Our Love

Our Love
Part 76



Tiara tidak mau memceritakan banyak hal ke mereka.


Dia harus memikirkannya matang-matang.


Jika, dia salah sedikit saja maka akan merubah semuanya.


Semua hal harus tertata dengan baik agar tidak terjadi kesalahan.


Argh..


Kenapa semua ini sangat rumit sekali sih ?


Kalau saja dia bisa membunuh mereka semua, mungkin saja semua masalah ini akan selesai ?


Dasar...


Orang-orang yang gila akan harta.


"Kami hanya mau tahu kenapa kau mengaku sebagai penerus palsu keluarga Wijaya ?" Tanya Nia.


"Lalu, kenapa kalian yang pusing ? Livia malah biasa saja akan semua ini." Balas Tiara.


"Justu karena Livia adalah teman, sebagai teman kami sangat perduli padanya." Jawab Narul.


Teman ?


Hah, yang benar saja.


Tidak ada kata itu dalam kamus  hidupnya.


Buatnya teman adalah benalu yang menyusahkan saja.


Buatnya teman hanyalah berisi orang-orang yang sangat ingin dekat denganmu karena sesuatu hal, mungkin kau populer atau kaya.


Buatnya teman adalah orang-orang yang munafik dan suka menusuk dari belakang.


Baginya, teman-teman adalah sekumpulan orang-orang yang hobi membully, mengosipkan dan menjelekkan temannya sendiri pada orang lain.


Baginya, tidak ada yang namanya teman sejati di dunia ini.


Tiara tidak akan pernah bisa mempercayai kata itu.


Baginya itu adalah hal mustahil.


Tidak ada orang di dunia ini yang benar-benar tulus.


Semuanya pasti mempunyai maksud tertentu, termasuk dirinya.


Buatnya, teman hanyalah bisa menusuk dan mentertawakan saat kita mengalami musibah saja.


Beruntung juga Livia memiliki mereka.


Tidak seperti Yeni dan Hanna itu.


Sangat menusuk dari belakang, bahkan lebih parah dari yang dialami oleh Tiara dulu.


Tiara tertawa kecil, "Baiklah. Aku hanya berikan sedikit saja informasi pada kalian. Berikan 1 saja petanyaan apa yang paling kalian ingin ketahui ? Livia atau Yeni ?" Tanyanya.


Pertanyaan Tiara membuat Nia, Ai Chan dan Narul saling menatap lalu berdiskusi sebentar hingga mereka mendapatkan satu hal yang paling ingin mereka ketahui. Mendengar jawaban itu Tiara tersenyum lalu menceritakan akan apa yang mereka butuhkan.


"Yeni. Beritahu kami informasi mengenainya." Ujar Ai Chan dengan mantap.


Tiara bersandar sambil mengambil kue kecil diatas meja, "Jika kalian lapar dan haus minum saja. Tenang aku tidak akan menaruh racun apalagi obat-obatan terlarang ke minuman kalian." Ucapnya namun tidak mendapatkan reaksi apapun dari Nia, Narul bahkan Ai Chan sekalipun. "Soal Yeni Kusuma ya.."


Wanita itu berkata sambil memandang kue kecil yang telah digigitnya sedikit. "Aku hanya bisa kasih informasi kalau orang tuanya Yeni merupakan salah satu orang kepercayaan keluarga Wijaya selain dari Papa Jimmy. Aku tahu kalian sudah mengetahui jika Livia dan Jimmy adalah teman dari kecil karena papa Jimmy adalah orang kepercayaan Papa Livia." Ucapnya sambil menghabiskan  potongan terakhir kue kecil yang tadi berada di tangannya. Nia, Narul dan Ai Chan terdiam, mereka saling memandang satu sama lain. Tiara suka sekali akan reaksi seperti itu.


Mereka baru mengetahui hal itu.


Orang tua Yeni juga merupakan orang kepercayaan orang tua Livia.


Sungguh fakta yang mengejutkan.


Mereka bahkan tidak menduga hal itu.


Yang benar saja.


"Sungguh ? sebenarnya ada berapa orang kepercayaan orang tua Livia ?" Tanya Nia.


Tiara mencoba mengingat dan menghitung dimulai dari papanya, papa Jimmy, papa Yeni, juga papa dari Hanna, "Kenapa kalian tidak tanyakan sendiri pada Livia ?" Tanyanya pada mereka.


"Dia mana mengingat hal seperti itu." Jawab Ai Chan dengan malas.


