Our Love

Our Love
Part 22



Livia melirik jam tangannya, "Sudah jam 12 siang. Saya pergi makan siang dulu ya pak." Tidak lupa file tersebut save terlebih dahulu video yang sudah dia edit dan pergi.


Tiara berjalan menghampiri prianya, "Sayang, Dia sudah pergi bagaimana jika kita bermain sebentar ?"


Jimmy menjauhkan wanita itu darinya, "Kau pulang lah. Aku mau berkerja setelah makan siang."


"Aku bosan di apartemen. Aku disini saja begitu pekerjaanmu selesai kita makan malam di luar ya ?"


"Tidak. Aku sibuk."


"Sayang, bisakah kau mengapus semua pemberitaan tentang hubunganmu dengan gadis cupu itu ? Aku tidak suka."


"Biarkan saja." Pintu ruangan Jimmy terbuka, "Papa?"


"Papa datang ingin membicarakan berita yang tengah jadi pembicaraan dimana-mana. Apakah kau tidak keterlaluan membuat berita seperti itu ? Memang tidak berdampak besar padamu. Namun, pikirkan Livia yang terkena dampaknya."


"Gadis itu juga masa bodoh dengan pemberitaan ini. Karena dia tahu memang tidak ada hubungan apapun diantara kami."


"Lalu, kenapa kau membuat berita seperti itu ?" Seorang OB masuk dan mengantarkan makanan pesanan Jimmy, setelah selesai ia pun keluar.


"Hanya membuat Tiara tak selalu mendekati ku tapi, malah tidak mempan."


"Sayang, kenapa kau jahat sekali ?"


"Memang dari awal aku tak suka padamu."


Tiara berdiri, "Pasti gara-gara gadis itu kan kau jadi begini ?"


"Tiara berhenti menyalahkan orang lain. Sebelum ada Livia pun aku bahkan tak menyukaimu sama sekali."


"Selama ini kau anggap aku apa ?"


"Mainan."


"Kau jahat ! Setelah selama ini aku selalu setia padamu dan ini balasan yang aku dapatkan."


"Aku tak pernah memintamu untuk setia padaku."


"Lihat saja kalau aku berhasil mendapatkan pria lain, kau pasti akan merangkak dan memintaku kembali padamu. Ck. Aku bisa dapatkan pria yang lebih kaya darimu."


Jimmy tersenyum, "Kau sudah mendapatkan target ?"


"Tentu saja. Direktur Perusahaan Kusuma. Kalau begitu sampai jumpa." Tiara pergi.


"Kau tidak menahannya ?"


"Tidak, pa. Biarkan saja."


Di kantin...


"Hmmh." Livia sungguh enggan membahas masalah ini.


"Dia tidak mencari masalah denganmu ?"


"Tidak. Hanya Tiara yang mencari masalah."


"Bagaimana jika kita balikan lagi ?"


Livia menatapnya bingung, "Aku hanya ingin fokus dulu pada tugas akhirku."


"Tapi, aku masih mencintaimu, Livia?"


"Aku sudah tidak mencintaimu, Robert."


Robert tersenyum miris, "Akan aku buat kau mencintaiku lagi."


"Silakan."


Setidaknya gadis itu tak menolaknya mentah-mentah.


Drrtt.. drrttt.. Ada chat masuk..


Boss gila : Hanya memberikan info entah akan berguna atau tidak. Tiara mencari target baru dan itu adalah kakak dari temanmu, Yeni.


Sudah tidak aneh melihat ada wanita seperti itu dan benar saja yang dikatakan Jimmy waktu itu sungguh terjadi.


"Hari minggu bagaimana kalau kita nonton ?"


"Aku tak bisa. Hari minggu aku harus ke makam papa dan mama. Karena minggu nanti adalah tepat 12 tahun kejadian itu." Livia memasukkan kembali ponselnya dalam tas.


"Aku temani."


Begitu jam makan siang selesai, Livia kembali ke ruangan Jimmy. "Eh, om dan tante. Hai Tasya."


"Hai juga kakak. Kangen deh.." Tasya berlari memeluk Livia.


"Tumben papa dan mama kemari ada apa ?"


"Ada yang ingin papa dan mama bicarakan karena selama seminggu, kami mau ke Singapore. Livia bisa duduk disini sebentar." Pinta mama Jimmy yang membuatnya bingung. Ini pembicaraan keluarga mereka, kenapa harus ada Livia juga ?


"Begini papa dan mama sudah membicarakan ini dan Tasya juga. Kalau...kalau kami berniat menjadikan Livia sebagai anak angkat dari papa dan mama."


"Apa ??" Livia dan Jimmy saling menatap.


Mereka tidak salah mendengar kan ?


-To Be Continue-