
Setelah selesai memeriksa kedua pasiennya baik itu memeriksa detak jantung, deyut nadi, tekanan darah sampai menimbang berat badan dari kedua pasien itu. Dari beberapa hari yang lalu, dia tidak mempunyai pasien satupun. Memang seharusnya dokter tak ditempatkan di kantor.
Dokter itu tempatnya di Rumah Sakit atau Klinik.
Tapi, biar saja. Asalkan bisa bertemu dengan Livia setiap hari maka dia rela.
Apapun akan dia lakukan asalkan bisa melihat, bertemu dan selalu bersama Livia.
Begitu gadis itu keluar dari kantor ini maka, dia akan langsung berkerja di Rumah Sakit milik papanya.
Dia berada di kantor ini berlama-lama hanya karena Livia semata. Sudah lama sekali Robert tidak menghubungi apalagi menemui gadis itu. Pria itu terlalu fokus akan kuliahnya.
Dan begitu sudah selesai, dia pulang ke Indonesia untuk menemui orang tuanya dan tentu saja Livia. Gadis yang sangat dicintai dan dirindukannya selama bertahun-tahun.
Pria itu tak ingin berkerja di Rumah Sakit begitu dia tiba di Indoesia, justru dengan berkerja disana yang malah semakin mempersempit waktunya untuk bertemu dengan gadis yang dicintainya.
Toh juga orang tuanya sangat ingin mereka kembali menjalin hubungan.
Semoga hal itu cepat terkabul.
Semoga juga mereka bisa kembali berpacaran sampai menikah dan mempunyai anak-anak sampai maut memisahkan mereka.
Amin...
Jika Livia setuju untuk melanjutkan hubungan mereka maka, dia akan sangat senang sekali. Akhirnya, setelah sekian lama keinginannya selama ini dapat terkabul.
Setelah selesai memeriksa, Robert langsung duduk di mejanya untuk menuliskan beberapa resep untuk mereka. Jika mereka ini bukan pasiennya, sudah diusir dari ruangan ini. Dari tadi sengaja sekali mengorek informasi yang sangat ingin mereka ketahui.
Kenapa sih orang lain itu suka banget kepo ama urusan orang ?
Terkadang dia sangat tidak suka pada orang-orang suka sekali mengurusi dan ingin tahu akan kehidupan orang lain.
Tak bisa gitu ya, pikirkan dan uruslah hidup mereka sendiri.
Tidak usah terlalu ingin tahu dan ikut campur akan kehidupan orang.
Aneh bin ajaib orang-orang seperti itu.
Namun, Robert sadar. Manusia seperti itu tidak akan bisa musnah. Ibarat seperti kecoak yang dibunuh berapa kalipun tidak akan musnah karena sekalinya mereka bertelur sangatlah banyak.
Sungguh menjengkelkan.
"Ini obat untuk kau yang sedang tidak enak badan juga obat untuk menambah sistem kekebalan tubuhmu." Ia memberikan resep pada karyawan yang kelelahan. "Lalu ini, jika anda mengalami gejala flu ini ada juga obat berserta antibiotiknya. Akan tetapi, jika anda berniat untuk beristirahat di rumah saja maka ini resep dan juga surat ijinnya." Robert tersenyum palsu pada mereka. "Ada lagi yang ingin anda tanyakan ?"
"Baik dok, terima kasih. Kalau begitu kami permisi."
Robert tersenyum palsu, "Iya sama-sama. Kalau masih merasa tidak enak atau ada masalah kesehatan kalian bisa datang lagi kesini. Semoga anda cepat sembuh." Ujarnya yang direspon oleh senyuman kedua karyawan tersebut lalu mereka pergi meninggalkan Robert sendirian.
Pria itu tahu 1 kantor ini mulai curiga akan hubungan mereka berdua. Dia tak perduli akan mereka semua, hanya Livia yang perdulikannya.
Bodoh amat dengan segala omongan orang-orang diluar sana.
Mereka hanya bisa membicarakan orang lain dari belakang lalu mengejek, serta menghinanya tanpa tahu apa yang sudah dialami oleh orang yang sudah mereka hina dan ejek.
