Our Love

Our Love
Part 78



"Suatu saat nanti kita pasti akan memiiki anak seperti mereka." Ucapan Robert membuat pipi Livia memerah.


Ya.


Pasti akan sangat menyenangkan.


Kapan hal itu bisa terjadi padanya ?


"Nanti kita harus memberitahu kepada semua orang akan hubungan kita ini." Timpal Livia memandang Robert.


Pria itu memegang tangannya lalu menciumnya, "Pasti. Kita akan memberikan kabar bahagia untuk mereka sayang dan mereka pasti akan sangat senang mendengarnya."


Livia tersenyum, "Makasih ya karena sudah mau mencintaiku dan menerimaku apa adanya selama ini. Aku sangat beruntung memilikimu."


"Aku juga sayang. Terima kasih juga ya sudah mau menungguku dan tidak berpaling dariku." Ucap Robert sambil mencium tangan Livia.


Tidak terasa waktu selama 2 jam berlalu, mereka pun tiba di Villa milik Jimmy dan keluarganya. Empat mobil masuk kedalam halaman villa tersebut secara sejajar. Satu-persatu dari mereka pun keluar, "Akhirnya tiba juga." Ucap Livia yang dibantu oleh Robert menurunkan koper kecil miliknya.


"Tidak buruk juga villa milikmu." Komentar Yeni.


"Tentu saja. Kalian masuk saja ke dalam dan pilih kamar yang kalian inginkan. Setelah tiga puluh menit kita berkumpul lagi ya di hlamana belakang karena sudah disediakan makanan juga api unggun agar kita bisa bergembira ria." Ucap Jimmy sambil tersenyum.


"Api unggun ? Sepertinya seru juga." Ucap Nia.


Mereka masuk ke dalam villa itu, Yeni satu kamar dengan Hanna, sementara Nia dengan Narul sedangkan Ai Chan dengan Livia. Tiga puluh menit setelah mereka selesai mandi dan berberes, mereka semua kumpul di halaman belakang.


Sungguh mewah.


Ada banyak makanan tersaji disana.


Dan ada api unggun juga gitar.


Sungguh Jimmy sangat niat untuk menyiapkan semua ini.


"Wow. banyak sekali." Ucap Ai Chan terkejut melihat banyaknya makanan yang sudah disajikan diatas meja. "Ada acara apan sih ?"


"Ayo silakan duduk." Ucap Jimmy membuat semua orang terduduk.  "Tidak ada acara khusus kok. Aku hanya ingin bersenang-senang saja dengan kalian dari pada aku sendirian."


Robert memegang tangan Livia, "Mungkin kita bisa anggap untuk merayakan sebuah kabar bahagia."


"Kabar bahagia apa ?" Tanya Yeni antusias.


Livia tersenyum memegang tangan Robert, "Kami memutuskan untuk berpacaran kembali." Ucapnya tanpa sadar membuat pipi gadis itu memerah.


Semua temannya bersorak gembira, bahkan mereka mengucapkan selamat pada pasangan baru yang menjalin hubunganya kembali, kecuali Jimmy yang entah mengapa tidak suka mendengar hal tersebut. Setelah acara makan malam selesai, mereka berkumpul mengelilingi api unggun.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang ?" Tanya Nia pada Jimmy.


"Kalian mau main apa ?" Tanyanya balik.


"Truth or dare ?" Saran Hanna.


"Boleh juga tuh. Darenya pilih menyanyi saja biar seru." Nia tak mau kalah untuk memberikan saran.


"Baiklah. Bagaimana dengan yang lain ?" Tanya Robert yang diajawab dengan anggukan dari yang lain. Pria itu mengambil sebuah botol kosong lalu diputar ke tengah, begitu berhenti botl tersebut tertnuju pada Livia.


"Aku ?" Tanya Livia sambil menunjuk pada dirinya sendiri, "Baiklah. Kalian mau tanya apa ? Aku pilih truth saja."


"Aku yang tanya." Narul mengajukan dirinya sendiri, "Sejak kapan kalian memutuskan untuk menjalin hubungan kembali ?"


