Our Love

Our Love
Tiga



Cerita ini hanya karang fiksi semata


Awas ! Typo dan kata-kata kasar.


Selamat membaca ~~


.


.


" Kau ini kenapa sih daritadi melakukan kesalahan terus, Kak. Aku sampai berbusa loh menegurmu terus." Oceh Yuki Zhao.


"Bisakah kita sudahi saja untuk hari ini." Pinta Gray seenaknya.


Sang sutradara muda menghela nafas. Butuh kesabaran ekstra menghadapi seorang Gray Alphanius. Karena ia cukup mengenal kepribadian keras Gray.


"Baiklah. Kita selesai." Koar Yuki pada kru yang lain.


"Dan kau ikut denganku." perintah Yuki.


Gray tak mengatakan apapun ia hanya menuruti keinginan Yuki.


"Ada apa denganmu, Kak ? Hari ini kau semakin terlihat kacau saja." Cecar Yuki.


Yuki yang merupakan adik sepupu Narayyan Zhao memang cukup pintar menyadari keanehan Gray.


"Tak ada apa-apa. Aku hanya sedang tidak mood." Jawab Gray.


"Benarkah ? Bukan karena masalah Kak Tania ?" Yuki tak percaya begitu saja.


"Apa katamu saja, Yuki."


Gray baru beberapa langkah dan suara dari Yuki Zhao membuat langkah kaki Gray terhenti.


"Kau menyesal melepasnya ya?"


"Aku tahu sekarang ini Kak Tania semakin dekat dengan Kak Gio. Dan banyak pria lain yang siap mendekati mantan Juwita cantik-mu ?"


Otak encer Yuki yang didapatkan dari Ayahnya tak bisa dianggap remeh.


" Aku bisa gila jika seperti ini terus." ucap Gray seakan mengiyakan dugaan Yuki.


" Itu juga karena ulahmu bukan ?."


" Kau harusnya memberiku semangat


bukannya memojokanku seperti ini." Kesal Gray.


" Baiklah , Fighting ! ." ujarnya terpaksa. Gray mendengus kesal.


" Semua bersikap dingin padaku itu salah Tania. Dia benar-benar menghancurkan hidupku." gumam Gray menatap benci sosok gambar yang dijadikannya sebagai wallpaper ponselnya, Tania.


" Kenapa aku masih merasakan getaran itu saat melihatmu ? Apa yang kau lakukan padaku hingga hatiku masih tertuju padamu ? Bibirku bisa berucap hanya mencintai Sakhira tapi hatiku tak mengatakan yang sama. Argh, sekarang aku harus bagaimana ?" Batin Gray.


**


Pasangan kontrovesial itu tengah menghabiskan waktu bersama di kafe dekat gedung agensi mereka.


Saat mereka berjalan menuju tempat yang diinginkan tanpa sengaja mereka bertemu dengan Karin dan Genta yang tengah makan siang.


Sakhira yang melihat berinisiatif untuk menyapa," Lama tak jumpa, Karin, Genta."


Merasa nama mereka dipanggil oleh pemilik suara yang sudah dikenalnya, mereka pun menoleh.


" Ya." jawab Karin dingin.


"Tak seperti biasanya kau nampak tenang, Karin." Tanya Gray.


" Hanya sedang badmood." Karin menjawab sekenanya.


"Aku sudah tidak bernafsu makan, tiba-tiba makananku terasa hambar membuatku tak nafsu lagi. Ayo kita pergi, Ta." sindir Karin.


Karin tersenyum sinis saat melihat perubahan raut wajah Sakhira.


" Ah, baiklah. Aku sebagai kekasih yang baik akan menjagamu dari apapun yang menganggumu bukan merusak kebahagiaanmu. Ayo, Karin kita kembali." Jawab Genta yang tidak menghiraukan tatapan mematikan dari Gray


" Selamat bersenang-senang." ujar Karin sebelum menarik Genta menjauh dari pasangan kekasih itu.


" Kau lihat ! Bahkan Karin yang notabene sempat menaruh hati padamu bersikap seperti itu pada kita. Sudah berapa kali aku diperlakukan seperti ini. Mulai dari Inari yang terang-terangan menunjukan amarahnya.


Ray dan lainnya juga tidak menyukai hubungan kita." Ujar Sakhira putus asa.


" Aku juga mengalami yang kau alami, Sakhira. Kita hadapi bersama semua ini." jawab Gray menenangkan.


" Aku tak sanggup jika semua yang melakukan hal itu adalah Inari. Terlalu menyakitkan." gumam Sakhira.


.


*


Usai makan siang Gray kembali ke Dorm. Jadwal kegiatannya yang sudah selesai membuat Gray ingin menghabiskan waktu luangnya untuk berkencan dengan bermain game.


Niatnya untuk main game sepuasnya pupus sudah kala Gray lagi-lagi mendapati Tania dan Gio tengah bercanda bahkan posisi mereka seperti berpelukan. Perasaan cemburu membakar hati Gray.


