Our Love

Our Love
Episode 101 : H-1 Ulang Tahun Perusahaan



Nia tertawa kecil, "Ah iya. Aku lupa. Kau pernah mengatakan kalau kau adalah pewaris tunggal Wijaya yang dulu dikabarkan meninggal. Bagaimana aku bisa mempercayainya? Itu semua hanyalah omong kosong yang kau ngarang sendiri. Bahkan dari dulu tidak ada pemberitaan mengenai adanya anak dari keluarga tersebut." Nia menatap Narul dan Ai Chan, "Bagaimana bisa kalian mempercayai semua omong kosongnya dia yang jelas-jelas tidak ada bukti konkret yang menyatakan kalau dia adalah penerus keluarga Wijaya yang asli!?"


"Kau bukanlah Nia yang aku kenal. Kenapa kau jadi berbeda sekarang?" tanya Livia. Dia sungguh tak menyangka salah satu teman dekatnya bisa berubah jadi seperti ini.


"Aku tidak pernah berubah, hanya saja jadi lebih terbuka untuk melihat siapa yang benar dan salah. Kau sudah mau pindah ya? Baguslah, aku jadi tidak perlu bertemu denganmu setiap hari. Bye. Selamat hidup enak dengan keluarga barumu." ujarnya meninggalkan mereka.


Ai Chan memeluk Livia, "Jangan diambil hati ya, Nia mungkin lagi ada banyak masalah."


Livia mencoba tersenyum, "Tak apa. Kalian akan datang 'kan ke acara ulang tahun perusahaan Jimmy?"


Narul mengganguk, "Ya. Kami pasti akan datang kok."


"Kalau begitu aku permisi dulu ya." pamit Livia pada mereka.


"Sampai jumpa lagi. Hati-hati di jalan." balas mereka.


*****


Tiara memandang sebuah undangan yang baru saja ia terima, "Undangan apa itu?" tanya Pak Rahmad (Ayah Tiara) padanya.


"Undangan acara ulang tahun perusahaan Wijaya yang diambil alih oleh keluarga Kurniawan."


"Dari mana kau mendapatkan undangan itu?"


"Livia yang mengirimkannya padaku." Wanita itu tersenyum menatap ayahnya, "Bukankah akan menjadi hal yang mengejutkan jika aku berada disana? Aku tidak tahu apa yang ia rencanakan dengan mengundangku kesana."


"Haruskah ayah ikut menemanimu juga memberikan kejutan pada mereka?"


*****


"Aku tak tahu akan apa yang terjadi saat ulang tahun perusahaanku itu." ujar Livia saat ada di dalam mobil.


Robert memegang tangannya, "Tenang saja. Tidak akan terjadi hal-hal aneh nantinya."


"Ya. Semoga saja. Aku mengundang Tiara untuk hadir dalam acara itu."


Ucapan Livia membuat Robert yang tengah mengendarai mobil jadi rem mendadak, "Apa! K..kau tidak salah mengundangnya kesana?"


"Tidak ada salahnya aku mengundang siapapun yang aku mau. Untuk dia mau datang atau tidak itu adalah urusannya."


"Tapi sayang, Om David pasti akan sangat murka padamu."


"Biarkan saja. Biar sekalian Papa Yeni dan Hanna juga ikut terkaget."


"Apa yang kau rencanakan?" Livia tersenyum menatap Robert, lalu membisikkan sesuatu, "Kau yakin mau melakukan hal itu?" tanya pria itu memastikan.


Gadis itu mengganguk, "Ya. Berikan mereka sedikit shock terapi. Kau punya teman yang ahli dalam hal itu? atau aku perlu meminta bantuan Tiara? Aku rasa wanita itu tidak akan apa-apa jika harus mengorbankan salah satu anak buahnya demi uang."


"Baiklah aku akan membantumu." Robert tersenyum membelai rambut kekasihnya lalu kembali mengendarai mobilnya.


******


"Kenapa kau datang kemari? Seharusnya kau berada di kantor untuk persiapan ulang tahun perusahaan besok." ujar Pak David pada putera sulungnya yang datang untuk menemuinya.


"Aku berencana akan menyiarkan ulang tahun perusahaan kita secara live di berbagai stasiun TV."


"Kenapa kau melakukan hal seperti itu? Jangan terlalu banyak membuang-buang uang."


"Besok adalah pengangkatan Livia menjadi bagian dari keluarga kita. Tentulah semua orang harus mengetahuinya."


