Our Love

Our Love
Part 32



Jimmy mengkerut memandang ponselnya, "Dia sedang datang bulan ya ? Galak sekali."


Teman-teman Yeni berdiri, "Kita kembali kerja dulu ya." Ujar Ai Chan yang mengajak mereka pergi. Karena mood atasannya sungguh sangat buruk, dari pada mereka kena imbasnya seperti Jimmy tadi lebih baik pergi.


******


"Kau sudah bangun ?" Robert memandang Livia yang terbangun di mobilnya.


"Sudah sampai di kost-an ya ?"


"Iya sudah. Kau yakin tak mau ke Rumah Sakit saja ?"


Livia tersenyum, "Tidak. Aku istirahat saja di kost-an. Makasih sudah merawatku tadi di kantor dan maaf memintamu untuk mengantarku pulang." Ia membuka pintu mobil.


"Oh iya, tadi aku belikan bubur untukmu."


"Terima kasih."


"Kalau ada apa-apa telepon ya." Livia mengganguk tersenyum melihat Robert pergi.


Ponsel gadis itu berdering, "Kenapa Yen ?"


'Kau sekarang ada di mana ?'


Livia membuka pintu kamarnya, "Baru sampai di kost-an. Robert habis mengantarku tadi. Kayaknya nanti malam aku tidak ikut kelas deh. Mau di kost-an aja istirahat."


'Atasan gilamu meneleponku terus dari tadi.'


"Oh ya ? Dia tidak meneleponku sih."


'Mau aku pesankan makanan ?'


"Tidak usah. Robert sudah membelikan ku bubur tadi."


'Ntar malam aku ama anak-anak juga tak ke kelas sih. Kita mau ke Bandung dan hari minggu baru pulang. Mau ikut?'


"Jam berapa ?"


'6 Sore kita berangkat kumpul di kost-an kalian. Tapi, kalau kau masih sakit ya jangan ikut.'


"Boleh aku ajak Robert ? Mau ikut sih tapi, kalau dia tahu aku ke Bandung dalam keadaan begini pasti akan marah-marah."


"Oke. Ajak aja dia. Sudah dulu ya. Masih banyak kerjaan nih. Bye.' Yeni memutuskan teleponnya.


Livia langsung menelepon Robert, "Kau sedang sibuk ?"


'Tidak. Kenapa ?'


"Ntar jam 6 sore Yeni mau ke Bandung ama anak-anak yang lain. Aku mau ikut."


'Livia kau sedang sakit.'


"Ya iya, aku menelepon untuk bertanya kau mau ikut atau tidak ke Bandung ntar malam paling minggu baru balik."


'Aku ikut. Sudah sana istirahat.'


"Iya pak dokter." Livia mematikan ponselnya dan segera berganti baju untuk istirahat.


*******


Tiara yang awalnya pergi dari kantor Yeni pada akhirnya kembali lagi setelah ia berganti baju. "Saya mau bertemu dengan Yeni Kusuma." ujarnya menatap resepsionis.


"Ibu sudah buat janji ?"


"Belum."


"Maaf, ibu tidak bisa menemui Ibu Yeni tanpa membuat janji terlebih dahulu."


"Haduh, kau telepon dan katakan padanya Tiara calon kakak iparnya mau bertemu."


"Kau kembali lagi kesini ?" Ujar Hanna menuju mesin absen.


Tiara menatapnya dari atas ke bawah, "Kau sudah pulang jam segini ?"


"Kerjaanku sudah selesai."


Narul menatap Tiara, "Siapa dia, Na?"


"Wanita ga penting. Ayuk, pulang ntar malam kita harus ke Bandung." Hanna pergi bersama Narulita.


Ponsel Tiara berbunyi, "Hallo."


'Kau bilang akan menghancurkan hubungan Livia dan Robert. Bagaimana perkembangannya sekarang ?'


"Aku belum memikirkannya Jimmy. Aku sibuk menarik hati adik Raka. Oh iya, tadi aku tak sengaja mendengar kalau Yeni dan teman-temannya mau ke Bandung nanti malam. Aku tak tahu apakah Livia akan kesana atau tidak dan entah mereka akan menginap dimana."


'Kenapa kau tak pancing saja untuk tahu soal itu ?'


"Mereka akan curiga nanti."


Jimmy mendesah pelan, "Baiklah. Terima kasih atas informasinya." Ia mematikan panggilan secara sepihak.


*******


"Via, anak-anak sudah tunggu di depan kost-an." Nia membuka pintu kamar sahabatnya.


Livia tersenyum menghampiri sambil menarik koper, "Iya Ni. Sudah siap kok. Ayo pergi."


Mereka turun menghampiri para sahabatnya juga Robert yang sudah berada disana. "Yeni, apakah muat mobilmu untuk taruh koper ?" Tanya Nia.


"Siapa bilang kopernya taruh di mobilku. Taruh lah di mobil Robert."


Robert menatap Yeni, "Kau kira mobilku ini tempat penitipan ?"


"Tidak ada ruang lagi di mobilku."


Robert berdecak kesal, "Oke. Asalkan Livia naik ke mobilku."


