
Tiara : Banyak yang bilang bahwa itu murni kecelakaan akan tetapi, saya percaya bahwa itu adalah ulah dari orang-orang tertentu yang gila akan kekuasaan. Mungkin sekarang saya tidak punya bukti akan hal itu. Namun, saya yakin karma akan berlaku pada mereka yang sudah jahat membuat seorang anak kecil kehilangan kedua orang tuanya hanya karena kekuasaan dan harta yang mereka inginkan.
Wanita itu berpura-pura menangis di depan semua orang.
Bagus.
Semua orang pasti akan sangat mempercayainya.
Tiara : Tidakkah kalian punya hati nurani sedikit? Bagaimana trauma yang aku alami saat melihat orang tuaku meninggal di depan mataku sendiri. Aku yang dulu masih kecil bisa berbuat apa untuk menyelamatkan kedua orang tuaku selain menangis dan meminta tolong.
"Kenapa dia bisa tahu semua hal itu ?" Tanya Livia. Hanya dia dan teman-temannya yang tahu akan hal ini.
Tidak ada orang lain lagi yang tahu, kecuali keluarga Jimmy.
Bagaimana bisa ?
Mereka tidak mungkin menceritakan hal itu pada Tiara.
Lalu...
Kenapa Tiara mengetahui semua ini ?
Dari mana dia mendapatkan informasi tersebut ?
Astaga..
Apa yang harus dilakukannya sekarang ?
Tidak mungkin 'kan jika Livia muncul begitu saja di depan publik lalu mengatakan kalau dia adalah puteri asli dari Keluarga Wihaya yang masih hidup.
Tidak..
Jika dia melakukan hal itu, maka semua orang tidak akan mempercayainya.
"Livia, kau tidak pernah menceritakan apapun pada wanita itu kan ?" Tanya Yeni yang dijawab dengan gelengan kepala dari Livia.
"Kok dia bisa tahu semua itu ?" Hanna ikut penasaran. Sebenarnya ia mengetahuinya. Semua ini karena Tiara gila yang datang padanya dan mengajaknya berkerja sama. (Ada di Part 37). Ia kira papanya sudah menyelapkan Tiara tapi malah wanita itu semakin menjadi-jadi.
Nia melipat kedua tangannya didada menyenderkan badannya di sofa, "Ya mungkin saja dia mencari data-data itu dengan caranya sendiri. Kalian tahu lah wanita itu orang yang seperti apa. Dia akan melakukan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkannya termasuk informasi itu." Jelasnya.
"Tapi itu kan private banget. Hanya kita, Robert dan Jimmy yang mengetahuinya." Narul pun berbicara. Dia juga tak habis pikir kenapa Tiara bisa melakukan hal tersebut.
Suara ketokan pintu ruangan Yeni membuat mereka berhenti berbicara, "Permisi bu. Ada tamu yang ingin bertemu dengan ibu." Begitu sekertaris Yeni berbicara Jimmy datang bersama dengan orang tuanya, orang tua Hanna dan orang tuanya sendiri.
Mau apa mereka semua datang kemari ? Gumam Yeni dalam hati. Menyusahkan banget sih. Kenapa tidak telepon terlebih dahulu kalau mau datang.
"Tolong batalkan semua jadwal saya hari ini." Perintah Yeni menatap sekertarisnya.
"Baik bu. Saya pernisi." Ucap Sekertaris Yeni yang membungkuk lalu pergi.
Yeni menatap ke arah Robert, "Kau bawa pulang saja Livia. Dia pasti sangat shock akan hal ini. Nanti akan aku kabari untuk langkah selanjutnya."
Saat orang tuaku dan tamunya datang kemari. Livia, Robert, Ai Chan, Nia dan Narul juga harus pergi. Ucapnya dalam hati. Mereka tidak boleh tahu apa yang akan kami bicarakan.
"Tapi.." Ucapan Robert berhenti karena Livia sudah meresponnya.
"Baiklah. Kami pamit dulu om-tante." Livia dan Robert mengucapkan salam kepada 3 pasangan orang tua yang baru saja datang dan mereka pun pergi.
"Kenapa kau malah suruh dia pulang Yeni ?" Tanya Narul seakan tak terima.
Bukankah dia sendiri yang menyuruh Livia datang ?
Kenapa sekarang malah mengusirnya secara halus begitu ?
