Our Love

Our Love
Empat belas



.


Artamia mendecih. Ia memang terkejut mendengar kabar Sakhira berusaha menghabisi nyawanya sendiri. Bodoh menurutnya.


"Artamia." Gio yang sudah cukup lama mengenal gadis muda berdarah keluarga Scarlet dapat melihat jelas bahwa Artamia tak menaruh simpati. Sama seperti Sai.


Artamia tak seperti Tania yang cenderung menggunakan perasaan, dia lebih mengandalkan pemikiran rasionalnya.


"Apa kedatanganmu mau mengiba pada Kak Tania untuk wanita itu ?" Tanya Artamia dengan raut tak suka.


"Bukan seperti itu. Bagaimana pun Sakhira tetaplah teman Tania." Gio mencoba memberi pengertian pada Artamia.


"Saat seperti ini ingat teman. Hell." Cibir Artamia. Gio menghela nafas. Menghadapi Artamia perlu waktu lama. Dan tentu saja perlu energi ekstra. Artamia lebih keras kepala dan juga membangkang sangat berbeda dengan Tania .


"Lalu bagimanan keadaannya sekarang ?" Tanya Farel.


"Sudah kubilang tak perlu peduli padanya, Farel Mahendra." Amuk Artamia


"Apa salahnya bertanya." Balas Farel santai.


"Sudah membaik." Jawab Gio.


"Syukurlah. Lalu untuk apa kau kemari ? Apa benar mau meminta Tania simpati padanya. Kok lucu ya" sindir Farel


"Tidak. Aku hanya diminta memberitahu Tania." Gio sendiri merasa tak enak hati. Yah, demi amanah.


"Cih. Ne, Kak Gio. Apa yang lain juga menaruh simpati pada jalang itu ?" Tanya Artamia. Gio hanya mengangguk.


"Labil. Sok peduli." Ejeknya..


"Artamia Scarlet." Tegur Farel.


"Kenapa ? Aku sudah muak, Kak. Camkan ini ! Selama drama murahan ini tak menyeret Titania Scarlet, aku akan diam. Tapi, jika mengusiknya ! Menghancurkan seorang Sakhira Amira bahkan Gray Alphanius pun akan kulakukan. " ancam Artamia.


"Dasar keras kepala. " gerutu Farel.


"Scarlet memang keras kepala." Timpal Gio.


"Sudah tahu begitu masih cari masalah dengan kami. Cari mati saja !" Balas Artamia ketus.


.


.


Di saat mereka sibuk mencari cara untuk menutupi permasalahan Sakhira. Ada pihak lain yang turut ikut campur. Tanpa komando siapapun, dia mengekspos semuanya.


Secepat kilat kabar percobaan bunuh diri Sakhira menjadi trending topik. Apalagi bumbu perselingkuhan Gray Alphanius dan Sakhira Amira.


"Ada apa ini ?" Tanya Satria saat mendapati salah satu staf menghampirinya.


"Kabar buruk."


"Kenapa diluar begitu ramai ? Apa Nico yang menyebabkan semuanya ?" Tanya Ray.


"Kabar percobaan bunuh diri Sakhira sudah beredar. " ujarnya.


"Apa ?!"


"Bagaimana bisa ? Siapa yang membocorkan kabar ini." Ray dan Satria semakin pusing memikirkannya.


"Kita harus mengadakan konferensi pers. Aku tak mau berita ini menjadi semakin kacau." Putus Satria


"Tapi..."


"Aku tak menerima penolakan, Narayyan Zhao" Sela Satria.


"Baiklah."


Dalam benak hati Satria merasa lega karena tak harus menjalankan rencana idiot Ray.


.


.


"Yang khianat biar mendapatkan ganjarannya." Batin seseorang masih duduk di depan sebuah laptop yang menyala, usai mengunggah sesuatu.


.


.


"Pergilah ! Kita sudah selesai berbicara." Ujar Tania dengan nada dingin.


"Tania."


"Sudah kukatakan berulang kali. Aku tak memiliki hati lapang untuk memberimu kesempatan kembali. Cukup dengan memaafkan kesalahanmu. Tapi tidak dengan kembali padamu." Terang Tania.


"Aku tahu kesalahan begitu besar padamu, Tania. Permintaanku bahkan terkesan tak tahu diri. Tapi, apa dayaku tak mampu menampik perasaan ini. Aku masih sangat mencintaimu. "


"Bullshit. Cinta yang keluar dari mulutmu hanya menyakitiku. Pergilah ! Carilah kebahagianmu. Carilah cintamu yang baru. Biarkan aku memulai lembar baru lagi." Pinta  Tania


"Tak tersisakah sedikit cintamu untukku ?" Gray menatap sendu Tania.


