
Umpatan terus keluar dari mulut bungsu Alphanius. Harusnya ia tak menuruti ocehan si bodoh Luffy. Bisa saja kan si berisik mendukung hubungan Tania dengan sialan itu ?
Brengsek memang. Disaat seperti ini Gray hanya bisa menyalahkan orang lain. Menutup mata dengan semua kelakuan brengseknya dulu.
Hanya satu yang ada dalam benak Gray.
Ia ingin sesegera mungkin bertemu dengan Tania. Ia harus menemuinya. Berusaha membujuk Tania untuk mengubah keputusannya. Membujuknya agar mau membuka kesempatan untuknya. Meskipun itu sedikit. Tak mengapa. Gray menyadari bahwa ia sudah tak tahu diri mengemis cinta pada wanita yang sudah ia buang.
Sungguh hidup dalam penyesalan seperti ini begitu menyiksa. Bagaimana tidak ? Kala hati masih mencinta namun raga mendua. Hanya karena rasa jemu semata yang akhirnya menghancurkan segala-galanya.
Kebodohannya membuat Gray kehilangan Tania.
Lupakan gengsi.
"Aku tahu. Sangat kecil kemungkinan mendapatkan kesempatan lagi darimu, Tania. Aku tahu itu. Karena Aku sangat mengenalmu." Gumam Gray.
Baru saja Gray membuka pintu kamarnya. Sosok Aldiano berdiri menghadangnya.
"Kau mau kemana, Gray. " tanya Aldiano.
"Bukan urusanmu." Ketus Gray.
"Jangan macam-macam, Gray. Lebih baik kembali ke kamarmu." Perintah Aldi mutlak.
"Jangan mengaturku !." Balas Gray tak kalah tegas.
"Kembali, Gray ! Aku tak mau memakai kekerasan padamu."
Aldi menatap penuh intimidasi pada Gray. Menandakan keseriusannya.
"Jika itu satu-satunya cara untuk membuatmu menyingkir. Aku tak keberatan."
Gray sudah mengambil posisi menyerang. Sesungguhnya Gray tahu mustahil menang melawan kakak menyebalkannya ini. Aldi sangat ahli dalam bela diri. Kelasnya beda jauh dengan dirinya yang hanya sedikit menguasai karate.
"Dengar, Gray. Aku akan membawamu pada Tania. Tapi tidak sekarang. Oke ?! Tenangkan dirimu terlebih dahulu."
Aldi masih berusaha menghindari baku hantam dengan adik kesayangannya.
"Kau tahu aku tak pernah ingkar janji, bukan ?" Sambungnya.
Gray dapat melihat kesungguhan di balik mata kelam Aldi. Ya, Aldi tak pernah membohonginya. Tapi, itu tak cukup.
"Aku tak peduli. Aku harus bertemu dengannya sekarang. "
Gray berusaha menyerang Aldi, ia layangkan kepalan tangannya. Dan sebuah pukulan mendarat di wajah tampan si sulung Alphanius.
Gray menggeram marah. Kakak sialannya ini meremehkannya. Pukulan tadi harusnya bisa dengan mudah dihindari. Tapi, Aldiano sengaja menerimanya.
"Jadi ini pilihanmu." Gumam Aldi.
"Kau labil sekali, Gray. Sangat tidak mencerminkan seorang Alpha." Ujar Aldi sembari menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Gray tak menanggapinya.
"Cukup sekali ini kau bisa memukulku, adik bodohku." Congkak Aldi
Aura menegangkan begitu kentara menyelimuti Alpha bersaudara ini.
Gray sibuk menyerang sang kakak dengan semua yang ia punya. Sayangnya, Aldi dengan mudah menghalaunya.
"Brengsek kau, Aldiano. " umpat Gray.
Aldi memiliki banyak kesempatan untuk menyerang tapi ia tak melakukannya. Tindakan Aldi ini semakin membakar amarah Gray.
"*** !"
Kepalan tangan Gray ditangkis mudah oleh Aldi.