Yang terpenting baginya adalah Livia semata.
Kebahagian gadis itu adalah prioritas utama baginya.
Tidak boleh ada satu pun orang yang boleh menyakitinya apalagi membuatnya menangis.
Tidak boleh..
Livia Wijaya merupakan satu-satunya gadis yang sangat dia cintai. Sejak putus saat SMA dan memilih kuliah di Luar Negeri membuatnya begitu menyesali keputusan yang sudah diambilnya untuk berpisah dengan Livia. Beruntungnya dengan dia berkerja disini dapat mempertemukan lagi antara dirinya dengan Livia.
Sepertinya gadis itu memang jodohnya.
Sudah beberapa tahun mereka tak bertemu namun, sekarang mereka dipertemukan lagi di tempat yang tak terduga.
Kali ini, Robert tidak akan menjauhi apalagi meninggalkan gadis itu.
Dia akan selalu bersamanya, menemaninya disaat gadis itu tengah susah ataupun menangis dan membuatnya selalu tersenyum bahagia.
Hanya itu yang dia inginkan.
Hanya itu yang ingin dia lakukan.
Pria itu berjanji akan selalu menolong dan selalu ada disisi gadis itu hingga ada akan ada saatnya dia akan menyatakan cintanya kembali. Entah sampai kapan dia harus menunggu. Robert berharap waktu di saat dimana Livia menerima cintanya akan segera datang. Sudah cukup pria itu tersiksa selama masa kuliah karena jauh dari gadis yang sangat dicintainya.
Dia tidak akan rela jika ada orang lain yang berhasil mendapatkan hati gadis itu.
Tidak...
Tidak ada yang boleh memiliki gadis itu selain dirinya.
Tidak boleh.
*****
"Livia." Seorang karyawan wanita paruh baya datang menghampirinya. "Mari aku bantuin bawa kamera ke mejamu." Beliau mengambil kamera dari tangan Livia.
"Makasih mba Sarah." Gadis itu tersenyum tulus.
Beruntunglah masih ada orang baik disini.
Livia sangat bersyukur. Sejak masuk ke kantor ini, ia tak begitu mempunyai banyak teman. Mereka semua menjauhinya karena ia tiba-tiba saja diterima berkerja tanpa harus ada pertimbangan terlebih dahulu dan juga dia langsung berkerja di ruangan CEO.
Kesempatan yang membuat semua orang merasa iri padanya. Sungguh tak enak berada di posisi ini.
Tapi, gadis itu harus menerimanya demi menyelesaikan tugas akhir laporan OJT (On The Job Training) miliknya.
Setelah itu dia harus keluar dari kantor ini.
"Kau kenal dekat ya dengan Pak Jimmy ?" Tanya Karyawan bernama Mba Sarah yang mulai bertanya akan hal yang selama ini membuatnya juga karyawan lain begitu penasaran.
Mumpung ada kesempatan kenapa tidak dicoba. Walau sebenarnya Karyawan bernama Sarah itu enggan untuk membantu Livia.
Ahhh...
Mau bagaimana lagi..
Demi sebuah info yang bisa ia dapatkan lalu dia sebarluaskan ke karyawan yang lain.
"Tidak juga mba." Jawab Livia tenang. Memang tidak kok kenyataannya
Sarah melirik malas, gadis ini sangat bermuka dua sekali.
Dasar wanita ular.
"Jangan bohong. Masa iya kau yang baru jadi karyawan magang saja langsung berkerja di ruangan CEO." Desak Sarah padanya.
Susah banget sih untuk jujur saja.
Ihh.. Semakin jijik melihatnya.
Livia mendesah pelan, jelas sekali maksud dari niat baiknya. Gadis itu telah salah menilainya.
Mba Sarah baik karena ada mau-nya saja.
Karyawan ini membantunya hanya untuk mengorek informasi yang mau beliau tahu saja, lalu kemudian ia akan sebarkan ke seluruh kantor. Kalau ia menjelaskan seperti yang Livia katakan, kalau ia memutar balikan fakta. Ck.
Macam acara-acara di TV saja.
