
"Dari pada terkesan aku tidak profesional."
"Baiklah aku juga akan masuk kantor besok untuk menemanimu."
"Ya."
Semoga saja besok keadaan di kantor akan membaik.
"Oh iya Yeni, aku minta alamat tempat kau belajar Taekwondo donk. Pengen coba belajar bela diri."
"Oke nanti aku kasih alamatnya."
"Makasih.."
Esok paginya, Sapphire Blue Corp....
Suasana kantor tampak sedikit berubah, tidak ada karyawan yang membicarakannya lagi bahkan beberapa diantara mereka bersikap baik sekali pada Livia. Aneh sekali...
Gadis itu langsung naik ke lantai paling atas terlebih dahulu ia mengetok pintu sebelum masuk ke ruangan CEO. "Pagi tante." Livia memandang mama Jimmy tengah membelakanginya.
"Pagi." Begitu orang itu memutar badannya berhadapan dengan Livia.
"J..Jimmy ? Bukankah seharusnya kau berada di Taiwan ?"
"Urusanku lebih cepat selesai dari yang aku duga jadi, ya pulang. Kau berkerja lah, disana ada banyak kamera yang harus kau pindai datanya." Jimmy berjalan ke ruangan tersembunyi yang tak pernah gadis itu ketahuu. "Aku mau tidur. Kau jangan ganggu." Pada saat kemarin menelepon Livia, dia berada di bandara Hongkong untuk ke Jakarta. Begitu tiba di Jakarta ia hanya tidur sebentar lalu ke Kantor dan begini lah dia sekarang tidur di kamarnya. Yeah, memang sejak perusahaan itu dibangun ayah Jimmy sengaja membuat ruangan itu kalau lembur dan malas untuk pulang ke rumah, ia bisa tidur di kamar yang berada di ruangannya.
Livia mengiyakan saja. Yang penting pria itu tak menggangunya. Tak lama pintu terbuka, "Maaf Pak Jimmy.. Sa..Loh, ada dimana dia ?" Bu Jasmine menatap Livia.
"Kau lagi ?" Tiara datang dengan memakai tongkat kruk.
"Pak Jimmy sedang tidur di kamarnya." Jawab Livia. Mendengar hal itu, Tiara langsung membuka pintu kamar dan memeluk Jimmy. "Aku sangat rindu sekali padamu. Saat aku dengar kau pulang, aku langsung kesini untuk menemuimu." Bu Jasmine mengikuti Tiara dari belakang. Sementara Livia, menyibukan diri dengan pekerjaannya yang belum selesai.
Jimmy yang tertidur nyenyak harus terbangun karena Tiara memeluknya tiba-tiba.
Menggangu saja..
Tidak bisakah dia berhenti mengganguku ?
"Bu Jasmine bawa Tiara pergi dari sini. Saya mau tidur."
"Sayang, kenapa sih kau jahat banget ? Aku sudah jauh-jauh kesini malah dianggurin."
"Aku ngantuk Tiara mau tidur."
"Ya sudah aku temani kamu disini."
"Aku ingin sendirian."
Aku mau tidur..
"Aku tidak mau kau berduaan lagi dengan gadis cupu itu."
"Terserah. Jangan ganggu aku tidur." Jimmy membelakangi Tiara. Wanita itu keluar tanpa menutup pintu kamar menghampiri Livia yang sedang memakai earphone.
Tiara melepaskan paksa earphone tersebut, "Jangan harap kamu bisa bebas berduaan dengan Jimmy disini."
"Saya sedang berkerja bisakah anda tidak menggangu saya ?"
"Tidak. Kalau kau pindah dari ruangan ini."
Livia berdecak, "Kemarin kau mengacau di tempat Yeni sekarang disini. Aku penasaran pekerjaanmu itu sebenarnya apa sih ?"
"Setidaknya aku bukanlah perebut lelaki orang."
"Siapa juga yang mau merebut pria gila itu. Sudah jangan ganggu saya berkerja." Livia kembali memakai earphone dan beberapa detik kemudian komputernya mati.
"Kau !!!"
Sialan.. Dia sudah mengedit hampir setengah video sekarang dicabut dan belum di save pula.
"Kau berani berteriak padaku ? Silakan akan aku adukan pada Jimmy agar kau dipecat."
Livia berdiri menghampiri Tiara, "Kau benar-benar tipe wanita yang kerjaannya suka menggangu orang lain ya ?"
"Kenapa begitu marah ? aku hanya mencabut kabel komputermu."
"Saya sudah susah payah mengeditnya dan itu belum di save, kenapa anda main cabut seenaknya ?"
"Suka-suka saya. Ini kan kantor pacar saya."
Livia mengambil Air putih yang ada dimejanya lalu menyiram Tiara. "Kau..Kenapa kau menyiramku ?"
"Pembalasan karena kau mencabut kabel komputerku."
"Gadis gila."
"Kau yang lebih gila."
