
"Eh, lihat bukankah itu yang mengakui dirinya penerus terakhir keluarga Wijaya yang masih hidup." Ucap salah seorang mahasiswi pada teman-temannya. Perdebatan antara Nia dengan Yeni dan Hanna terhenti ketika mendengar ucapan dari salah satu mahasiswi mengalihkan mereka lalu menatap Tiara berjalan menghampiri mereka.
Lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian.
Sungguh menyebalkan.
Kenapa sih wanita itu harus datang kesini ?
Dari mana dia tahu kampus ini ?
Dan mau apa dia ?
"Mau apa kau kemari ?" Tanya Yeni menatap tajam kearahnya.
"Calon adik ipar jangan marah begitu. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Livia." Kata Tiara pada Yeni.
"Kau bisa mengatakannya disini." Saran Hanna.
Mereka juga ingin tahu apa yang mau dibicarakan oleh Tiara pada Livia.
"Tidak. Aku hanya ingin bicara berdua saja dengannya." Katanya sambil menatap tajam ke arah teman-teman Livia. Wanita itu memilih untuk mengabaikan tatapan tajam dari teman-teman Livia kepadanya. Lalu, berbalik menatap gadis itu dengan lembut, "Kau mau berbicara berduaan saja denganku 'kan ?" Tanyanya dengan sopan.
Livia menatap kearah teman-temannya, mereka terdiam. Tapi, tatapan mereka seperti mengisyaratkan untuk tidak pergi bersamanya, satu sisi dia juga sangat penasaran akan apa yang mau dibicarakan oleh Tiara padanya. Jika ada Robert atau Jimmy disini mungkin mereka juga akan melarangnya.
Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padaku.
Setelah menarik nafas kemudian menghebuskannya, Livia sudah menentukan jawabannya, "Baiklah. Aku ikut denganmu."
"Livia !!" Teriak teman-temannya bersamaan.
Apa temannya ini sudah gila ?
"Kalian dululan saja ke kantin atau ke kelas nanti aku akan menyusul." Ucap Livia pada mereka.
Baik itu Yeni, Hanna, Ai Chan, Narul bahkan Nia tidak habis pikir akan apa yang Livia lakukan.
Kenapa dengan mudahnya dia menerima ajakan wanita ular macam begitu ?
Teman mereka itu terlalu baik untuk wanita seperti Tiara.
Yeni menunjuk Tiara, "Awas jika kau macam-macam dengannya."
Tiara tesenyum, "Tenang saja calon adik ipar. Aku tidak akan apa-apakan temanmu ini. Ayo." Ucapnya pada Yeni lalu menarik Livia pergi.
Yeni menelpon bodyguardnya, "Tolong kau ikuti kemana Tiara membawa Livia pergi."
Baru beberapa langkah Tiara berhenti, "Sebentar." Ucapnya pada Livia. Wanita itu berjalan menghampiri Yeni kemudian berbisik, "Jika kau berani menyuruh orang untuk mengikutiku maka, aku tidak bisa jamin keselamatan temanmu, juga reputasi keluargamu." Ancamnya lalu pergi menarik Livia dari sana.
Yeni mengumpat kasar, tak perduli akan semua orang melihatnya. Ia menelepon bodyguardnya untuk tidak mengikuti Tiara dan Livia. "Seharusnya dari dulu aku membunuhnya." Gumam Yeni.
"Ayo kita ikuti Livia." Saran Narul yang disetujui oleh mereka semua.
******
Tiara membawa Livia masuk ke dalam mobilnya, "Kau akan membawaku kemana ?" Tanya Livia begitu dipaksa masuk ke dalam mobil wanita itu.
"Aku tidak mambawamu kemana-mana. Aku hanya ingin berbicara padamu di dalam mobil agar tidak ada yang bisa mendengarkan kita." Jelasnya dengan santai.
"Katakan saja. Apa yang ingin kau bicarakan ?" Tanya Livia.
Tiara tersenyum menatap keluar jendela mobil, "Mereka sangat setia sekali padamu sampai-sampai menungguimu seperti itu." Ujar Wanita itu melihat Yeni dan teman-temannya berdiri dalam jarak 500 meter dari mobilnya.
"Apa yang wanita itu bicarakan ke Livia ?" Tanya Nia pada Narul.
"Aku juga tak tahu, Nia." Jawab Narul.
