Our Love

Our Love
Delapan



"Cecunguk mana yang berani mengusik adik kesayanganku. Ku pasti kan ia akan menyesal." Geram Nicolas Scarlet kala mengetahui seseorang berbuat ulah untuk menjatuhkan adik kesayangannya. Belum juga reda masalah yang dibuat Gray Alphanius itu muncul lagi masalah lain.


"Tahan dirimu, Nico." Tera berusaha menenangkan pemuda Scarlet itu. Jujur saja Tera pun geram dengan oknum kurangajar itu.


"***."


Entah sudah berapa kali ia mengumpat.


Ia harus segera mengatasi masalah ini. Foto Tania dan Farel yang tengah berciuman itu tentu saja membuat publik geger. Apalagi keduanya tengah menggarap proyek film bersama. Banyak spekulasi beredar. Ada yang menganggap itu gimmick. Dan kebanyakan berisi hujatan dari fans Farel yang tak rela jika benar keduanya menjalin hubungan. Nico tentu tak akan membiarkan kekacauan ini berlarut. Secepat mungkin ia harus mendapatkan pelaku itu.


"Sebaiknya kita adakan konferensi pers secepatnya . Agar gosip tak jelas itu tak semakin berkembang. Segera hubungi Satria." Perintah Nico pada kekasihnya, Tera.


"Aku sudah menghubunginya. Aku juga sudah meminta Ray untuk melacak si pelaku." Ujar Tera.


"Hn. Terimakasih."


"Hm. Kau harus tetap tenang, Nic."


"Aku tahu."


"Nico."


"Hm?"


"Apa hubungan mereka sudah diketahui Ayahmu ?" Tanya Tera hati - hati.


"Hm. Si brengsek itu bergerak cepat. Selagi ia mendekati Tania. Ia juga mendekatiku dan Ayah. Dasar pemuda tua sialan."


Sulung Scarlet itu merasa kesal sendiri kala mengingat kelakuan pemuda itu. Dengan mudahnya ia membuat Ayah mereka menyukainya. Dengan mudahnya ia menerima kepercayaan sang ayah dan juga dari dirinya. Tapi ia mengakui bahwa Farel sangat cerdik, sekali dayung ia melampaui dua pulau. Selain mendapatkan Tania, si Farel itu juga sudah mengantongi kepercayaan dari keluarga Scarlet.


"Kau tahu. Aku tahu Narayyan dan Giovani selalu berusaha ada untuk Tania. Tapi, Sejak hadirnya Farel Mahendra lah, Tania sedikit demi sedikit kembali seperti dulu. Ia lebih banyak tersenyum. Mungkin kehadiran Si sialan itu menjadi obat untuk hatinya yang hancur."


"Kau benar. Dan aku bersyukur untuk itu. Rasanya menyesakkan kala melihat Tania begitu hancur dalam diamnya."


Ia ingat dengan jelas saat tak sengaja melihat bagaimana Tania berusaha untuk tegar. Dan ia akan meraung kala tak seorang pun melihatnya. Pasti sangat menyakitkan bagi adik Nico itu. Dikhianati pria yang begitu dicintainya dan sahabatnya sendiri. Disisi lain ia juga merasa salut dengan ketegaran Tania kala menghadapi dua orang yang sudah menghancurkan hatinya.


"Aku yakin kini yang hancur adalah si Gray brengsek itu." Batin Tera


"Ko." Seru Nico.


"Ya, Tuan."


"Ambilkan pedang kesayanganku." Perintah Nico. Tera mengeryit tak mengerti.


Sedangkan Ko segera melakukan perintah Sulung Scarlet itu.


"Apa yang akan kau lakukan , Nic."


"Bersiap ! Menyembelih siapapun yang berani menyentuh adikku." Jawab Nico dengan aura hitam yang menguar kuat.


"Ko ! Gali lubang untuk membuang mayat mereka." Perintah Nico. Ko merinding mendengarnya.


"APA ! KAU GILA !?" Pekik Tera. Sungguh ia tahu bahwasanya Nicolas Scarlet itu sister complex kelas kakap. Bahkan kini sudah dalam tahap mengkhawatirkan.


"Tak perlu berteriak, Bodoh." Kesal Nico.


.


.


Gray Alphanius semakin gelap mata. Bagaimana tidak ? Belum juga ia berhasil menemukan Tania, kini ia harus mendengar kabar disertai bukti foto tentang Tania dan Farel Mahendra.


"Brengsek !"


Sedari tadi Gray sengaja menepikan mobilnya untuk menghubungi Tania. Ia harus cepat mendapatkan kebenaran tentang semua ini. Kalau tidak ia bisa depresi menerka-nerka seperti apa hubungan dua orang itu.


