Our Love

Our Love
Part 73



"Tidak. Aku tidak setuju jika kau menikah dengan pria itu !" Ujar Robert menentangnya.


"Kenapa ? Hanya dengan itu aku bisa merebut apa yang sudah mereka ambil selama ini."


Robert terdiam sejenak.


Gadis itu masih tanya kenapa ?


Sudah jelas bahwa dia masih mencintai Livia dan tak bisa melupakannya.


Lalu, sekarang gadis itu malah dengan polosnya bertanya kenapa ?


Astaga...


Robert tak habis pikir akan apa yang di dalam benak gadis tersebut.


Tentu saja selain karena mencintainya, Robert tidak mau ada orang lain yang memilikinya.


Hanya dia..


Hanya dia yang boleh memiliki gadis itu seutuhnya.


Hanya dia yang harus ada di hati dan pikiran Livia.


"Aku tidak rela kau bersama dengan pria lain. Kau hanya milikku, Livia."


Livia terdiam.


Sejak awal gadis itu sudah mengetahui akan hal ini.


Jujur dia juga masih mencintai Robert.


Tapi, apakah ini saatnya yang tepat ?


Disaat ia baru saja mendapatkan berita mengejutkan dan masalah yang tak kunjung usai.


Robert memgang dagu Livia, "Kenapa kau terdiam ?"


"Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku bingung dengan semua masalah yang tak ada habisnya ini.  Aku..." Ucapan Livia terhenti karena Robert terlebih dahulu menciumnya. Gadis itu memejamkan matanya merasakan sebuah ketenangan disaat pria itu menciumnya.


Kenyamanan yang sudah lama tak dia rasakan.


Aku merindukannya. Ucap robert dalam hati.


Tak berapa lama Robert berhenti menciumnya lalu terkekeh pelan, "Sepertinya kau masih mencintaiku. Jika tidak, maka kau sudah mendorongku disaat aku menciummu."


Muka Livia memerah.


Robert memeluknya, "Baiklah. Aku anggap itu tanda bahwa kau masih mencintaiku."


"Aku bingung apa yang harus aku lakukan sekarang."


"Kau tolak saja akan pernikahanmu dengan Jimmy, bilang padanya kalau kau sudah resmi berpacaran denganku. Atau aku saja yang mengatakan hal itu pada mereka ?"


"Jangan. Aku tidak mau kau ikut terlibat dalam masalahku lagi."


"Loh kenapa ? Justru aku memang harus ikut campur dalam urusanmu karena aku pacarmu sekarang. Ayo sekarang kita ke rumahku, untuk memberitahu orang tuaku akan kabar bahagia ini."


******


"Kenapa kau malah berdiam diri disini ?" Tanya Papa Yeni pada putera pertamanya  saat memasuki ruangan puterinya.


Raka dan Yeni saling menatap, "Memangnya kenapa 'pa ?"


Papa Yeni dan Raka duduk di sofa menatap kedua anaknya, "Seharusnya kau pergi untuk mendekati Livia bukannya berdiam diri disini."


"Pa... Kak Raka bukan anak kecil yang harus diatur untuk ini dan itu." Bantah Yeni.


"Kenapa harus Raka sih, 'pa ? Raka tidak ada perasaan apa-apa pada dia." Jelas Raka.


"Dia itu pewaris kekayaan dari Wijaya."


"Lalu ?"


Papa Yeni memukul puteranya dengan bantal sofa, "Dengan kau mendekati Livia maka kita bisa mengambil alih kekayaan Wijaya dari keluarga Kurniawan. Bagaimana kau ini !!"


"Jadi, semua ini demi uang semata ? Tidakkah papa merasa puas dengan kekayaan yang sudah kita miliki sekarang ?" Raka tidak habis pikir akan papanya.


"Tidak. Papa akan puas jika kita berhasil menguasai seluruh kekayaan Wijaya."


"Livia dan Raka tidak saling mencintai, 'Pa." Yeni membela kakaknya.


"Papa tidak perduli. Jika mereka menikah maka rasa cinta itu akan muncul seiring berjalannya waktu. Tidak tahukah kalian kalau keluarga Kurniawan sudah melangkah maju terlebih dahulu ? Mereka tidak jadi menjadikan Livia sebagai anak angkat mereka, melainkan ingin menikahkan Livia dengan Jimmy." Jelas papa mereka membuat Yeni dan Raka membulatkan matanya lalu mereka saling memandang. "Mereka juga ingin menguasai kekayaan Wijaya seluruhnya. Kita tidak akan mendapatkan seperpun kali ini."


"Raka tidak mencintai Livia, 'Pa." Dia berdiri, "Selama ini aku selalu menuruti apa yang papa katakan. Tapi, tidak kali ini. Raka menyukai orang lain bukan Livia." Dia berjalan menuju pintu.


"Kau menyukai Nia ?" Ucapan Papanya membuat Raka berhenti. "Apa yang kau suka dari gadis itu ? Livia jauh lebih kaya darinya !!"


Raka mengepalkan kedua tangannya.


Jika itu bukan papa kandungnya, sudah ia habisi.


Dengan segera Raka keluar dari ruangan tersebut.


Papa Yeni menatap puterinya, "Kau juga. Kenapa harus memperjakan Nia disini, bukannya Livia. Agar kakakmu dan Llivia bisa semakin dekat."


"Perasaan cinta itu bukan main-main. Papa tidak bisa memaksa begitu. Lagipual aku setuju jika Kak Raka bersama dengan Nia." Ujar Yeni.


Papa Yeni berdiri menatap puterinya, "Jika kau tidak mau mendengarkan papa. Ya sudah, biar papa yang lakukan sendiri." Beliau keluar dari ruangan Yeni.


"Papa... apa yang akan papa lakukan ? Pa... "


Yeni memijat keningnya.


Semua ini karena uang.


Uang benar-benar merubah sifat manusia menjadi buruk.


Apa yang harus ia lakukan sekarang ?


~To Be Continue~