"Iya aku ikut mobil Robert saja." Ujar Livia.


"Ya sudah."


"Bodyguard kau harus banget ikut ?" Bisik Hanna.


"Ya. Aku bawa supir juga kok. Ayo taruh koper kalian semua di mobil Robert." Semua orang menurutinya termasuk koper supir dan bodyguard Yeni.


Robert melipat kedua tangannya di dada, "Kau harus membayar karena mobilku bukan tempat penitipan koper."


"Iya nanti aku transfer ya. Ayo pergi. Oh iya, kau ikuti saja mobilku." Ujarnya pada Robert lalu masuk dalam mobil.


"Sudahlah Robert, ayo kita juga masuk dalam mobil."


"Bagaimana keadaanmu ?" Tanyanya begitu mereka masuk dalam mobil.


"Sudah mendingan kok."


"Kau masih belum bisa menerimaku ?"


"Belum. Maaf."


Robert mendesah pelan, "Aku harus berusaha lebih giat untuk membuatmu jatuh cinta lagi padaku. Ya setidaknya kau masih memberikanku kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku bersungguh-sungguh." Livia tersenyum.


Di mobil Yeni....


"Pak.. nanti mampir ke tempat peristirahatan ya."


"Baik non."


"Ngapain ke sana ?" Ai Chan menatap Yeni.


"Lapar mau makan malam sekalian." Ponsel Yeni berdering, "Ya Liv. Ada apa ?"


'Aku rasa ada mobil yang dari tadi mengikuti kita.'


"Kau tahu siapa ?"


'Errr.. Jimmy dan Tiara.'


"Mereka lagi ? Tahu dari mana mereka."


'Mana aku tahu.'


"Biarkan saja. Makasih atas infonya." Yeni mematikan panggilan telepon secara sepihak. "Jimmy dan Tiara mengikuti kita."


"Mana aku tahu. Ni, ada kakakku nanti di Villa. Kau harus berpura-pura pacaran di depan Tiara nanti."


"Harus banget ? Kita kan mau liburan bukannya drama begini."


"Kalau mereka tak mengikuti kita, aku juga ogah menyuruhmu untuk drama begini. Heran, mereka kok bisa tahu ya."


Narul menatap Hanna, "Apa Tiara mendengar kalau kita berbicara ke Bandung tadi siang ?"


"Apa ?" Yeni menatap mereka.


"Iya Yen. Tadi siang Tiara kembali lagi saat aku mau pulang ama Narul dan ya.. sepertinya dia mendengar pembicaraan kita dan mengaduh ke Jimmy." Jelas Hanna.


"Nona kita sudah sampai di tempat peristirahatan." Ujar supir Yeni. Mereka semua turun untuk makan malam.


"Sepertinya mereka sudah tidak mengikuti kita lagi." ujar Livia.


"Baguslah." Yeni masuk dalam food court.


*******


"Akhirnya tiba juga di Villa." Yeni keluar memandang villa milik keluarganya. "Mobil siapa itu ?" Ia menghampiri sebuah mobil sport hitam terpakir di depan villanya.


"Mobil kakakmu mungkin." Ujar Hanna yang mengambil kopernya.


"Bukan mobil kak Raka."


"Mobil Jimmy." Jawab Livia membuat Yeni segera masuk ke dalam villa.


"Kenapa kalian bisa berada disini ?" Yeni menatap Jimmy dan Tiara bersama dengan Raka.


"Lepaskan tanganmu darinya." Nia menghampiri Tiara yang terus memegang tangan Jimmy. Sudah saatnya ia berdrama.


Raka yang tahu bahwa Nia sedang akting pun ikutan, "Sayang, maaf ya. Dia terus-menerus menempel padaku dan tak mau lepas." Ia memegang pipi Nia.


"Saya ada urusan bisnis dengan kakak anda. Yeni." Jawab Jimmy berjalan mengarah ke Livia. "Kau seharusnya tidak usah kesini. Masih sakit ?"


Disaat pria itu mau menyentuh kening Livia langsung ditangkis oleh Robert, "Dia sudah mendingan. Ada saya sebagai dokternya."


Yeni berdecak kesal melihat 2 orang di depannya lalu ia berbalik memandang teman-temannya, "Kalian tidur di kamarku saja. Sudah ada 4 kasur disana. Robert dan Jimmy berada di 1 kamar yang sama dan kau wanita gila tidur di ruang tamu."


"Kenapa kami harus di kamar yang sama ? Ayolah di villamu ini ada banyak kamar." Protes Jimmy.


"Kau cuma tamu disini. Jangan banyak perintah. Kalau kau tidak suka silakan pergi dan cari hotel diluar." Yeni pun pergi bersama teman-temannya


Jimmy memandang Raka meminta pertolongan, "Dia nyonya kecil yang berkuasa disini. Lagi pula aku juga setuju akan hal itu. Mari. Aku tunjukkan kamar kalian."


Tiara menggandeng tangan Raka, "Sayang. Kenapa aku tidak tidur saja di kamarmu ?"


"Maaf ya. Aku tidak mau pacarku marah." Raka menjauhkan tangan Tiara.


