
Apakah kau akan seperti Livia yang lebih memilih mempercayai teman-teman dekatmu dari pada peringatan dari orang yang tak kau kenal ?
Atau mungkin kau akan menyelidiki kebenaran atas informasi tersebut juga meragukan teman-temanmu sendiri ?
Semua orang punya keputusan tersendiri. Begitupun Livia, ia memutuskan untuk mempercayai teman-temannya yang ia kenal selama 3 tahun lebih. Gadis itu hanya berharap, semoga ia tak salah mengambil keputusan ini.
"Ayo kita foto bersama. Kapan lagi coba bisa ngumpul bareng gini. Mana dosen pembimbing skripsi kita beda-beda pula." Nia mengeluarkan ponselnya lalu berfoto.
"Memang sudah keluar jadwalnya ?" Tanya Narul usai mereka berfoto.
"Sudah. Cek aja di portal mahasiswa kalian."
"Ternyata kalian berada disini juga." Semua orang memandang seorang pria yang datang entah dari mana dan sejak kapan, ia langsung menyuruh pelayan untuk menyatukan meja dan kursi kosong yang baru saja ditempati oleh orang sebelumnya. "Kenapa kalian memandangku begitu ? Iya aku tahu aku tampan. Tapi, tak segitunya juga."
"Kenapa kau bisa berada disini ?" Yeni menatap tajam ke arah tamu yang tak diundang tersebut.
Lebih tepatnya tamu yang tak diinginkan.
"Memangnya kenapa? Kafe ini kan bebas untuk semua orang."
Yeni memandang Livia, seakan bisa menebak apa yang dipikiran temannya. Livia segera menjawab, "Sumpah. Aku tidak mengundang apalagi memberitahunya."
"Lalu, bagaimana bisa dia ada disini ?"
"Mana aku tahu, Yeni."
Jimmy sibuk melihat menu sembari berkata, "Livia memang tidak memberitahuku kemana kalian pergi. Itu terjadi secara tak sengaja, aku ingat ada kerjaan yang mau aku beritahu ke Livia lalu melihat dia pergi bersama kalian ya aku ikuti saja. Oh iya mba, saya pesan chicken katsu dan jus jeruk ya. Terima kasih." Jimmy memberikan menu ke pelayan kafe.
"Tidak bisakah kau menunggu besok saja ?" Tanya Narul.
"Tidak."
"Ya sudah sekarang beritahu lalu segera pergi dari sini."
"Astaga Yeni. Kau jahat sekali pada rekan kerjamu ini." Jimmy memasang wajah memelas, "Tidakkah kau kasihan padaku, eoh? Kau harusnya bangga ada seorang atasan rela mengorbankan waktunya hanya demi karyawannya."
"Jangan lebay deh."
"Aku tidak lebay, Yeni. Ck."
"Nanti saja. Aku lapar mau makan dulu."
Nia yang dari tadi tengah bermain ponsel mengatakan, "Hanna uda datang." Begitu ia selesai. Hanna pun langsung tiba.
"Guys, sorry ya lama. Loh kok, kenapa dia bisa berada disini ?" Hanna duduk di depan Jimmy. Hanya kursi itu yang kosong.
"Biasa ngikutin bawahannya." Sindir Nia. Jimmy hanya terdiam mengabaikannya.
Hanna hanya ber-oh ria. "Yeni, sudah aku kirim ke email ya." Yeni memang atasan dari Nia, Hanna dan Ai Chan. Ketika mereka di kantor maka mereka memanggilnya dengan Bu Yeni walau mereka seumuran. Tapi, jika mereka tengah kumpul bersama seperti sekarang maka mereka akan bersikap selayaknya teman biasa.
"Iya. Kau pesan makanan dulu." Yeni memanggil pelayan.
Jimmy menatap seseorang dari luar jendela kafe, "Sepertinya kalian akan kedatangan 1 tamu tak diundang lagi." Ucapnya membuat Livia dan teman-temannya menatap Jimmy.
"Siapa ?" Tanya Ai.
"Nanti kalian akan tahu sendiri. Yang jelas bukan aku yang mengundangnya." Dan yang benar saja orang tersebut juga menghampiri mereka.
"Hai.. Lama tak bertemu." Tiara yang duduk di kursi roda bersama pelayan barunya sambil tersenyum datang menghampiri mereka. Membuat semua teman-teman Livia tampak tidak senang.
"Sepertinya tendanganku waktu itu sangat kuat ya ? sehingga kau sampai hari ini masih duduk di kursi roda." Ujar Yeni.
"Kau kenapa bisa berada disini ?" Tanya Livia.
"Kebetulan aku ada urusan jadi ya mampir. Aku tidak tahu kalian berada disini dan Jimmy juga. Boleh aku duduk disini ?" Mereka menjawab dengan 2 kata yang berbeda. Jimmy, Livia dan Narul menjawab 'iya' namun sisanya menjawab 'Tidak'. Mereka saling memandang. "Oh oke. Lebih baik aku pergi karena masih ada urusan juga. Bye."
Baru saja beberapa langkah, Jimmy langsung manahan Tiara untuk pergi. "Kau belum makan kan ? Duduklah disini abaikan mereka." Jimmy menyingkirkan kursi kosong disamping Hanna.
"Samping kau juga kosong. Kenapa harus dia duduk disampingku ?" Ujar Hanna tak terima.
"Biar dia bisa liat Tiara, Na." Ujar Livia.
Jimmy tersenyum, "Livia, kalau kau cemburu bilang saja jangan main sindir-sindiran seperti itu."
-To Be Continue-