Our Love

Our Love
Part 19



"Maka saya akan tetap disini berteriak minta tanggung jawab sampai anda mau menganti rugi atas apa yang anda perbuat pada saya."


"Terserah. Seluruh karyawan sini tahu kok kejadian sebenarnya bagaimana. Ya.. kalau Ibu Tiara yang 'terhomat' tidak merasa malu ya tak apa silakan. Hitung-hitung jadi security disini pun tak apa. Tenang saja. Kalau ibu mau jadi security disini akan saya gaji kok." Yeni menepuk pundak Tiara, "Semangat" ia pergi dari tempat itu.


Robert membawa Livia pergi sementara kakak Yeni melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum, "Ada-ada saja." Ia menatap resepsionis, "Lain kali, kau dia datang cueki saja ya. Nanti Bu Yeni bisa mengamuk loh. Biarkan saja wanita ini disini sepuasnya. Hitung-hitung jaga meja kalian." ia pergi. Resepsionis itu hanya tersenyum.


"Yen, kayaknya aku mau ke kampus kerjain laporan OJT dan skripsi."


"Oke. Robert yang menemani kau 'kan ?"


"Iya Ibu Yeni. Selama seminggu depan aku akan jadi bodyguardnya."


"Bagus lah, aku jadi sedikit tenang. Hati-hati ya."


"Makasih ya uda temani aku kemana-mana." Ujar Livia saat di mobil Robert.


"Santai saja. Lagi pula aku senang kok menjaga kau juga. Orang tuaku kangen padamu. Kapan-kapan kau harus main ke rumah."


Livia tersenyum, "Pasti."


Di ruangan Yeni....


"Yen... ada dokumen yang harus ditanda tangan." Ai Chan masuk ke ruangan Yeni tanpa diketok terlebih dahulu. Sudah biasa. "Eh Yen, si nenek sihir itu apa tidak sebaiknya kau usir saja.Tidak enak dilihat kalau ada client yang datang."


"Pusing aku urusin dia. Kalau kau ada ide untuk usir ya usir saja." Yeni mengembalikan dokumen yang sudah di tanda tangani.


"Males banget Yen, pikirkan caranya agar dia pergi dari sini tanpa harus merusak nama perusahaan ini. Oh iya, Livia mana ?"


"Ke perpus kampus ama Robert kerjain laporan OJT dan skripsi."


Ai Chan ber-oh ria, "Yen, bagaimana kalau kita sayembara saja. kalau ada karyawan kita yang bisa membuatnya pergi dari sini tanpa harus mencorengkan nama kantor ini, kau kasih 100 rb per orang. Mau tak ?"


"Ya. Maksimal yang usir 5 orang dan videoin cara ngusirnya bagaimana lalu suruh mereka ke ruanganku."


"Sipp lah. Aku sebarkan ke seluruh email karyawan nanti."


"Ai, aku tak mau ya kalau ada keributan di lobby."


"Iya Yen." Ai Chan pergi menuju ruangannya lalu mengirimkan email tersebut ke semua karyawan termasuk ke ponsel para OB/OG dan security. Semua karyawan berbondong-bondong melakukan kesalahan demi kesalahan pada Tiara. Beberapa Office Boy mulai sengaja pura-pura menumpahkan sampah kepadanya, Security tak sengaja mendorong kursi rodanya sampai jatuh, resepsionis yang tak henti-hentinya menyuruh wanita itu minggir karena menghalangi tamu, dan sebagainya.


Sampai jam makan siang pun tidak ada karyawan yang berhasil, mereka saling berdiskusi hingga begitu Tiara masuk untuk makan siang membuat semua karyawan berhenti membicarakannya. "Sepertinya belum ada yang berhasil mengusirnya." Ujar Ai Chan.


"Kalian bertiga tidak ada yang mencobanya?" Ujar karyawan lain yang satu meja dengan Ai, Nia dan Hanna.


"Males memikirkan cara untuk mengusirnya lebih baik kerja dan pikirin laporan OJT dan skripsi." Jawab Nia.


"Kasihan sekali yang jadi pelayannya." Ujar Ai.


"Dia juga mana bisa makan siang disini. Kan harus ada kartu karyawan untuk memesan makanan." Ujar Hanna yang sibuk bermain hp.


"Maaf nona, disini harus menggunakan kartu karyawan untuk bisa makan." Ucapan pelayan pribadinya membuat Tiara terdiam.


"Apakah sekitar sini ada tempat makanan ?"


"Saya kurang tahu nona."


"Kamu itu bagaimana sih ? Apa-apa tidak tahu?"


"Maafkan saya."


"Sekarang bawa saya keluar untuk cari makanan."