"Dia butuh istirahat 'Rul. Apalagi mengetahui hal seperti ini." Jelas Yeni yang berjalan ke mejanya lalu menelepon sekertarisnya, "Tolong bawakan beberapa bangku ke ruanganku, juga siapkan minuman untuk para tamu." Perintahnya lalu menutup telepon. 3 menit berlalu masuklah sekertaris Yeni dan beberapa OB (Office Boy) membawa kursi lalu mereka pergi.
Teman-teman Yeni yang awalnya duduk di sofa langsung berdiri dan mempersilahkan 3 pasang orang tua untuk duduk di sofa. Bagaimana pun juga yang muda harus mengalah pada yang tua.
"Kau bilang bahwa akan mengurusi Tiara dan membunuhnya, bagaimana sih ?" Ujar Jimmy yang mendapat tatapan tajam dari Hanna dan Yeni namun disisi lain juga mendapatkan tatapan bingung dari Nia, Narul, dan Ai Chan yang sama sekali tidak tahu menahu.
"Tunggu.. apa maksudnya kalau Yeni akan membunuh Tiara ?" Ai Chan menatap Yeni, "Yeni, bisa kau jelaskan semua ini ?"
Suara ketokan pintu kembali terdengar, dua orang OB (Office Boy) kembali masuk membawakan beberapa minuman dan menyajikannya diatas meja. Begitu selesai mereka pamit pergi lalu menutup pintu.
"Yeni, kau bisa jelaskan pada kami akan apa yang dikatakan olehnya ?" Tanya Ai Chan seki lagi padanya.
Yeni terdiam mengabaikan pertanyaan dari temannya, yang malah menatap tajam ke Jimmy dengan segala sumpah serapah dia keluarkan dalam hati.
Semua ini karena mulutmu.
Ash.. seharusnya aku jahit akan mulutmu agar tidak bisa bicara untuk selamanya.
Lihat apa akibat dari apa yang kau lakukan sekarang ?
Dasar..
Jimmy seakan sadar ia langsung menutup mulut, "Ups. Mereka tidak tahu ya ? Hanya kau dan Hanna yang tahu ?" Pria itu hanya bisa nyegir saja, "Maaf. Aku kira mereka semua tahu."
"Jimmy !!!" Hanna pun menatap tajam ke arahnya.
"Na, kau dan Yeni menyembunyikan sesuatu dari kami ?" Tanya Nia yang ikut menatap bingung pada Hanna karena tidak mendapat jawaban dari Yeni
"Kalian bertiga kembali kerja." Perintah Yeni yang terduduk di mejanya.
"Tapi Yeni..Kita bertiga berhak tahu apa yang terjadi." Ujar Ai Chan tak terima. Menurutnya, mereka berhak tahu akan apa yang terjadi sebenarnya.
"Aku ini atasan kalian guys. Tolong kembali berkerja." Yeni mencoba menahan amarahnya. Ia sudah pusing akan masalah Tiara sekarang karena ulah pria itu malah semakin menambah masalahnya.
Kenapa mereka keras kepala banget sih ?
Yeni dan Hanna tidak bisa mengatakan sejujurnya karena ada orang tua mereka disini. Kenapa sih mereka tidak mau mengerti akan hal itu ?
"Ai Chan dan Nia boleh berkerja tapi tolong ceritakan padaku apa yang kalian sembunyikan dari kami." Ucap Narul akhirnya membuka suara. "Apa maksudnya kalau kau ingin membunuh Tiara, Yeni ?" Dia menatapnya tajam. "Kau tahu itu, Yen. Kalau perbuatan tersebut sangatlah berdosa."
Yeni yang terdiam justru membuat ketiga temannya semakin penasaran, "Kau. Ceritakan apa yang terjadi !!" Nia menatap tajam ke Jimmy. "Apa maksud dari ucapanmu ?"
Jimmy juga ikut terdiam.
"Nia dan Ai Chan. Kalian kembali berkerja !!" Perintah Yeni meninggikan suaranya.
Bagaimana pun dia adalah boss disini.
"Tidak. Kita perlu tahu apa yang kalian sembunyikan dari kami !" Ujar Nia.
Yeni berdiri memukul mejanya, "Kembali berkerja !!"
Nia mengganguk dan mengatakan, "Oke. Saat aku dan Ai Chan angkat kaki dari sini maka, kita bukan lagi teman kalian berdua." Nia menatap Yeni dan Hanna bergantian. "Ayo kita pergi." Nia menarik tangan Ai Chan meninggalkan mereka semua.