Mana ada seorang anak kecil bisa tahu akan urusan perkantoran orang tuanya.


Yeni seharusnya mengetahui semua ini.


Kenapa dia berdiam saja selama ini ?


Apakah dia sedang merencanakan sesuatu hal ?


Aneh..


Baru ada orang yang seperti ini...


Dan itu ada di hadapannya sekarang.


"Aku bingung, kau tahu dari mana semua hal itu ?" Tanya Nia yang mulai curiga, "Kau sedang tidak mengada-ngada 'kan ?"


Tiara tertawa kecil, "Aku tentu saja punya orang dalam yang sangat bisa aku percayai dan memberikan informasi padaku. Jika kau tak percaya kalian bisa tanyakan sendiri pada Yeni. Akan tetapi, aku rasa dia tidak akan mengakui. Well, mungkin."


"Ada berapa orang keperacyaan orang tua Livia ?" Selidik Narul.


"Empat." Jawab Tiara dengan santai,


Dan itu memang benar kok.


"Sayangnya dua lagi kalian harus mencari tahu sendiri. Aku tidak bisa membongkarnya." Kata Tiara.


"Kenapa ?" Tanya Nia menatap tajam.


"Apa untungnya buatku jika memberitahu semuanya ? kalian juga mungkin tidak sen percaya juga ? dari awal aku sudah memberitahu sedikit informasi yang kalian butuhkan." Tiara mengambil teh dan meminumnya.


Tiara bukanlah orang yang mau membocorkan segala pada orang yang baru saja dia temui.


Terlebih lagi bagi teman-teman Livia ini.


Tapi, cukup wanita itu akui.


Mereka sungguh berani datang padanya dan meminta infiormasi langsung.


Nia menyender di sofa sambil melipat kedua tangannya di dada, "Baiklah. Kami juga tidak akan memberitahu apa yang sudah orang tua, "Yeni, Hanna dan Jimmy bicarakan mengenai dirimu."


Tiara tersenyum kecil mendengarnya. Kini mereka secara tak langsung mengancamnya begitu, "Kalian ingin jadi mata-mata begitu ? dengan melaporkan semua hal yang orang jahat itu lakukan padaku ?"


Narul membuka ponselnya ada chat masuk dari Yeni, "Guys, Yeni minta kita semua datang nanti malam ke rumah Jimmy. Kalian mau 'kan ?"


"Kalian kenapa harus ke rumahnya ?" Tanya Tiara penasaran.


"Jimmy mengajak kami pergi liburan dan berkumpul di rumahnya nanti malam." Jawab Narul dengan jujur.


"Kenapa kau ceritakan pada dia ?" Tegur Nia pada Narul.


"Ya sudah biarkan saja sih. Kalau begitu kami permisi, terima kasih atas info yang kau berikan." Ucap Narul yang beridir lalu diikuti oleh Ai Chan juga Nia. Namun, ucapan yang dilontarkan Tiara membuat mereka berhenti di dekat pintu.


"Aku akan mengirimkan bukti bahwa papa Yeni adalah orang kepercayaan keluarga Wijaya. Mungkin kalian bisa mempercayaiku nantinya. Kalau kalian membutuhkan informasi lebih lanjut mungkin kita bisa saling berbagi informasi. Kalian jadi mata-mataku ke perusahaan Yeni dan Hanna atau bahkan Jimmy sekalipun. Maka, sebagai gantinya aku akan memberikan segala informasi yang ingin kalian ketahui," Jelas Tiara tersenyum menatap punggung ketiga tamunya.


"Permisi." Ucap Ai Chan yang membuka pintu apartement Tiara lalu pergi bersama yang lainnya.


Ayah Tiara keluar dari kamarnya, beliau sudah mendengar percakapan itu dari awal sampai akhir. "Apa yang kau rencanakan sekarang ?" Tanyanya.


Tiara mengambil biskui kecil di atas meja lalu melihatnya dengan seksama, "Jika aku tidak bisa menghancurkan mereka dengan caraku. Mungkin mereka bertiga bisa,  aku akan jadikan Nia, Narul daan Ai Chan untuk membuat keluarga Kusuma, keluarga Kurniawan serta keluarga Hanna agar hancur berantakan." Ucap Tiara yang menghancurkan biskuit yang di pegangnya hingga tak bersisa.


Ya.


Itulah rencananya.


Rencana yang sudah sejak awal dia susun dengan rapi.


