Our Love

Our Love
Part 46



Hanna hanya terdiam dan keluar dari ruangan Yeni. Semoga papa beneran tidak berencana untuk membunuh Livia. Gumamnya dalam hati. Yeni masih terdiam memikirkan kenapa bisa Livia bersama dengan papa Hanna.


"Semoga saja papa dan teman-temannya tidak berencana untuk membunuh Livia."


*****


Ping !


WhatsApp Yeni berbunyi, ada chat masuk. Ia membuka WhatsApp Web grup chat mereka.


Narul : Pergi makan yuk. Kemana gitu di hari minggu nanti ?


Nia : mau kemana ?


Narul : ga tahu intinya kita bisa ngumpul-ngumpul.


Nia : Kalau gue, Ai dan Hanna. Lu bisa tanyakan ke Yeni noh. Dia biasanya suka kasih kerjaan mendadak ke kita orang walau di hari minggu.


Yeni : Ada sih kerjaan buat lu, Ni. Tapi, kalau pada mau pergi ya uda gue tunda minggu depan.


Nia : Lu mau pergi kagak?


Yeni : Kalau pada mau pergi ya gue ikut lah. Sudahlah jangan ganggu gue. Sibuk.


Nia : Sok sibuk lu.


Ai Chan : Kalau Yeni mengijinkan ya Gue, Nia dan Hanna akan pergi.


Narul : Livia, lu mau pergi ga ?


Livia : Iya. Kalian atur aja.


Yeni : Nia, data yang gue minta uda belum ?


Nia : Sabar astaga lagi gue kerjain.


Yeni : buruan gue butuh datanya sekarang. jangan main hp mulu.


Nia : iyeee.


Narul : Pada mau makan apa ? Western ? Indo ? Chinese Food ? Korean ?


Yeni menutup aplikasi chat Webnya. Beberapa menit berlalu, Nia masuk membawa beberapa data. "Nih, data yang lu minta."


"Duduk disana dulu. Ntar gue liat."


"Mau makan apa uda mau jam makan siang nih ?"


"Terserah."


"Jangan terserah mulu ngapa."


Yeni menghampiri Nia yang duduk di sofa, mengambil data yang dibawa sahabatnya lalu kembali duduk. "Kau boleh pergi sekarang."


"Gitu doank ? Mau makan siang ga?"


"Samain aja dengan apa yang kalian pesan."


Nia hanya ber-hmmh ria lalu menutup pintu.


Beberapa hari kemudian...


Suasana kelas di kampus malam hari ini begitu sepi. Hanya ada 1 atau 2 orang tidak lupa Livia berserta teman-temannya yang masih datang ke kampus untuk datang di hari terakhir konsultasi mata kuliah On The Job Training sebelum beberapa minggu kedepan mereka akan di sidang. "Kalian mau sidang minggu ke 1, 2 atau 3?" Tanya Hanna menatap jadwal sidang OJT di ponselnya.


"Aku di minggu pertama alias minggu depan." Jawab Livia yang duduk disamping Hanna.


"Aku, Yeni dan Nia di minggu kedua." Ai Chan memberikan jawabannya.


"Iya nih. Masih ada banyak yang harus aku revisi. Mana kerjaan kantor juga numpuk banget."


"Kau sendiri kapan mau sidang ?" Livia bertanya balik ke Hanna.


"Sepertinya akan barengan dengan Narul."


Beberapa orang mahasiswa/i datang ke kelas mereka dari ruang kelas yang lain, "Yeni Kusuma ya ?" tanya seorang dari mereka membuat Livia dan yang lainnya saling menatap.


"Iya. Kalian siapa ya?"


Mereka tampak bahagia, "Kami mau berteman dengan kau. Siapa tahu kita bisa dekat. Oh iya, namaku Gea dan ini teman-temanku, Mia, Rio, dan Dennis."


"Ohh iya senang berkenalan dengan kalian." Yeni mulai risih jika ada orang yang mengetahui identitas aslinya lalu mereka yang baru ia temui langsung akrab begitu aja layaknya teman yang sudah lama ia kenal.


"Boleh minta nomor hp mu ? Siapa tahu kita bisa jalan-jalan bareng." Tanya Gea langsung mengeluarkan ponselnya.


"Maaf ya, saya tidak bisa memberikan nomor ponsel ke orang yang baru di kenal."


"Kita bukan orang jahat kok. Masa minta nomor ponsel saja tidak bisa ?" (Dennis)


"Semua orang juga akan bersikap hal yang sama, kan ? Coba kalian di jalan lalu bertemu dengan orang yang langsung minta nomor ponsel kalian. Apakah kalian akan langsung memberikannya ? Tidak kan ?"


Mahasiswa/i terdiam saling memandang, "Ya sudah tidak apa-apa. Tapi, kita bisa berteman kan?" Tanya Gea.


"Iya." Jawab Yeni yang membuat mereka tampak bahagia lalu pamit karena kelas mereka akan segera dimulai.


"Pasti ada mau nya." Gumam Hanna.


"Memang." Yeni memandang bodyguardnya yang duduk dibelakangnya dan berbisik, "Kau cari semua latar belakang mereka."


"Baik." Dosen pun datang seiring dengan kelas terakhir OJT dimulai. Beberapa puluh menit berlalu, kelas pun dibubarkan lebih cepat karena beberapa mahasiswa/i telah selesai dengan konsultasi akan laporan mereka.


Narulita merenggangkan kedua tangannya, "Akhirnya selesai juga. Pass jam 19.30. Pergi makan yuk. Laper nih."


"Mau kemana ?" (Nia)


"Mall lah yang dekat sini."


"Naik apa kesana? Mobil online?" Tanya Ai Chan yang tengah berberes.


"Yeni bawa mobil 'kan?"


Yeni hanya bisa mendesah pelan, "Ya sudah ayo pergi. "Baru saja mereka berjalan mendekati pintu Gea dan teman-temannya datang menghampiri.


"Yeni, mau kemana?" Tanya Mia.


"Pulang."


"Oh gitu. Padahal kita mau ngobrol. Ayo kita antar ke mobil." (Dennis)


"Tidak usah. Aku buru-buru nih. Bye." Yeni langsung pergi begitu aja.


Gea menatap teman-teman Yeni yang masih berada disana, "Kakak, uda berapa lama temanan ama Yeni?"


"3 tahun. Ini mau ke 4 tahun." Jawab Nia.


"Rahasianya apa sih agar kakak bisa dekat dengan Yeni?" (Mia)


Gea menyenggol lengan Mia, "Kau itu tanya pada kakak yang itu dan itu. Jangan pada kakak yang lain karena jelas mereka semua kaya." Gea menunjuk kepada Livia dan Narul.


"Maksudnya apa ya?" Narul mulai tersinggung.


"Tidak ada apa-apa hehe. Permisi." Gea menarik Mia masuk kembali dalam kelasnya.


-To Be Continue-