" Ehem."


Deheman Gray yang berhasil membuat Gio dan Tania menyadari kedatangannya.


" Oh, Ada Gray. Sebaiknya kita mencari tempat lain saja, Tania." Ajak Gio.


Mereka menuju ke dapur dengan membawa bahan-bahan yang sudah mereka olah tadi.


" Kau akan mengajariku memasak, bee ?" Tanya Gio polos. Dengan gemasnya mencubit pipi chubby Tania.


" Tentu. Setidaknya kau bisa memasak masakan sederhana seperti ini." jawab Tania.


Gio memberikan kecupan manis di pipi mulus Tania.


Gray mendelik tajam melihat dan mendengar panggilan sayang.


" Menjijikkan." umpat Gray.


Gio tanpa sungkan melingkarkan tangannya dipinggang ramping Tania. Sekilas ia melihat Gray menatap ke arah mereka. Gio menyeringai.


" Tania apa kau menjadi wanita gampangan ? Membiarkan dia menyentuhmu." Umpat Gray.


"Tunggu dulu. Apa mereka telah menjalin kasih ?" Terka Gray.


Terbesit rasa sakit dihati pemuda tampan itu. Gray tak rela perhatian-perhatian kecil yang Tania dulu diberikan padanya kini beralih pada Gio. Ingin rasanya ia menarik gadis itu dari dekapan Gio.


Namun, ia sadar tak punya hak untuk melakukannya.


Indra pendengarannya samar- samar menangkap suara tawa dari arah dapur. Tangan Gray semakin mengepal menahan amarah yang semakin membumbung di hatinya.


" Sepertinya ada yang sedang terbakar cemburu." Celetuk Sai mengejutkan Gray.


" Sai."


" Kau menyesal menyakitinya ? Sudah menyadari perasaanmu sendiri. "Tanya Sai.


Gray tak menjawab ocehan Sai.


" Aku rasa iya." sambung Sai yang bisa menebak dari wajah masam Gray.


" Kau tahu, Gray. Kami sangat mendukung hubunganmu dengan Tania. Bahkan si malas itu mau-maunya membantu setiap kali kau hendak berkencan dengan Tania dulu. Apalagi ada Nico yang siap menghadangmu, bukan ? Tapi Ray mau repot-repot. Pemalas itu sangat menyayangi Tania. Dan kau mengecewakannya. Mengecewakan kami." kata Sai.


" Berhentilah memojokkanku." Geram Gray.


" Kau terjebak dalam permainan apimu sendiri sekarang, bukan ?" Hardik Sai.


"Meminta maaflah pada mereka. Aku tahu kau tersiksa melihat kedekatan mereka. Aku tahu tak seharusnya kami memojokkanmu. Pikirkan baik-baik semua ini, Gray."


Sai meninggalkan Gray dalam diam. Gray menyadari jika ia masih sangat mencintai Tania. Rasa bosan yang dulu menyebabkannya berani main api dengan Sakhira.


Menghancurkan rasa percaya yang di


dapatkannya dari orang-orang terdekatnya. Apa yang harus ia lakukan ?


"Gray " tegur Tania kala melihat Gray terlihat melamun.


" Ya."


" Kau mau mencicipi hasil kue buatanku ?" Tawar Tania dengan senyum manis yang terpancar dibibir seakan tidak pernah Gray menorehkan luka dihatinya.


"Bolehkah ?" Gray justru bertanya balik.


" Tentu. Aku sudah menyisihkan untuk yang lain juga. Tenang saja." jawab Tania.


"Kue ini tak begitu manis." Sambungnya.


Gray tersenyum tipis melihat Tania tidak lupa tentang ia yang tidak suka makanan manis.


Dengan ragu Gray mengambil sepotong kue kecil buatan gadis yang masih menempati hatinya itu.


"Lumayan." Ujar Gray usai menelan kue tersebut.


"Katakan saja enak, Tuan Gray Alphanius." Ledek Tania.


Tania tentu tahu bagaimana perangai pemuda di depannya ini. Kata lumayan yang keluar dari mulut Gray bisa saja berarti enak.


"Tania."


"Ya, Gio"


"Maaf aku tak bisa mengantarmu pulang. Mendadak Andreas memanggilku." Sesal Gio.


"Tak apa. Aku bisa pulang naik taksi."


"Aku akan mengantarnya."


Gray menawarkan diri mengantar Tania.


Saat Tania hendak menolak.


"Baiklah. Antar dia dengan selamat, Gray"


Gio mengabaikan tatapan tajam Tania.


.


.


.


Flashback


Di taman dekat dorm yang dihuni para gadis cantik. Gray dan Sakhira melakukan pertemuan sembunyi - sembunyi. Pertemuan terlarang ah lebih tepatnya hubungan terlarang mereka yang sudah sebulan lalu mereka jalin. Kesibukan dari masing-masing kekasih merekalah yang memicu perselingkuhan yang dijalani mereka. Dan juga datangnya kejenuhan dalam hubungan dengan sang kekasih.