Rencana untuk menghancurkan orang-orang yang sangat dia benci.


Dia harus membaca situasi dan kondisi terlebih dahulu.


Agar wanita itu tidak gegabah dalam melakukan sesuatu.


Segala hal harus diperhitungkan dengan baik-baik dan matang.


Jika tidak, maka semuanya akan hancur.


Bahkan bisa merugikan dirinya sendiri.


Jika kita tidak bisa menghancurkan kehidupan orang yang kita benci.


Kenapa tidak kita jadikan orang-orang terdekat dari orang yang kita benci itu untuk menghancurkannya secara perlahan-lahan ?


Ide yang bagus 'kan ?


"Kapan kau berhenti melakukan semua ini ?" Tanya Ayah Tiara yang duduk di sofa.


Tiara mengelap mulutnya dengan tisu, "Mereka harus merasakan apa yang aku rasakan dulu. Karena mereka aku kehilangan kasih sayang dari orang tua Livia yang tak aku dapatkan dari ayah dan ibu." Ucap wanita itu masuk kembali dalam kamar.


Jika saja..


Jika saja orang tua Livia masih hidup..


Mungkin dia akan jadi wanita yang paling bahagia karena mendapatkan kasih sayang dari orang tua Livia juga ayahnya.


Dan ayahnya tidak akan seperti diteror sampai sekarang.


Tapi karena orang-orang itu...


Mereka menghancurkan semua impiannya..


Mereka harus mendapatkan hal buruk atas apa yang sudah dilakukannya pada masa lalu.


Tiara berjanji pada dirinya sendiri.


Dia tidak akan pernah melepaskan orang-orang itu.


Dia akan terus membalaskan dendamnya sampai wanita itu sendiri merasa puas.


*****


Ai Chan terdiam di dalam mobil sambil mereka mengantri untuk membeli makanan melalui drive thru  saja di salah satu restaurant cepat saji, "Menurut kalian apakah ucapan Tiara dapat kita percayai ?" Tanyanya.


Ponsel Narul berdering ada sebuah chat masuk dari nomor yang tidak dikenal, foto tersebut memperlihatkan saat papa Livia masih muda bersama dengan papa Jimmy dan Papa Yeni, "Eh.. Guys, lihat ini." Ucapnya memperlihatkan foto yang dia dapatkan dari Tiara. "Ini bukan editan 'kan ?"


Nia menggelengkan kepalanya, "Itu sama sekali bukan editan. Itu asli."


"Jadi yang dikatakan Tiara itu beneran ? Lalu, kita harus bagaimana ?" Tanya Ai Chan.


"Kia pura-pura saja tidak tahu akan hal ini, sampai kita liburan. Kita seperti tidak tahu menahu akan hal ini. Bagaimana ? Nanti mungkin ada waktunya kita akan bertanya pada Yeni." Saran Nia.


"Kalau mengenai tawaran Tiara tadi bagaimana ?" Tanya Narul.


"Aku tidak tahu Ai, harus merespon gimana."


Tidak terasa kini girilan mereka untuk memesan, "Selamat siang. Mau pesan apa ?" Tanya karyawan restaurant cepat saji itu.


"Saya mau fish burger satu, kentang dan ice lemon tea." Ujar Ai Chan.


"Saya mau ayam paha yang pedas juga softdrink." Jelas Nia.


"Lalu, saya mau chicken burger dan air putih saja." Ucap Narul.


Karyawan restaurant cepat saji itu mengucapkan kembali pesanan sambil menginputnya ke komputer, "Totalnya seratus dua puluh ribu rupiah kak." Ucapnya.


Ai Chan memberikan uangnya pada karyawan itu, "Ini."


"Baik kak. ini struknya. Terima kasih." Ucap pelayan tersebut.  Ai Chan memajukan mobilnya utnuk mengambil pesanan makanan dan minuman  yang sudah mereka pesan sebelumnya.


"Nanti pakai mobilku saja untuk ke Bandung. Hanna pasti dengan Yeni." Jelas Ai Chan.


"Oke. Habis ini antar aku ke kost-an aja, nanti baru ke rumah Narul." Jelas Nia.


Pesanan mereka pun tiba, "Ini pesanan mba. Makasih dan silakan datang kembali." Ucap pelayan restaurant cepat saji pada mereka.


"Terima kasih mba." Ucap mereka serempak. Ai Chan segera memakirkan mobilnya di area parkir yang sudah disediakan oleh restaurant cepat saji tersebut.


