
"Baiklah kalau begitu kita mulai sekarang dengan atau tanpa hadirnya Bapak David Kurniawan." Ujar Pengacara itu yang mulai membuka beberapa berkas yang ada diatas meja.
Tak lama, sekertaris pengacara itu masuk kedalam ruangan dan mengatakan, "Maaf pak, saya baru mendapatkan kabar jika Bapak David Kurniawan (Papa Jimmy) ditangkap polisi akibat tersandung kasus narkoba." Semua orang kaget tidak mempercayai apa yang baru saja mereka dengar. Robert menatap ke arah Tiara yang tersenyum puas mendengarnya.
Bagaimana bisa ?
Mungkinkah ini rencana Tiara ?
Cepat sekali wanita itu melakukannya.
Dilihat dari senyumannya memang benar sepertinya.
Sungguh wanita yang menakutkan.
Apa lagi yang wanita itu rencanakan ?
****
Livia berada di ruangan Jimmy sendirian, sungguh membosankan. Dia harus segera mengerjakan pekerjaannya hingga selesai. Begitu gadis itu tiba di kantor sudah banyak wartawan datang menghampiri. Entahlah, Livia merasa bersikap biasa saja ketika mendengar papa Jimmy (Pak David) ditangkap oleh polisi karena kasus narkoba. Gadis itu sudah terlalu pusing akan apa yang harus dia lakukan. "Sepertinya akan asyik jika aku menyebarkan suatu informasi. Aku harus mencaritahu sesuatu di kantor ini. Pasti ada yang dirahasiakannya." Ucapnya. Livia segera berlari ke seluruh ruangan untuk mencari dokumen-dokumen penting.
Ayolah pasti ada hal-hal penting di ruangan ini.
Duh, mereka sembunyikan dimana sih.
Susah banget nyarinya.
Namun nihil.
Gadis itu terduduk diatas karpet dekat meja Jimmy lalu berkata, "Apa mereka menyembunyikannya di rumah ?" Livia merasa ada yang ganjal dengan karpet yang dia duduki. Tidak rata seperti yang lainnya. Ia berbalik dan membuka karpet itu untuk mengetahui apa dibalik karpet itu. Dan yang benar saja ada sebuah pintu kecil, begitu dibuka ada sebuah tangga yang menuju entah kemana. "Apa ini ?" Gumamnya. Karena penasaran Livia turun kebawah sambil menutup kembali karpet itu. Ia dibawa ke suatu tempat yang sangat kecil dan didalamnya hanya terdapat lampu dan brankas besar. Begitu pengap. Sama sekali tidak ada saluran udara.
Brankas tersebut dikunci dengan gembok angka dan berkata, "Sejak kapan om David memiliki brankas di ruangan ini ?" Segala macam angka telah Livia coba untuk membuka gembok tersebut, mulai dari ulang tahun om David (Papa Jimmy), berserta anak-anaknya. Namun, tidak ada satupun yang berhasil. "Angka apa yang mereka buat ?" Tanyanya berbicara sendiri. Livia berdiri membuka ponselnya untuk mencari tahu website Sapphire Blue Corp. Segala tanggal yang tertera di website tersebut dicobanya setelah berpuluh kali mencoba akhirnya gadis itu berhasil dengan memasukkan tanggal dimana perusahaan ini berganti nama.
Sungguh tak bisa dipercaya.
Mereka menggunakan tanggal tersebut.
Begitu dibuka hanya terdapat sebuah berkas didalam amplop cokelat. Dengan segera Livia menutup kembali dan mengacak-ngacak gembok angka tersebut, lalu keluar dari tempat itu dan menyembunyikan berkas-berkas itu dalam tasnya. Gadis itu tahu bahwa ada CCTV mengawasi dalam ruangan itu. ia tak perduli. Seakan bersikap biasa saja, Livia kembali fokus berkerja. Bu Jasmine masuk ke ruangan lalu bertanya, "Livia, apakah kerjaanmu sudah selesai ?"
"Dikit lagi bu. Memangnya ada apa ya ?" Tanya Livia dengan sopan.
"Gini, saya dipanggil untuk datang ke rumah Pak Jimmy. Bagaimana jika kau pulang lebih cepat saja ? Pak Jimmy sudah menginfokan akan hal tersebut." Jelas Bu Jasmine pada gadis itu.
"B..baik bu. Sebentar saya berberes dulu." Ujar Livia yang mulai merapikan pekerjaannya yang ada diatas meja.
"Ibu tunggu di depan ya. Soalnya ibu mau mengunci pintu ruangan ini." Ujar Bu Jasmine padanya.
"Baik." Kata Livia. Setelah berberes dan mengunci pintu, mereka turun ke Lobby yang dimana sudah ada banyak sekali wartawan disana untuk menanyakan akan kabar tertangkapnya pimpinan mereka. Bu Jasmine mau tak mau membisikkan sesuatu pada PR (Public Relation) agar mereka akan memberikan pernyataan saat press-con nanti. "Livia, kau sudah tiba disini ?" Tanya Robert kebetulan baru saja masuk ke kantor setelah menamani Tiara di kantor pengacara keluarga Wijaya.
