Our Love

Our Love
Part 82



"Entahlah, dia bagaikan makhluk halus. Datang dan pergi sesuka hatinya. Sudah jangan pikirkan wanita itu." Ujar Yeni.  "Habis ini shopping yuk. Pada mau ga  ?" Tanya Yeni.


"Mau.." Jawab Nia.


"Mau banget, kita kemana ?" Tanya Narul.


"Hei.. aku bagaimana ? masa iya aku sendirian disini ? Padahal aku yang ajak kalian liburan malah berakhir sendirian." Gerutu Jimmy.


"Ya sudah kau ikut saja kami berbelanja susah amat." Jawab Narul.


"Baiklah. Aku ikut temani kalian saja dari pada di villa ini." Ujar Jimmy yang pasrah.


Begitu mereka selesai makan dan bersiap-siap, 30 menit kemudian mereka mulai pergi ke tempat tujuan masing-masing. Di dalam Mobil, Livia tampak terdiam memadang langit. "Kau sedang memikirkan apa ?" Tanya Robert padanya.


"Aku memikirkan apakah yang aku lakukan ini benar atau tidak. Aku mengetahui bahwa orang tua Jimmy telah mengambil alih perusahaan papa demi kekayaan, namun aneh jika mereka tiba-tiba saja mau mengangkatku jadi anak angkat mereka bahkan kemarin berniat menjodohkanku dengan Jimmy. Aku tak habis pikir akan apa yang mereka pikirkan ?"


Bagaimana bisa orang yang sudah merebut perusahaan keluargamu sejak lama dan dengan sengaja mencelakakan mereka semua kini sangat baik mau mengangkat anak dari orang yang sudah mereka bunuh sebagai anak angkat.


Sungguh tidak masuk akal.


Namun, Livia terima saja mungkin saja dia bisa mengambil alih perusahaan orang tuanya jika dia sudah menjadi bagian dari keluarga tersebut.


"Bukankah itu bagus kalau mereka mengangkatmu jadi anak angkat mereka ?  kau bisa mengambil alih perusahaan itu dari tangan mereka. Aku akan membantumu." Ujar Robert.


Robert memegang tangan gadis yang kin imenjadi kekasihnya, "Sudahlah sayang. Tenang. Kita datang kesini untuk liburan bukannya kau malah semakin emosi. Apapun yang terjadi, kalau kau butuh apa-apa aku akan selalu ada disini membantumu." Ujarnya mencium tangan Livia.


Gadis itu tersenyum lalu mencium pipi Robert, "Terima kasih. Aku sangat senang kita kembali bersama." Ujarnya bersandar di bahu Robert.


"Seharusnya kau mencium bibirku, bukannya pipiku." Ujar Robert sedikit menggodanya.


Livia mencubit pinggang kekasihnya, "Kau ini...Aku berpikir untuk mencari Pak Rahmad, dia tahu banyak hal. Diantara ke-empat orang kepercayaan papa. Aku hanya mengenal beliau dan Papa Jimmy saja. Dua orang lagi aku tidak tahu siapa." Ujar gadis itu.


"Kau punya foto ? atau alamatnya ?" Tanya Robert.


"Aku tidak mempunyai foto apalagi alamatnya. Pada saat awal aku berkerja di Perusahaan Jimmy yang sebenarnya perusahaanku. Pak Rahmad berada disana, namun ada rumor karena alasan pensiun beliau tidak berkerja lagi disana dan sudah tidak ada kabar apapun mengnai beliau." Jelas Livia panjang lebar.


"Nanti begitu ada di kantor aku akan mencoba mencari informasi." Kata Robert.


"Kalau aku tidak berkerja disana lagi, kau akan kembali berkerja di Rumah Sakit orang tuamu ?" Tanya Livia.


Robert mengganguk, "Tentu saja. Aku berkerja di perusahaan Jimmy juga agar selalu bisa berada disampingmu dan bertemu denganmu setiap saat." Godanya.


Livia tertawa kecil, "Aku akui bahwa kau sangat gigih dalam hal itu."


~To Be Continue~