
"Tiara tidak tahu." Ucapan puterinya membuat Pak Rahmad tersenyum merendahkan sedikit. "Tapi, aku yakin akan satu hal."
"Apa itu?"
"Tidak lama lagi, ular betina akan muncul dari kegelapan." Ujarnya yang tak perduli akan tatapan bingung dari ayahnya.
"Maksudmu siapa?"
"Nanti Ayah juga akan tahu sendiri siapa yang aku maksud."
Pria paruh baya itu mendesah pelan, "Ayah harap kau tidak melakukan hal yang aneh-aneh lagi."
"Melakukan hal aneh apa sih? Ayah jangan menuduhku sembarangan." Tiara kesal mendengar ucapan itu.
"Ayah tidak menuduhmu. Itu memang kenyataannya."
*****
Setelah keluar dari kantor kepolisian, Robert datang untuk menjemput Livia. Pria itu langsung memeluk gadisnya yang mendapat tatapan tak suka dari papa Jimmya, papa Hanna dan Jimmy sangat berbeda dengan Bu Jasmine yang tersenyum bahagia melihat pasangan kekasih itu.
Robert melepaskan pelukan dari Livia lalu memberikan salam pada orang lain yang berada disana. Mereka hanya tersenyum kecil lalu satu persatu meninggalkan Livia dan kekasihnya.
Bu Jasmine memeluk gadis itu, "Ibu akan sangat merindukanmu. Kalau ada perlu apa-apa kau bisa meneleponku, oke?"
Livia mengganguk, "Tentu saja." jawabnya tersenyum melihat Bu Jasmine masuk dalam mobil Jimmy lalu pergi.
"Kenapa bisa ada Papa Hanna berada disana?" tanya Robert padanya.
Livia masuk dalam mobil Robert diikuti oleh pria itu, "Dia datang karena ingin sekali menjodohkanku dengan puteranya. Tentu saja aku menolaknya."
Robert merasa lega mendengarnya, "Lalu, keluarga Kurniawan sungguh ingin kau menjadi anak angkat mereka?"
"Kalaupun mereka tidak mau. Aku akan melakukan segala macam cara agar aku bisa menjadi bagian dari keluarga itu."
"Aku mengira kalau kau sangatlah membenci mereka sehingga tak mau lagi bertemu dengan mereka."
"Aku tidak akan melepaskan mereka begitu saja."
Robert tidak menyangka gadis yang dia cintai selama ini tiba-tiba bisa berubah. "Kau mau membalaskan dendam pada mereka?"
"Tentu saja."
Livia terdiam. Pria itu tidak tahu seberapa beratnya perjalanan yang harus dia lalui dari kecil hingga sekarang.
Yang pria itu tahu hanyalah kisah perjalanannya dari SMA hingga sekarang. Dia memiliki orang tua lengkap sejak lahir. Robert tidak akan pernah bisa merasakan bagaimana hilangnya kasih sayang orang dari yang mengasihimu dan ternyata justru orang terdekatmu dan mengetahui semua masa kelammu adalah orang terdekat dari pembunuh orang tuamu.
Ini lebih sakit daripada saat kau mengetahui kekasihmu direbut oleh sahabatmu sendiri. Lebih dari itu. Livia yang masih kecil harus melihat orang tuanya meninggal tepat di depan matanya.
Bagaimana bisa seorang anak kecil yang melihat kejadian itu psikologisnya baik-baik saja saat dewasa?
Tidak.
Bayangan itu...
Rasa sakit itu...
Semuanya masih ada.
Sulit bagi Livia untuk memaafkan mereka.
"Aku tidak bisa melepaskan mereka." ujarnya pelan.
"Kau tak perlu membalaskan dendammu. Biarkan nanti mereka akan mendapatkan karmanya sendiri suatu saat nanti."
Livia tersenyum kecil, "Karma? setelah 12 tahun berlalu mereka tidak mendapatkan karma sama sekali. Justru sebuah keberuntungan yang tiada habisnya."
"Orang tuamu akan sedih jika melihatmu seperti ini."
"Mereka juga akan sedih saat melihatku ternyata anak yang tak berguna. Anak yang tidak bisa mengambil kembali hal yang seharusnya memang menjadi milikku selama ini."
"Jadi, semua ini demi harta? Livia, harta itu tidak bisa kau bawa ke akhirat."
"Bisakah kau berhenti membicarakan hal ini?"
"Karena aku kekasihmu. Aku tidak mau kau jadi seperti ini Livia."
"Kau malu mempunyai kekasih sepertiku?"
"Bukan seperti itu Livia. Aku tidak perduli bagaimana fisikmu sekalipun. Aku mohon, jangan membalaskan dendammu pada mereka. Biarkan Tuhan yang membalasnya Livia."
-To Be Continue-