"Eh, menurutmu aneh tidak sih ? Tiba-tiba Jimmy mengajak Livia pergi liburan bahkan dia bilang boleh mengajak kita jika Livia menginginkannya." Tanya Ai Chan yang membuka fish burgernya.


"Apakah dia merencanakan sesuatu ? padahal papanya baru saja masuk dalam penjara masa iya dia bisa liburan setenang itu." Timpal Nia yang juga membuka makannya.


"Benarkan ? apa yang dia rencanakan ya ?" Tanya Ai Chan.


"Sudahlah guys, nanti malam kita omongin lagi. Setelah ini kita harus buru-buru siapin barang, belum lagi kita tahu akan berapa lama menginap di Bandung." Ucap Narul.


"Paling dua aau tiga hari saja."Timpal Ai Chan.  "Haruskah kita bersikap biasa saja pada Yeni dan Hanna ?"


"Entahlah, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana saat bertemu dengan mereka nanti malam. Berunglah hari ini hari jumat jadi bisa weekend di luar kota." Jawab Nia.


Apakah memang sudah waktunya mereka untuk berbaikan ?


Lagipula memang tidak baik juga kalau bermusuhan lama-lama.


"Aku masih tidak menyangka akan informasi yang baru saja kita dapatkan." Ucap Ai Chan


"Sama. Aku juga kaget mendengarnya loh." Timpal Narul.


"Tapi, bukankah itu masuk akal ? kemarin kita mendengar dari mulut Jimmy sendiri bahwa dia bertanya ke Yeni soal apakah Tara terbunuh atau tidak ? Itu kan artinya memang Tiara mengetahui sesuatu sehingga membuat  keluarga Jimmy dan keluarga Yeni merasa ketakutan, makanya mereka ingin sekali membunuh Tiara.' Jelas Narul dengan panjang lebar.


Nia dan Ai Chan saling mengganguk.


Sungguh masuk diakal.


Begitu mereka mengaitkan satu persatu kejadian-kejadian yang


sudah pernah terjadi.


Maka, semuanya masuk akal.


*****


Jimmy berulang kali melihat ke arah jam tangannya, "Lama sekali sih." Tak lama pria itu mengaucapkan kalimat tersebut, datanglah 3 mobil ke area halaman rumahnya. "Kalian sungguh datang semua." Keluhnya saat Livia dan Robert muncul bersama semua teman-temannya.


"Tidak sabaran banget sih." Keluh Yeni.


"Ya sudah. Kalian ikuti saja mobilku menuju Villa milik


orang tuaku yang berada di Bandung." Perintahnya lalu masuk dalam mobil


kemudian pergi.


"Ash.. dasar pria seenakjidatnya." Teriak Yeni lalu masuk dalam mobil. Semua orang pun ikut masuk ke dalam mobil


masing-masing. Mobil pertama ada Livia bersama Robert, mobil kedua ada Nia, Narul dan Ai Chan sedangkan di mobil ketiga ada Yeni dan Hanna.


"Seenaknya sendiri banget sih." Keluh Yeni yang mengendarai mobil.


"Sudahlah Yen, tapi apakah menurutmu tidak ada hal aneh ?" Tanya Hanna padanya.


"Apanya yang aneh ?" Yeni bertanya balik.


"Itu loh, Jimmy yang tiba-tiba saja mengajak Livia untuk pergi berlibur dan dia mengatakan boleh mengajak kita kalau Livia menginginkannya." Jelas Hanna mengutarakan apa isi dari pikirannya.


"Memang aku juga merasa aneh makanya aku memutuskan untuk ikut dalam acara gilanya." Jawab Yeni. "Bagaimana dengan Tiara apakah ada perkembangan ?"


Hanna menggelengkan kepala, "Aku tidak bisa menemukan bukti kalau dia yang sengaja merekayasa agar Om David (papa Jimmy) masuk dalam penjara karena penggunaan obat-obatan terlarang."


Yeni berdecak kesal, "Mana papaku sekarang sering memaksa kak Raka untuk mendekati Livia. Papa berniat menjodohkan Kak Raka dengan Livia. Padahal yang disukai kakakku bukanlah Livia. Ash.. karena harta itu dan ulah Tiara yang mengaku-ngaku sebagai penerus terakhir dari keluarga Wijaya.


Ash..


Wanita gila..


Merusak segalanya...


~To Be Continue~