"Jangan bercanda. Cinta yang kau harapkan itu sudah lama mati." Usai mengatakan hal tersebut Tania memilih pergi. Tak mau memperpanjang pembicaraan tak penting itu.


"Aku mencintaimu. Tak bisakah kau memikirkannya lagi ? Bukankah tak sebentar kita bersama kenapa tak kita coba memulai kembali." Peduli setan, Gray hanya ingin Tania kembali padanya.


Sejenak Tania menghentikan langkah kakinya.


"Jika kau mencintaiku, kau tak akan membagi cintamu dengan menduakanku, Gray Alphanius." Ujar Tania tanpa menoleh ke arah Gray.


Inilah pilihan Titania Scarlet. Memilih membuka lembaran baru bersama cinta yang baru. Sudah cukup sampai disini kisah cinta Titania Scarlet dan Gray Alphanius.  Semuanya tinggalkan kenangan. Tania tak mau dibutakan cinta.


Disana sosok yang senantiasa bersabar mengobati luka hatinya. Berdiri tegap menanti kedatangannya. Melihatnya membuat Tania mempercepat langkah kakinya. "Aku memilikimu sekarang. Dia hanya masalaluku." Gumam Tania dengan air mata menetes di pipi.


Tak butuh waktu lama untuk menggapainya. Tania langsung mendekap erat kekasihnya, Farel Mahendra.


"Selamat datang, baby." Bisik Farel sembari membalas pelukan Tania.


"Em."


"E-to.. Maaf mengganggu tapi disini masih ada Aku dan Kak Gio." Mendengar suara Artamia secara reflek Tania melepaskan diri dari pelukan Farel. Ia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Artamia dan Gio menatap jahil padanya.


"S-sejak kapan kalian disini ?" Gagap Tania.


"Sebelum kau datang kami sudah disini, Tania." Jawab Gio.


Sembarut merah muncul di pipi Tania.


"Aku tak melihatnya." Lirihnya.


"Yang kau lihat cuma seorang Farel Mahendra saja sih." Goda Artamia.


"Apa aku begitu lebar hingga menutupi mereka, sayang." Timpal Farel ikut-ikutan menggoda Tania.


"A-apa ?!"


Melihat keadaan Tania yang menurutnya kembali seperti dulu membuat Gio urung untuk melibatkan Tania. Biarlah masalah ini mereka yang mengurusnya, biarkan Tania melangkah untuk kebahagiaannya sendiri.


"Berhenti tersenyum sendiri seperti orang gila, Fernandes." Sembur Tania


dengan berkacak pinggang.


"Hei. Mana ada orang gila setampan ini." Balas Gio.


"Cih. Lalu ada apa kau datang kemari?" Tanya Tania.


"Itu..." Gio melirik ke arah Artamia yang memberinya isyarat potong leher. Ngeri juga si bungsu ini.


"Tak apa. Aku hanya mau bertemu Gray"


"Kak, aku lapar." Rengek Artamia.


"Baiklah. Apa kau mau ikut kami ?"


"Tidak." Tolak Gio.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya Giovani Fernandes."


"Em."


"Tolong jaga Tania dengan baik, Farel Mahendra. "


"Pasti."


Dalam diam Gray melihat interaksi Tania dengan Farel. Dan itu menyakitkan. Gray memilih pergi tak mau melihat hal itu.


.


.


Statmen dari agensi sudah keluar. Dimana mereka mengiyakan percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh Sakhira. Tak kuat menghadapi tekanan dari netizen yang mereka gunakan untuk alibi.


Mendengarnya Sakhira hanya pasrah dengan nasib karirnya. Ulahnya sendirilah yang membuat ia jatuh. Sudah cukup baginya bersikap egois. Sudah cukup ia menyakiti mereka yang peduli dengannya.


"Aku tak bersyukur dengan yang kumiliki. Aku terlalu iri dengan nasib baik orang lain." Gumam Sakhira.


"Inari."


"Ya.?"


"Bisakah kau membantuku bertemu dengan Tania ?"


"Lebih baik kau fokuskan diri pada kesehatanmu saja." Inari enggan membahas masalah itu. Takut amarahnya terpancing jika mengingat  betapa teganya Sakhira pada Tania.


"Aku ingin  bertemu dengannya. Aku ingin meminta maaf bahkan jika perlu aku akan bersujud di kakinya. Kesalahanku  begitu besar padanya." Jelas Sakhira dengan wajah sedih.


"Hah !? Kau memang bodoh. Egois." Cibir Inari.


"Jujur saja aku tak tahu dimana Tania


." Sambung Inari.


"Begitu ya. "


"Maafkan aku, Inari. Atas kelakuan burukku pada kalian." Lirih Sakhira.


"..." Inari hanya diam.