Pak David berbisik ke puteranya, "Setelah beberapa bulan atau minggu kau harus membunuhnya agar semua harta jatuh ke kita sepenuhnya."


Papa Yeni bertepuk tangan, "Aku tidak menyangka kalau kau yang awalnya otak dari rencana 12 tahun yang lalu pada akhirnya mendekam di penjara." Beliau duduk menatap teman lamanya.


"Kau datang kesini hanya untuk menghinaku?"


"Sedikit."


"Mau apa kalian datang kesini? Bukankah urusan kita telah usai?" Pak David menatap Papa Hanna juga datang menemuinya.


"Kami pasti akan datang ke acara ulang tahun perusahaanmu itu. Ah tidak, perusahaan Wijaya yang sudah kau ambil alih sepenuhnya." Papa Hanna menatap tajam ke arahnya.


"Kau masih membahas hal itu setelah 12 tahun berlalu?"


Kedua pria paruh baya itu saling menatap, "Tidak. Kami datang kemari untuk membahas masalah ulang tahun perusahaan itu besok." ujar Papa Hanna.


"Apalagi yang mau kau bahas, kau bisa membicarakan dengan puteraku."


"Masalah ini seharusnya bukan dibahas bersama puteramu, kecuali kau sudah memberitahunya." jelas Papa Yeni.


"Aku tidak mengerti maksud kedatangan kalian kesini. Kalau kau membahas mengenai perjodohan puteramu dengan Livia maka, aku tidak akan pernah setuju."


Papa Yeni melipat kedua tangannya di dada, "Kau setuju atau tidak, aku tetap akan menjodohkan mereka bagaimanapun caranya."


"Bukankah kau dulu setuju puteramu dengan Nia?" tanya Papa Hanna padanya.


"Itu dulu. Sebelum aku tahu kalau Livia penerus sesungguhnya dari keluarga Wijaya yang masih hidup. Entah bagaimana bisa dia (Pak David) tidak menyadari hal itu selama ini." jelasnya menatap ke temannya itu.


"Aku juga baru tahu kalau dia masih hidup sampai sekarang." bela Pak David. "Gadis itu membawa masalah bagi kita, belum selesai dengan Tiara sekarang kita harus merencanakan agar bagaimana Livia tidak ada di dunia ini."


"Lalu, kau lagi yang menguasai harta Wijaya sendirian?" Papa Hanna mencibirnya.


Pak David terdiam sejenak, "Menurut kalian Tiara atau Livia dulu yang harus kita habisi?"


"Keduanya kalau bisa." jawab Papa Hanna.


"Pernah kau berpikir kalau Rahmad bisa saja muncul tiba-tiba besok?" tanya Papa Yeni.


"Kau gila? Selama bertahun-tahun ini dia tidak pernah muncul lagi bahkan aku tidak tahu ada dimana keberadaannya. Tidak mungkin dia tiba-tiba saja muncul. Mau cari mati?" jawab Pak David.


Papa Hanna mengganguk, "Mungkin saja. Oh iya, aku dengar dari Hanna kalau sekarang Nia sangat membenci Livia karena ide gilamu yang ingin menjodohkannya dengan puteramu."


Papa Yeni tersenyum menatap kedua temannya, "Haruskah aku memanfaatkan Nia untuk menghancurkan Livia? Aku bisa membujuk Raka untuk melakukan hal itu."


Pak David tersenyum, "Pakai puteramu juga sebagai alat untuk menghancurkan hubungan gadis itu dengan Robert."


"Pria bernama Robert itu berasal dari keluarga dokter yang sangat terpandang. Kita harus berhati-hati. Mereka sangat menyayangi Livia, bahkan kita tak tahu koneksi apa yang dimiliki oleh keluarga itu."


"Jadi, hal apa dulu yang harus kita lakukan?" tanya Papa Hanna padanya.


"Memanfaatkan Nia untuk menghancurkan Livia." Jawab Papa Yeni yang membuat kedua temannya tersenyum bahagia.


Ketiga pria paruh baya itu tersenyum bahagia akan rencana mereka, Tiara yang ikut tertawa atas rencananya begitu pula dengan Livia dengan Robert yang tersenyum. Mereka memiliki kesamaan yaitu, pada hari ulang tahun perusahaan besok akan ada kejadian yang sangat menarik.


Besok akan menjadi penentu.


Siapa yang akan tertawa bahagia?


Dan siapa yang akan dipermalukan?


-To Be Continue-