"Oi, Gray. Kau hanya mempermalukan dirimu sendiri jika sekarang menemuinya." Seru Aldi sambil mendorong tubuh sang adik hingga terjerembab di lantai.
Deru nafas Gray tak beraturan. Mulai merasa lelah melancarkan serangan pada Kakaknya.
"Temui dia dengan rencana yang matang. Jangan modal keberanian saja."
"Aldiano Brengsek!!."
Gray menyerah. Sekali pun ia tak pernah menang melawan sang sulung. Tak heran sang ayah begitu membanggakan Aldi, si prodigi Alpha yang jenius.
"Kenapa kalian semua menahanku untuk bertemu dengannya. " kesal Gray.
"Setelah apa yang kau perbuat mana bisa kau mendekatinya dengan mudah."
"Ada kabar lain yang harus kau ketahui."
"Apa !?" Gray tak tertarik.
"Sakhira Amira mencoba bunuh diri. Dia di rumah sakit sekarang."
Gray begitu terkejut mendengar kabar yang baru didengarnya.
"Teman-temanmu sudah tahu. Hanya Tania yang tak tahu." Sambungnya.
"Itu bukan urusanku."
"Gray. "
"Dimana Tania sekarang ? Kau tentu tahu, bukan?"
Gray mengalihkan pembicaraan.
"Dia berada di Indigo Hotel." Jawab Aldi.
"Kau akan membawaku kesana kan." Gray memastikan janji Aldi.
"Tentu. Setelah kau membereskan kekacauan ini." Jawab Aldi mantap.
"Hei. Ini bukan salahku. Sakhira sendiri yang melakukannya."
Kentara sekali Gray menolak bekerjasama menolong mantan kekasihnya.
"Dia melakukannya karenamu, brengsek."
"Aku tak peduli." Keukeuh Gray.
"Kejam sekali kau." Sindir Aldi.
.
.
Saat membuka mata ia tak melihat siapapun disisinya. Sepi. Diruangan serba putih dengan aroma obat yang menyengat ini ia sendirian. Tak ada yang sudi untuk sekedar menemaninya.
Air mata perlahan menetes. Harusnya ia mati saja. Tak ada yang peduli dengannya lagi. Harusnya mereka tak menyelamatkannya.
"Aku menyedihkan." Lirih Sakhira.
Menyesal tak ada gunanya. Ia kini tak memiliki siapapun.
"Mati. Aku hanya ingin mati. Semuanya telah hancur. Aku hancur."
Dimana pria yang sangat ia cintai ? Sakhira tersenyum miris. Gray mungkin sedang sibuk mengejar Tania.
Dimana Inari sahabatnya ? Dimana Ema ? Dimana teman-temannya ?
Mereka mungkin sudah lupa memiliki teman bernama Sakhira Amira.
Sakhira sudah kehilangan semuanya.
Cintanya tak memilihnya. Karirnya telah hancur. Tak ada lagi alasan untuk ia hidup.
Ia terisak memikirkan nasibnya yang begitu malang. Buah dari perbuatan jahatnya.
Dalam kesunyian pikiran Sakhira berkelana. Membayangkan bagaimana bahagianya ia sebelum peristiwa itu terjadi. Membayangkan bagaimana pedulinya Inari, galaknya Ema dan juga Tania yang sangat baik padanya. Andai ia tak menuruti obsesinya, semua ini tak kan terjadi. Ia masih berada diantara mereka. Ia masih memiliki mereka. Namun, Ia tak bisa memutar waktu. Ia tak bisa merubah fakta yang ada. Nasi sudah menjadi bubur.
Sakhira yang terlarut dalam pikirannya tak menyadari seseorang membuka pintu dan mendekat.
"Kau sudah sadar." Serunya.
"S-sejak kapan kau masuk ?"
Sakhira begitu terkejut.
"Baru saja. Apa perlu kupanggilkan Dokter." Tanyanya.
"Tidak."
"Baiklah."
"Apa kau ingin minum ?" Tawarnya.
"Tidak. Kenapa kau disini , Sai?" Tanya Sakhira.
"Aku kebagian jatah menemanimu." Jujur Sai.
