Our Love

Our Love
Episode 114



"Aku tidak akan puas hanya dengan itu saja. Baiklah, kau bisa mengkambing-hitamkan aku untuk masalah orangmu yang tertangkap. Maka, akan dengan mudah aku akan menarik mereka semua masuk dalam penjara. Akan tetapi, kau juga harus setuju kalau aku mengkambing hitamkanmu. Bagaimana?"


"Kau sedang ingin bermain drama? Kau bahkan tidak punya bukti yang bisa memberatkan mereka apalagi kejadian tersebut sudah lewat 10 tahun lebih."


"Karena itulah aku menerima udanganmu untuk datang kemari. Bukankah Pak Rahmad yang selama ini aku cari ternyata itu adalah Ayah Kandungmu sendiri?"


"K..kau." Tiara tak menduga kalau gadis itu mengetahuinya.


Bagaimana dan dari mana ia mengetahuinya?


Ini diluar dari rencananya. "Dari mana kau mengetahui semua itu?"


"Saat aku datang ke rumahmu beberapa waktu lalu ada fofo kalian, dari situlah aku mengetahuinya."


"Apa yang kau rencanakan?"


"Gampang, aku mau kau membunuh mereka semua."


"Kenapa harus aku?"


"Aku tahu kau orang baik."


Tiara tertawa keras saat mendengarnya, "Aku? orang baik? Kau jangan bercanda, bagaimana bisa aku yang penjual obat-obatan terlarang serta senjata ilegal bisa kau katakan sebagai orang baik?"


"Aku hanya merasa kau seperti itu, mengingat sudah beberapa kali kau juga membantuku."


"Keuntungan apa yang aku dapatkan jika membantumu?"


"Kau akan tahu sendiri nanti. Bagaimana?"


"Baiklah katakan apa rencanamu."


******


Seorang pria baru saja terbangun dalam keadaan wajah yang penuh dengan darah, "Kenapa tidak langsung membunuhku?" tanyanya pada beberapa penjaga yang tengah asyik berkumpul.


"Boss meminta kami agar tidak membunuhmu."


"Apa yang kalian inginkan dariku?"


"Kau hanya perlu mengatakan siapa yang menyuruhmu untuk memberikan obat-obatam terlarang itu pada David Kurniawan?"


"Sampai kapanpun aku tidak akan membocorkannya pada kalian."


"Kau benar-benar cari mati." Mereka kembali memukulinya hingga Papa Yeni datang menyuruh mereka untuk berhenti.


"Jangan terus memukulinya." Beliau menghampiri sanderanya. "Kau masih belum ingin mengatakan siapa yang sudah menyuruhmu?"


"Aku tidak akan mengatakannya."


"Kalau kau mengatakannya maka, kau akan aku bebaskan. Sekarang beritahu siapa yang menyuruhmu?"


"Kau bisa memegang ucapanmu itu?"


"Tentu saja. Kau akan aku bebaskan saat kau memberitahu siapa yang sudah menyuruhmu?"


"Kau yakin?"


"Tentu saja. Kalian, lepaskan ikatannya lalu pegang dia." perintahnya pada anak buahnya. "Bagaimana kau masih belum mempercayaiku juga? Sekarang katakan siapa yang menyuruhmu untuk membuat David Kurniawan masuk dalam penjara."


"I..itu.."


"Katakan!"


"Kejar dia sampai dapat!" teriaknya pada mereka.


"Baik." Semua orang pergi meninggalkan Papa Yeni sendirian. Papa Yeni mengumpat kata-kata kasar sembari menendang kursi kayu yang berada didekatnya.


Disisi lain, Anak buah Tiara berhasil kabur dari kejaran orang-orang suruhan Papa Yeni, Tuan Kusuma. Dia masuk ke dalam goa untuk berharap mereka tidak akan menemukannya. "Lelah sekali." Ia tertidur terlentang sembari mengatur nafasnya.


"Cepat sekali kau kaburnya." Ujar dua orang anak buah Tuan Kusuma yang masuk menghampiri buronan mereka.


"Kalau jalannya pelan ya bisa-bisa aku dibunuhlah, bagaimana sih." gerutunya pada kedua temannya yang juga anak buah Tiara ternyata menyamar sebagai orang-orang suruhan Tuan Kusuma.


"Untung saja kau tidak membuka mulutmu dan mengatakan itu adalah rencana boss kita." ujar salah satu temannya.


"Aku merasa kasihan dengan wanita bernama Livia itu yang akan dijadikan kambing hitam."


Kedua temannya itu tertawa dengan keras, "Sejak kapan kau jadi memikirkan orang lain seperti ini. Justru malah gadis itu yang meminta agar dia yang dijadikan kambing hitam."


"Sekarang bagaimana caranya agar kita bisa kabur dari sini?"


******


"Bagaimana dengan uang asuransi? Pengacara kita menyetujuinya 'kan?" tanya Pak David pada puteranya, Jimmy.


Sang putera hanya bisa menggeleng pelan kemudian mengatakan, "Tidak 'Pa. Pengacara kita masih belum memberikan acc."


"Apa alasannya?"


"Mereka mengatakan butuh waktu lama untuk pencairan uang asuransi."


Tuan Kusuma datang sambil mengucapkan kata-kata kasar bersamaan menghampiri temannya, "Orang itu kabur."


"Siapa?" tanya Om David pada temannya.


"Siapa lagi kalau bukan yang sudah membuatmu masuk dalam penjara." gerutunya dengan malas.


Livia datang menjenguk ditemani Robert, "Halo papa. Selamat siang om." Gadis itu menyapa Tuan Kusuma.


"Tumben sekali kau kesini ada apa?" tanya papa angkat gadis itu.


"Aku membawakan makanan dan baju untuk papa." jawabnya dengan pelan.


"Orang yang sudah membuatmu masuk penjara mengungkapkan siapa yang membuatmu seperti ini." Tuan Kusuma menatap temannya juga Livia secara bergantian. "Dia mengatakan kalau puteri angkatmulah yang sudah membuatmu seperti ini."


Livia berpura-pura terkejut, "A..aku? Apa alasanku membuat Papa angkatku yang begitu baik sampai masuk dalam penjara. Om jangan menuduh aku seperti itu tanpa adanya bukti. Aku bisa menuntut om atas pencemaran nama baik."


"Kenapa kau jadi emosi sih? Om 'kan cuma mengungkapkan apa yang orang itu katakan Atau kau memang pelaku dibalik semua ini?"


"Siapapun yang tiba-tiba dituduh seperti itu juga tidak akan terima om."


"Livia benar, kau jangan menuduhnya seperti itu tanpa bukti yang jelas." bela Om David.


"Sudah jelas buktinya dari buronan yang aku tangkap itu dan kenapa kau masih membelanya?"


"Karena memang tidak mungkin puteri angkatku yang melakukan hal itu."


Tuan Kusuma menunjuk Livia, "Justru karena dia sudah bersekutu dengan Tiara untuk menghancurkan kita.Tidakkah kau sadar akan hal itu!?"


"Kenapa aku harus bersekutu dengan Tiara untuk menghancurkan kalian? Bukankah om dan papa angkatku adalah orang-orang kepercayaan papa kandungku? Apa gunanya aku menghancurkan kalian? Mumpung om ada disini, ada yang mau aku tanyakan dari dulu. Apakah perusahaan orang tua kandungku masih ada?"


-To Be Continue-