"Kau dari mana ?" Tanya Livia.
"Ada urusan sebentar. Kau sendiri ?" Tanya Robert balik.
"Bu Jasmine harus ke rumah Jimmy. Jadi, aku pulang lebih awal." Jawab Livia.
"Mau aku antar ?" Tawar Robert.
"Nanti malam aku akan datang mengunjungimu di kost-an." Ucap Robert yang mengacak rambut Livia. "Hati-hati."
"Iya. Kalau begitu aku pamit dulu ya." Ujar Livia lalu pergi.
"Kalau sudah tiba di kost, kabari aku." Teriak Robert.
"Ya." Jawab Livia yang ikut berteriak kemudian berlalu dari hadapannya.
*****
Jimmy tiba di kantor polisi bersamaan dengan ibu dan adik perempuannya juga Ibu Jasmine yang baru saja tiba. Mereka berada di satu ruangan yang dikawal oleh seorang polisi. "Bagaimana bisa papa terkena kasus narkoba seperti ini ?" Tanyanya yang masih tak bisa mempercayai kabar yang baru saja di ketahuinya.
Papa Jimmy (Pak David) mengacak rambutnya lalu berkat, "Papa tidak tahu. Kalian tahu sendiri kalau papa sama sekali tidak pernah mengonsumsi narkoba. Tadi papa hanya beli minuman dari seorang anak kecil dan ada pria yang dikejar-kejar polisi dia melemparkan sesuatu kedalam mobil papa. Polisi tiba dan memeriksa bahwa plastik yang dilempar oleh pria itu adalah narkoba. Papa dibawa ke kantor polisi lalu menjalani tes urin dan hasilnya positif. Anehnya papa bingung, papa tidak mengonsumsi narkoba sama sekali tapi bagaimana bisa hasilnya positif." Jelasnya panjang lebar.
Jimmy mengacak rambutnya, "Papa tidak berbohong kan pada kami ?" Tanyanya.
"Tapi, mungkin saja kak. Bisa saja ada orang yang tidak suka pada kakak lalu menjebak papa seperti ini." Ujar adik Jimmy, Tasya.
"Siapa ?" Jimmy balik bertanya. "Siapa yang membeci papa dan membuatnya hancur ? Lagipula, apa untungnya ?" Mereka terdiam. Beberapa detik kemudian Papa Jimmy dan Jimmy saling menatap, "Tiara."
Jimmy mengganguk lalu berkata, "Ya. Hanya dia yang sangat membenci keluarga kita. Tapi, apa untungnya ?"
"Kau tak tahu ? Hari ini pengacara keluarga Wijaya memanggil papa, teman-teman papa juga Tiara. Untuk membahas mengenai hasil wasiat keluarga Wijaya juga akan kebenaran apakah Tiara pewaris asli atau tidak. Teman-teman papa hanya tahu Livia ahli waris sesungguhnya namun mereka tidak punya, hanya papa yang tahu dan punya buktinya. Mungkin saja dia merasa terancam dan membuat papa seperti ini. Dasar wanita ular." Jelas papa Jimmy (Pak David) panjang lebar.
Jimmy memukul meja berkata, "Aku akan membuat perhitungan dengannya. Tapi, sebelum itu aku harus mencari bukti bahwa dia lah pelakunya."
"Tapi, ada satu hal yang buat papa bingung." Ujar papanya.
"Apa pa ?" Tanya Jimmy.
"Ada Robert disana menemani Tiara." Ujar papa Jimmy (Pak David) yang membuat Jimmy sangat terkejut akan apa yang didengarnya.
Robert ?
Berada disana dengan Tiara ?
Apa hubungan mereka ?
*******
Setibanya Livia di kost-an, gadis itu langsung mengunci pintu dan membuka semua berkas-berkas yang baru saja dia temukan. Betapa mengejutkannya dia saat mengetahu isi dari berkas tersebut adalah dokumen-dokumen berisi pergantian nama dari Perusahaan papanya ke perusahaan Jimmy. "i...ini tidak mungkin." Livia terduduk lemas menatap dokumen yang tergeletak diatas lantai. "Ja..jadi selama ini, Sapphire Blue Corp adalah... perusahaan papa ? tapi, kenapa ? Kenapa mereka menyembunyikannya selama ini ?"
Tidak mungkin.
Ba..bagaimana bisa ?
Tapi, memang begitulah kenyataannya.
Seketika Livia teringat akan perkataan Tiara yang menyuruhnya untuk tidak mempercayai akan perkataan orang-orang terdekatnya. "Aku harus menemuinya sekarang." Livia menelepon Tiara, "Kau ada dimana ? Ada yang ingin aku bicarakan." Tiara menyebutkan alamatnya. Dengan segera Livia mengambil berkas itu ke tempat fotocopy, begitu selesai ia mampir ke Bank untuk menyimpan semua dokumen-dokumen tersebut ke tempat yang aman. Pihak Bank tidak akan mungkin membiarkan seorangpun bisa mengambilnya kecuali Livia sendiri. Begitu selesai, gadis itu langsung pergi ke apartement Tiara.
~To Be Continue~