Masalah baru akan dimulai. Ck. Resiko jika harus berkerja di perusahaan Jimmy ini
Disaat banyak sekali orang membanggakan untuk berkerja di perusahaan besar sekelas Sapphire Blue Corp mungkin akan menggangap Livia adalah gadis bodoh yang menyia-nyiakan kesempatan atau bahkan menyesali keputusan yang sudah dia buat.
Orang-orang mungkin akan berpikir, kenapa kau tidak bersyukur saja ?
Jangan terlalu memusingkan orang lain mengatakan apa.
Kah hidup untuk dirimu sendiri, bukan hidup berdasarkan akan apa yang mereka inginkan.
Entahlah, Livia merasa susah untuk melupakan semua ucapan orang-orang itu. Sejak kecil sudah tertanam di dalam dirinya kalau ada masalah maka ia lah yang bersalah.
Saat masih kecil paman dan bibinya setiap hari menyalahkannya atas kematian orang tuanya sendiri.
Kalian bayangkan bagaimana psikologis Livia terbentuk.
Saat kecil orang tuanya meninggal tepat di matanya sendiri, begitu diurus paman dan bibinya mereka malah menuduhnya sebagai penyebab orang tuanya meninggal.
Kalau dia tak ingat masa magangnya sudah setengah jalan, sudah dari dulu Livia mengundurkan diri dari sini. Tapi, tanggung sedikit lagi magangnya akan selesai dan Gadis itu bisa terbebas dari kantor ini.
Semoga...
Terkadang Livia membenci kenapa ada orang-orang yang suka sekali mengurusi dan sangat kepo akan urusan orang lain.
Siapa juga yang suka hidupnya dikepo-in oleh orang lain ?
Siapa yang suka jika ada orang asing ikut campur dalam semua masalah di kehidupannya ?
Sungguh ingin sekali Livia lenyapkan manusia-manusia begitu.
Sungguh tak habis pikir.
Tak bisakah dia urus kehidupannya sendiri. Namun, gadis itu sadar. Memang beginilah dunia ini, tak semua orang sempurna. Jika semua orang saling cuek akan kehidupan dan persoalan orang lain, bisa jadi akan jadi kehidupan yang datar saja.
"Ya mana saya tahu alasannya mba kenapa saya tiba-tiba dipindahkan kesana."
Aku beritahu juga akan nimbulin masalah baru. Ck. Kenapa sih mau tahu banget ?
"Tenang saja. Mba bukan orang yang suka omongin orang dari belakang kok apalagi sebarin gosip. Kau bisa ceritakan apa saja ke mba. Perusahaan ini sifatnya kekeluargaan kok. Tiap karyawan disini uda berasa kayak keluarga sendiri."
Aku ga percaya.
Livia tersenyum terpaksa, "Hehe iya mba. Nanti kalau ada apa-apa akan saya cerita ke mba. Makasih ya mba sudah mau bantuin saya."
"Sama-sama. Mba juga senang kalau ada karyawan baru yang betah disini. Oh iya, memang benar ya kalau rumor kau temanan dengan Yeni Kusuma, puteri bungsu dari perusahaan Kusuma yang terkenal itu ?"
Livia mengganguk, "Iya mba. Kami sudah temanan selama 4 tahun."
"Baik mba." Jawab Livia dengan setengah hati.
"Sebelumnya kau kerja dimana ?"
"Saya belum pernah kerja mba, ini pertama kalinya saya kerja."
"Beruntungnya kalau jadi kamu. Bisa kenalan dengan anak-anak kaya, bisa masuk ke kantor ini dengan mudah, sekali berkerja langsung di perusahaan bagus."
Livia hanya tersenyum tak jelas. Dia tak tahu harus merespon seperti apa. Karyawan ini saja tidak tahu siapa dirinya dan apa yang sudah dialami-nya selama ini. "Semua orang punya jalan hidupnya masing-masing. Tidak ada yang perlu di-irikan, mba."
Memang benar.
Setiap orang punya masalah hidup masing-masing.