"Karena drama sialan kalian. Kami harus bersusah payah mengatasinya." Sai tersenyum palsu.
Lisan berujar tak peduli. Tapi hati tak dapat berbohong bahwa Sakhira merasa tersentuh mendengar mereka masih peduli dengannya.
Akan tetapi perasaan yang ia rasakan condong rasa bersalah. Betapa jahatnya dia. Dan mereka masih mau peduli.
"Kau memang menyebalkan. Tak tahu terima kasih." Cibir Sai.
"Aku akan memanggil Inari dan Luffy. Aku takut kau semakin mewek mendengar ucapan manisku."
Keterlaluan memang tapi Sai tak peduli. Ia tak mau mengikuti alur drama Sakhira.
"Apa kau membenciku, Sai."
"Pertanyaan bodoh. Bukannya sudah jelas dari sikapku." Balas Sai cepat.
"..."
Sebelum Sai benar-benar meninggalkan ruangan itu. Inari dan Luffy terlebih dulu datang.
Kedatangan mereka menginterupsi pembicaraan Sai dan Sakhira yang cenderung tak mengenakkan.
"Kau sudah sadar, Sakhira. Syukurlah." Ujar Inari begitu sumringah.
"Em. Terimakasih, Inari. Kau masih peduli denganku. "
Mata Sakhira berkaca-kaca.
"Tentu saja aku peduli. Bagaimana pun kau sahabatku. " jawab Inari mantap.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Sakhira?" Kini giliran Luffy yang bertanya.
"Lebih baik daripada kemarin. Aku terlalu senang melihat kalian disini. " ujar Sakhira. Setitik air mata sudah meluncur bebas di wajah ayu nya.
"Maafkan aku. Aku menyesal. Sangat menyesal. Maafkan aku, Inari, Luffy dan Sai." Isak Sakhira.
Perasaan senang mendapati masih ada yang peduli dengannya begitu membuncah.
Inari membawa Sakhira dalam pelukannya. Luffy menatap haru keduanya. Sedang Sai nampak tak peduli.
Seperti apa yang diduga Ray. Sai sudah terlanjur tak menyukai Sakhira. Dan itu tak kan berubah begitu saja.
.
Disisi lain Ray berusaha keras menghandle ulah Sakhira. Bekerjasama dengan Satria Winatajaya , Ray mengecoh para pemburu berita itu.
"Kau yakin ?" Tanya Satria untuk kesekian kalinya.
"Hn. Butuh umpan besar untuk menarik perhatian mereka." Jawab Ray mantap.
"Tapi tak adakah cara lain lagi ? Kenapa harus kau dan Ema yang menjadi umpannya ? Jujur saja aku keberatan dengan hal ini. Lebih baik mereka tahu kebobrokan Sakhira daripada .... "
"Maaf. Mungkin ini terdengar konyol bagimu. Aku hanya tak mau tinggal diam melihat sahabat-sahabatku terpuruk seperti ini. Lagian Ema sudah setuju." Sela Ray.
"Tapi .. "
"Tak ada cara lain yang terpikirkan olehku, Tuan Winatajaya. Pergilah kesana."
"Tidak. Kau menghancurkan dirimu sendiri. Aku tak kan mau mengorbankan anak didikku untuk menutupi keburukan anak didikku yang lain." Satria tetap keukeh.
"Kau hanya perlu mengatakan bahwa Narayyan Zhao melakukan kekerasan pada kekasihnya hingga Ema Fernandes memilih mengakhiri hubungan mereka. Gampang kan ! Atau katakan saja Narayyan Zhao terlibat kasus pelecehan seksual. Lihat ! Aku bahkan sudah merancangkan kalimatnya untukmu. "
Ray mulai kesal menghadapi sikap keras kepala Satria.
"Kepalamu terlalu panas hingga tak bisa berpikir jernih, Ray. Tenangkan dirimu. Rundingkan hal itu dengan Nicolas Scarlet. Setelah kalian sudah mencapai kesepakatan aku akan menyetujui apapun itu."
