
Gadis itu harus berhati-hati dalam melakukan tindakan. Jika salah, maka akan rusak semua.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Perusahaan keluargaku telah hancur." Ucapan Livia membuat semuanya terdiam.
Memang benar 'kan sudah hancur?
Karena perbuatan segelintir orang yang gila akan harta.
Tiara tersenyum, "Lihatkan sekarang siapa yang bermuka dua? Dulu mereka menuduhku jahat tapi, malah sendirinya jauh lebih jahat dariku. Dasar munafik." Wanita itu menatap Livia, "Aku merasa sangat kasihan padamu. Orang tuamu meninggal, perusahaanmu hilang, lalu sekarang dikelilingi oleh mereka-mereka yang malah lebih mempercayai omongan orang dari pada omonganmu sendiri." Dia pun berjalan menghampiri Livia diam-diam memberikan sesuatu ke tangan gadis itu, kemudian membisikkan sesuatu padanya. Begitu selesai wanita itu mengatakan, "Yang sabar ya. Kini kau tahu semua akan diri mereka yang sebenarnya." Begitu Tiara pergi, Livia menyembunyikan barang yang entah apa wanita itu berikan padanya.
Jimmy melongarkan dasinya. Sial, ini bukan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan selama 3 bulan.
Mereka semua mengacaukannya.
Dengan segera ia mengambil alih acara untuk mempersilahkan para tamu kembali duduk ke tempat masing-masing. "Apa yang Tiara bisikkan padamu?" tanya Robert padanya.
"Iya. Apa yang wanita itu bisikkan padamu?" Yeni pun penasaran.
"Dia hanya mengatakan agar aku harus menjauhi kalian berdua." jawabnya berbohong.
"Kenapa harus berbisik hanya untuk mengatakan hal itu?" Narul ikut penasaran.
"Mana aku tahu. Kau tanyakan sendiri padanya kenapa harus berbisik begitu." bela Livia.
"Kau yakin dia hanya mengatakan hal itu padamu? Kau tidak berbohong 'kan?" tanya Ai Chan memastikan.
"Setelah semua ini kalian masih meragukanku?" Livia tertawa miris, "Kenapa kalian tidak meragukan Yeni atau Hanna? Oh, apa karena mereka lebih baik dariku? Lebih kaya dariku begitu?"
"Bukan begitu Livia." ucap Narul.
"Kalian berhenti bertengkar." Jimmy mencoba menenangkan mereka. "Kembali ke tempat duduk masing-masing. Robert tolong kau bawa Livia pergi." pinta pria itu padanya. Ia menatap Hanna dan Yeni yang masih berdiri di tempatnya sementara yang lain sudah kembali duduk, "Kalau keluarga kalian atau kalian sendiri mencoba untuk menghancurkan acara ini. Aku tidak akan segan-segan membongkar semuanya agar kita semua hancur bersama-sama. Ingat itu." ancamnya lalu naik ke atas panggung untuk mengendalikan acara yang sempat tertunda karena terlalu banyak hal-hal yang membuat syok jantung.
"Kau tidak baik-baik saja?" tanya Mama Robert yang menatap khawatir pada Livia.
"Via, tidak apa-apa kok." ujarnya mencoba untuk tersenyum. Acara perlahan kembali normal. Livia sama sekali tidak bisa fokus pada acara itu, otaknya sibuk memikirkan banyak hal juga keputusan yang harus diambilnya nanti.
"Apa yang Tiara berikan padamu?" bisik Robert padanya.
Gadis itu tampak terkejut, "Kau tahu?"
"Aku melihat dia memberikan sesuatu padamu. Apa itu?"
Livia memperlihatkan apa yang dipegangnya, "Oh, ini flashdisk yang seperti cokelat. Ada bukti lain yang mau dia perlihatkan padaku." ujarnya.
Maaf
Kali ini aku harus berbohong.
"Sepertinya kita harus merubah rencana." Ujar Papa Yeni yang berbisik pada Papa Hanna.
Ya.
Keluarga Yeni duduk 1 meja dengan keluarga Hanna.
"Rencana apa maksudmu?" balasnya ikut berbisik.
"Kita harus membunuh Tiara terlebih dahulu. Wanita itu sangat berbahaya."
"Bagaimana dengan Livia?"
"Nanti. Yang terpenting wanita itu harus meninggal terlebih dahulu dengan begitu kita akan lebih mudah membunuh Livia."
Yeni dan Hanna menatap papa mereka yang sibuk berbisik satu sama lain. "Papa dan om sedang tidak merencanakan sesuatu 'kan?" tanya Hanna pada mereka.
"Kita harus segera membunuh Tiara sebelum semua ini terbongkar." jawab Papa Yeni. "Mengenai video itu, papa dan Jimmy akan berkerjasama untuk mencari tahu dari mana asal muasalnya."
Tidak terasa 1 jam berlalu, acara tersebut mulai mendekati akhir. Tasya berjalan menghampiri meja keluarga Robert, "Kak. Ayo kita naik ke atas panggung." ajaknya.
"Ayo." Livia tersenyum menggandeng tangan Tasya naik ke atas panggung.
Jimmy mengambil segelas wine dan mengangkatnya, "Mari kita bersulang untuk kemajuan Sapphire Blue Corp juga anggota keluarga Kurniawan yang baru." Semua tamu berdiri sambil memegang minuman mereka masing-masing lalu meminumnya disertai dengan atap ballroom yang terbuka secara otomatis menampilkan pesta kembang api yang begitu meriah menandakan pesta ulang tahun tersebut telah berakhir.
