Our Love

Our Love
Part 91



Livia yang merasa sudah agak tenangan melepaskan pelukan Jimmy, "Maaf, sudah membuat bajumu jadi basah begini."


Jimmy tersenyum, "Tak apa."


Justru aku-lah yang harus meminta maaf padamu.


"Sudah agak legaan ?" Tanyanya setelah Livia tampak begitu tenang walau mata gadis itu masih terlihat begitu bengkak karena habis menangis. "Bagaimana kalau aku pesan minuman untukmu ? Kau masih suka dark chocolate 'kan ?"


Gadis itu mengganguk, "Ya."


Jimmy berjalan menuju mejanya lalu menelepon, "Bu Jasmine. Pesankan minuman untukku Ice Americano serta Hazelnut Chocolate untuk Livia. Oh iya, kau juga memesan biar saya yang bayar."


"Baik pak. Terima kasih banyak. Pak, 10 menit lagi bapak ada meeting dengan beberapa manager di berbagai devisi untuk membahas akan persiapan ulang tahun perusahaan yang tinggal beberapa hari lagi."


"Baik kita kesana sekarang."


"Oke pak." Ujar Bu Jasmine lalu menutup teleponnya.


Jimmy berberes lalu berjalan mendekati Livia, "Aku ada meeting kau disini saja ya." Tanpa menunggu jawaban gadis itu, beliau segera pergi. Dia memang tak perlu takut meninggalkan karyawan magang berada di ruangannya. Apalagi Livia yang bukan hanya sekedar karyawan magang akan tetapi, pemilik sesungguhnya perusahaan ini.


Jimmy tersenyum miris akan fakta yang mengejutkannya. Selama ini dia menjalankan bisnis hanya demi menggantikan sementara posisi Livia sebagai pemilik sesungguhnya.


Setelah kepergian Jimmy, Livia segera menelepon seseorang, "Bisakah kita bertemu ?"


*****


"Kenapa kau berada disini?" Tanya papa Yeni saat masuk ke ruangan puterinya mendapati putera sulungnya tengah asyik bersantai bermain game.


"Sebentar lagi jam makan siang 'Pa. Aku mau mengajak Yeni dan teman-temannya pergi makan siang." Ujarnya mematikan gamenya.


Papa Yeni menjitak puteranya, "Ajak Livia untuk makan siang bersama kalian. Kau ini bagaimana sih ? Seharusnya kau mendekati Livia dan buat dia jatuh cinta padamu."


"Aku tidak mencintai gadis itu 'Pa." Keluh Raka padanya, "Lagipula, kenapa sih papa akhir-akhir ini suka sekali memaksaku untuk mendekatinya ?"


"Karena kalau kau mendekati apalagi menikahinya maka, seluruh harta Wijaya akan jatuh padamu."


"Jadi, karena harta ? Papa, masih belum puas merebut kebahagiaan Livia selama ini ?" Yeni pun angkat bicara.


Dia tidak habis pikir akan apa yang ada di pikiran papanya.


Uang...


Dan uang.


"Seharusnya papa mementingkan kebahagiaan kami bukannya tentang uang dan uang !" Ujar Yeni sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Justru dengan uang bisa membahagiakan kalian. Kau tahu sudah berapa banyak uang yang papa dan mama keluarkan selama ini demi membesarkan kalian !!"


Yeni dan Raka terdiam.


Mereka tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu dari papa kandungnya.


Sakit.


Sangat sakit saat mendengarkannya.


Ya Tuhan..


Bagaimana bisa ada ayah kandung berbicara seperti itu ?


"Papa menggangap kami adalah alat untuk mengembalikan uang yang sudah papa keluarkan selama ini untuk merawat kami ? kami dilahirkan hanya sebagai alat yang harus membayar uang yang sudah papa keluarkan untuk kami !! Papa menggangap aku dan kak Raka hanyalah budak penghasil uang ?" Ujar Yeni padanya.


Mereka sungguh tak percaya akan hal ini.


Biasanya hal-hal seperti itu hanya terjadi di sinetron atau drama tapi, ini nyata.


Astaga..


Yeni dan Raka sangat hancur mendengar apa yang diucapkan oleh papa kandungnya sendiri.


Papa yang selama ini kau anggap begitu baik dan melindungi isteri juga anak-anaknya ternyata malah seperti itu.


"Papa tidak pernah mengatakan hal itu. Kau saja yang suka berpikir negatif dengan papa. Pokoknya papa tidak mau tahu, Raka kau harus lebih sering mendekati Livia." Ucapnya lalu meninggalkan kedua anaknya.


Yeni tertawa miris, "Aku selama ini bersusah payah membantu mengurusi perusahaan sekarang ini balasannya ? Buat papa, harta lebih penting dari anak-anaknya sendiri." Gadis itu kembali tertawa tak terasa air matanya turun, "Aku sungguh tak menyangka rasanya akan sesakit dan sehancur ini kak."


-To Be Continue-