
Jika saja gadis itu tahu akan semua kebenaran ini, pasti ia-lah yang paling hancur saat melihat perusahaan yang sudah susah payah orang tuanya bangun kini rata dengan tanah.
Walaupun sudah 12 tahun berlalu, mereka masih tetap menyembunyikan rahasia besar itu darinya. Rahasia dimana merekalah pembunuh orang tuanya juga merebut perusahaan serta menganti namanya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Livia pada mereka.
Mereka semua langsung melanjutkan kembali acara makannya, "Tidak apa kak," jawab Tasya padanya sambil tersenyum.
"Apakah kita akan jatuh miskin?" Pertanyaan Livia membuat mereka tersendak karena tak menyangka akan hal itu.
Jimmy mengelap mulutnya dengan tissu, "Tidak. Aku akan meminta uang arsuransi gedung sekaligus meminta bantuan pada keluarga Kusuma. Kita tidak akan jatuh miskin."
"Ngomong-ngomong kemarin, kalian mengetahui sesuatu dengan perusahaan keluargaku?" Pertanyaan gadis itu membuat Jimmy, Tasya juga Mamanya saling memandang.
Gadis itu penasaran sampai kapan mereka akan mencoba menyembunyikan hal ini. Walau sebenarnya memang gadis itu sudah mengetahui semua kegilaan dan kejahatan yang mereka lakukan. "Aku masih penasaran akan video pembicaraan Papa angkatku dengan Papa Yeni. Apakah kalian menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Kau sungguh ingin mengetahui semuanya?" tanya Jimmy berhati-hati.
"Ya. Katakan saja semua yang kalian sembunyikan dariku." Livia sudah cukup lelah akan drama kebohongan mereka. Terkadang gadis itu bingung, ia sudah mengetahui semuanya akan tetapi, orang-orang itu masih saja bersikap biasa bahkan tidak mau menceritakan semuanya.
Oh iya, ia lupa kalau mereka memang pembohong ulung sampai kapanpun tidak akan mau mengakuinya. Sudahlah, gadis itu ikuti saja alur drama yang mereka buat. Mumpung kesabaran gadis itu masih ada.
Livia penasaran mau sampai kapan mereka akan menyembunyikan hal itu.
Mama Jimmy memegang tangan puteranya sambil menggeleng. Wanita paruh baya itu tak ingin mengakui bahwa mereka-lah yang sudah membunuh orang tua Livia. Tidak..
Sampai kapanpun Livia tidak boleh tahu akan hal itu.
Jimmy memegang tangan Mamanya lalu menatap Livia, "Yang aku sembunyikan darimu selama ini adalah perasaanku. Aku sudah menyukaimu sejak kecil." Ucapan Jimmy membuat semua orang terdiam juga memandang tak percaya termasuk Livia.
Kegilaan apa lagi ini?
"Kau sedang tidak bercanda 'kan?"
Astaga.. Gadis itu sama sekali tidak mengharapkan jawaban seperti ini.
"Aku tidak bercanda. Aku sangat tidak suka kau kembali bersama cinta pertamamu dan sekarang jadi adik angkatku. Aku sangat tertekan akan semua ini ditambah perusahaan papaku yang sudah hancur. Demi Tuhan, Livia aku sangat mencintaimu."
"Sadarlah dia sekarang adik angkatmu Jimmy!!" Mama Jimmy menentang apa yang dikatakan puteranya.
"Tapi, memang itu yang Jimmy rasakan selama ini, Ma. Sampai kapanpun aku tidak menggangap Livia sebagai adik angkatku." Jimmy pergi dari meja makan menuju kamarnya.
******
Seluruh mahasiswa/i berbisik menatap Livia yang baru saja tiba di Kampus.
Ugh, dasar tukang gosip.
Sepanjang dari tiba di kampus hingga ke kelasnya yang berada di lantai 5, semua orang sibuk menggosipkannya. Begitu tiba di kelas yang tadinya ramai dan berisik langsung terdiam saat Livia datang. Ia langsung duduk di bangku belakang, memasang headset seakan menunjukkan ia mendengarkan lagu, padahal tidak.
"Eh, dia yang kemarin diangkat jadi bagian dari Keluarga Kurniawan 'kan?" ujar salah seorang diantara mereka.
"Iya dia. Ga nyangka banget, kalau dia juga penerus terakhir keluarga Wijaya yang masih hidup." timpal salah seorang diantara mereka.
Livia tersenyum kecil, jadi itu yang dari tadi 1 kampus ini bicarakan. Ia pun mengirimkan pesan chat pada Tiara.
Livia: Terima kasih atas bom kecilnya.
Tiara: aku tidak menyangka kalau kau mengetahui semuanya.
Ia mengingat kejadian dimana sehari sebelum acara ulang tahun perusahaan itu dimulai.
"Kenapa kau meneleponku malam-malam begini?"
"Aku ingin meminta bantuan padamu."
"Apa itu?"
"Apa kau tahu bagaimana caranya aku bisa mendapatkan bom berukuran kecil tapi, mempunyai daya ledak yang besar?"
Tiara tersendak minumannya saat mendengar pertanyaan gadis itu, "Untuk apa kau mau meminta bom dariku? Kau mau bunuh diri?"
