Our Love

Our Love
Sepuluh.



Cerita ini hanya karangan fiksi semata


Perhatian ! Typo dan Kata-kata kasar.


.


.


Selamat membaca


.


Sesuai dengan apa yang direncanakan. Siang itu Light Entertaiment menggelar konferensi pers untuk mengklarifikasi skandal hubungan Titania Scarlet dan Farel Mahendra.


Wartawan yang haus akan berita telah berkumpul di aula gedung agensi besar itu. Bahkan dari sejak pagi mereka sudah stand by di sekitar gedung tempat bernaung Titania Scarlet.


"Pastikan kau mencatat semuanya dengan benar."


"Buat pertanyaan sebanyak mungkin."


"Jangan lupa saat editing nanti beri bumbu-bumbu agar lebih memanas."


Mereka sibuk mengoceh ini itu, hingga tak menyadari sosok yang menjadi buronan mereka telah berhasil menyelinap masuk ke dalam gedung. Ya, Tania melakukan penyamaran dengan memakai baju Office girl. Lalu bergegas menuju ruangan yang telah ditentukan. Disana Farel sudah menunggunya.


.


"Akhirnya kau datang, sayang. " seru Farel kala melihat kekasihnya memasuki ruangan .


"Ya. Eh ? Dimana Paman Satria ." Tanya Tania kala mendapati hanya ada Farel disini.


"Dia sedang mengurus sesuatu dulu. " jawabnya.


"Begitu ya. "


Entah mengapa Tania merasa gugup dalam ruangan hanya berduaan dengan Farel. Bukankah ia sudah sering berpelukan bahkan berciuman dengan pemuda tampan itu. Harusnya ia sudah terbiasa, namun detak jantungnya tak berdetak dengan benar. Begitu mendebarkan.


"Apa kau gugup ?" Tanya Farel. 


"Sedikit."


"Kau gugup karena pers ini atau kini berdua saja denganku." Farel mengatakan dengan mengedipkan matanya. Genit.


Selalu menyenangkan menggoda Titania.


"A-apa maksudmu ?"


Melihat respon Tania, Farel pun tertawa lepas.


"Ugh, betapa manisnya kekasihku ini." Farel dengan gemasnya mencubit kedua pipi tembem Tania.


Saking gemasnya Farel menghujani kecupan beruntun di bibir Tania membuat sang empu semakin merona hebat. Sesekali Farel juga memberikan lumatan di bibir menggoda itu. Keduanya larut menikmati sentuhan dari yang terkasih.


"Ehem." Deheman seseorang membuat Farel dan Tania otomatis mengambil jarak diantara mereka. Tania sendiri meruntuki diri sendiri karena terbuai dengan tingkah Farel.


"Sialan. Dasar pengganggu. " kesal Farel.


"Ah. Nico." Farel kikuk saat tahu siapa yang mengganggu. Tania sendiri sudah ingin menghilang saja dari situasi ini.


"Kakak. " Rona merah masih terlukis indah di pipi Tania.


"Aku tahu kalian sedang kasmaran. Tapi, tolong tahu tempat. " ujar Nico sinis.


"Sudah tiga orang coba memanggil kalian tapi memilih kembali lagi dengan alasan tak mau mengganggu Lovey dovey kalian." Sungut Nico.


"A.. benarkah ? Aku tak mendengar ... "


"Mana bisa kau mendengar. Kau sibuk dengan adikku."


"Maaf, Kakak Ipar."


"Bodo amat. Cepat kalian keluar. " ketus Nico.


"Astaga ! Kakakmu seperti perempuan datang bulan saja." Bisik Farel.


"Aku mendengarnya." Delik Nico yang dibalas cengiran tak berdosa ala Farel Mahendra.


"Dan kau hanya boleh menciumnya. Jangan gerakkan tanganmu ke mana - mana."


"Eh ? Bukankah jika kita ciuman otomatis tangan ikut membelai tubuh pasangan." Farel mendebat.


"Berani melakukan lebih dari itu. Maka kau akan bertemu dengan katana kesayanganku." Kesal Nico.


Belum jadi adik ipar kok songgong, batin Nico.


"Saat kau mencium Tera juga kau *** bokongnya, bukan ?"


Mendadak wajah Nico merah padam. Darimana si brengsek ini tahu ?


"J-jangan asal bicara." Nico masuk dalam mode gagap ala Tania sedang gugup. Ugh, lucunya.


"Eh ? Saat Aku hendak mengambil minum, aku melihat sendiri kau melakukannya." Ujar Farel tanpa sengaja membongkar aksi mengintipnya kemarin.


Skakmat. Nico tak bisa membalas lagi.


"Sama-sama mesum jadi tak heran kalian akrab sekali ya." Cibir Tania. Nico mendelik ke arah adik kesayangannya itu.


"Apa menjadi kekasih Farel Mahendra membuat matamu bermasalah, Adikku sayang." Ketus Nico.


"Ya. Itu mungkin salah satu efek dari ketampananku yang terlalu tampan." Timpal Farel.