"Kumohon Tania. Jawab panggilanku." Gumam Gray.


Nihil.


Sebuah panggilan masuk dari Sai.


" Ya ?" Ketus Gray.


"Gray !. Datang ke dorm Fairy Girls. Sekarang."


"Aku sibuk."


"Ini mengenai Tania." Serobot Sai


"Baiklah. "


Segera saja Gray memutar arah menuju dorm Fairy Girls.


.


.


PLAK


Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus gadis bernama Sakhira Amira itu. Tatapan nyalang dari sang penampar membuat Sakhira sedikit gentar. Tak pernah ia melihat wajah Inari seperti ini. Begitu tajam dan dingin. Tak seperti sosok Inari yang ia kenali.


"Kau benar-benar keterlaluan, Sakhira." Teriak Inari.


"Ada apa ini ? Kau datang lalu marah-marah. Sungguh hebat, Nona" Cibir Sakhira menyembunyikan rasa takutnya.


"Jangan bertingkah polos seperti itu. Kau memuakkan."


"Apa belum puas kau menyakiti Titania ? Bagaimana bisa kau tega menjatuhkan sahabatmu sendiri seperti ini, Sakhira." Ujar Inari dengan mata berkaca-kaca.


Rasanya begitu menyesakkan. Mendapati sahabatnya harus tersakiti karena keegoisan Sakhira yang notabene juga sahabatnya. Kenapa persahabatan mereka rusak karena hadirnya seorang pemuda . Jujur saja ia sangat membenci jika semua hancur hanya karena mencintai pemuda yang sama.


"Aku sungguh tak mengerti apa yang kau katakan, Inari. Apa Tania mengadu padamu lagi ? Cih.. yang benar saja. Kau tertipu wajah polosnya, Inari."


"Jaga mulutmu. Tak sedikit pun kau merasa bersalah ? Kaulah pelaku yang menyebarkan foto itu."


Semua berkat kejeniusan Sang pemuda Zhao. Ray segera melacak akun yang pertama kali mengunggah foto itu. Dan tak butuh waktu lama untuk mengetahuinya.


Sesegera mungkin ia mengabari kawan-kawannya.


"Hatimu sudah mati, Sakhira !. Yang ada dipikiranmu hanya obsesimu saja. Kau benar-benar .... "


"Hentikan, Inari."


"Apa yang kalian pedulikan hanya tentang Titania Scarlet saja ? Tak sedikit pun kalian berpikir bagaimana perasaanku ?" Ujar Sakhira dengan nada tinggi.


"Aku sejak dulu selalu mencintai Gray. Aku sejak dulu selalu disisinya. Tapi apa ??? Gadis munafik itulah yang mendapatkan Gray. Karena kehadirannyalah aku kehilangan Gray. Dialah yang sudah menghancurkan hidupku. Inari, kau tentu tahu seberapa dalam perasaanku untuk Gray?!"


"Aku minta maaf kepadamu, Gio. Aku memanfaatkanmu . Aku tak bisa menghapus Gray bahkan saat kau menghujaniku dengan limpahan cinta. Tapi aku tak akan meminta maaf pada Scarlet sialan itu. Dialah sumber kesedihanku. Dialah yang salah."


Semua yang mendengar luapan emosi Sakhira Amira merasa tercengang. Tak habis pikir dengan apa yang diucapkannya. Cinta benar-benar membuatnya hilang akal.


"Kau gila !." Desis Ray.


"Hei, Ema. Apa kau baik-baik saja melihat Narayyan Zhao memberikan perhatian lebih pada Titania? Apa kau tak takut Narayyan diambil olehnya ? Gadis sok polos itu berbahaya. Kau harus tahu itu." Sakhira menyeringai ke arah Ema yang menatapnya tajam.


"Untuk apa aku cemas. Toh bukan hanya Ray yang memberikan perhatian lebih, aku pun sangat menyayangi Tania. Kau tahu itu, bukan ? Dan menurutku tak mengherankan semua menyayangi Tania mengingat betapa baik dan manisnya dia." Balas Ema dengan santai.


"Mungkin dulu aku dalam keadaan dihipnotis sehingga bisa mencintai wanita sepertimu, Sakhira." Gumam Gio.


"Tenang, Kawan. Ambil hikmahnya saja. Kau tentu mendapatkan kenikmatan dalam hubunganmu dengan Sakhira." Bisik Sai. Gio mendelik melihat senyum palsu kekasih Inari itu.


"Yang keluar dari mulutmu memang sampah semua, Sai." Umpat Gio.


Bersambung