"Aku tahu kau ingin berada disisi Tania. Pergilah Inari. Jangan paksakan dirimu untuk menemaniku. Aku tak apa. Aku sudah bahagia dengan kepedulianmu." Ujarnya lagi.


"Apa kau tak bisa diam ? Aku memang sangat ingin bersama Tania. Tapi aku tak bisa membiarkanmu sendiri." Jujur Inari.


"Yo. Aku datang. " Si pirang Luffy main selonong masuk.


"Eh ? Apa aku mengganggu pembicaraan kalian ?" Tanya Luffy.


"Tidak." Jawab Inari.


"Dimana yang lainnya, fy ?"


"Entahlah. Yang kutahu Ray masih bersama CEO"


"Eh ? Aku baru datang dan kalian todong aku dengan banyak pertanyaan. Teganya. "


"Jawab saja." Ketus Inari


"Aku tak tahu dimana Gray. Setelah berbicara dengan Tania ia menghilang begitu saja. Begitu kabar yang kudapatkan." Kata Luffy santai.


"Apa ? Bagaimana bisa ? Apa Tania tak mau kembali pada Gray ? Bodohnya dia menyia-nyiakan cinta Gray. " tanpa sadar Sakhira mengatakan hal itu. Ia marah jika ada yang menyakiti Gray


"Jaga bicaramu, Sakhira. Aku memang sahabat Gray. Tapi aku tak buta untuk melihat siapa yang sudah menyia-nyiakan kepercayaan itu." Mendadak nada suara Luffy begitu dingin. Tatapannya juga tajam. Tak suka mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sakhira.


Sakhira tertegun. Luffy yang selalu bersikap hangat bisa  begitu dingin padanya.


"Sudahlah. Berpikir positif saja bahwa Gray sedang butuh waktu sendiri. "Inari bersuara.  Luffy hanya mendengus.


"Terlalu lama bergaul dengan Sai jadi mulutmu tajam juga ya." Seru seseorang yang main selonong masuk saja.


"Gio."


"Yo." Sapa Gio.


"Kau sudah menemuinya ?"


"Em. Sudahlah tak usah mengusik Tania." Ujar Gio.


"Apa maksudmu Gio ? Kau tidak..."


"Cukup ! Jangan usik kehidupannya lagi. Aku tak kan membiarkan itu." Sela Gio. Inari tak berbicara lagi. Ia mau tak mau memahami pemikiran Gio.


.


.


"Sebodoh apa Sakhira Amira hingga berniat mati." Tania akhirnya tahu kabar itu dari televisi. Sepengetahuan Tania, Sakhira Amira bukanlah wanita lemah. Ia berpendirian teguh apalagi dengan sikap keras kepalanya.


"Kau tak akan ikut campur, bukan, Kak?" Tanya Artamia.


"Apa Scarlet yang menyebarkan kabar itu, Mia ?" Tania balik bertanya.


"Tidak." Jawab Artamia tegas.


"Baiklah. Baiklah. Kami hanya mengintervensi pihak yang memakai jasa Sakhira." Jujur Artamia. Tatapan menyelidik Tania sungguh tak menyenangkan.


"Kau yakin ? Lalu masalah perselingkuhan...."


"Kami tak mengumbar masalah pribadi." Sela Artamia.


"Aku justru bersyukur pada pihak yang sudah mengungkap semua kebenaran ini." Tambahnya.


"Sudahlah, Kak. Kau tak perlu pusing urusan mereka. Kau fokus saja mempersiapkan acara pertunanganmu."


"Aku tahu. Aku hanya sedikit cemas dengannya."


"Begini saja. Aku akan sedikit membantunya. Dengan syarat Kakak tak perlu bersinggungan lagi dengan manusia itu. Deal ?" Artamia mengajukan penawaran.


"Aku ingin menjenguknya."


"Hanya via telepon. Aku tak mau drama ini terus berlanjut." Tegas Artamia .


"Baiklah. Kau menang." Tania mengalah. Lagian ia juga sudah lelah dengan problematika ini.


Artamia mengutak-atik ponselnya. Ia bermaksud menghubungi Gio.


"Ya ?"


"Kau berada di tempat si uler kah, Gio?"


"Ya. Ada apa, Mia ?"


"Kakakku mau bicara dengan ratu drama."


Artamia dapat mendengar kekehan Gio.


"Kau pandai memberi julukan. Baiklah ! Aku akan menyerahkan ponsel ini pada ratu drama."


Artamia menyodorkan ponsel pada kakaknya.


.


.


.


"Tania. Kaukah itu ? Aku sungguh minta maaf dengan semua kesalahanku. Aku..."


"Aku memaafkanmu, Sakhira." Sela Tania.


"Benarkah ?"


"Em."


"Kalau begitu maukah kau mendengarkan penjelasanku."