Yang membedakan hanyalah apakah orang tersebut menunjukkan kalau dia sedang ada banyak masalah, atau malah menutupi dengan sangat rapat masalah tersebut agar orang lain tidak mengetahui bahwa dia sedang ada banyak masalah.
Karyawan wanita itu mengganguk, "Iya sih. Gimana kesanmu selama berkerja disini ?"
"Enak mba. Karyawannya juga baik-baik dan mau menolong juga. Tak heran dari yang saya dengar ada banyak karyawan lama yang keluar lalu masuk lagi ke perusahaan ini."
"Kenapa kamu tidak magang di perusahaan temanmu dan malah disini ?"
Suka-suka aku-lah mau pilih yang mana.
"Sebelum itu aku sudah lamar magang di banyak perusahaan juga tapi ya yang memang dipanggil untuk interview cuma perusahaan ini ya aku datang saja."
"Wah, hebat ya kamu tidak menggunakan koneksimu untuk diterima kerja di suatu perusahaan dengan mudah. Kalau mba jadi kamu, mba tak perlu cape-cape lamar sana dan sini. Tinggal pakai koneksi yang mba punya."
"Hehe iya mba. Oh iya, mba tahu mengenai bapak Rahmad yang dulu pernah berkerja disini sebagai kepala Humas ?"
"Ah iya, memangnya kenapa ?"
"Dulu masih awal-awal kerja disini aku sering melihat beliau. Namun, sekarang kok beliau sudah jarang terlihat."
"Kau belum tahu ya, kalau beliau sudah resign dari beberapa minggu yang lalu karena mau pensiun."
"Aku dengar juga beliau yang paling lama berkerja disini ya."
"Iya beliau berkerja disini sudah 15 tahun bahkan sebelum Pak David (Papa Jimmy) yang jadi CEO disini. Lalu, ada rumor juga dulu perusahaan ini punya nama apa gitu mba ga tahu. Sejak ada kepemimpinan Pak David maka, berubahlah menjadi Sapphire Blue Corp sampai sekarang
"Memangnya sebelum Pak David siapa yang menjabat disini mba ?"
Karyawan wanita itu menggeleng, "Mba ga tahu. Hanya Pak Rahmad yang mengetahuinya."
Berarti ada kemungkinan perusahaan ini sebelumnya memang perusahaan dirinya dan papa Livia lah yang menjabat di perusahaan ini. Tapi, dia tak memiliki bukti yang nyata akan hal itu.
Harus bagaimana lagi, Livia mendapatkan informasi yang jelas akan perusahaan ini. Dia tidak mungkin bertanya pada orang tua Jimmy yang dulu adalah karyawan papanya. Mereka tidak akan mau mengakuinya. Kalau pun mengakui bisa saja mereka berbohong.
"Mba tahu dimana rumah beliau ?"
"Memangnya kenapa ?"
"Oh.. bukan apa-apa mba. Hanya penasaran saja hehe."
Berarti Livia harus mendapatkan data dimana Pak Rahmad tinggal. Hanya beliau yang tahu akan semua di perusahaan ini dulunya.
"Kalau ada perlu apa-apa atau ada masalah apa nanti kamu bisa cerita kok mengenai apapun ke mba."
"Iya mba. Makasih ya." Livia tersenyum.
"Sama-sama. Kalau gitu mba lanjutin kerjaan dulu ya."
"Iya mba."
Karyawan wanita itu berjalan menuju mejanya yang agak jauh dari meja Livia, "Kau berbicara apa dengan anak baru itu ? Lama sekali." Tanya seorang temannya yang bertubuh gemuk.
"Mengorek informasi lah kenapa dia bisa diterima disini, dan benar kalau dia itu temanan dengan Yeni Kusuma. Dia juga tanya-tanya soal Pak Rahmad yang pensiun itu." Jawab Bu Sarah sembari membereskan mejanya yang berantakan.
"Kok aneh sih tiba-tiba dia tanya soal beliau."
"Entahlah. Dia bilang hanya penasaran saja."
"Bahkan dia juga tanya sebelum Pak David jadi CEO disini siapa yang menjabat jadi CEO. Aneh banget kan, kita aja karyawan lama tak mengorek informasi sampai segitunya. Lah dia, anak baru mau tahu banget akan segala hal disini. Padahal juga cuma magang selama 3 bulan doank."