"Baru hari ini." Jawab Livia sambil tersenyum kecil.


"Hah ? cepat sekali." Timpal Hanna.


"Ya begitulah." Jawab Robert. "Sayang, kau sekarang putar botolnya."


"Ciee.. yang uda panggil sayang-sayangan.." Nia menggoda mereka. Membuat pasangan itu tersenyum saja. Livia memutar botol dan berhenti ke arah Jimmy.


"Truth or dare ?" Tanya Livia.


"Truth." Jawabnya singkat.


"Kenapa saat kau dan keluargamu tidak menghadiri pemakaman orang tuaku ?" Tanya Livia yang membuat Jimmy dan semua orang disana juga ikut terdiam.


"Aku pilih menyanyi saja. Mana gitarku." Ucap Jimmy yang menerima gitar dari pelayannya.


(Lagu : John Legend - All of Me)


What would I do without your smart mouth


Drawing me in, and you kicking me out


You got my head spinning, no kidding, I can't pin you down


What's going on in that beautiful mind


I'm on your magical mystery ride


*(*Apa yang kan kulakukan tanpa mulut pintarmu


Menghelaku, dan kau menendangku


Kau buat aku pening, sungguh


Aku tak bisa membuatmu diam


Apa yang terjadi di dalam pikiran yang indah itu


Aku ada di dalam kendaraan misterimu yang ajaib)


And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright


My head's underwater


But I'm breathing fine


(Aku sungguh pusing, Tak tahu yang mengenaiku, Tapi aku kan baik-baik saja


Kepalaku di dalam air


Tapi aku bisa bernafas tanpa kesulitan)


You're crazy and I'm out of my mind


Cause all all all ...


How many times do I have to tell you


 


Setelah Jimmy selesai bernyanyi semua orang bertepuk tangan, "Wah.. aku sungguh tak menyangka kalau kau pintar menyanyi." Puji Nia padanya.


"Aku memang dari dulu pandai menyanyi. Kau saja yang baru mengetahuinya." Jawab Jimmy meletakkan kembali gitarnya, lalu memutar kembali botol kosong untuk menentukan siapa yang akan menjadi sasaran selanjutnya.


"Aku ?" Tanya Hanna menunjuk ke arah dirinya sendiri. "Silakan tanyakan saja apapun yang ingin kalian ketahui."


"Apakah ada pria yang kau sukai sekarang ?" Tanya Nia padanya.


Sepertinya entah sejak kapan Yeni dan Hanna berbaikan dengan Nia, Ai Chan dan Narul.


Sungguh berita yang bagus. Livia turut senang mendengarnya.


"Sukai ? Tidak ada yang aku sukai." Jawab Hanna Jujur. " Oke. Sekarang girilanku." Ujar Hanna kembali memutar botol kosong beberapa saat kemudian botol itu berhenti ke... "Kok ke aku lagi sih ?" Gerutunya saat melihat botol kosong kembali mengarah padanya.


"Jangan diulang. Biarkan saja gitu." Ujar Jimmy.


"Ya sudah siapa yang mau tanya lagi." Ujar Hanna sambil mengambil snack diatas meja.


"Kalau aku jodohin mau ?" Tanya Jimmy padanya.


Hanna menatap tajam ke arahnya, "Tidak. Makasih." Ujarnya kembali memutar botolg kosong itu, dan berhenti pada Robert.


"Silakan." Ujar Robert dengan santai.


"Jika aku menjadikan Livia sebagai adik angkat, maka setelah kalian menikah aku mau kalian tinggal di rumahku. Bagaimana ?" Tanya Jimmy membuat semua orang disana terdiam.


Kenapa tiba-tiba jadi serius sih suasana ini ?


"Tidak. Livia akan ikut denganku tinggal di rumah orang tuaku." Jawab Robert dengan tegas. Pria itu memutar botol kosong dan mengarah pada Ai Chan.


"Aku ? Wow, aku tidak menyangka pada akhirnya aku yang kena." Ujar Ai Chan.