"Tapi nona, sudah seharian ini saya lapar dan berdiri terus-terusan. Bisakah kita beristirahat sebentar ?" Baru bekerja selama sebulan di apartemen Tiara membuatnya sedikit tidak betah namun ia tidak bisa keluar begitu saja. Ia baru datang dari kampung dan cari pekerjaan di kota seperti ini susah sekali.


"Ah sudahlah, saya bisa pergi sendiri. Dasar pelayan tak berguna. Kamu saya pecat dan ini gaji kamu." Tiara melemparkan sejumlah uang kepadanya lalu pergi.


Beberapa karyawan disana ikut menonton "Sungguh wanita jahat." Ujar Nia yang melanjutkan makan siangnya. Beberapa karyawan wanita merasa kasihan mendatangi pelayan tersebut, "Kau tidak apa-apa?"


"Tidak.. saya tidak apa-apa." Pelayan itu mengusap air matanya.


"Kamu lapar kan ? Kalau mau cari makan di daerah sini harus jalan kaki selama 10 menit. Ayo kamu masuk ke dalam nanti kita yang bayari kamu makan ya.." Ucap salah seorang karyawan wanita.


"Terima kasih. Tapi, apa tidak apa-apa kalau ada orang lain masuk ke dalam ?"


"Tidak apa-apa santai saja." Mereka membayar makanan dan mengantri untuk mengambilnya.


"Oh iya, kenalkan saya Luna. Ini Maya dan Angel. Siapa nama kamu ?"


"Sandra, mba."


"Kenapa wanita itu meningggalkanmu sendirian ?" Tanya Maya.


"Saya dipecat mba. Padahal baru sebulan saya berkerja disana."


Angel hanya menggelengkan kepala, "Kamu tinggal dimana?"


"Kost-kostan dekat sini."


"Kamu mau bekerja sini sebagai Office Girl ? Kebetulan saya kepala HRD disini. Kalau kau mau, saya bisa ajukan ke Ibu Yeni." Ujar Luna yang duduk di samping Sandra. "Kamu tenang saja di kantor ini bersifat kekeluargaan kok. Sudah ada banyak karyawan lama yang keluar namun masuk lagi, kau juga bisa lihat dari kantin sini saja semua posisi bercampur jadi satu, dari yang executive hingga security boleh makan disini. Yang pemisah hanyalah disini ruangan bebas rokok dan di ujung sana ruangan untuk merokok."


"Saya mau mba..Terima kasih atas tawarannya." Sandra tersenyum. Ia merasa beruntung dengan orang-orang baik seperti mereka. Ia berjanji akan setia pada perusahaan ini.


Seusai jam makan siang, Sandra disuruh duduk oleh Luna di lobby sambil menunggu beliau mengajukan permohonan karyawan baru ke atasannya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk."


"Permisi Bu, saya ingin mengajukan permohonan untuk penerimaan karyawan baru ?"


"Tumben mendadak sekali."


Luna menceritakan apa yang terjadi di depan kantin, "Jadi begitulah bu. Ceritanya."


Luna tersenyum, "Baik bu. Terima kasih."


"Oh ya, bagaimana dengan wanita gila yang menjadi majikannya tadi, masih ada di Lobby?"


"Untuk sekarang sih belum keliatan bu."


Yeni melihat ke 2 komputer yang menampilkan CCTV seluruh lantai gedung ini. "Dia baru saja datang. Belum ada kah yang berhasil membuatnya pergi ?"


"Saya dengar sudah ada beberapa karyawan yang mencoba namun, tetap tidak berhasil."


"Kau punya grup chat untuk semua karyawan di gedung ini kan ?"


"P..punya bu."


"Bilang ke mereka saya kalau itu tidak berlaku lagi karena tidak ada yang berhasil juga. Suruh mereka semua abaikan saja dia. Dan tolong suruh bodyguard saya yang berada di luar untuk masuk. Terima kasih."


"Baik bu, permisi." Begitu Luna keluar bodyguard Yeni masuk, "Ada yang bisa saya bantu ?"


"Kemari sebentar." Bodyguard itu berdiri di sampjng Yeni yang zoom wajah pelayan Tiara. "Coba kau cari latar belakang nya atau semua tentangnya. Setelah itu laporkan ke saya."


"Baik."


Di Lobby...


"Kamu ? kenapa kamu masih ada disini ? Kamu kan sudah saya pecat ?" Tiara menatap tak suka, "Kalau kau memohon agar saya memperkerjakan mu lagi. Maaf tidak bisa."


Belum sempat Sandra menjawab, Luna memangilnya, "Bu Yeni menyetujuinya. Kamu bisa kirimkan CV kamu ke email saya ?"


"Bisa bu."


"Oh iya, ini rahasia ya. Jangan sampai wanita itu mengetahuinya."