Ray nampak semakin frustasi. Ia sengaja tak menghubungi Nico. Ia memilih menyelesaikan masalah ini tanpa mengganggu teman diskusinya itu.
"Haruskah dia tahu ? Dia tentu tak mau membantu. Nico sendirilah yang menghancurkan karir Sakhira. Mustahil dia mau menbantu."
"Lalu apa kau fikir Nico akan diam saja melihatmu mengorbankan diri seperti ini. Aku yakin dia justru akan semakin menjatuhkan Sakhira."
Satria tetap membujuk Ray untuk membatalkan niatannya.
Satria sangat mengenal Narayyan Zhao . Pemuda Zhao itu sangat dekat dengan kakak beradik Scarlet.
Dan sering kali Nico menjadi teman berbagi pikiran dengannya. Tania menjadi sosok adik manis untuk Ray. Sedangkan Artamia menjadi teman bertengkarnya.
Ray terdiam. Tadi dia harus berdiskusi alot dengan sang kekasih. Kini pun sama saja.
Kenapa orang-orang disekelilingnya begitu keras kepala semua.
Merepotkan.
.
.
Kebahagiaan terlihat jelas diwajah sepasang kekasih ini. Farel Mahendra dan Titania Scarlet. Kini mereka tak perlu repot menyembunyikan hubungan mereka. Farel bebas mengekspresikan cintanya pada Tania.
"Berhentilah tersenyum mesum, Kak Arel."
Artamia bergidik ngeri melihat wajah calon kakak iparnya. Biasanya Farel irit senyuman. Sekarang malah cenderung tersenyum terus. Menakutkan, pikir Artamia.
"Aku sedang sangat amat bahagia, Mia."
"Hiperbola sekali. " sindir Nico.
"Haha.. begitulah diriku, Kakak Ipar. " bangga Farel .
"Sialan." Umpat Nico.
Tania tersenyum melihat interaksi mereka. Begitu manis dan menggemaskan.
"Sayangku tertular virusku." Celetuk Farel.
"Astaga ! Tania kau sepertinya kena pelet Farel." Kata Nico.
"Wajar saja tertular. Mereka saling kontak melalui bibir. " timpal Artamia.
Artamia menjadi salah satu orang yang tadi sempat memanggil pasangan kasmaran ini. Tentu saja ia melihat ciuman maut yang mereka lakukan.
"Ah. Kau melihatnya. Aku jadi senang."
Nico dan Artamia merasa gregetan sendiri melihat senyum menjengkelkan Farel. Niat hati ingin membuat Farel malu malah justru over percaya diri.
"Aku tak pernah menyangka Farel Mahendra yang terkenal dingin dan mempesona dibalik layar begitu menjijikan." Artamia bergidik ngeri.
"Haha.. Di layar kaca itu tuntutan peran. Di balik layar itu tuntutan pacar." Celetuk Farel.
"Menggemaskan sekali." Tania mencubit gemas pipi sang kekasih. Membuat duo Scarlet lainnya melongo.
Oh ! Ini Tania loh yang pemalu. Dia berani menebar kemesraan dihadapan mereka. Oh oh oh.
Pengaruh Farel Mahendra pada Tania sangat menakutkan.
Dering telepon milik Nico mengganggu aksi melongo mereka.
"Ya." Nico segera menjawab telepon itu.
"...."
"Apa ? Gray ingin bertemu dengan Tania." Kaget Nico.
"Gray ?" Gumam Tania. Farel melirik sang kekasih.
"Aku akan menemuinya."
Nico memutuskan sambungan teleponnya.
"Tania. Alpha ingin bertemu denganmu. Dia sudah ada disini." Ujar Nico.
"..."
Tania menatap Farel seakan meminta ijin.
"Temuilah. Kau perlu menyelesaikan ini semua, bukan." Kata Farel.
"Kau yakin? Jika kau tak menginginkan aku tak akan menemuinya. "
"Tak apa. Aku percaya padamu, Tania. "
"Baiklah."
"Aku akan menemuinya." Kata Tania.
"Hm. Aku akan mengantarmu."
.
.
.
Bersambung