"Akhirnya aku punya kakak perempuan juga." Tasya tersenyum memeluk Livia.
"Sama. Aku juga senang akhirnya bisa punya keluarga baru." Mereka berdua tersenyum memandang pesta kembang api yang tak kunjung berhenti memperlihatkan keindahannya.
"Sebentar lagi. Ada hal yang ingin aku pastikan."
"Kau belum puas datang ke sana menemui mereka? Sekarang apalagi yang kau harapkan? Lihatlah kembang api sudah berhenti dan para tamu keluar dari gedung." ujarnya membuat Tiara ikut menatap para tamu yang pulang. "Kita harus segera pulang. Bahaya berada disini." ajak sang Ayah.
"Bentar lagi ada hal yang mau aku pastikan." Tiara melihat keluarga Yeni, Hanna, Jimmy, Robert juga Livia keluar dari gedung tersebut menuju mobil masing-masing.
"Ap.." Ucapannya berhenti saat mendengar suara ledakan yang begitu besar hingga menghancurkan gedung tersebut mengakibatkan keluarnya si jago merah.
"Ayo kita pergi." ujar Tiara yang tersenyum akan apa yang dilihatnya.
"Kau bilang ingin memastikan sesuatu, kenapa malah pergi?"
"Aku sudah mendapatkannya." jawabnya yang membuat Ayahnya keheranan.
Mama Jimmy berteriak histeris saat gedung yang menjadi tempat acara dilahap oleh si jago merah. Gedung tersebut bersebelaha dengan perusahaan Sapphire Blue Corp. "Cepat panggil pemadam kebakaran!! Sebelum perusahaanku terbakar." teriaknya pada semua orang. Para wartawan sibuk melaporkan acara secara live, Bu Jasmine sibuk menelepon polisi juga pemadam kebakaran.
Livia terdiam menatap orang-orang yang disekitarnya tampak syok, berteriak hingga terduduk di lantai saat api mulai menyambar ke Perusahaan Sapphire Blue Corp.
Papa Yeni berbalik memegang kerah kemeja Jimmy, "Kau.. kau harus cepat berbuat sesuatu sebelum perusahaan itu habis terbakar. Cepat lakukan sesuatu!!!" bentaknya.
Livia hanya terdiam menatap si jago merah yang sudah memakan setengah dari perusahaan keluarganya. Gadis itu berbalik masuk dalam mobil, Robert, Hanna dan Yeni melihat hal itu dengan tatapan yang memiliki arti yang sana, yaitu rasa kasihan padanya.
Dari dalam mobil gadis itu masih terus terdiam menatap para petugas pemadam kebakaran dan polisi datang untuk memadamkan api. Ia menangis.
Perusahaan yang sudah susah payah dibangun oleh papanya kini menjadi makanan si jago merah.
Rasa sakit akan penyesalan itu muncul.
"Maaf..maaf.." Robert terpaku melihat Livia yang menangis dari dalam mobil. Pria itu tak bisa berbuat apa-apa.
Gadisnya kini menangis, pria itu ingin sekali masuk dalam mobil lalu memeluk untuk menangkannya.
Tapi, dia tahu.
Livia kini butuh waktu untuk sendiri.
Air mata yang keluar dari matanya, melambangkan rasa sedih, kekesalan, penyesalan juga rasa lelahnya selama ini. Butuh waktu 1 jam api berhasil dipadamkan. Kini perusahaan tersebut telah rata dengan tanah.
"Perusahaanku." Jimmy tersujud diaspal melihat keadaan perusahaannya. Terlebih lagi dengan Papa Yeni dan Papa Hanna yang sama hancurnya saat perusahaan dimana selama ini memberikan mereka keuntungan kini hancur berantakan.
Seluruh karyawan pun merasa sedih karena mereka kehilangan pekerjaannya. Livia keluar dari dalam mobil berdiri menatap perusahaan ayahnya kini rata dengan tanah. Tak ada yang bersisa.
Gadis itu menatap ke arah sekelilingnya sambil terus menerus mengatakan maaf dalam hati pada mereka semua yang telah kehilangan tempat mata pencaharian mereka.
Maaf..
Papa..Mama.. Maafkan aku..
Robert memegang tangan kekasihnya untuk memberikannya kekuatan, karena ia tahu gadisnya pasti sangat hancur melihat ini. Namun, satu hal yang tidak dia ketahui.
Polisi yang memeriksa TKP berjalan menghampiri Jimmy yang terduduk diatas aspal, "Kami sudah menemukan penyebab kebakaran ini."
"Apa itu?" Jimmy juga Mamanya berserta Papa Yeni dan Papa Hanna menghampiri sang polisi. "Apa yang menyebabkan perusahaanku bisa terbakar?"
Polisi tersebut memperlihatkan kotak kecil yang sudah menghitam karena kebakaran, "Kami menemukan bom kecil yang terpasang di gedung kecil sebelah perusahaanmu."
"B...bom?" teriak mereka bersamaan.
Ya.
Kotak kecil berbentuk cokelat..
Kotak yang berbentuk cokelat Robert tanyakan pada Livia..
Itu adalah bom.
Alasan gadis itu menangis dari dalam mobil dan mengucapkan kata maaf adalah karena ia-lah yang menaruh bom itu secara diam-diam.
Bukankah awal mula semua penderitaan karena perusahaan juga kekayaan keluarganya?
Dengan mengakhiri semua kegilaan bapak-bapak yang gila harta itu sampai membunuh orang tuanya, lebih baik Livia hancurkan saja semuanya.
-To Be Continue-