"Apa dia mata-mata dari Perusahaan Kusuma makanya, sengaja dia berkerja disini. Maksudku, siapa tahu kan dia menjual data-data penting perusahaan disini pada mereka. Kau bilang dia mengakui bahwa Yeni Kusuma adalah temannya." Teman-teman karyawan itu berkumpul dan ikut bergosip.
"Iya ya. Aku tidak sempat berpikir seperti itu. Tidak mudah loh masuk ke perusahaan ini. Apa coba kalau bukan dia memakai koneksinya. Kalian lupa saat ia diterima langsung kerja 1 ruangan dengan Pak Jimmy. Coba bayangkan, mana ada seorang staff apalagi karyawan baru bisa-bisanya kerja 1 ruangan dengan CEO. Ihhh, dari tampangnya aja polos dan baik-baik. Ternyata gadis ular berkepala dua." Ujar Bu Sarah setelah ia mendapatkan informasi yang diinginkannya.
"Bener tuh. Kalian juga masih ingat soal Dokter Robert yang bener-benar membela Livia saat pacar Pak Jimmy datang, Yeni Kusuma juga datang membela Livia yang sudah jelas seorang pelakor." Temennya yang bertubuh gemuk juga tak mau kalah untuk ikut bergosip.
"Ihh, ngapain sih pakai acara Doker Robert ikut membelanya. Sudah tahu gadis itu gila harta. Belum cukup temanan dengan Yeni Kusuma malah mengaet boss kita, Pak Jimmy." Seorang karyawan cantik yang baru masuk beberapa hari ikut bergosip.
"Kok Pak Jimmy, seleranya rendahan sekali sih. Mendingan ama aku aja yang cantik dan seksi ini." Tanya karyawan bertubuh gemuk pada yang lainnya.
"Maklum-lah mba, dia 'kan teman baik Yeni Kusuma. Mau dapat untung mba." Ejek Bu Sarah.
"Kok mau ya, seorang Yeni Kusuma mau berteman dengan gadis macam gitu." Karyawan wanita yang baru masuk beberapa hari ikut mentertawainya.
"Ga tahu juga mba. Beliau dikasih apaan ya ama gadis ini sampai-sampai dia mau temanan dan Pak Jimmy juga Dokter Robert membelanya." Timpal Bu Sarah.
"Mungkin dia pakai tubuhnya kali mba." Ujar satu-satunya karyawan pria yang ikut membicarakan Livia dari belakang.
"Hush, jaga ucapanmu jangan bicara sembarangan." Tegur Bu Sarah padanya.
"Kalau bukan itu lalu karena apaan sehingga Pak Jimmy dan Dokter Robert mau dengan gadis itu ?" Tanya kembali karyawan bertubuh gemuk pada Bu Sarah.
"Mana saya tahu." Jawabnya. "Bukan urusanku juga."
"Tadi mba bilang dia mau tanya soal Pak Rahmad ? memangnya mau ngapain dia ?" Karyawan pria lain datang ikut bergosip.
"Ga tahu. Mungkin dia mau cari mangsa baru kali." Bu Sarah melirik sinis ke arah Livia yang jaraknya tak jauh dari tempat mereka membicarakannya dari belakang walau hanya berbisik-bisik.
Mereka tertawa merendahkan, "Sudah serendah itu 'kah seleranya ? Sampai-sampai pria paruh baya mau di embat juga ?" Tanya wanita bertubuh gemuk tersebut.
"Bisa jadi." Mereka tertawa namun seketika berhenti karena semua orang di ruangan itu memandang mereka termasuk orang yang mereka bicarakan dari belakang, Livia.
"Sudah hilang kali ya urat malunya. Benar-benar gadis tidak tahu diri." Karyawan wanita yang baru masuk beberapa hari memandang jijik ke arah Livia.
"Buat malu nama perusahaan saja sih. Dia berkerja disini sampe kapan sih ?" Timpal karyawan yang bertubuh gemuk.
