
Ya..
Pasti Bu Jasmine mengetahui sesuatu.
Dasar Livia bodoh.. kenapa kau baru menyadarinya sekarang?
Gadis itu terdiam berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang tanpa membuat beliau merasa curiga.
Ayolah pikir...pikir...
Apa yang harus aku lakukan?
Tidak terasa mereka pun tiba di kantor kepolisian untuk menemui Ayah Jimmy yang dijadikan tersangka. Ponsel Livia berdering, "Halo.."
'Ada yang ingin aku tanyakan, kenapa kau sangat ingin bertemu dengan Pak Rahmad?' Tanya Tiara yang meneleponnya.
"Bisakah kita bicarakan nanti? Aku berada di kantor polisi sekarang."
'Untuk apa kau kesana?'
"Menemui Om David di dalam penjara. Nanti kita bisa bertemu untuk membicarakan semuanya." Saran Livia yang mengekor Jimmy dan Bu Jasmine.
'Baiklah.' Tiara mematikan teleponnya.
Livia tampak terdiam sejak mereka memasukki kantor polisi. Sungguh setelah mengetahui semua perbuatan busuk keluarga itu, tidak ada rasa hormat lagi untuk mereka.
Melihatnya pun juga sudah jijik. Seorang petugas polisi membawa om David ke dalam sebuah ruangan yang sudah di khususkan sebagai ruangan pertemuan para napi dengan keluarganya. Tidak lupa 6 atau 7 orang polisi berjaga-jaga disana untuk memantau napi-napi lain yang bertemu dengan keluarganya selain dari kedatangan Jimmy, Bu Jasmine juga Livia.
"Papa." Jimmy berlari memeluk papanya.
Om David tersenyum sambil memeluk kembali puteranya, Bu Jasmine berdiri memberikan hormat pada beliau sehingga membuat Livia yang tak suka pun harus berakting seakan-akan dia tak mengetahui semua ini. "Siang om." Sapa Livia dengan halus.
Om David tersenyum memegang bahu gadis itu, "Jangan memanggil om. Bukankah sebentar lagi kau akan jadi anak angkatku?"
Ucapannya itu membuat Livia tersenyum, "Terima kasih om. Eh, papa. Saya senang sebentar lagi bisa menjadi bagian dari keluarga papa."
Langkah ini semakin memudahkannya untuk merebut kembali atas apa yang sudah mereka rebut.
"Begini 'Pa, Jimmy datang untuk membahas mengenai pengangkatan Livia jadi bagian dari keluarga kita. Apakah harus diumumkan ke semua orang?"
Om David mengganguk pelan, "Ya. Memang dari dulu keinginan papa dan mamamu adalah mengangkat Livia jadi bagian dari keluarga ini. Jadi, memang saat ulang tahun perusahaan lah yang paling tepat. Bu Jasmine sudah mengurus segala dokumennya hanya tinggal Livia menandatanginya saja."
"Maaf sebelumnya, bisakah saya tetap menggunakan nama keluarga saya?" Pertanyaan Livia membuat Jimmy dan papanya saling memandang. Biar bagaimana pun Livia tidak mau menggantikan nama keluarganya menjadi nama keluarga pembunuh itu. "Jika tidak bisa, maka saya tidak ingin menjadi keluarga kalian."
"Kenapa om ada disini?" Tanya Livia padanya.
"Kalau kau tidak mengganti nama keluargamu jadi, nama keluarga Kurniawan. Maka, om juga akan susah untuk menambahkan nama keluarga om padamu." Ucapan Papa Yeni membuat mereka terdiam bingung. Beliau memandang ke temannya, "David, bagaimana jika tepat pada saat pengangkatan Livia menjadi keluarga kalian juga menjadi ajang dimana aku ingin.." Ucapan papa Yeni berhenti sejenak karena beliau memandang Livia, "Aku ingin Livia menjadi menantuku."
Gadis itu tak bisa berkata apa-apa lagi. Seketika dalam hati dia tersenyum meremehkan.
Jadi, begini rasanya diperebutkan?
Livia tahu..
Yang mereka incar bukan dirinya..
Melainkan hanya keinginan antara kedua orang itu demi menguasai kekayaan Wijaya seutuhnya.
Baiklah.
Livia akan mengikuti permainan mereka. "K..kenapa tiba-tiba om?"
"Om rasa kau sangat cocok dengan Raka puteraku. Jadi, bagaimana?"
"Akan Livia pikirkan lagi. Tapi, bolehlah aku meminta 1 permintaan?"
"Katakan saya nak." Ujar Om David.
"Aku juga mau jika ada pengakuan kalau satu-satunya penerus keluarga Wijaya yang dulu dikabarkan meninggal ternyata masih hidup. Aku tidak mau orang-orang di luar sana menggangapku meninggal."
*****
Tiara memandang ke arah langit mendung dari jendela apartemennya, "Ayah tahu tadi aku menanyakan kembali pada Livia akan alasan apa dia ingin bertemu dengan ayah." Ujarnya memandang ke sang ayah yang terduduk di sampingnya juga ikut memandang ke arah langit.
"Apa alasannya?"
"Tiara tidak tahu." Ucapan puterinya membuat Pak Rahmad tersenyum merendahkan sedikit. "Tapi, aku yakin akan satu hal."
"Apa itu?"
"Tidak lama lagi, ular betina akan muncul dari kegelapan." Ujarnya yang tak perduli akan tatapan bingung dari ayahnya.
-To Be Continue-