Our Love

Our Love
Part 37 : Rahasia terbongkar



Tiara melipat kedua tangannya di dada, "Aku sudah mencari semua informasi mengenai kalian, termasuk kau. Kalau kau tidak mau membantuku maka..." Tiara berjalan menghampiri Hanna dan berbisik, "Aku akan menyebarkan info kalau 12 tahun yang lalu orang tuamu yang menyebabkan Orang tua juga paman serta Livia dan seorang kakek meninggal dunia. Tidak lupa bahwa orang tuamu sempat mengambil alih perusahaan Wijaya tapi sampai sekarang tidak ada kabar lagi mengenai hal itu." Tiara berdiri. "Aku tunggu jawabanmu hari ini." Ia menepuk bahu Hanna, "Tolong kau pikirkan." Tiara pergi meninggalkan Hanna sendirian.


"Sial." Hanna segera menelepon orang tuanya, "Pa. Bisakah papa bantu aku menghabisi seseorang ?"


'Siapa ?'


"Ada orang yang tahu akan semua masa lalu kita."


'Yeni ?'


"Bukan pa. Tapi, Tiara."


"Ya..ya.. nanti akan papa urus dia."


"Pa, aku mau tanya soal perusahaan wijaya. Apakah perusahaan itu benar-benar sudah hilang?"


Papa Hanna terdiam sejenak, "Kau tak perlu tahu soal itu."


"Pa, Hanna merasa bersalah pada Livia."


"Hanna kita sudah pernah membicarakan hal ini ya. Sudahlah bersikap saja seolah itu tidak pernah terjadi."


"Livia mengalami trauma pa. Karena kejadian itu."


"Hanna.. Kalau kau bongkar semuanya maka tidak hanya keluarga kita saja yang bangkrut akan tetapi, perusahaan Kusuma dan 1 perusahaan lain juga akan bangkrut."


"Kenapa perusahaan Yeni dibawa juga ?"


"Kau lupa ? Perusahaan Wijaya dulu nomor 1 se-Indonesia selama berpuluh tahun. Kau pikir kenapa bisa Perusahaan Wijaya tiba-tiba menghilang ? Semua itu karena papa dan pemilik dari perusahaan Kusuma dan 1 perusahaan lagi. Maka tak heran kini Perusahaan Wijaya seakan tenggelam lalu kita ber 3 yg menggantikannya hingga masuk ke top 5 besar sebagai perusahaan terkaya Se-Indonesia."


"Apa 1 perusahaan yang satu lagi ?"


"Kenapa kau jadi banyak tanya begini?"


"Kalau papa tak memberitahu Hanna bongkar semuanya ke Media."


"Kau mengancam papa ?"


"Papa yang membuat Hanna begini."


"Kalau papa beritahu kau berjanji akan diam."


"Ya."


Papa Hanna mendesah pelan, "Perusahaan Wijaya hilang karena keterlibatan Perusahaan kita, Perusahaan Kusuma dan... dan.. Perusahaan yang dipegang oleh Jimmy Alexander Kurniawan."


Hanna terdiam. Sejak awal ia memang tahu kalau Livia adalah satu-satunya ahli waris perusahaan Wijaya yang masih hidup. Tapi, entah bagaimana ceritanya sehingga perusahaan itu bak ditelan bumi dan ketiga perusahaan yang disebut oleh papa nya menjadi top 5 besar sebagai perusahaan paling kaya se- Indonesia.


Entah masalah atau hal apa yang dialami dan dilakukan oleh para orang tua darinya, Yeni, Jimmy dan Livia. Kalau orang tuanya terlibat jelas karena papa Hanna dulu orang kepercayaan kedua dari mendiang papa Livia setelah papa Jimmy yang merupakan orang kepercayaan pertama. "Tapi, kenapa Perusahaan Kusuma ikut terlibat ?" gumamnya pelan. "Apa Yeni dan Jimmy tahu akan hal ini ?"


******


Tiara tersenyum mengendarai mobil, "Tolong kau selidiki mengenai Jimmy Alexander Kurniawan. Secepatnya. Terima kasih." ia tersenyum. Tidak menyangka mendapatkan kartu AS untuk mengancam perusahaan IT ternama milik Hanna.