"Dengar-dengar sih 3 bulan masa magang dan sekarang sudah mau 2 bulan dia berada disini." Bu Sarah semakin memanas-manasi karyawan yang ikut-ikutan membicarakan Livia dari belakang.
"Semoga dia tidak dijadikan karyawan tetap." Wanita bertubuh gemuk berdoa. "Amin."
"Tidak mungkin sih karena dia kan dibela ama Pak Jimmy dan Dokter Robert." Semakin lama semakin banyak karyawan dalam ruangan itu berkumpul untuk membicarakan Livia dari belankang bahkan menghinanya.
"Kau infokan pada orang lain saja agar mereka tidak sembarangan memberikan data perusahaan pada Livia dan memberikan informasi penting padanya. Bisa bahaya banget bagi perusahaan kita." Bu Sarah melirik ke arah Livia yang tengah memfotocopy beberapa dokumen di pojok ruangan yang terletak cukup jauh dari tempat mereka membicarakannya dari belakang.
"Bener-benar. Biar 1 kantor ini tahu siapa sebenarnya Livia itu." Dengan segera info tersebut begitu menyebar dengan cepat ke seluruh kantor. Ada yang mempercayainya dan ada juga yang tidak mempercayai hal tersebut. Pada akhirnya, satu persatu dari mereka bubar dan berhenti membicarakan Livia untuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing.
Ya.
Tidak semua orang di dunia ini menyukaimu.
Ada beberapa dari mereka juga didepannya sangat baik padamu namun, dibelakangnya begitu menusukmu.
Mereka tidak akan bisa hilang dari muka bumi ini.
Hanya bergantung bagaimana kau menyikapi akan hadir dan tingkah mereka.
Meladeninya atau mengabaikannya.
Semua keputusan ada padamu.
Inilah hidupmu, tidak ada yang boleh mengatur.
Hanya kau yang berhak mengatur apa yang kau inginkan dan yang tak kau inginkan dari hidupmu.
******
Hanna tiba di perusahaan ayahnya, ia sudah meminta ijin pada Yeni kalau hari ini tak bisa masuk kerja karena ada hal yang mau diurusnya. Begitu ia melewati resepsionis langsung ditahan, "Maaf mba, Mba harus isi data terlebih dahulu."
"Saya anak dari yang punya perusahaan ini mba."
"Maaf mba. Setahu saya pemilik perusahaan ini tidak punya anak perempuan mba."
"Kau anak baru ya ? Mana resepsionis yang lama ?"
"Mba, bisa isi data terlebih dahulu sebelum masuk."
"Sudah saya bilang kalau saya ini anak dari pemilik perusahaan ini. Ga percaya banget sih." Hanna mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan foto keluarganya ke resepsionis baru itu. "Sekarang percaya kan ?"
Resepsionis menggelengkan kepalanya, "Mba, jaman sekarang banyak loh foto editan. Sekarang diisi dulu datanya ya mba."
"Keras kepala banget sih." Ponsel Hanna berdering sekertaris papanya menelepon, "Ada apa ?"
"Nona sudah tiba di kantor ?"
"Sudah tapi resepsionis barumu tidak mengijinkan saya masuk. Bisa kau telepon dia dan beritahu siapa saya?"
"Baik nona." Tak lama Hanna menutup teleponnya, telepon meja resepsionis itu berdering.
"Sekarang percaya 'kan ? buang-buang waktu-ku saja." Tanpa menunggu jawaban dari resepsionis tersebut, Hanna langsung pergi naik lift ke ruangan papanya.
Hanna langsung masuk begitu saja ke ruangan papanya, "Papa, sudah menemukan Tiara belum ?"
Papa Hanna menggelengkan kepala, "Dia susah sekali ditangkap."
"Papa tahu kemarin dia datang disaat aku dan yang lainnya tengah berkumpul, dia sengaja mengatakan pada Livia untuk berhati-hati pada kami semua."
"Papa tak menyangka dia bergerak secepat itu."
"Ya makanya, papa cari dia sampai ketemu donk. Aku dan yang lain tak mau kalau sampai Livia mengetahui semua ini."
-To Be Continue-