Sungguh teman-teman yang baik. Tapi, ada dua diantara mereka yang menusuk Livia. Bahkan gadis itu entah terlalu polos atau bagaimana tidak menyadari hal itu.
"Mereka sangat protect padaku." Jawab Livia.
Tiara tersenyum sinis, "Kau tahu, aku-lah orang yang mengirimkan sms padamu untuk berhati-hati pada mereka semua."
Livia membulatkan matanya, "Kenapa kau mengirimkan hal tersebut padaku ? Bukankah kau sangat membenciku sejak pertama kali kita bertemu ?"
"Aku sedang berbaik hati untuk memperingatkanmu jangan terlalu mempercayai mereka. Aku kasihan padamu sejak orang tuamu meninggal kau selalu sendiri bahkan sampai sekarang kau dikelilingi oleh orang-orang yang berniat jahat padamu." Jelasnya.
Berniat jahat padaku ?
Teman-temanku sendiri ?
Yang benar saja.
Mana mungkin.
Selama ini selalu bersikap baik padanya bahkan sangat perduli padanya.
"Apa tujuanmu melakukan semua hal ini ? kau tidak punya bukti apapun ? mereka sangat baik padaku. Aku tidak terima jika kau menuduh mereka yang macam-macam. Aku percaya mereka tidak akan berbuat yang jahat padaku. Mereka sangat perduli padaku." Ucapan Livia membuat Tiara tertawa lepas.
Astaga..
Gadis ini sungguh polos atau apa sih ?
Tiara sungguh tidak menyangka sepercaya itu Livia pada semua teman-temannya, "Pernahkah kau berpikir jika orang tuamu itu meninggal bukan karena murni kecelakaan tapi ada orang-orang tertentu yang melakukannya."
Livia terdiam.
Tiara tersenyum melihat gadis itu terdiam seribu bahasa.
Yes, akhirnya...
Robert pernah mengucapkan hal yang sama padanya.
Sungguh, dia pernah terbesit memikirkan hal itu. Tapi, gadis itu coba untuk menghapusnya dan berpikir positif.
Tapi...
Tapi, bagaimana jika apa yang dikatakan oleh Tiara itu benar ?
"Kau terdiam, berarti kau pernah terbesit memikirkan hal itu." Ucapan Tiara membuat Livia terdiam sesaat.
"Jika kau mengajakku untuk membicarakna hal ini lebih baik aku pergi." Ucap Livia lalu berbalik untuk membuka pintu namun, gadis itu berhenti karena perkataan Tiara.
"Aku tahu bahwa kau adalah ahli waris keluarga Wijaya yang asli dan kau akan menyesal jika lebih mempercayai mereka dari padaku. Mereka tidaklah sebaik yang kau pikirkan. Aku punya alasan sendiri kenapa melakukan hal ini. Aku sarankan jika kau ingin melakukan apapun, jangan pernah memberitahu mereka. Mungkin tidak semua dari mereka jahat, tapi ada satu atau dua orang yang jahat padamu." Kata Tiara. Livia keluar dari mobil tanpa meresponnya.
Tiara yang melihat hal itu dari mobil terdiam, "Setidaknya aku sudah melakukan satu hal baik dalam hidupku." Ucapnya lalu pergi meninggalkan mereka.
"Kau tidak apa-apa 'kan ?" Tanya Nia menatap khawatir pada Livia. Gadis itu terdiam menatap mobil Tiara yang pergi.
Apa yang harus aku lakukan ?
Haruskah aku mempercayainya ?
Tak bisa gadis itu pungkiri bahwa ucapan Tiara sangat mempengaruhi pikirannya. "Aku tidak apa-apa. Ayo kira pergi makan, aku lapar." Ajaknya mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Kalian membicarakan apa tadi ?" Tanya Hanna penasaran. "Kau bisa jujur pada kami akan apa saja Livia."
Gadis itu terdiam mengingat perkataan Tiara barusan.
'Aku sarankan jika kau ingin melakukan apapun, jangan pernah memberitahu mereka. Mungkin tidak semua dari mereka jahat, tapi ada satu atau dua orang yang jahat padamu.'
Livia tersenyum dan menggeleng, "Bukan hal penting kok." Mereka akhirnya memutuskan untuk membeli makanan dan makan di kelas. Begitu di kelas, teman-temannya duduk secara terpisah. "Kenapa kalian jadi seperti ini ?"
"Kami masih belum mau duduk bersama mereka." Ujar Ai Chan.