"Aku mau tanya, apakah perusahaan milik keluargamu berhasil melacak dimana Tiara berada ?" Tanya Yeni.


Ai Chan menatapnya bingung, "Haruskah suasana ini jadi sangat serius ? Tidak. Kami tidak dapat melacaknya ada dimana. Dia selalu berpindah-pindah tempat dengan menggunakan nama dan alamat palsu." Jawalnya. Gadis itu kembali memutar botol kosong mengarah ke Robert..


Mereka semua saling memandang satu sama lain.


Bingung akan hal apa yang mau mereka tanyakan.


"Kapan kau mau menikahi Livia ?" Tanya Ai Chan yang membuat Livia dan Robert terdiam. Mereka belum sampai memikirkan hal seperti itu.


"Kenapa terdiam ? atau kalian mau menyanyi saja ?" Tanya Yeni.


Robert mengambil gitar lalu mengatakan, "Kita nyanyi saja."


"Nyanyi apa ?" Tanya Livia lalu Robert berbisik padanya.


(Lagu : Ariana Grande & John Legend - Beauty and the Beast)


Tale as old as time


True as it can be


Barely even friends


*(*Kisah yang tlah setua waktu


Senyata kenyataan


Sama sekali bukan teman)


Than somebody bends


Unexpectedly


Just a little change


Small to say the least


(Hanya seseorang yang bertemu


Tak terduga


Hanya sedikit perubahan


Kecil, setidaknya ada)


Both a little scared


Neither one prepared


Beauty and the Beast


Ever just the same


Ever a surprise


(Keduanya sama-sama agak takut


Dua-duanya tak siap


Putri cantik dan si buruk rupa


Sama-sama


Sama terkejutnya)


Ever as before


And ever just as sure


As the sun will rise


Ever just the same


(Seperti sebelumnya


Dan sama pastinya


Seperti terbitnya mentari


Sama-sama)


Ever a surprise


Ever as before


Ever just as sure


As the sun will rise


(Sama terkejutnya


Seperti sebelumnya


Dan sama pastinya


Seperti terbitnya mentari)


Setelah selesai bernyanyi berduet, mereka mendapatkan tepuk tangan dari semua orang."Tidak seru ah, kalau menyanyi terus. Kalian tidak ada yang mau menjawab dengan jujur." Gerutu Jimmy.


"Namanya juga game. Ya sudah, kita tanyakan saja pertanyaan padamu lihat apakah kau bisa jawab atau kau malah memilih bernyanyi." Tantang Yeni padanya.


"Ya sudah katakan apa yang mau pertanyakan." Jawab Jimmy padanya.


"Apakah kau punya sebuah rahasia yang disembunyikan dari kami ?" Ucapan Yeni membuat Jimmy terdiam dan langsung mengambil gitar.


Membuat semua orang tertawa mendengarnya, "Kau puas. Aku menyanyi nih." Gerutu Jimmy


(Lagu : Anne Marie - 2002)


I will always remember


The day you  kissed my lips


Light as a feather


And it went just like this


(Akan selalu kuingat


Hari ketika kau kecup bibirku


Ringan bak bulu


Dan terjadi begitu saja)


No, it's never been better


Than the summer of 2002 (ooh)


Uh, we were only eleven


But acting like grown-ups


(Tak pernah ada yang lebih baik


Daripada musim panas tahun dua ribu dua


Saat itu kita baru sebelas tahun


Tapi bertingkah bak orang dewasa)


Like we are in the present


Drinking from plastic cups


Singing, "Love is forever and ever"


Well, I guess that was true


(Seperti kita saat ini


Minum dari cangkir plastik


Nyanyikan lagu "cinta selama-lamanya"


Yah, kurasa memang benar)


Dancing on the hood in the middle of the woods


On an old Mustang, where we sang


Songs with all our childhood friends


And it went like this, say


Oops, I got 99 problems singing bye, bye, bye


(Berdansa di atas kap mobil


Di tengah-tengah tumpukan


Mustang tua


Dimana kita nyanyikan


Lagu-lagu dengan teman-teman masa kecil kita


Dan terjadi begitu saja, katakan


Oops, aku punya sembilan puluh sembilan masalah nyanyikan dah dah dah


Tunggu, jika kau ingin pergi berkendara denganku)


