."
"Kau bahkan tidak punya bukti yang bisa memberatkan mereka apalagi kejadian tersebut sudah lewat 10 tahun lebih."
"Karena itulah aku menerima udanganmu untuk datang kemari. Bukankah Pak Rahmad yang selama ini aku cari ternyata itu adalah Ayah Kandungmu sendiri?"
-To Be Continue-