Livia menggelengkan kepala, "Astaga kalian ini. Jangan berlama-lama saling marah begitu." Ia duduk disebelah Yeni dan Hanna sementara ketiga temannya duduk sebrang mereka. Tak berapa lama Dosen masuk ke kelas. Livia maju pertama untuk konsultasi begitu selesai maka satu -persatu mahasiswa di kelas itu juga ikut konsultasi. Selama memperhatikan teman-temannya sibuk konsultasi. Gadis itu terdiam. Tak bisa ia pungkiri perkataan Tiara dan Robert sungguh menghantui pikirannya.
Siapa yang harus aku percayai sekarang ?
Tidak mungkin kan mereka berbuat jahat di belakangku ?
Oh Tuhan, apa yang harus ia lakukan sekarang ?
Livia mengingat akan masa-masa dimana dia pertama kali berkenalan dengan mereka. Saat itu mereka sungguh seperti orang asing, tidak ada yang saling sapa hingga beberapa minggu kemudian mereka kian akrab sejak seorang dosen membuat beberapa kelompok untuk presentasi yang terdiri dari 5 hingga 6 orang. Dari sanalah, mereka berteman hingga sekarang. Pernah ada kejadian dimana, mereka tidak 1 kelompok. Livia bergabung dengan anak-anak yang baik sebenarnya namun, ada 1 anak yang cukup terkenal dengan image buruk sehingga ia dikucilkan oleh semua orang di dalam kelas itu. Ajaibnya, dalam kelompok tersebut tidak ada yang mau berbicara padanya dan hanya mereka yang mau berbicara padanya.
Ya Tuhan..
Sekarang siapa yang harus Livia percayai ?
Ketika teman-temannya bertanya akan apa alasannya, gadis itu hanya menjawab jika ia tidak tega pada orang tersebut. Menurutnya, orang itu sangat baik padanya. Lagipula, Livia pernah merasakan bagaimana rasanya dikucilkan karena masa lalunya yang kelam. Oleh karena itu, Livia mengajaknya berteman karena mereka pernah merasakan bagaimana rasanya tidak punya teman untuk mengobrol. Sungguh tidak enak. Karena itulah, Yeni dan teman-temannya hanya bisa terdiam dan mengawasi Livia dari jauh.
Mereka begitu baik padaku.
Pernah juga Livia naik angkutan umum bersama Nia menuju sebuah Mall. Ada seorang bapak-bapak melihat Livia sejak mereka naik ke dalam angkutan umum tersebut hingga turun. Nia tidak berbuat apa-apa, ia hanya menatap tajam ke arah orang tesebut agar tidak berbuat yang macam-macam pada temannya. Begitu mereka turun, Nia menceritakan semuanya membuat Livia merasa bersyukur akan hal itu. Sejak orang tuanya meninggal tidak ada yang pernah memperhatikannya selain Robert. Maka dari itulah, yang membuat Livia yakin tidak mungkin teman-temannya akan berbuat sesuatu hal yang jahat padanya.
******
Tiara baru saja tiba di apartemennya, wanita itu merasa lelah sekali akan hari ini. "Kemana saja kau hari ini ?" Tanya seorang pria paruh baya padanya. Matanya menatap ke arah pria paruh baya yang menghampirinya,
"Kenapa ayah berada disini ?" Tanya Tiara yang terduduk di sofa.
"Ayah tanya darimana kau ? Lalu, kenapa kau mengatakan pada semua bahwa kau adalah pewaris Wijaya yang dikabarkan meninggal itu ? Kau tahu siapa pewaris sebenarnya." Jelas Ayah Tiara dengan penuh amarah.
"Bukan urusan ayah." Ketus Tiara.
"Kasihan anak itu." Ujar Ayah Tiara yang menatap sendu ke puteri satu-satunya yang dimiliki.
Tiara berdiri menatap ayahnya, "Kasihan ? Kenapa kau harus kasihan padanya ? Sedangkan, aku puterimu tidak pernah kau kasihani." Ujarnya menaikan nada bicaranya.
"Dia sudah sejak kecil ditinggal oleh kedua orang tuanya karena ulah segelintir orang yang menginginkan harta lalu ketika ia diasuh oleh paman dan bibinya juga ia tak bahagia, Tiara. Kau tahu itu." Kata Ayah Tiara yang masih berbicara dengan nada lembut.