"Ya. Sejenis bunuh diri. Kau tahu atau tidak akan hal itu?"
"Aku tahu. Tapi, untuk apa kau menggunakannya? Imbalan apa yang aku dapatkan?"
"Sedikit. Apa yang mau kau lakukan sebenarnya?"
"Aku mau menghentikan kegilaan mereka akan semua harta keluargaku."
Ucapan Livia membuat Tiara terdiam sejenak, gadis itu sudah tahu semua. Darimana ia mengetahuinya dan sudah berapa lama?
"Baiklah. Besok aku akan datang dan memberikannya padamu."
"Kau tidak penasaran akan alasan kenapa aku melakukan semua ini?"
"Aku tak perduli akan apapun yang kau lakukan pada mereka. Tidak ada untungnya bagiku untuk mengetahuinya Ya, anggap saja sebagai permintaan maafku atas perlakuanku di masa lalu padamu. Sudah ya, aku mengantuk."
Livia tersenyum kecil, "Tiara."
"Apa lagi sih?"
"Terima kasih. Aku melakukannya demi orang tuaku disana juga agar orang-orang itu berhenti mengejar kekayaan orang tuaku."
Tiara terdiam saat Livia mengucapkan hal itu. Sudah lama sekali, ia tidak menerima ucapan terima kasih dari seseorang.
Kembali ke masa sekarang. Yeni dan teman-temannya baru saja datang ke kelas. "Hai Liv." sapa Narul padanya.
"Hai juga." balasnya.
"Kita turut sedih ya atas kebakaran yang terjadi kemarin." ujar Ai Chan yang duduk disebelahnya.
"Makasih ya."
Beberapa mahasiswa/i lain datang menghampiri mereka, "Kalian masih mau berteman ya dengan Livia." ujar salah seorang diantara mereka yang menatap gadis itu, "Dan kau juga masih saja mau berteman dengan anak dari orang tua yang mau membunuhmu Livia."
Tanpa disadari ucapan itu membuat Livia tersenyum kecil. Haruskah kini bergantian dirinya yang sandiwara? Baiklah. Jika Yeni dan Hanna masih bersandiwara maka, ia akan ikut dalam drama yang mereka buat.
"Jaga ya ucapanmu!!" Yeni berdiri tak terima akan perkataan orang-orang itu.
Terus.. Ayo teruskan..
Livia sangat menyukai dimana Yeni menjadi bahan gunjingan orang-orang.
"Walau orang tuanya jahat padaku akan tetapi, mereka tidak. Kalau mereka jahat padaku sudah dari dulu mereka membunuhku. Nyatanya tidak 'kan? Mereka tidak sama dengan kelakuan orang tua mereka." bela Livia.
"Justru karena mereka sudah mengetahui bahwa kau adalah penerus tetakhir keluarga Wijaya yang masih hidup makanya, mereka sangat baik padamu." kata salah seorang diantara mereka.
Ya.
Kini orang-orang sudah mengetahui bahwa Livia adalah penerus terakhir keluarga Wijaya yang masih hidup sekaligus anak angkat dari keluarga Kurniawan.
1 hal lain yang tak diketahui publik, adalah betapa jahatnya 3 orang kepercayaan papanya sehingga tega membuat rencana untuk membunuh orang tuanya, lalu mengambil alih seluruh harta Wijaya termasuk perusahaan dan mengganti namanya.
Dosen bimbingan skripsi pun tiba, mereka langsung kembali ke tempat masing-masing. "Yen, Jimmy sudah mengatakan padamu perihal peminjaman dana untuk memulihkan kembali perusahaan Sapphire Blue Corp?"
"Aku sudah tahu hal itu, Papaku belum bisa mengijinkannya karena saham yang keluargaku juga keluarga Hanna tanam di Saaphire Blue Corp mengalami kerugian karena kebakaran sialan itu. Sekarang lagi cari siapa pelaku pengeboman itu."
Livia terdiam, dalam hati ia bersyukur karena pengeboman itu tidak memakan korban jiwa. Gadis itu tidak perduli jika ia ketahuan sebagai pelaku pengeboman itu.
Biarkan saja asalkan orang-orang itu berhenti menggangunya hanya demi harta, walau sudah hancur tetap saja ada uang arsuransi. Sepertinya setelah ini, ia harus mengunjungi kantor pengacara.
******
Jimmy baru saja tiba di kantor polisi untuk menemui papanya, "Papa sudah mendengar berita itu?"
"Berita apa? Di penjara sini mana ada TV."
Jimmy menghela nafasnya, "Gedung yang kita pakai untuk acara ulang tahun perusahaan habis terbakar karena di bom."
Om David terdiam membulatkan matanya, "A..apa?"
"Tidak ada korban jiwa, efek dari bom itu menimbulkan kebakaran hingga mengenai perusahaan dan kini sudah rata dengan tanah."
"Tidak.. ini tidak mungkin. Kau jangan bercanda dengan Papa!!" teriak Om David tak perduli semua orang di ruangan itu memandangnya. "K..kau sudah menemukan siapa pelakunya?"
Jimmy menggelengkan kepala, "Polisi belum menemukan siapa pelakunya."
-To Be Continue-