Our Love

Our Love
Part 88



Aku tahu kau begitu penasaran akan apa yang ada di ponsel Livia.


Aku tidak akan membiarkan kau dan Hanna mengetahuinya.


"Sial. Kenapa pria itu bisa datang disaat yang tepat ? hampir saja aku ketahuan." Gumam Yeni saat menutup pintu kamar Livia dan Ai Chan. "Lain kali aku harus berhati-hati." Ujarnya lalu pergi.


"Kau sudah mendapatkan info ?" Tanya Hanna yang bertemu dengan Yeni di koridor.


Yeni menggelengkan kepalanya, "Tidak. Ponsel Livia dipakai password dan aku tidak tahu apa kodenya. Belum lagi tiba-tiba Robert datang, untung saja dia tidak curiga." Ujarnya.


"Apa menurutmu hal ini ada kaitannya dengan Tiara ?" Tanya Hanna padanya.


"Entahlah. Ayo kita pergi dari sini." Ajak Yeni. Baru saja beberapa langkah mereka berhenti, Jimmy berdiri di ujung koridor menunggu mereka.


"Kau sudah tahu apa yang terjadi pada Livia ?" Tanyanya.


"Kenapa kau bertanya pada kami ? Kau bisa langsung tanyakan sendiri padanya." Ketus Yeni.


"Kalian ini kan teman-teman dekatnya bagaimana sih." Balasnya yang tak kalah ketus.


Yeni mendesah pelan.


Pria ini kenapa tidak mencari tahu sendiri.


Padahal dia juga temannya Livia.


"Jangan ganggu kami." Ujar Yeni menarik Hanna pergi meninggalkan Jimmy sendirian


"Ketus sekali." Gumam Jimmy.


Ada apa dengan kedua gadis itu ?


Padahal dirinya tidak berbuat salah apapun ke mereka.


Kenapa sikapnya selalu ketus dengannya ?


Dasar aneh.


Pria itu tak habis pikir akan apa yang ada di pikiran kedua teman Livia itu.


Kalau mereka mengetahui semuanya, untuk apa mereka masih berbaik hati dan mau berteman dengan Livia, kekasihnya ?


Robert berjanji pada dirinya.


Dia tidak akan membiarkan siapapun berani menyakiti apalagi membuat Livia menangis.


Dia akan selalu melindunginya.


Tak ada yang boleh membuatnya menangis apalagi mencelakainya.


Kalau mereka berani melakukannya, maka pria itu tidak akan segan-segan untuk menghabisi mereka.


Siapapun itu.


Dia tidak memandang status apalagi hebatnya orang tersebut.


"Robert.." Ujar Livia setengah tersadar memandang pria itu yang berada disampingnya.


Robert tersenyum kecil sambil membelai rambut Livia, "Maaf ya. Aku membangunkanmu."


Livia menggeleng pelan lalu mengatakan, "Tak apa. Aku memang tak bisa tidur terlalu lama."


"Kau lapar ?" Tanyanya.


"Sangat lapar. Oh iya, dimana yang lainnya ?" Tanya Livia balik.


"Mereka berada di ruang tamu sangat khawatir sekali akan keadaanmu tapi, aku suruh mereka untuk tidak menggangumu dulu. Karena kau butuh banyak istirahat apalagi dengan banyaknya masalah yang sekarang kau hadapi." Ujar pria itu sambil mengelus pelan kepala Livia, menarik gadis itu kedalam pelukannya.


Dia berjanji akan selalu menemaninya.


Dia berjanji akan menghapus semua air mata gadis itu yang sudah keluar selama ini dengan senyuman kebahagiaan yang tak'kan ada habisnya.


Livia pantas untuk berbahagia.


Tapi, tidak...


Hal itu tidak akan berlaku akan teman-teman serta semua orang yang berniat jahat pada gadis yang sangat dicintainya itu.


Robert tidak akan mengampuninya.


Tidak ada yang boleh...


Boleh menyakiti gadisnya bahkan seujung jari pun.


Tidak.


Pria itu akan membuat perhitungan dengan siapapun yang berani menyakitinya.


Tidak perduli akan status bahkan harta yang orang-orang itu miliki.


Semua demi kebahagiaannya.


Kebahagian Livia yang sudah sejak kecil direngut oleh orang-orang jahat yang tak punya hati nurani itu.


Mereka semua harus mendapatkan balasannya.


-To Be Continue-