Better hit me, baby, one more time, uh


Paint a picture for you and me


On the days when we were young, uh


Singing at the top of both our lungs


(Kejutkanlah aku, sayang, sekali lagi


Lukislah gambar untukmu dan untukku


Tentang hari-hari ketika kita belia, uh


Bernyanyi di puncak paru-paru kita)


Now we're under the covers


Fast forward to eighteen


We are more than lovers


Yeah, we are all we need


When we're holding each other


I'm taken back to 2002 (ooh)


Yeah


(Kini kita dalam penyamaran


Putar cepat ke usia delapan belas


Kita lebih dari sekedar kekasih


Yeah, kitalah yang kita butuhkan


Saat kita saling mendekap


Aku terbawa kembali ke tahun dua ribu dua)


Setelah selesai Jimmy kembali memutarkan permainan dengan memutar botol kosong dan botol itu berhenti ke Livia. Lagi. Entah sudah berapa kali dia kena.


"Bolehkah aku bertanya ?" Ujar seorang wanita datang. Dia tamu tak diundang. Tamu yang tidak diharapkan.


"Kenapa kau bisa datang kemari ?" Tanya Yeni padanya.


Wanita itu adalah Tiara yang tersenyum, "Aku tahu kalian mengadakan pesta disini. Tidak ada salahnya. Bukankah dari tadi kalian mencariku ?"


"Siapa yang mengundangmu ?" Tanya Hanna yang juga menatapnya tajam.


Tiara menengok ke arah Jimmy, "Dia."


"Kenapa kau mengundangnya kesini ?" Tanya Yeni.


Tiara memasang wajah tampak terkejut, "Kenapa kau sangat marah sekali Yeni Kusuma ? Aku sama sekali tidak ada masalah apapun denganmu. Kalian sedang bermain truth or dare ya ?" Tanyanya menatap Livia, "Lalu, kau yang kena ? Bolehkah aku bertanya padamu ?" Tanyanya pada Livia.


Livia mengganguk pelan, "Silakan."


"Kalau seandainya, hanya seandainya saja. Apakah kau mempercayai kalau aku mengatakan salah satu dari kelima teman-temanmu ini, dua diantara mereka bisa menusukmu dari belakang ?" Tanya Tiara mencoba mengabaikan tatapan tajam dari Hanna dan Yeni.


Ini sangat menarik.


Tiara sangat menyukainya.


Sementara Livia terdiam, gadis itu selalu mendapatkan pertanyaan yang sama dari wanita itu, bahkan Robert pernah mengungkit hal yang sama.


Livia memandang satu-persatu wajah teman-temannya.


Mungkinkah kalau yang dikatakan oleh Tiara dan Robert itu ada benarnya ?


Bagaimana jika hal itu memang terjadi ?


Apa yang harus aku lakukan ?


"Tidak. Aku tidak akan mempercayai hal itu." Jawab Livia meskipun di hatinya berkata lain.  Gadis itu memandang teman-temannya, "Aku mempercayai mereka tidak melakukan hal buruk padaku. Selama tidak ada buktinya maka, aku tidak akan mempercayai hal tersebut." Jawabnya jelas.


Tiara hanya tertawa kecil mendengarnya.


Yang benar saja.


Livia memutar kembali botol kosong itu dan tertuju pada Yeni, Baru saja gadis itu membuka mulut, Nia langsung mengambil alih, "Kenapa kau begitu marah saat kami mengintrogasi Jimmy yang mau membunuh Tiara ?"


Tiara tampak terkejut memandang ke arah Jimmy lalu berkata, "Wow. Kau sungguh dendam padaku ? Aku tidak berbuat apapun pada keluargamu. Kenapa kau berniat membunuhku ?"


"Karena memang ada hal yang tak harus kalian ketahui. Itu saja Nia." Jawab Nia ketus.