Gray  berani bermain belakang dari Tania lantaran ia merasa bosan dengan sang kekasih. Ditambah kedekatan Tania dengan Ray. Meskipun ia tahu Ray sudah menjalin hubungan dengan sulung Fernandes.


"Maaf membuatmu menunggu, Gray."


"Hn."


"Aku merindukanmu." Sakhira memeluk tubuh pria yang dulu menjadi obsesinya dengan erat.


"Ku terlalu sibuk sampai tidak


menghubungiku, Gray." rajuk Sakhira.


" Maaf." Gray membalas pelukan sang gadis itu.


" Pada Tania kau selalu sempat memberinya kabar. Kenapa padaku kau selalu bilang tidak sempat." kata Sakhira cemberut.


"Kau tidak inginkan hubungan kita diketahui oleh mereka sebelum kita lepas dari kekasih kita, bukan ? Akan mencurigakan jika aku terlalu sering menghubungimu." jelas Gray membelai sayang rambut Sakhira.


" Kau benar." jawab Sakhira lemas.


Tanpa ijin Gray mencium lembut bibir Sakhira.


Tak menyadari sedaritadi dua orang telah mengintai gerak-gerik mereka.


Salah satu dari mereka menitikan air mata melihat kenyataan yang ditakutkannya benar- benar terjadi.


Orang itu adalah Tania dan Gio yang memang sudah merasa curiga dengan pasangan mereka.


Gio merangkul pundak Tania


mencoba menenangkan perasaan Tania walaupun perasaannya sendiri tengah terluka.


"Mereka tega sekali." isak Tania dalam dekapan Gio.


"Lebih baik kita pergi." ajak Gio.


Yang terpenting ia telah mengetahui semuanya. Biar ia selesaikan semuanya nanti. Biarkan saat ini ia menenangkan diri. Tapi tidak dengan Tania


Dengan amarah yang meledak ia mendekat ke dua orang yang menghancurkan hatinya.


Menghancurkan kepercayaannya. Tania tak pernah merasa semarah ini hingga tak bisa mengendalikan diri.


" Jadi seperti ini yang kalian lakukan dibelakangku."seru Tania membuat ke dua sejoli yang tengah bercumbu itu melepaskan ciuman mereka. Ke dua bola mata mereka membulat sempurna.


"Ta-tania"


" Kenapa kalian mengkhianati kami !!! Sakhira !! Gray !!!. " teriak Tania dengan bercucur air mata.


" Kenapa ? Kenapa kau harus bermain api dengan gadis yang menjadi kekasih sahabatmu ?" Seru Gio menampakan dirinya.


"Gio." Lirih Sakhira.


Mereka tak menyangka akan tertangkap basah. Mengelak pun percuma.


" Sejak kapan kalian berhubungan ?" Tanya Tania mencoba mengendalikan diri.


"Maafkan aku.. Tania. Kami...."


" Tidak perlu minta maaf. Percuma ! Luka yang kalian torehkan tidak akan hilang hanya dengan ucapan maaf kalian." Sela Gio dingin.


" Kami bermaksud akan berterus terang dengan kalian. Tapi, karena kalian sudah tahu sendiri jadi kami tak perlu repot-repot menjelaskan." Ujar Gray enteng. Tak perlu mendrama, pikirnya.


"Kau benar-benar Brengsek."


Gio melayangkan bogem mentahnya yang mengenai wajah mulus Gray.


"Gray ! " pekik Sakhira.


Ia menghampiri Gray yang terjatuh akibat pukulan itu.


"Pengkhianat memang harus bersanding dengan pengkhianat. Ayo kita pergi, Tania. Biarkan mereka menikmati asmara mereka." Gio membawa Tania yang masih menangis menjauh dari kedua biang onar.


Kejadian yang terjadi di taman telah didengar oleh rekan seagensi mereka.


Sakhira harus menerima amukan dari Ema yang murka karena mengkhianati adiknya. Bahkan Inari yang merupakan sahabat karib Sakhira melayangkan tamparan di pipi mulusnya.


Sedangkan Gray menghadapi amukan Nicolas, kakak dari Tania. Mungkin Gray akan berakhir dengan luka para jika Luffy dan yang lain tidak mencegah prodigi Scarlet itu menghajar habis dirinya.


Cukup beberapa bogem mentah yang ia dapatkan dari Ray dan Gray sendiri sempat membalas pukulan tersebut. Namun ia yang mendapat lebih banyak luka.


Sejak kejadian itu suasana menjadi tak kondusif. Sang CEO agensi pun merasa pening memikirkan pertikaian antar anak binaannya.


"Rasanya aku ingin segera pensiun. Mungkin aku harus menyerahkan posisi ini pada keponakanku. Lalu menikmati liburan dengan istriku."


Satria Winatajaya menggeram frustasi. Ia harus membungkam wartawan yang berhasil menangkap moment pertikaian .


Bersambung.