"Kalian itu kenapa berisk sekali sih ?" Jimmy berdiri di pintu kamarnya. "Mau tidur saja susah banget."
Tiara berjalan ke arahnya, "Dia menyiramku pakai air."
"Kenapa kau tidak save terlebih dahulu ?"
"Mana aku tahu kalau dia akan mencabutnya pria gila."
"Kalian itu tidak bisa ya biarkan aku tidur dengan tenang!"
Livia memasangkan kembali kabel komputer itu dan duduk, "Aku dari tadi diam. Cewemu noh yang cari gara-gara."
"Sayang dia fitnah. Aku tidak menggangunya."
Livia terdiam anggap saja kedua orang itu adalah makhluk tak kasat mata. "Kalau kau menggangunya lagi aku akan panggil security untuk mengusirmu." Jimmy kembali ke kamar dan menguncinya.
"Sayang, kenapa sih kau membelanya ?" Tiara mengedor pintu. "Sayang !!! Ash.." Tiara keluar dari ruangan itu, "Tolong belikan aku pizza keju gorgonzola ukuran large. Ini uangnya. Jangan pakai lama." Tiara melemparkan uang 300 ribuan ke Bu Jasmine yang asyik bercengkrama dengan 2 office boy disana.
"Tidak pakai sopan santun banget sih." Ujar Joko, OB. Saat Tiara masuk kembali ke ruangan Jimmy. Wanita itu tiduran di sofa sambil bermain game.
20 menit kemudian, OB masuk ke ruangan memberikan Pizza yang sudah Tiara pesan. "Mas Joko. Bisa buatkan saya kopi susu ?"
"Baik non Livia."
"Terima kasih." Livia kembali memakai earphone.
Tak lama..
"Ini non, kopi susunya."
"Makasih."
30 menit berlalu, Tiara merasa bosan karena tidak dapat melakukan apapun. Tiara berjalan keluar dari ruangan itu lebih baik ia ke toilet dari pada menunggu Jimmy pun tak kunjung bangun. Ponsel Livia bergetar, "Ya, Yen. Ada apa ?"
'Hanya memastikan bagaimana kantormu hari ini ?"
"Baik-baik saja. Kau sendiri?"
"Sama sih. Cuma tumben aja Tiara pengacau itu tidak datang ke kantorku lagi. Aku rasa dia sudah menyerah."
"Dari tadi berada disini dia."
"Hah ? Kok bisa ? Cari masalah lagi denganmu ?"
"Ya tadi cari masalah. Jimmy sudah ada di kantor dia bilang urusan di Taiwan telah selesai. Wanita itu tahu, sekarang dia disini menunggu pria nya lagi tidur di kamar gara-gara jetlag."
"Ya sudah kalau ada apa-apa bilang ya."
"Iya." Livia meletakkan ponselnya lagi.
1 jam kemudian,Jimmy terbangun mendapati ruangan kerjanya penuh bekas makanan. "Sayang, kau sudah bangun ?"
"Astaga, kenapa berantakan sekali ?"
"Aku lapar sayang. Nanti aku suruh OB bereskan. Kau lapar kan ? Ayo makan."
"Aku suruh Joko beli makanan saja." Ia berjalan ke arah mejanya menyuruh Joko datang.
Tok..Tok..Tok...
"Masuk."
"Ya Tuan, ada apa ?"
"Belikan saya sapo tahu pakai nasi dan es teh tawar. Ini uangnya nanti kembaliannya buat beli makanan kalian berdua aja."
"Baik pak. Terima kasih. Saya permisi."
"Oh iya, Livia. Kau mau titip makanan sekalian ?"
"Tidak pak makasih. Nanti saya makan diluar dengan Robert."
"Sayang, aku kok tidak kamu tanyain?"
"Kamu sudah terlalu banyak makan." Jimmy berjalan menghampiri Livia. "Sudah mengedit ?"
"Belum semua sih pak. Coba bapak liat dulu yang baru tadi saya edit." Livia memutarkan videonya.
"Sayang, jangan terlalu dekat dengannya." Tiara menghampiri mereka.
"Jangan ganggu." Jimmy dan Livia saling berdiskusi membuat Tiara sangat cemburu melihat mereka berdua yang begitu dekat. Wanita itu mendorong Livia namun, Jimmy memegangnya. Mata mereka saling menatap seakan-akan melupakan akan hadirnya Tiara disana. Jimmy langsung tersadar dengan apa yang ia lakukan, "Apa-apaan ini Tiara ?"
"Gadis murahan beraninya kau mendekati pacarku."
Livia melirik ke arah Jimmy, "Sudah aku sarankan untuk kau ikat saja dia biar diam. Liat tingkahnya sekarang."
"Oh yeah? Lain kali kalau aku ingat akan aku ikat dia."
Livia melirik jam tangannya, "Sudah jam 12 siang. Saya pergi makan siang dulu ya pak." Tidak lupa Livia save terlebih dahulu video yang sudah dia edit dan pergi.
-To Be continue-