"Kenapa sih kau memilih gadis biasa dibandingkan denganku ? Apa hebatnya dia ?"


"Karena dia tidak gila harta sepertimu. Oke. Aku pergi ya. Selamat beristirahat." Raka pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Aku juga mau istirahat." Robert masuk dalam kamar.


Tiara berbalik memandang Jimmy, "Kau bilang mau membantuku mendekati Raka, gimana sih ?"


"Kau juga bilang mau menghancurkan hubungan Robert dan Livia juga tidak bisa. Ah.. sudahlah aku lelah." Jimmy masuk dalam kamar.


*******


Livia terbangun pukul 5.30 pagi, setelah selesai mandi ia turun ke dapur membuat susu cokelat hangat dan terduduk di bangku dekat kolam ikan yang terletak di halaman belakang Villa tersebut. "Udaranya sejuk sekali."


"Aku tak menyangka kau akan bangun sepagi ini."


"Pagi Kak Raka." Livia tersenyum.


Raka tersenyum membalas sembari duduk disampingnya, "Dua pria itu. Jimmy dan Robert mereka sangat menyukaimu terlihat sekali bagaimana cara mereka memandangmu."


"Aku tahu."


"Kau belum memilih diantara salah satu diantara mereka ?"


Livia memandang Raka, "Kakak sendiri belum memilih diantara Nia atau Tiara untuk jadi pendamping kakak ?"


Raka tersenyum, "Tentu saja Nia yang akan aku pilih."


"Hmmh. Terlihat juga dari cara kakak memandangnya."


Raka tertawa kecil, "Kau mengikuti kalimatku. Kenapa kau bisa bangun sepagi ini ?"


"Aku tidak bisa tidur."


"Memikirkan 2 pria itu ?"


"Tidak. Ada hal lain yang aku pikirkan kak. Kalau kakak sendiri ?"


"Aku ? Sudah sejak kecil aku selalu bangun pagi untuk mendapatkan udara yang sangat segar di pagi hari. Kau berbanding terbalik dengan adikku. Dia selalu bangun siang terlebih lagi saat weekend."


"Aku salut padanya di umur segini, dia sudah menjadi wakil CEO bahkan jika kak Raka pergi maka semua pekerjaan kakak di handle oleh Yeni."


"Maka dari itu lah, saya meminta Ai chan, Nia dan Hanna untuk magang di perusahaan kami. Agar Yeni tak terlalu kesepian dan saat ia bosan, ia bisa lari menemui sahabat-sahabatnya."


Livia terdiam memandangi kolam ikan, ia tersenyum sedih, "Pasti menyenangkan punya saudara kandung."


Raka memberikan sesuatu pada Livia, "Mau memberikan mereka makanan ?"


"Mau kak." Livia tersenyum memberikan makanan ikan.


Byurrrrrr


"Tiara !!!" Raka menatap tajam ke arah Tiara yang tengah marah.


"Aku tak suka dia mendekati kamu."


Livia mencoba berdiri, "Apakah kau sudah gila mendorongku jatuh ke kolam ikan ?"


Tiara menatap tajam ke arahnya, "Kau yang gila bukan aku."


Raka menarik Livia keluar dari kolam "Ayo kita masuk ke dalam."


"Rakaa !!!!" Teriak Tiara mengikuti mereka dari belakang. "Lepaskan tanganmu darinya."


"Pelayan !!! Pelayan !!!" Teriak Raka membuat penghuni seisi villa terbangun.


"Aduh kak.. Kenapa berteriak di pagi buta begini ?" Yeni dan teman-temannya keluar dari kamar dalam keadaan setengah sadar begitu pun Jimmy dan Robert.


"Ya. Tuan muda ada apa ?" Seorang pelayan wanita paruh baya datang menghampirinya.


"Bawa Livia ke kamarnya."


"Baik tuan."


"Ya ampun Livia. Kenapa dia kak ?" Nia menghampiri Livia yang basah kuyup.


"Kau tidak apa-apa ?" Jimmy menghampirinya juga.


"Dia mendorong Livia ke kolam ikan." Raka memandang sinis ke Tiara.


Robert memberikan Livia handuk kering, "Ayo aku antar ke kamar." Ia pergi bersama Livia meninggalkan semua orang di ruang keluarga.


"Dia menggoda Raka." bela Tiara.


"Menggoda ? Kami hanya berbincang kecil disana dan kau bilang dia menggodaku ? Dasar wanita gila." Ia pergi.


Jimmy menarik tangan Tiara "Ikut aku."


"Lepaskan !!!"


Jimmy menarik Tiara ke halaman belakang, "Aku beri peringatan pertama padamu. Jangan pernah kau sentuh Livia apalagi membuatnya celaka. Kalau kau ulangi lagi maka akan aku buat kau tidak ada di dunia ini lagi."


"Kenapa kau begitu melindunginya ? Oh, kau menyukainya ?"


"Itu bukan urusanmu." Jimmy pergi meninggalkan Tiara sendirian.


Wanita itu mengepalkan kedua tangannya, "Semua ini karena Livia dan teman-temannya. Lihat saja. Aku akan membalas kalian semua !!"


-To Be Continue-