Our Love

Our Love
Part 85



“Nanti ya. Setelah semua masalahku selesai.” Ujar Livia memegang erat tangannya.


“Ya. Aku bersedia menunggu sampai kau benar-benar mau menikah denganku dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak.” Ujar Robert mencium pipi Livia sekilas.


“Kalau boleh jujur sebenarnya dengan aku tiba-tiba hidup dalam kemiskinan membuatku sadar, bahwa uang bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah kebahagian. Itulah harta yang tak ternilai. Walaupun suatu saat nanti, aku berhasil merebut perusahaan papa dari tangan mereka. Aku tidak tahu, apakah aku bisa mengurus perusahaan itu atau tidak ? Terkadang aku berpikir, haruskah aku menyerahkan semua harta papa pada mereka ? Memang itu adalah hakku, tapi aku sudah memilikimu, keluargamu dan teman-temanku. Itu sudah cukup. Aku tidak membutuhkan apapun lagi.” Ujar Livia dengan pelan.


 Memang hal seperti itu pernah telrintas di pikirannya.


Apakah jika gadis itu merelakan perusahaan dan harta keluarganya, maka orang tuanya tidak akan sedih di surga sana ?


Mereka tidak akan marah pada Livia ‘kan ?


“Biarkan aku buka radio saja siapa tahu ada lagu bagus.” Ujar Robert membuka radio mobilnya.


“Selamat siang bagi para anak muda yang sedang berlibur entah dimana pun berada. Ini lagu Korea pop yang request dari Samantha asal Jakarta. Selamat menikmati.” Ujar DJ radio yang kemudian memutarkan lagu yang sudah di request.


Ketika lagu itu berhenti, Livia terdiam sedikit. Meskipun begitu dia men-search lagu yang baru saja di putar untuk mengetahui apa arti


dari lagu tersebut.  Begitu selesai membaca arti dari lagu tersebut, gadis itu merasa mungkin memang lagu ini cocok untuknya. Untuk mendorong dirinya lebih baik lagi. Ada satu bait yang sungguhmembuatnya semakin termotivasi yaitu pada bagian,


‘Tapi kamu wanita kuat, kamu tahu kamu dilahirkan untuk terbang.


Air mata yang telah kamu keluarkan


Semua luka yang pernah kamu rasakan


Adalah untuk hari di mana kamu akan terbang lebih tinggi.


Pengalaman itu untuk mempersiapkanmu, kupu-kupu.


Semua orang akan melihatnya sebentar lagi’


Livia harus kuat.


Air mata yang selama ini dikeluarkan serta semua luka yang dia alami selama ini.


Semua itu pasti akan indah jika waktunya sudah tiba.


Yang perlu gadis itu lakukan hanyalah bertahan sedikit lagi dan berjuang.


Maka, semua hal indah akan datang menghampirinya satu-persatu.


Robert membelai pipi Gadisnya, “Kau kenapa ? Apa yang sedang kau pikirkan ?” Tanyanya pelan.


“Aku hanya menyadari lagu tadi seperti memotivasiku saja, bahwa aku tidak boleh menyerah. Aku harus kuat. Semua luka dan tangisan yang aku keluarkan dan alami selama ini pasti suatu saat nanti akan berbuah kebahagian yang manis untukku.” Ujar Livia sambil tersenyum tulus padanya.


“Aku senang kalau kau kembali menjadi Livia yang kuat. Tapi, selalu ingat. Aku akan selalu disisimu kapan pun saat kau meingingkanku untuk datang.” Ujarnya mencium sekilas kening Livia.


“Terima kasih.” Ujar Livia sambil tersenyum kecil.


“Aku ada satu lagu lagi yang menceritakan tentang motivasi seperti itu. Tapi, lagu Korea. Kau mau mencoba mendengarkannya ? Aku akan mencarikan terjemahannya padamu.


“Mau.” Ujar Livia antusias. Robert pun memutar lagu tersebut. Selama perjalanan dalam keadaan yang masih hujan derasa. Mereka terdiam mdengarkan lagu itu.


“Bagaimana kau suka ?” Tanya Robert setelah lagu itu selesai diputar.


Livia mengganguk, “Aku suka. Nanti kau kirimkan lagunya ke ponselku ya.” Pintanya.


“Baiklah, nyonya Robert.” Ujar Robert sambil tersenyum.


~To Be Continue~