"Baik bu. Terima kasih." Sandra yang tersenyum langsung pergi meninggalkan Tiara yang tak perduli.


Seorang pengemudi ojek online masuk ke lobby sambil mengantarkan 3 plastik berisi minuman. "Pesanan atas nama Ibu Hanna."


"Apakah Bu Hanna sudah membayar ?"


"Belum."


"Oke tunggu sebentar ya.." Resepsionis dengan name tag Fara menelepon , "Bu Hanna minuman pesanan ibu sudah datang. Oke. Baik bu." Ia menutup teleponnya, "Sebentar ya Bu Hanna akan segera kesini."


"Mba.. wanita di kursi roda itu siapa ?" Tanya pengemudi ojek online. Kedua resepsionis itu saling memandang mereka bingung harus menjawab apa.


"Dia? Dia sedang sedih pak. Menunggu suaminya yang mau tinggalin dia." Ujar Hanna yang tiba-tiba datang. "Ini pesanan saya ya pak. Oh iya, ini ada tip untuk bapak."


"Makasih mba Hanna. Kalau boleh tahu, memangnya wanita itu salah apa ?"


Hanna berbisik, "Dia kepergok tidur dengan laki-laki lain demi uang. Begitu ketahuan dia tak mau diceraikan dan seperti itu lah dia."


Pengemudi ojek online itu menggelengkan kepala, "Kalau begitu saya permisi."


"Makasih ya Pak." Teriak Hanna yang membuat Tiara menatapnya.


"Hei kau.." Hanna menatapnya bingung. "Iya kau. Kau adalah salah satu teman Livia kan ?"


Hanna mengabaikannya dan memangiil office boy yang tengah lewat, "Mas, kesini sebentar." ia mengambil minuman kesukaannya, Ice Americano. "Tolong antarkan ini ke Ibu Nia ya di lantai 8. Makasih." Hanna tersenyum padanya.


"Baik bu." Office boy itu pergi.


"Oh iya, tadi kau bertanya apa ?" Hanna berbalik menatap Tiara.


"Kau sengaja mengabaikanku ?"


"Mengabaikan bagaimana ya ?"


"Tadi aku sedang berbicara padamu. Dan kau mengabaikannya."


"Haduh, semua orang disini sangat sibuk termasuk saya."


Tiara menatap kesal, "Kau adalah teman Livia kan ?"


Hanna menjawabnya mengganguk sambil minum, "Ya, kenapa ?"


"Bisakah kau menyuruh dia berhenti untuk..." Ucapan Tiara lagi-lagi terhenti karena ada karyawan yang datang meminta tanda tangan Hanna.


"Makasih bu." karyawan itu pergi.


"Bisa kau ulangi lagi ?" Hanna menatap Tiara.


"Bisakah kau menyuruh Livia untuk berhenti menggangu Jimmy, kekasihku ? Terlebih lagi pasti gara-gara Livia kan yang membuat Jimmy mengeluarkan pemberitaan kalau mereka berpacaran ?" Perkataan Tiara membuat beberapa karyawan disana berhenti melakukan pekerjaan mereka untuk menonton dan mendengarkan percakapaan tersebut.


"Pacarmu sendiri yang memberitakannya, Livia tak pernah mengatakan apapun padanya. Gini deh, kau itu ada dendam apa sih pada Livia ? Dia tak pernah berbuat jahat padamu. Masalah pacarmu itu, kau seharusnya tanya padanya kenapa begitu terobsesi pada Via."


Tiara berdecak kesal, "Gadis itu pasti memakai tubuhnya, Yeni Kusuma juga sama, Kau dan semua karyawan wanita disini pasti memakai tubuh kalian sama seperti pimpinan kalian hanya untuk mengaet pria-pria kaya."


Beberapa karyawan wanita yang berada disana tak terima beberapa ada yang langsung melaporkan ke teman yang lain dan beberapa ada yang langsung melabraknya. "Kalau bicara dijaga ya." Ucap seorang office girl. "Saya percaya tidak ada karyawan wanita yang seperti itu."


Resepsionis tertawa merendahkan, "Tidak heran jika CEO Sapphire Blue Corp tidak mau dengan wanita sepertimu."


Hanna ber hi five ria dengan resepsionis itu, "Aku serahkan semua amukan karyawan wanita sini padamu ya. Ingat jangan sampai ada keributan besar ya. Nanti Bu Yeni mengamuk."


"Baik Bu. Saya juga tidak terima jikalau dia mengatakan seluruh karyawan wanita sini menjual tubuhnya pada pria-pria kaya."


"Labrak aja dia tak apa." Hanna berlalu meninggalkan beberapa karyawan wanita bahkan ada yang langsung turun dari lantai atas ke lobby untuk ikut melabraknya.


Mulutmu adalah harimaumu.


-To Be Continue-