
"Terserah." Ujarnya pelan.
Livia terdiam.
Sepertinya memang hari senin dia harus meminta ijin untuk tidak masuk kantor.
Ada beberapa hal yang ingin dia kerjakan.
Gadis itu kini tidak tahu..
Harus bersikap bagaimana jika dia nanti bertemu dengan Yeni dan Hanna.
Terlebih lagi setelah mengetahui hal mengejutkan ini.
"Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana saat berhadapan dengan mereka." Ujar gadis itu.
Robert hanya bisa terdiam.
Dia juga tak tahu harus bersikap bagaimana.
Karena dia sama syoknya dengan Livia saat mengetahui hal itu.
Pria itu tidak menyangka bahwa papa dari Yeni dan Hanna terlibat akan semua ini.
Pantas saja mereka begitu membenci mereka. Gumamnya pelan.
Semuanya terlihat masuk akal sekarang akan alasan kenapa papa Yeni dan Hanna sangatlah membenci Tiara, juga kedua puterinya juga ikutan membenci Tiara yang selalu menggangu Livia.
Robert tidak menyangka akan adanya alasan dibalik semua perbuatan yang dilakukan oleh kedua teman Livia. Yeni Kusuma dan Hanna.
Apalagi yang kedua gadis itu rencanakan ?
*****
"Livia kenapa sih sampai bisa begitu ?" Tanya Jimmy pada teman-temannya Livia yang berada di ruang tamu.
"Kami juga tidak tahu, saat dia dapat chat dari siapa tiba-tiba sudah bersikap seperti itu." Ujar Yeni.
"Kalian sudah mengurus Tiara ?" Tanya pria itu berbisik pada Yeni.
Tanpa mereka sadari Nia, Ai Chan dan Narul menatap tajam pada mereka berdua.
Semakin hari mereka semakin merasa memang ada hal yang disembunyikan oleh mereka bertiga. Jimmy, Yeni dan Hanna.
"Aku tak tahu itu. Kau tanyakan sendiri pada papapku." Ketus Yeni.
"Aku tanya baik-baik dan kau malah bersikap seperti itu." Ujar Jimmy lalu meninggalkan teman-teman Livia.
"Semoga dengan adanya Robert, Livia jadi kembali sehat dan cerita." Ujar Nia.
Mereka sangat penasaran akan apa yang terjadi dengan Livia.
Padahal sejak tadi pagi bahkan kemarin, gadis itu terlihat sehat dan baik-baik saja.
Sungguh, kesehatan atau kondisi seseorang itu tidak bisa kita duga.
Baru beberapa jam berlalu terlihat sehat, namun sekarang menjadi sakit.
"Robert, bagaimana keadaan Livia sekarang ?" Tanya Narul saat melihat Robert baru saja keluar dari kamar Livia.
"Dia baik-baik saja. Hanya kelelahan saja. Biarkan dia beristirahat." Ujar Robert tersenyum pada mereka.
"Apakah dia memberitahumu akan hal apa yang membuatnya seperti itu ?" Selidik Hanna.
Robert menggelengkan kepala, "Tidak. Dia tidak memberitahuku apapun." Ujarnya berbohong.
"Padahal tadi pagi dia baik-baik saja. Semoga Livia cepat sembuh deh." Ujar Nia yang di-amin-in oleh semua orang kecuali Robert yang terdiam menatap Yeni dan Hanna.
Berhentilah berpura-pura.
Aku tahu kalian kini senang kan melihat Livia seperti itu.
"Ya sudah sekarang kita fokus saja kerjakan laporan OJT (On The Job Training) dan biarkan Livia istirahat dulu. Mungkin memang benar kalau dia hanya kelelahan saja." Saran Narul.
Semua orang hanya mengiyakan saja. Tidak dengan Yeni dan Hanna yang masih penasaran apa yang di dapatkan oleh Livia sehingga gadis itu terlihat sangat syok.
"Aku mau ke kamarku sebentar." Ujar Yeni lalu pergi meninggalkan mereka.
*Aku harus mencari tahu apa yang membuat Livia jadi seperti itu. *
Sesampainya di kamar Livia, Yeni masuk lalu mengambil ponsel gadis itu, "Pakai password pula. Bagaimana cara aku membukanya ?"
"Kenapa kau berada disini ?" Tanya Robert membuat Yeni terkejut lalu meletakkan kembali ponsel Livia.
"Kau mengagetkanku saja." Ujarnya.
Robert menatap bingung padanya, "Kenapa kau berada disini ?" Tanyanya sekali lagi.
"Aku ? Tentu saja memeriksa keadaan temanku."
"Kan ada aku sebagai dokter disini. Lagipula tadi aku bilang, biarkan Livia beristirahat." Ujar Robert terduduk di sofa dekat kasur Livia.
"Kenapa kau berada disini ?" Tanya Yeni kembali.
"Aku ? Tentu saja menemani kekasihku yang sedang sakit." Jawabnya santai.
"Awas kalau tidak becus menjaganya." Ketus Yeni lalu pergi meninggalkan Robert dan Livia yang masih tertidur.
Aku tahu kau begitu penasaran akan apa yang ada di ponsel Livia.
Aku tidak akan membiarkan kau dan Hanna mengetahuinya.
"Sial. Kenapa pria itu bisa datang disaat yang tepat ? hampir saja aku ketahuan." Gumam Yeni saat menutup pintu kamar Livia dan Ai Chan. "Lain kali aku harus berhati-hati." Ujarnya lalu pergi.
~To Be Continue~