
Berbagai portal berita online dan media sosial penuh kini terbagi menjadi 2 kubu, yang pertama membela Jimmy karena dianggap seorang anak yang berani membongkar kejahatan orang tuanya demi sebuah keadilan, dan kubu kedua merupakan orang-orang yang menjatuhkannya karena dianggap sebagai anak durhaka karena sudah memasukkan orang tua yang sudah susah payah merawatnya dari kecil hingga dewasa kedalam penjara.
Jimmy masih terdiam memikirkan apakah yang sudah ia lakukan benar atau justru salah?
"Sejak kapan kau mengetahui semua ini?" Pria itu mendongak mendapati Livia bersama Robert tengah berdiri di depannya.
"Kenapa kau berada disini?"
"Jawab saja pertanyaanku."
"Sudah lama."
Robert mencium pipi Livia membuat Jimmy mengepalkan kedua tangannya, "Aku tunggu diluar ya."ujarnya lalu pergi.
"Kenapa kau melakukan ini?"
"Dan kenapa kau harus mengetahuinya? Yang terpenting untukmu adalah mereka sudah hancur."
"Tentu saja aku harus mengetahuinya karena ini menyangkut orang tuaku."
"Bisakah kau meninggalkan aku sendiri?"
"Kita perlu bicara."
"Apalagi yang mau kau bicarakan? Sudah aku bilang, bahwa aku tidak akan memberitahu alasan dibalik semua ini."
"Baiklah, jika memang kau tidak bisa mengatakan alasannya. Tapi, kau bisa menjawab iya dan tidak 'kan?"
Jimmy terdiam.
Livia lanjut berbicara, "Apakah kau melakukan semua ini karena kasihan padaku? ya atau tidak?"
Pria itu membuang muka, "Tidak."
"Apa karena kau berhutang pada kedua orang tuaku yang dulu telah membantu keluargamu?"
"Ya, tapi tidak sepenuhnya benar. Hanya 5 persen saja untuk alasan itu."
"Kamu punya rencana lain dibalik semua ini?"
"Tidak."
"Kau yakin?"
"Kamu itu kenapa sih tiba-tiba tanya begitu?"
"Tingkah laku apa sih? "
"Kenapa kau tiba-tiba memasukkan orang tuamu kedalam penjara?"
"Sudah aku bilang bahwa aku tidak akan mengatakan apa alasannya!"
"Kalau begitu aku juga tidak akan berhenti terus bertanya padamu mengenai hal itu."
"Kamu itu keras kepala banget sih?"
"Kau juga sama."
"Pergilah. aku tak mau berbicara denganmu."
Merasa kesal Livia pun menjitak kepala Jimmy, "Sudah aku bilang kalau aku tidak akan pergi sebelum kau mengatakan semuanya."
Jimmy ikut merasa kesal, "Dan sudah aku bilang juga bahwa aku tidak akan mengatakan alasannya sampai kapanpun. Lagipula seharusnya kau bersyukur karena hidupmu sudah tenang."
"Cape ya ngomong sama kamu."
"Sama aku juga," ujar Jimmy tanpa memandangnya, Livia pun memilih untuk pergi. Namun, ia berhenti sebentar, "Aku akan kembali lagi besok."
Pria itu mengejarnya, "Tunggu." Ia memegang tangan Livia.
"Ada apa lagi? Tadi kamu mengusirku dan sekarang menahanku. Sebenarnya apa sih mau kamu? Jadi, pria itu jangan plin plan."
"Aku hanya ingin mengatakan untuk jangan berteman lagi dengan Tiara."
Livia melepaskan tangan Jimmy, kemudian melipat kedua tangannya di dada, "Berikan aku alasan kenapa aku tidak boleh berteman lagi dengannya? Dan ini hidupku, kenapa sih kamu suka banget ngatur-ngatur mengenai apapun yang aku lakukan? Kamu bukan siapa-siapa aku."
"Memang bukan maksudku untuk mengatur kamu, aku hanya tidak ingin kamu berteman dengan orang seperti dia."
"Cukup, jika kamu tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaanku, lebih baik kamu diam saja."
"Dia berbahaya." Lirih Jimmy. Livia terdiam, sudah sejak lama ia juga sudah mengetahui jika Tiara berbahaya. "Kau juga tahu sendiri Yeni dan Hanna juga ternyata tidak sebaik yang kamu kira."
"Oh, jadi kamu yang baik untuk aku gitu?"
"Tentu saja, karena aku mencintaimu."
-To Be Continue-