
"Maka, aku juga tidak bisa menikah denganmu. Maaf."
Robert memegang tangan kekasihnya, "Biarkan aku terus bersamamu. Aku berjanji akan mengembalikan Livia yang dulu ku kenal. Jangan menyuruhku untuk pergi. Aku mohon."
Gadis itu terdiam. Jika Robert masih bersih keras ya sudahlah. Dia sudah pusing akan semua masalah ini. "Baiklah. Kau boleh bersamaku."
"Sungguh?" Robert menatapnya tak percaya. Livia mengganguk kepala sebagai jawabannya. Dengan segera ia memeluknya, "Terima kasih banyak. Aku berjanji akan selalu melindungimu dan membuat kau mau menikah denganku suatu saat nanti."
"Aku tidak bisa berjanji untuk hal yang mungkin saja tidak akan bisa ditepati."
"Tak apa. Yang terpenting kau tidak mendorongku untuk menjauh dari hidupmu. Itu saja sudah membuatku bahagia."
Livia tertawa kecil, "Jangan mengombal."
"Mungkin kau berpikir seperti itu, tapi aku tidak. Inilah cara untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya, kau akui saja kalau aku memang sangat romantis."
"Pede sekali." Ia tertawa kecil. Robert tersenyum memandang kekasihnya yang tertawa bahagia. Sudah lama sekali ia tidak melihatnya seperti itu. "Jangan memandangku begitu, lihatlah ke film yang mau kita nonton."
"Gadis di sampingku ini lebih menarik untuk dilihat dibandingkan dengan yang ada di depan kita."
Livia mencubit pinggang kekasihnya, "Aku serius. Kau jangan membuang uangmu hanya untuk hal begini."
"Kita juga tidak bisa kabur Livia, disekeliling penuh mobil."
"Kau membawaku kesini bukan hanya mau nonton?"
Robert menggeleng, "Tentu saja bukan. Aku mau kau terbuka padaku. Ceritakan semua masalah yang kau pikirkan saat ini."
Livia memegang tangan kekasihnya, "Aku sangat berterima kasih atas kebaikan hatimu. Akan tetapi, aku bisa mengatasi masalahku sendiri. Kau tak perlu khawatir."
"Bagaimana bisa aku tidak khawatir jika melihatmu terus-terusan murung dan bersedih seperti itu?"
"Aku tak ingin terus menambah bebanmu. Kau harus fokus akan pekerjaanmu sebagai dokter sekarang."
"Astaga Livia. Kau adalah prioritasku diatas segalanya. Kau itu menggangapku sebagai kekasihmu atau bukan sih? Sebagai pasangan kekasih seharusnya semua masalah, kesedihan dan kebahagiaan harus kita hadapi bersama-sama."
"Apakah tidak cukup dengan kau mengetahui semua masa lalu burukku itu? Aku juga punya masalah dan beban yang tak harus berbagi denganmu. Ada beberapa hal yang tak seharusnya kau ketahui, Robert."
"Masalah apa lagi? Kau sudah membuat perusahaan orang tuamu bangkrut hingga keluarga Kurniawan berada di dalam titik terendah dalam hidupnya. Kau masih belum puas akan hal itu?"
"Tidak." Livia menatap tajam ke kekasihnya, "Aku tidak akan pernah puas sampai mereka benar-benar hancur."
"Kau sudah berubah." Robert menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"Aku sudah mengatakan padamu bahwa kita tidak bisa menikah. Livia yang kau kenal dulu sudah meninggal. Kini hanya ada aku yang pendendam."
"Kau sedang tidak merencanakan sesuatu 'kan?" Gadis itu terdiam. Robert tertawa sedih, dengan diamnya dia berarti memang ada hal yang direncanakannya.
Astaga..
Livia yang dikenalnya dulu telah berubah.
"Tidak."
"Kau sudah tidak punya apa-apa untuk membalas mereka."
Livia menatapnya, "Ada seseorang yang berada di pihakku sekarang."
"Jangan bilang orang tersebut adalah..." Ucapannya terhenti karena gadis itu memotong kalimatnya.
"Ya. Tepat yang kau pikirkan. Aku memiliki Tiara untuk membalas dendam pada mereka semua."
******
Tiara yang baru saja pulang ke apartemennya tampak terkejut melihat ayahnya terduduk di ruang tengah memandang ke arahnya, "Kenapa ayah belum tidur?"
"Ada hal yang mau ayah bicarakan denganmu."
"Tidak bisakah menunggu besok saja?" Tiara duduk di depan ayahnya.
"Ayah tidak tahu sejak kapan kau mulai dekat dengan Livia. Ayah harap kau tidak merubahnya."
Tiara mendelik, "Merubahnya? Ayah menuduhku akan membuat Livia dari gadis yang baik-baik berubah menjadi wanita ular begitu? Astaga, kenapa sih semua orang tidak bisa berhenti memandangku sebagai wanita jahat meskipun aku berbuat baik sekalipun. Apa sebegitu tidak percayanya Ayah pada anak kandungnya sendiri?"
"Tiara, bukan begitu maksud ayah."
"Lalu apa? Semua orang yang dulunya sangat baik, jujur, dan polos suatu saat nanti bisa saja berubah menjadi jahat jika berada di posisi Livia. Takdir yang sudah merubahnya menjadi seperti itu, bukan aku."
"Tapi, kau membantunya bukan menghentikannya."
"Kita mempunyai tujuan yang sama Ayah. Apa salahnya jika kita bersekutu untuk menghancurkan orang-orang itu?"
"Bukan dengan cara seperti itu."
"Dengan apa? Apakah ayah ada cara lain? Aku tidak mau seperti ayah yang selama 12 tahun ini terus-terusan bersembunyi dari mereka."
"Kurniawan sudah mendapatkan balasannya, perusahaan itu sudah hancur tak bersisa."
"Aku tak percaya jika perusahaan nomor 1 di Indonesia tidak ada investasi lain diluar dari bidang bisnis ini. Aku masih belum puas membalaskan dendamku pada keluarga Kusuma."
"Keluarga Kusuma tidak ada kaitannya dengan kita."
"Omong kosong. Ketiga keluarga itu sudah berencana untuk membuat orang tua Livia meninggal dan merebut perusahaannya."
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Tiara tersenyum penuh arti, "Ayah akan tahu nanti apa yang aku dan Livia rencanakan." Ia pergi masuk dalam kamar.
-To Be Continue-