"Bodo amat." Koar Scarlet Bersaudara jengah mendengar jawaban narsis Farel.


"Eh? Apa yang salah ? Itu fakta." Gumamnya.


Tania hanya bisa menggelengkan kepala melihat betapa absurdnya kedua pria yang ia kasihi ini.


.


.


"Menyingkir dari hadapanku, Luffy. " Perintah Gray.


"Tidak. Kau tak boleh melakukannya, Teme." Luffy tak kalah tegasnya.


"Kau hanya akan membuat malu dirimu sendiri. Pakai otakmu, bodoh." Seru Luffy.


"Aku tak peduli. Ini kesempatanku untuk bisa menemuinya. " Desis Gray.


"Pasti ada cara lain. Ayo kita pikirkan bersama." Bujuknya.


"Tidak. Kau lihat sendiri saat aku datang baik-baik. Si Nico sialan itu tak mengijinkan aku menemui Tania. Di terus mengikuti kemanapun Tania pergi. Mencegahku untuk mendekatinya. Argh ! Sialan kau, Nicolas Scarlet." Amuk Gray.


"Ditambah lagi si Farel terus menempel padanya. Itu sangat menggangguku." Sambungnya.


"Aku rasa wajar mereka protektif pada Tania setelah semua insiden ini terjadi." Jawab Luffy.


"AUGUST !." Geram Gray.


Luffy menghela nafas. Kekanakan sekali Gray yang tengah emosi, pikirnya.


"Katakan padaku. Apa yang kau harapkan dengan bertemu Tania." Tanya Luffy erius.


"Apa maksudmu !"


"Jawab saja. Apa kau ingin memintanya kembali padamu atau kau hanya ingin meminta maaf. Atau hal lain ?"


"..."


"Sebelum kau melakukan hal tersebut. Dengar apa yang akan kukatakan ini."


"Dia sudah bahagia dengan bersama Farel Mahendra. "


"Kaulah yang memberi kesempatan untuk Farel Mahendra menjadi tempat bersandar Tania."


"Aku akui salah. Untuk itu aku ingin memulai semua dari awal lagi." Lirih Gray


Luffy diam sejenak.


"Tahu dirilah, Gray ! Pantaskah kau bersanding kembali dengan Tania setelah apa yang kau perbuat. Cih. Jangan mengatakan kau akan berubah ! Itu klasik ! Bullshit ! Menjilat ludahmu sendiri tentu tak mengenakkan, bukan ?" Kembali berceramah.


"Tenangkan dirimu. Jika kau sudah bisa merenungkan semua yang telah terjadi, datanglah padaku. Aku akan berusaha membantu mencari solusi."


"Aku akan mencari celah agar kau bisa bertemu dengannya."


"Dan ingat satu hal. Aku hanya membantumu bertemu dengannya bukan bantuan untuk kembali mendapatkannya." Tegas Luffy sebelum pergi dari kamar Gray.


"Aku gila karenamu." Lirih Gray.


Akhirnya Gray memilih menuruti Luffy. Ia memegang ucapan sahabat-nya itu.


.


.


"Ada apa, Yuki ?" Tanya Ray pada sutradara muda sekaligus sepupunya, Yuki Zhao.


"Aku mendapat kabar dari Kiba-nii bahwa Sakhira Amira dilarikan ke rumah sakit, Kak Ray." Tutur Yuki.


"Apa ?? Bagaimana bisa ? Apa kau sudah memberitahu yang lainnya ?" Ray begitu terkejut dengan kabar yang ia dengar.


"Kak Indra hanya mengatakan ia menemukan Sakhira Amira dalam keadaan sudah tak sadar kan diri. Dia mencoba membunuh dirinya sendiri." jelas Yuki.


"APA ! Astaga. Kegilaan apalagi yang dilakukan si bodoh menyebalkan itu."


"Mungkin karena tertekan dengan kejadian yang menimpanya." Yuki mengeluarkan pendapatnya.


"Sepertinya kebodohan mereka sudah semakin dewasa, Kak." Yuki mengatakan dengan tampang polos.


Ray menyentil kening berponi Yuki. "Mulutmu itu bisanya nyinyir. "


"Sakit, Kak." Yuki mengelus keningnya.


"Rasakan ! Tapi terimakasih atas infonya. Aku akan menghubungi yang lain."


"Hm." Yuki melengos pergi.


"Hati-hati mengemudikan mobil ! Jangan mengebut !! " Teriak Ray.


"Ya ! Ya !" Sahut Yuki sambil melambaikan tangan.


Ray bergegas menemui Ema yang kebetulan ikut dengannya.


"Konfrensi pers Tania saja sudah bikin pusing. Dan sekarang Sakhira yang tak sadarkan diri. Sungguh hari yang sangat merepotkan." Dumel Ray.


"Kau bilang merepotkan tapi kau tetap saja ikut campur, Tuan Zhao." Sindir Ema.


"Karena aku peduli."


"Jangan mengeluh kalau begitu."


"Terserahlah !"


Bersambung.