"Hanna.. Yeni.. jelaskan apa yang kalian sembunyikan ?" Tanya Narul usai kepergian kedua temannya. "Jangan berdiam saja seperti itu."
Yeni terdiam sesaat.
"Narul tolong kau keluar juga. Ada yang harus kami bahas." Yeni masih mencoba menahan emosinya.
Astaga kenapa aku begitu emosi sekali hari ini ?
"Kenapa sih susah banget buat kalian untuk jujur ?" Tanya Narul membuat semua di ruangan itu terdiam.
Karena 3 pasangan orang tua itu adalah dalang dibalik hancurnya dan meninggalkan orang tua Livia juga perusahaan Wijaya.
Karena perbuatan orang tua mereka lah membuat Hanna, Jimmy dan Yeni enggan mengungkapkannya pada yang lain terlebih lagi pada Livia.
Satu sisi mereka memang menyadari bahwa orang tua mereka bersalah tapi, mereka juga tidak mau orang tua mereka masuk dalam penjara. Mereka tidak mau kehilangan apa yang sudah mereka miliki sekarang. Mereka dulu pernah hidup susah dan sekarang mereka tidak ingin merasakan hal yang sama. Tidak ada anak yang mau orang tuanya masuk dalam penjara.
Namun, Yeni dan Hanna tidak bisa mengatakannya.
"Narul, kita mohon. Tolong kau juga keluar ya." Bujuk Hanna mancoba berbicara dengan nada halus. Gadis itu tidak ingin kehilangan Narul sebagai teman dekatnya.
"Kalau kalian tidak mau kehilangan aku sebagai teman seperti Nia dan Ai Chan maka, katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya." Ujar Nia yang kesabarannya mulai menipis.
"Narul, tolong keluar sebelum aku panggil security." Ujar Yeni dengan halus. Dia mencoba sedang memendam emosinya saat ini.
Narul berdiri, "Tega ya kalian berdua. Kita sudah bukan teman lagi." Ia pergi dari sini. Sesaat Narul pergi dengan segera Hanna dan Yeni memukul kepala Jimmy dengan bantal sofa.
"Apa-apaan sih !!!" Teriak Jimmy.
"Karena kau membicarakan hal itu mereka semua jadi pergi dan tak mau berteman lagi dengan kita !!!!" Jelas Hanna memukul Jimmy dengan bantal sofa. Tidak perduli akan hadirnya orang tua Jimmy disana.
"Mana aku tahu kalau mereka sama sekali tidak mengetahui hal ini. Aku kira mereka sudah tahu. Lagi pula kenapa kalian tidak langsung jelaskan saja tadi." Ujar Jimmy melakukan pembelaan.
"Sudahlah Yeni. Sekarang kita pikirkan langkah apa yang mau kita ambil untuk Tiara." Kata Papa Yeni berusaha menenangkan mereka.
"Satu-satunya cara adalah meleyapkan wanita itu dari muka bumi ini, 'Pa." Ujar Hanna pada papanya.
"Gini." Papa Yeni duduk di depan puterinya, "Masalah itu bagaikan akar pohon. Jika kita biarkan maka akan semakin kemana-mana, akan tetapi jika kita potong akarnya maka mereka akan berhenti."
Yeni menatap tajam ke papanya, "Apa yang sebenarnya ingin papa katakan ?"
Papa Yeni mendekatkan wajahnya ke puterinya lalu berbisik, "Bukan Tiara yang harus kita bunuh tapi, Livia. Akar dari semua masalah ini. Jika gadis itu tidak ada di muka bumi ini maka semua masalah yang terjadi sekarang akan berhenti."
Yeni menatap papanya, "Dan aku tidak akan membiarkan papa menghancurkan akar itu."
"Kau berani pada papa sekarang ?" Tanyanya dengan nada tinggi. Tak memperdulikan masih ada orang lain di ruangan itu.
"Papa-lah yang membuatku jadi seperti ini !!" Ujar Yeni masih mencoba emosinya.
Papa Yeni menggelengkan kepalanya, "Berteman dengan gadis itu tampaknya membawa pengaruh buruk padamu." Ujarnya.
Hanna yang tak terima ikut menyela, "Maaf om. Kalau Hanna ikut campur, tapi Livia sama sekali tidak memberikan pengaruh buruk pada kami." Jelasnya.
"Hanna, kembali jangan ikut membelanya." Tegur papa Hanna pada puterinya.