"Sudah-sudah. Sekarang jangan bertanya ke pertanyaan serius begitu. Ayo Yeni putar saja botol kosongnya." Saran Hanna pada mereka semua. Gadis itu kembali memutar botol kosong dan tertuju kembali pada Livia.


"Kenapa aku terus yang kena ?" Gerutu Livia. "Aku pilih nyanyi saja tapi dengan Robert boleh ?" Tanyanya sambil memegang tangan pria itu yang disambut dengan sorak sorai teman-temannya yang setuju akan apa yang gadis itu katakan.


(Lagu : Rossa feat Afgan - Kamu Yang Ku Tunggu)


Telah ku temukan yang aku impikan


Kamu yang sempurna


Segala kekurangan semua kelemahan


Kau jadikan cinta


Tanpamu ku tak bisa berjalan


Mencari cinta sejati tak ku temukan


Darimu aku bisa merasakan


Kesungguhan hati cinta yang sejati


 


Setelah lagu selesai semua orang kembali bertepuk tangan, suasana kembali hangat. Mereka bercanda gurau bahkan saling mengejek satu sama lain, kecuali Tiara yang sibuk akan ponselnya sendiri dari tadi. Saat Narul memutar botol kosong malah botol tersebut berhenti ke Tiara.


"Biar aku yang tanya." Ujar Yeni menatap tajam ke arah Tiara, "Apa maksudmu menyuruh Livia untuk berhati-hati pada kita semua ?"


"Menurutmu ? Aku hanya berbuat baik padanya tidak ada salahnya donk." Ujar Tiara.


"Sejak kapan wanita sepertimu jadi baik." Balas Yeni.


"Baiklah. Aku mengalah. Aku menyanyi saja ya." Ujar Tiara yang mulai bernyanyi.


(Lagu: Taylor Swift - Look What You Made Me Do)


I don't like your little games


Don't like your tilted stage


The role you made me play


(Aku tak suka permainan kecilmu


Tak suka panggung miringmu


Peran yang karenamu terpaksa kumainkan)


Of the fool, no, I don't like you


I don't like your perfect crime


How you laugh when you lie


You said the gun was mine


Isn't cool, no, I don't like you (oh!)


(Di antara orang bodoh, tidak, aku tak menyukaimu


Aku tak suka kejahatan sempurnamu


Bagaimana kau tertawa saat berbohong


Katamu senjata itu milikku


Tidak keren, tidak, aku tak menyukaimu (oh!))


Setelah Tiara selesai menyanyi, suasana yang awalnya canggung menjadi ceria. Entah mengapa seakan mereka lupa ada orang yang mereka benci ada disini. Sudahlah, Livia tidak mau terlalu pusing memikirkannya.


Gadis itu tersenyum melihatnya. Sudah lama dia tidak merasakan kebersamaan yang penuh keceriaan seperti ini.


Terakhir kali, gadis itu mengingat akan waktu dia kecil bersama orang tuanya.


Livia hanya terdiam.


Apakah sesuah itu ?


Dia hanya bertanya kenapa Jimmy dan orang tuanya tidak hadir dalam pemakaman orang tuanya ?


Hanya itu saja.


Kenapa dia tidak jujur saja ?


Itu bukanlah soal untuk ujian masuk Universitas.


Oh iya..


Livia lupa.


Orang tuanya meninggal karena ulah keluarga mereka.


Pantas saja tidak datang.


Mereka sudah bersenang-senang dengan uang dan perusahaan yang sudah mereka dapatkan.


Dasar Livia bodoh.


Apa yang kau harapkan dari pertanyaan itu ?


Tidak mungkin mereka perduli akan papa dan mama yang sudah mereka  bunuh.  Melihat semua tawa membuat Livia mengingat masa kecilnya dulu.


*********Flashback (Backsong - *ADA Band ft. Gita Gutawa - Terbaik Untukmu)


Teringat masa kecilku


Kau peluk dan kau manja


Indahnya saat itu


Buatku melambung


Livia teringat saat dia masih kecil, orang tuanya selalu ada untuknya baik dia tengah sakit pun mereka senantiasa menjaganya walau pekerjaan mereka begitu banyak. Dia merasa bersyukur karena sesibuk-sibuknya mereka pasti selalu punya waktu untuknya.


