Our Love

Our Love
Episode 115



Tuan Kusuma menunjuk Livia, "Justru karena dia sudah bersekutu dengan Tiara untuk menghancurkan kita. Tidakkah kau sadar akan hal itu!?"


"Kenapa aku harus bersekutu dengan Tiara untuk menghancurkan kalian? Bukankah om dan papa angkatku adalah orang-orang kepercayaan papa kandungku? Apa gunanya aku menghancurkan kalian? Mumpung om disini, ada yang mau aku tanyakan dari dulu. Apakah perusahaan orang tua kandungku masih ada?"


Mereka terdiam tidak menyangka akan pertanyaan yang baru saja dilontarkan gadis itu. Walau begitu memang sudah lama akan ada firasat Livia akan melakukan hal itu, hanya saja tidak secepat ini.


"Ah, sudahlah. Yang penting mulai sekarang kau jangan berteman lagi dengannya." ujar Papa Yeni pada puterinya.


"Kenapa om tidak menjawab pertanyaanku?"


"Kau kan anak mereka, seharusnya lebih mengetahui dimana perusahaan orang tuamu."


"Justru itu aku bertanya pada om. Soalnya kata paman dan bibiku perusahaan kami diambil alih ama om-om semua. Apakah itu benar?" Livia menatap ketiga orang kepercayaan papanya itu yang saling menatap satu sama lain.


Susah sekali sih memancing mereka.


Sudah diberi kode masih juga tak mau mengaku.


Seorang petugas polisi masuk, "Mohon maaf, waktu berkunjung sudah habis." Mendengar ucapan tersebut membuat sebagian dari mereka bernafas lega.


Gadis itu segera berlari mengejar mereka, "Om belum menjawab pertanyaanku, benarkah perusahaan keluargaku itu masih ada?"


"Livia. Sejak kejadian itu, om sama sekali tidak tahu akan perusahaanmu itu. Kenapa kau tidak tanyakan saja pada yang lain." Tuan Kusuma segera pergi meninggalkannya.


Jimmy terdiam memandang gadis itu, ia tidak bisa berbuat apa-apa untuknya. Perusahaan yang ingin dikembalikan kini sudah rata dengan tanah. Pria itu menarik nafas dan mengeluarkannya dengan berat dan merangkulnya, "Tidak bisakah kau lupakan saja perusahaan orang tuamu itu?"


Baru keluar dari kantor polisi, tuan Kusuma sudah dihadang oleh banyaknya wartawan yang mempertanyakan akan hubungan perjodohan Raka dan Livia. Entah mengapa hal yang sudah lama berlalu suka sekali diungkit-ungkit lagi. "Saya tidak akan menjodohkan puteraku dengan Livia."


Gadis itu yang mendengarnya tampak tersenyum, saatnya berakting. Ia berjalan menghampiri Tuan Kusuma, para wartawan pun mengerumuni mereka. "Apakah benar kau tidak jadi bertunangan dengan Raka Kusuma?" tanya seorang wartawan padanya.


"Kalian lupa, kalau Livia sudah memiliki seorang kekasih?" jawab Tuan Kusuma pada mereka.


Gadis itu menatapnya tak memperdulikan wartawan yang merekam serta memfotonya, "Kalau om sudah tahu kenapa masih ingin menjodohkanku dengan putera om waktu itu? Apa karena waktu itu perusahaan Sapphire Blue tengah berada di masa emasnya lalu sekarang begitu sudah hilang malah seperti ini?"


"Jangan suka memfitnah gadis muda." Tuan Kusuma menatapnya tajam.


"Aku tidak memfitnah, hanya mengatakan yang sebenarnya om."


Tuan Kusuma tersenyum sinis dan mengatakan, "Kalau begitu om juga mau mengatakan yang sebenarnya. Kau tahu tidak kalau perusahaan orang tuamu kini sudah hancur berkeping-keping."


Aku memang sudah mengetahuinya.


Raut wajah Livia berubah pucat pasi, "B..bagaimana bisa? Om mengetahui hal dari mana?"


Tuan Kusuma berbisik padanya, "Bukankah kau yang membakar perusahaan orang tuamu sendiri?" Pria paruh baya itu tersenyum meninggalkan Livia yang tertegun mendengar ucapannya.


Berbagai umpatan kasar terucap dalam hati. Bagaimana bisa pria paruh baya itu mengetahuinya?


-To Be Continue-