"Hanna dan Yeni mengatakan hal yang sebenarnya. Livia sangat baik kok pada kami dan dia tidak membawa pengaruh buruk. Papa tahu akan hal itu." Jelas Hanna panjang lebar. "Berhenti menyalahkan Livia. Dia juga sangat sedih akan semua ini. Sekarang kita pikirkan akan apa yang harus kita lakukan atas ulah Tiara itu."
Semua orang terdiam sejenak.
"Sepertinya sebentar lagi pengacara yang dulu menganani pergantian nama perusahaan Wijaya ke Sapphire Blue Crop akan menghubungi kita sebentar lagi. Pasti beliau sudah mengetahui dan mempercayai apa yang dikatakan oleh Tiara." Ucap papa Jimmy pada mereka.
Dan benar saja baru beberapa detik ponsel Papa Jimmy berdering, beliau membuka dan membacanya, "Lihat benarkan kataku ? Pengacara itu langsung meminta kita untuk datang dan Tiara juga berada disana."Jelasnya yang memperlihatkan bukti email masuk kepada Papa Yeni dan Papa Hanna.
Papa Yeni mengambil ponsel tersebut lalu membacanya, "Ash.. apa yang harus kita lakukan ? Pengacara itu bisa saja menyerahkan perusahaan Wijaya ke tangan Tiara." Ujarnya sambil mengembalikan ponsel papa Jimmy.
"Kenapa om tidak membawa bukti saja untuk membuktikan kalau Tiara itu palsu ?" Celetuk Jimmy sambil bermain ponsel.
"Nah betul kata puteramu." Ujar papa Yeni menatap papa Jimny, "Bukti yang menunjukkan Livia adalah pewaris asli ada di kau. Urusan Livia nanti saja yang terpenting kita harus mempermalukan Tiara dan memasukkannya dalam penjara."
"Baiklah. Nanti akan aku bawakan buktinya saat di hari H." Kata papa Jimmy.
"Hati-hati 'Pa. Wanita itu sangatlah berbahaya." Ujar Yeni yang khawatir. "Tapi, aku tidak mau ya kalau papa sampai bikin Livia kenapa-kenapa."
Papa Yeni hanya tertawa melihat tingkah puterinya, "Iya-iya. Papa tidak akan macam-macam pada Livia. Hanya sampai pada waktu yang tidak ditentukan." Ujarnya sedikit menggoda puteri bungsunya.
"Ihh..Papa.." Yeni mulai merenggek, "Sekarang beri aku saran karena perkataan Tiara tadi pasti kalau tidak hari ini atau besok maka perusahaan kita akan didatangi banyak wartawan."
Papa Yeni mengacak rambut puterinya, "Untuk urusan itu nanti biar papa yang mengurusnya ya sayang. Kau tenang saja ya. Fokus pada kedua tugas akhir kuliahmu juga kerjaanmu. Jangan pikirkan hal yang lain. Ingat, papa tidak mau kau sampai tidak mengerjakan kedua laporan kuliahmu itu. Papa akan sangat marah kalau kau melakukannya."
"Baik papa." Ujar Yeni. "Aku akan tetap selesaikan dua laporan akhir kuliahku kok. Papa dan mama tenang saja."
*****
"Mereka tega banget sih." Gumam Narul saat berjalan menuju lobby malah bertemu dengan Ai Chan dan Nia. "Kalian tak kerja ?" Tanyanya pada mereka.
"Kau juga disuruh keluar ya ?" Tanya Ai Chan yang di-iyakan oleh Narul. "Kerjaan kita sudah selesai jadi boleh pulang juga dari tadi."
"Aku masih tak ngerti kenapa Hanna dan Yeni jadi begitu."
Yeni dan Hanna tidak pernah seperti itu pada mereka. Kenapa mereka berdua begitu enggan sekali kalau Nia, Ai dan Narul mengetahui sesuatu ?
Apa yang mereka berdua sembunyikan ?
Semakih lama berpikir membuat Narul semakin penasaran, akan apa yang sebenarnya terjadi ?
Dan akan apa yang tidak mereka ketahui ?
Jika Yeni dan Hanna tidak mau membocorkannya, maka mereka harus mencari cara lain untuk mengetahuinya.
Tapi apa ?
Nia merangkul Narul, "Kita jangan berbicara disini ke perpustakaan kampus saja sekalian kerjain skripsi dan laporan OJT (On The Job Training). Disana kedap suara jadi lebih aman."
-To Be Continue-