Our Love

Our Love
Part 96



"Kau malu mempunyai kekasih sepertiku?"


"Bukan seperti itu Livia. Aku tidak perduli bagaimana fisikmu atau keadaanmu sekalipun. Aku mohon, jangan membalaskan dendammu pada mereka. Biarkan Tuhan yang membalasnya Livia."


Gadis itu terdiam. Sepertinya rencana pertemuannya dengan Tiara memang harus dirahasiakan dari Robert. Ia tahu kalau kekasihnya sangat perduli dan menginginkan agar gadis itu berada di jalan yang benar.


Akan tetapi, rasa ego dan dendam Livia jauh lebih besar dari hal itu. Ada rasa dimana dia tak terima akan semua ini.


Rasa tak adil yang begitu besar.


Bagaimana jika kau berada di posisi Livia?


Saat masih kecil harus melihat orang tuanya meninggal di depan matanya sendiri.


Bertahun-tahun Livia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas hal itu, sampai membuatnya trauma.


Lalu, sekarang dia mengetahui bahwa orang-orang terdekatnya bahkan orang tua temannya sendiri adalah pelaku pembunuhan atas meninggalnya orang tua Livia.


Harta dan semua warisan yang awalnya memang seharusnya menjadi hakmu. Milikmu. Tapi, malah para pelaku pembunuhan itu yang bisa memilki dan menikmatinya.


Bagaimana bisa jika kau merelakan begitu saja dan membiarkan para penjahat itu masih bebas berkeliaran?


Sebagai seorang anak tentulah kau sangat ingin para penjahat itu merasakan akibatnya 'kan?


Apakah hanya dipenjara membuatmu sudah begitu puas?


Oke.. Untuk sebagian orang memang akan puas.


Tidak untuk Livia.


Bertahun-tahun gadis itu merasakan kesengsaraan dan berbaik hati pada teman-temannya. Sekarang tidak, mereka harus merasakan hal yang sama.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Papa Yeni sangat ingin aku bersama dengan Raka."


Robert tersenyum sambil memegang tangan kekasihnya, "Aku juga akan punya rencana sendiri. Tenang saja."


"Rencana apa?"


"Rahasia. Ayo sekarang kita pergi makan dulu."


******


Papa Yeni masuk ke ruangan puteri bungsunya langsung terduduk disofa. Yeni menghentikan pekerjaannya lalu duduk disamping beliau, "Papa tumben datang kemari ada apa?"


"Panggil kakakmu untuk datang kesini ada yang mau papa bicarakan ke kalian."


Yeni pun menurutinya dan tak lama Raka masuk ke ruangan adiknya, "Papa kenapa mencariku? 'kan bisa menunggu nanti malam di rumah."


"Ada yang mau papa bicarakan pada kalian."


"Apa itu 'Pa?" tanya Raka dan disaat bersamaan mama mereka pun datang.


"Kenapa mama juga berada disini?" tanya Yeni padanya.


"Papamu yang menyuruh mama datang."


"Sebenarnya ada apa sih 'Pa? aku dan kak Raka ada banyak pekerjaan. Tidak bisakah kita bicarakan ini di rumah saja?"


"Sebentar lagi papa dan mamamu mau keluar kota beberapa hari kalian tahu akan hal itu. Papa tadi bertemu dengan Om David yang kebetulan ada Jimmy dan Livia disana, mereka membahas rencana pengangkatan Livia menjadi bagian dari keluarga Kurniawan."


"Livia setuju akan hal itu?" tanya Yeni.


"Tentu saja. Kebetulan papa juga berada disana dan papa meminta agar akan ada 2 pengumuman di hari ulang tahun perusahaan keluarga Kurniawan, yaitu perjodohan Raka dan Livia."


"Apa!!" Raka dan Yeni berteriak bersamaan.


"Papa, aku sama sekali tidak mencintai Livia dan papa juga tahu kalau dia sudah mempunyai kekasih." tolak Raka.


"Lalu, kenapa papa masih tetap menginginkan Raka menikahinya? sudah berulang kali kita membahas ini 'Pa dan jawaban Raka tetap sama. Raka tidak mau dijodohkan dengan Livia."


"Papa juga tidak mau kalau gadis itu jadi menantu papa."


"Lalu, kenapa papa sangat ingin sekali kak Raka dijodohkan dengan Livia?" tanya Yeni bingung.