"Apa ayah pernah merasa kasihan padaku ? Sejak ayah dan ibu berpisah, aku diurus sejak kecil oleh ibu dan ayah pergi entah kemana." Ucap Tiara kembali mengingat masa lalunya yang menyedihkan. Ketika Tiara kecil berusia sepuluh tahun, keluarga mereka sangatlah miskin juga terlilit banyak hutang akibat ulah ibu kandungnya yang merupakan pengendar obat-obatan terlarang juga beliau sangat suka berjudi. Setiap hari masa kecilnya harus mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Tidak ada istilah keluarga harmonis dalam hidupnya.
Ibunya tidak pernah mengurusinya sejak kecil karena sibuk akan obat-obatan terlarang dan berjudi, sedangkan ayahnya sibuk berkerja keras untuk menghidupi keluarga kecilnya. Merasa tidak tahan akan tingkah isterinya ayah Tiara menceraikannya. Ketika mereka bercerai, pengadilan memutuskan untuk hak asuh Tiara berada di tangan ibunya. Membuat hari-hari remaja Tiara hingga dewasa sangalah terpuruk. Selepas dari isterinya, Ayah Tiara diterima berkerja di perusahaan Wijaya sebagai staff Humas namun, lama kelamaan beliau diangkat menjadi kepala Humas disana.
Semakin lama hubungan Ayah dan anak ini semakin menjauh karena kesibukan masing-masing. Ayahnya sibuk mengurusi perusahaan sedangkan Tiara yang menginjak usia tujuh belas tahun sudah ditinggal oleh ibu kandungnya.
Hanya rasa sedih teramat dalam yang Tiara rasakan atas kepegian ibunya. Sejak kecil sampai sekarang ia tak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu padanya. Dia mendapatkannya dari orang lain. Pernah sekali ketika pesta pengangkatan ayahnya sebagai kepala Humas perusahaan Wijaya, beliau membawa Tiara ke pesta tersebut. Saat itulah, Tiara pertama kali bertemu dengan Livia yang masih sangat kecil. Ibu Livia juga sangat menyayangi Tiara seperti anak kandungnya sendiri, dari sanalah ia juga bertemu dengan Jimmy yang merupakan anak dari orang kepercayaan orang tua Livia.
Keadaan yang dialaminya sangat berbanding terbalik dengan apa yang sudah dialami oleh Livia sejak kecil.
Tiara pernah bertemu dengan Livia. Namun, saat gadis itu masih bayi. Begitu Livia menginjak sekolah dasar. Tiara sudah pergi ikut dengan ayahnya.
Tiara jatuh cinta pada Jimmy sejak saat itu hingga pertama kalinya ia bertemu dengan Livia yang sudah dewasa di perusahaan milik Jimmy sekarang.
Tiara juga tahu akan berita kematian orang tuanya Livia dari ayahnya. Dia sangat sedih dan histeris. Selama ini wanita itu tidak mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya melainkan dari Ibu Livia yang sangat baik padanya, Tiara mendapatkan dan merasakan bagamana rasanya kasih sayang seorang ibu sebenarnya. Awalnya, wanita itu tidak menyangka bahwa gadis yang satu ruangan berkerja dengan Jimmy adalah Livia.
Sungguh.
Selama ini Tiara tidak tahu sama sekali kalau Jimmy dan Livia sudah saling mengenal sejak mereka kecil.
Wanita itu baru menyadari ketika Yeni datang dan menyebut nama Livia. Kejadian dimana Tiara dipermalukan oleh Yeni yang menyiramkan air padanya (ada di part 13)
tak membuatnya berhenti menatap Livia yang baru ia sadari adalah puteri tunggal keluarga Wijaya yang masih hidup. Dia mengira gadis itu juga ikut meninggal dalam kecelakaan itu. Perlahan tapi pasti, Tiara mengetahui semua hal akan kenapa orang tua Livia yang sudah dia anggap sebagai orang tua kandungnya sendiri meninggal, wanita itu tahu kenapa Livia masih bisa hidup sampai sekarang, dan beliau juga mengetahui siapa orang-orang yang membuat orang sebaik orang tua Livia meninggal. Tiara tahu semuanya dari ayahnya yang dipecat secara tidak terhomat oleh orang-orang itu.
Ya.
Ayah Tiara adalah Pak Rahmad.
Orang yang Livia cari selama bertahun-tahun.
Orang yang tahu akan semua rahasia perusahaan juga keluarganya.
Orang yang tiap tahun selalu datang bersama Tiara ke pemakaman orang tua Livia.
~To Be Continue~