"Aku masih penasaran bagaimana hilangnya perusahaan Wijaya. Padahal perusahaan itu terkenal sekali karena bisa bertahan di posisi 1 selama 20 tahun berturut-turut dan sejak kejadian kecelakaan 12 tahun itu perusahaan Wijaya hilang begitu saja bahkan media sama sekali tidak menyoroti akan Livia sebagai satu-satunya ahli waris." Tiara menghentikan mobilnya.


"Tunggu, benar juga. Kenapa selama ini Livia sama sekali tidak terekspos di berita mana pun bahkan sejak kecelakaan Wijaya 12 tahun lalu sama sekali tidak menyebutkan akan adanya nama Livia Wijaya sebagai puteri mereka ? Aneh sekali. Sepertinya aku harus menggali lebih dalam mengenai kasus terbesar itu. Dengan aku mendapatkan banyak info maka semakin banyak uang yang aku kuras dari mereka. Lebih baik aku pergi menemui Jimmy saja."


Di perusahaan Sapphire Blue Corp....


Jimmy baru kembali dari meeting, "Sudah selesai ?"


"Mana bisa selesai kalau banyak begini. Ck."


"Kembali lah ke tempat dudukmu. 3 OB mengantarkan 5 kamera untuk kau pindahin datanya."


"Iya bentar save dulu." Setelah selesai Livia menuju mejanya.


"Kak Liviaaa... " Tasya datang bersama dengan orang tua Jimmy.


"Pagi om..tante.." Sapa Livia. "Kalian tunggu di luar saja nanti begitu selesai saya panggil." Ujar Livia pada 3 OB yang menunggunya. Para OB menurutinya.


Sekertaris Jimmy masuk ke dalam, "Permisi Pak. Ibu Tiara mencari anda katanya ada hal penting yang ingin beliau bicarakan."


"Suruh masuk saja."


"Baik pak."


"Livia, kau bisa menunggu di luar sebentar ?"


"Baik pak." Livia keluar sementara Tiara masuk ke dalam ruangan Jimmy.


Tiara tersenyum duduk di sofa, "Kebetulan ada om dan tante. Ada yang ingin aku bicarakan juga."


"Mengenai apa ? kalau tidak penting lebih baik kau keluar."


"Aku sudah mengetahui kalau Perusahaan Wijaya sudah dirusak oleh perusahaanmu, Perusahaan Kusuma dan Perusahaan orang tua Hanna Aurelia Wibowo."


"Kau...." Jimmy menatap tak percaya akan info yang baru saja ia terima. "Apakah itu benar pa ?"


Papa Jimmy mendesah pelan, "Apa yang kau inginkan dari kami ?"


"Uang 100 juta untuk tutup mulut. Aku yakin Livia sama sekali tidak tahu kalau kalian semua ikut dalam kematian dari pemilik dari Perusahaan Wijaya."


"Papa jawab aku apakah kita ada kaitannya dengan kematian kakek dan orang tua Livia !!! Tiara kau keluar sekarang."


"Aku ingin uang tutup mulut."


"AKAN AKU TRANSFER NANTI !!! SEKARANG KAU PERGI DARI SINI !!!" Jimmy menarik paksa Tiara keluar dari ruangan lalu membanting serta mengunci pintu.


"JELASKAN PADAKU APA ARTI SEMUA INI !!!" Jimmy menatap marah kedua orang tuanya.


"Kau tahu kalau papa adalah sekertaris dari Ayah Livia sedangkan papa dari Hanna yang merupakan teman Livia juga adalah sekertaris kedua dari beliau. Ayah Hanna sengaja membuat ide agar semua kekayaan jatuh ke tangannya, papa tahu makanya semua harta perusahaan Wijaya akan dibagi 2. Entah bagaimana ceritanya hingga beliau bisa membuat rem di mobil rusak hingga seperti kecelakaan yang kau tahu. Beliau mengutus papa untuk mengikuti mereka berlibur saat di Bandung kemarin."


"Lalu ?"


"Dan benar mereka meninggal bersamaan dengan kakekmu. Papa sangat syok karena orang tua papa meninggal akibat efek kecelakaan itu. Makanya papa dan mama ingin mengangkat Livia sebagai anak angkat karena rasa bersalah kami padanya juga..." Papa Jimmy menatap istrinya.


"Juga apa ?"