"Karena uang dan Tiara. Wanita ular itu sudah membuat semuanya rumit. Masyarakat dan media mengetahui kalau penerus satu-satunya keluarga Wijaya masih hidup. Maka, Om David sengaja agar Livia menjadi anak angkatnya agar seluruh harta jatuh ke tangan Livia. Dengan Raka dan Livia menikah akan memudahkan papa untuk membunuh Livia lalu mengalihkan seluruh harta Wijaya ke tangan Raka. Papa tetap mau Raka setuju akan perjodohan ini. kalau tidak akan papa coret namamu dari keluarga ini."


Raka terdiam lalu pergi dari ruangan itu. Sial, semua ini jadi memojokkan dirinya. Dengan segera ia menelepon seseorang, "Kita harus bertemu malam ini."


******


"Tumben sekali kakak mencariku. Ada apa?" Livia melipat kedua tangannya di dada lalu menatap seseorang yang ingin mengajaknya untuk bertemu. Raka. Hari ini pertemuannya dengan Tiara jadi batal karena pria itu.


Kini mereka berada di sebuah restaurant mewah dekat dengan kantor Raka. "Kenapa kau tidak menolak saat papaku memintamu agar kita dijodohkan?"


Masalah ini lagi.


"Aku sudah menolaknya kak Raka. Akan tetapi, Om Kusuma selalu memaksaku agar kita dijodohkan."


"Awalnya aku menghargaimu karena kau teman dekat dari adikku sendiri. Namun, melihatmu yang sepertinya tidak melakukan hal-hal untuk menolak perjodohan itu. Aku jadi hilang rasa menghargai itu." ujar Raka yang tak berhenti menuangkan wine lalu meminumnya. Sebentar lagi pria itu akan mabuk.


"Kakak juga harus menolaknya, jangan cuma bisa menyuruhku saja yang bertindak sendirian."


"Kalau aku menolak maka, papa akan mencoretku dari kartu keluarga dan aku akan kehilangan seluruh uang yang aku miliki. Aku tidak mau jatuh miskin Livia. Jadi, kaulah yang harus menolak mentah-mentah akan perjodohan ini bukan aku. Suruh saja Robert untuk langsung menikahimu."


Livia tertawa tak percaya akan perkataan yang baru saja didengarnya.


Pria itu terlalu takut untuk kehilangan harta sehingga menyalahkan dirinya atas perjodohan mereka dan sekarang seenaknya menyuruh agar dirinya dan Robert menikah.


Memang Livia sangat ingin menikahi kekasihnya, tapi apakah Raka berpikir menikah itu semudah dengan yang dikatakannya?


Ini gila..


Kenapa jadi seakan-akan semuanya menyalahkan Livia?


Dari Robert yang tadi menyalahkannya dan sekarang pria yang berada didepannya ini?


Livia mencoba mengacuhkan Raka dan memilih untuk chat dengan kekasihnya. Namun, mata gadis itu membulat saat dirinya di kick dari grup dengan teman-temannya sendiri.


Ada apalagi ini?


Dengan segera Livia menelepon Ai Chan, "Halo, Ai."


'Ya. Ada apa?'


"Kok aku di kick dari grup sih?"


'Nia yang kick kau, karena dia kesal saat tahu kau dijodohkan dengan Raka.' jelas Ai Chan.


"Astaga.. tapi, kenapa dia kick aku hanya alasan sepele itu sih?"


'Kau belum tahu ya? Nia tuh suka banget ama kak Raka. Saat dia tahu kau mau dijodohkan dengan kak Raka langsung marah dia.'


"Dia tahu dari mana soal itu?"


'Jadi itu benar ya? Aku juga tidak tahu dari mana Nia tahu akan hal ini. Jujur, aku juga kaget kau sudah memiliki Robert dan sekarang juga merebut Raka dari Nia.' Ai Chan langsung menutup panggilan teleponnya secara sepihak.


Livia memijit keningnya, masalah baru dan itu kesalahpahaman. Matanya menatap Raka yang masih minum, semua ini karena pria itu. Dengan segera Livia pergi namun, ditahan oleh tangan Raka yang memegangnya.


Pria itu berdiri, "Semua ini karenamu." Livia terdiam. Pria ini benar-benar sudah mabuk.


-To Be Continue-