"Katakan saja."


"Ini tentang Gray. Dia selalu mencintaimu, Tania."


"...."


"Akulah yang menawarkan diri sebagai pelarian dikala dia jenuh padamu. Semua yang kulakukan untuknya tak sedikit pun menggoyahkan cintanya untukmu. Titania, tak bisakah kau merasakan besar cinta Gray untukmu."


"..." Tania hanya diam.


"Tania ?"


"Terimakasih penjelasanmu, Sakhira. Tapi aku sudah menganggap dia hanya masa laluku." Jawab Tania tegas.


"Tapi..."


"Aku sudah menutup lembaran itu. Tak perlu diungkit lagi. Jika kau memang masih mencintainya. Silahkan perjuangkan. Jangan paksakan opini mu padaku. Aku tak sebaik yang kau pikirkan." Sela Tania.


"Sudahlah. Aku harap kau menemukan kebahagiaanmu. Jaa !" Tania memutus sambungan telepon itu. Ia menghela nafas.


"Kenapa selalu membahas Gray dan Gray." Gumam Tania.


.


.


Light Entertaimen terpaksa menonaktifkan kegiatan keartisan Sakhira Amira dikarenakan banyaknya petisi boikot yang ditujukan pada Sakhira.


"Sementara ini Sakhira harus tenangkan diri. Dia  bisa berlibur ke luar negeri atau apapun itu sampai kabar ini mereda." Begitulah saran dari Satria Winatajaya.


"Baiklah. Akan saya sampaikan padanya. Saya pamit. " Jawab Manager Sakhira.


Satria memijit keningnya.


"Ray.. Apa kau berniat menggantikan posisiku ?"


"Terimakasih. Dengan senang hati aku menolaknya." Jawab Ray.


"O, ya. Apa Gray sudah pergi ?" Tanya Satria.


"Ya. Lima belas menit yang lalu Gray menuju ke Jepang menggunakan pesawat pribadi keluarganya. Dia perlu menata hatinya yang hancur itu."


"Akhir yang tak terlalu buruk." Gumam Satria.


"Aku masih penasaran siapa yang menyebar berita itu."


"Entahlah."


.


.


Di sisi lain, seorang sutradara muda dan salah satu anggota BadBoys  ber high five. Mereka adalah Yuki Zhao dan kekasih Inari, Sai.


"Enak saja kehidupan Narayyan Zhao dan kekasihnya mau dikorbankan untuk pasanan pengkhianat itu. Tak kan kubiarkan." Kata Yuki puas dengan hasil kelakuannya.


"Ya. Aku setuju padamu, Yuki." Sai tak salah mencari rekan.


.


.


Selang dua bulan kemudian.


Pertunangan Titania Scarlet dan Farel Mahendra berjalan lancar. Kini mereka sedang mempersiapkan untuk acara pernikahan yang akan diselenggarakan tiga bulan lagi.


Drama cinta segi empat Sakhira Amira, Gray Alphanius, Titania Scarlet dan Farel Mahendra pun mulai mereda.


Kegiatan keartisan Fairy Girls dan BadBoys kembali berjalan lancar. Meskipun Gray dan Sakhira harus vakum sementara.


"Gio. Kau jangan cari masalah lagi." Kesal Satria pada anak didiknya itu.


Baru dua bulan ia tenang tanpa gosip, si Fernandes bungsu itu justru ketangkap basah tengah dinner dengan si sutradara muda sepupu dari Narayyan Zhao.


"Bodo amat." Cuek Gio.


"Jangan macam-macam dengan Yuki, Gio !" Ray memberikan peringatan.


"Ck. Diamlah." Ketus Gio. Lagian siapa yang menjalin hubungan dengan gadis cilik nan songong itu. Gio hanya sedang merayu Yuki untuk menjadi mak comblangnya dengan Marsya Ilminata


.


.


"Tera. Kau sudah siap ? Aku masuk ya..." ujar Nico dengan muka memerah.


"T-tunggu. Aku belum siap Nic.." jawab Tera


Luffy yang mendengar dari balik pintu memerah mendengar percakapan absurd keduanya.


"Apa yang sedang kalian lakukan!!" Sekonyong-konyong Luffy mendobrak pintu dan mendapati Nico dan Tera tengah bermain eroge game.


"Apaan sih sialan !!!!" Teriak pasangan absurd itu.


"Jadi maksud ucapan kalian itu game.."


.


.


Sementara itu Gray memilih mengurus bisnis keluarganya. Ia menjadi workholic demi mengalihkan pikirannya.


"Apa kau sekarang bahagia, Titania ???"


"Aku selalu mendoakan kebahagianmu. Aku selalu mencintaimu. Berbahagialah kekasih hatiku."


    . . .  .... F I N.... . .