"Perusahaan ini sebenarnya adalah perusahaan Wijaya yang papa ubah nama 12 tahun yang lalu. Posisimu sekarang harusnya Livia yang tempati. Karena kau tahu sendiri, Livia adalah ahli waris satu-satunya yang tersisa dari perusahaan Wijaya. Memang awalnya diurus oleh paman dan bibinya Livia namun papa dengar mereka meninggal karena ulah Perusahaan Kusuma. Papa, Papa Yeni dan Papa Hanna. Kami bertiga sepakat menjadikan perusahaan Sapphire Blue sebagai pengganti dari Perusahaan Wijaya. Dengan kesepakatan setiap tahun kita harus bagi hasil perusahaan ini ber 3."


Jimmy terdiam mendengarkan semua penjelasan dari papanya. Ia tersenyum sedih, "Selama ini aku membencinya karena aku menggangap kalau dia yang sudah membunuh kakek. Namun, ternyata aku salah. Yang membunuh kakek adalah kalian bertiga. Dan aku susah payah mengurus perusahaan ini yang sebenarnya merupakan perusahaan Wijaya." Ia tertawa sedih. "Apakah Papa Yeni dan Papa dari Hanna tahu bahwa papa-lah yang mengambil alih seluruh perusahaan Wijaya hingga merubah namanya ?"


"Tidak. Mereka tidak tahu akan hal itu."


Jimmy tertawa sedih, "Aku lelah. Kalian pulanglah." ia menuju mejanya menelepon sekertarisnya, "Tolong sampaikan ke Livia bahwa ia bisa pulang lebih cepat dan cancel semua meeting hari ini. Saya tak mau diggangu." Ia menutup teleponnya. "Papa dan mama bisa pulang. Tinggalkan aku sendiri disini." Jimmy masuk ke kamar yang ada di kantornya.


*******


Livia terdiam memandang pintu kamar di ruangan Jimmy. Ada rasa bingung kenapa tiba-tiba ia dipulangkan lebih cepat ?


Apa yang sebenarnya sudah terjadi ?


"Kau belum pulang ?" Jimmy keluar dari kamarnya.


"Belum."


"Pulang lah. Kapan lagi aku beri kau ijin pulang cepat."


"Apakah terjadi sesuatu padamu ?"


"Tidak ada." Jawabnya bohong. "Sana pulang."


"Kenapa kau mengusirku ??"


"Kau yang keras kepala. Sudah aku bilang pulang ya pulang." Jimmy mengambil sebotol bir membawanya masuk dalam kamar lalu dikunci.


"Iya iya. Aku pulang." Livia pergi.


*******


Papa dari Yeni, Hanna dan Jimmy berkumpul di sebuah restaurant. Mereka berada di ruangan khusus VIP. "Kau tahu wanita bernama Tiara ? Mantan dari anakku Jimmy." Papa Jimmy memulai pembicaraan. "Dia datang ke kantorku mengancam akan membocorkan rahasia masa lalu kita kepada keluarga Wijaya ke media massa kalau kami tidak memberikan uang 100 juta."


"Wanita itu juga datang kepada Hanna dan membongkar semuanya." Ujar Papa Hanna.


"Jadi, haruskah kita memusnahkan wanita itu ?" Tanya Papa Yeni.


"Musnahkan saja, dia akan sangat berbahaya dan terus memeras kita. Kalaupun Livia tahu juga dia tak ada kuasa untuk menghancurkan kita bertiga. Dia sudah tidak memiliki apa-apa di dunia ini, itu pun kalau kau membatalkan untuk menjadikannya anak angkat. Aku tak habis pikir bisa-bisanya kau mengangkatnya jadi anak." Papa Yeni meminum teh.


"Aku merasa bersalah dan menyesal karena ayahku yang notabene kakek Jimmy ikut meninggal." Gumam Papa Jimmy.


Aku juga ingin mengembalikan perusahaan Sapphire Blue Corp padanya yang sebenarnya itu adalah perusahaan Wijaya yang diubah namanya.


"Sudah 12 tahun berlalu, kita juga sudah susah payah menyembunyikan fakta bahwa Livia adalah satu-satunya ahli waris dari perusahaan Wijaya dari semua orang." (Papa Hanna)


"Aku juga tak habis pikir kenapa Yeni mau berteman dengan Livia. Anak-anakku sama sekali tak tahu soal itu. Hanya anakmu Hanna yang tahu dan masih mau berteman dengan Livia. Tolong jaga mulut puteri dan putra kalian agar tidak membocorkan hal ini pada Yeni ataupun Raka, anakku." Papa Yeni menatap kedua temannya dengan tajam.


-To Be Continue-