Disisimu terngiang


Hangat nafas segar harum tubuhmu


Kau tuturkan segala mimpi-mimpi


Serta harapanmu


Livia ingat waktu dia dan ayahnya pergi berduaan untuk menemaninya lari pagi di taman dekat rumahnya. Pagi itu memang mendung dan tak menyangka di tengah mereka berlari hujan deras turun. Mereka pada akhirnya berteduh di sebuah gubuk keci yang dimana sudah banyak orang juga berteduh disana. Livia kecil merasa sangat kedinginan, papanya segera memeluknya. Walau badan papanya juga basah, entahlah dia merasa begitu nyaman dan terasa hangat dalam dekapan papanya.


Kau ingin ku menjadi


Yang terbaik bagimu


Patuhi perintahmu


Jauhkan godaan


Yang mungkin kulakukan


Dalam waktuku beranjak dewasa


Jangan sampai membuatku


Terbelenggu jatuh dan terinjak


Sejak kecil Livia ingin sekali menjadi papanya, yang begitu  bisa mengurus perusahaan dan keluarganya. Walau gadis itu tahu betapa susahnya melakukan hal itu. Walau begitu papa Livia juga termasuk orang yang tegas, jika puteri semata wayangnya berbuat kesalahan justru akan ia pukul. Meskipun begitu, Via kecil tak pernah membencinya. Justru semakin lama ia mencintai papa dan mamanya.


Semenjak kematian orang tuanya tepat di depan matanya sendiri, setiap malam Livia selalu menangis dari kecil sampai sekarang. Dia selalu menatap ke arah langit malam yang dimana sang bulan selalu ditemani oleh bintang kecil disebelahnya. Gadis itu selalu menggangap bulan itu sebagai papa dan bintang kecil adalah mamanya yang selalu memperhatikannya dari surga nanti. Tak bisa dipungkirinya. Livia sangat sangat merindukan mereka.


Andaikan detik itu


Kan bergulir kembali


Kurindukan suasana


Basuh jiwaku


Membahagiakan aku


Yang haus akan kasih dan sayangmu


Tuk wujudkan segala sesuatu


Yang pernah terlewati


Andaikan...


Andaikan saja..


Waktu itu bergulir kembali...


Livia pasti tidak akan meminta dan memaksa agar orang tuanya mengambil boneka kecilnya yang terjatuh itu.


Pasti..


Pasti papa dan mamanya masih hidup sampai sekarang...


Rasa sesal  itu


Masih ada sampai sekarang


Tak bisa lepas...


Setiap kali memikirkan kematian orang tuanya, semakin gadis itu merasa menjadi anak yang sangat tidak berguna.


Livia terus menerus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian orang tuanya sendiri..Mata gadis itu melihat ke arah teman-temannya, Robert dan Jimmy sambil bercanda ria.  Mereka semua beruntung.. Beruntung mempunyai orang tua yang lengkap dan masih hidup sampai sekarang. Tidak seperti dirinya. Gadis itu menatap ke arah langit terlihat bulan purnama penuh serta ada bintang kecil disampingnya. Dalam hati Livia berkata sambil memadang bulan dan bintang kecil tersebut.


Papa... Mama..


Livi jadi teringat akan saat seperti ini..


Kita pernah berkemah dan mengellilingi api unggun sambil bernyanyi..


Papa dan mama ingat ?


Maafkan Livi ya...


Semua ini salah Livi...


Livi yang egois..


Karena Livi papa dan mama meninggal...


Sejak remaja Livi iri pada teman-teman yang saat ulang tahun dirayakan oleh papa dan mamanya..


Livi tak punya siapa-siapa..


Livi sendirian di dunia ini...


Papa dan mama mengajarkan Livi segala hal yang terbaik..


Kalian tidak pernah lelah akan semua permintaan Livi...


Kalian memberikan semua kenangan terindah dalam hidup Livi..


~To Be Continue~