
"Papa... apa yang akan papa lakukan ? Pa... "
Yeni memijat keningnya.
Semua ini karena uang.
Uang benar-benar merubah sifat manusia menjadi buruk.
Apa yang harus dia lakukan sekarang ?
*****
Livia telah tiba di depan rumah Robert, "Kau tidak mau turun ?" Pria itu menatapnya bingung. Sudah beberapa menit mereka berada di dalam mobil.
"Aku hanya gugup saja." Ujar Livia.
Robert memegang tangan Livia, "Mereka kan sudah mengenalmu sejak SMA. Aku rasa kalau mereka tahu kita berbaikan lagi, maka mereka akan bahagia." Pria itu keluar membukakan pintu untuk gadisnya, "Ayo keluar." Dia mengulurkan tangannya. Livia menerima, mereka bergandengan tangan masuk ke rumah Robert.
Semoga keputusannya tidak salah.
Semoga ini yang terbaik untuknya.
Amin...
Semuanya pastu akan terkabul suatu saat nanti.
Livia sangat mempercayai hal itu.
Dia percaya Tuhan pasti sudah meencanakan yang terbaik untuknya.
Gadis itu hanya tinggal menunggu saja kapan waktunya tiba.
"Tuan muda sudah datang." Begitu mereka tiba sudah disambut beberapa pelayan.
"Papa dan mama mana ?" Tanyanya menatap para pelayan.
"Kenapa kau mencari papa dan mama ?" Orang tuanya turun dari tangga.
"Selamat siang om, tante." Livia tersenyum sembari membungkuk memberikan hormat.
"Livia. Sudah lama sekali kau tidak kemari ?" Mama Robert berjalan memeluk Livia. "Mari kita duduk di ruang keluarga." Beliau menarik tangan Livia meninggalkan kedua pria dibelakang.
Syukurlah..
Livia menatap Robert yang kini berdiri di belakang mamanya sambil tersenyum, gadis itu juga membalasnya dengan senyuman.
Orang tua Robert menerimanya dengan baik.
Memang sejak mereka berpacaran dulu orang tuanya sudah suka dengan Livia.
Namun, saat mereka putus dan beberapa tahun berlalu.
Livia tidak pernah menemui mereka lagi.
Sempat ada rasa takut saat kembal idatang ke rumah ini.
Namun, semuanya sirna.
Begitu papa dan mama Robert menyambutnya dengan hangat.
Seakan Livia diberikan kesempatan kedua untuk kembali merasakan hangatnya kasih sayang orang tua yang sudah lama tak dia dapatkan, kini dapat gadis itu rasakan dari orang tua Robert.
Dalam hati Livia sangat bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa.
Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah mempertemukan aku dengan Robert.
Pria yang sangat baik dan tulus mencintaiku.
Orang tuanya juga sangat senang menerimaku bahkan menggangpku sebagai puteri mereka sendiri.
Terima kasih Tuhan..
Terima kasih...
"Mama, aku ini puteramu kenapa kau malah lebih sayang pada Livia ?" Gerutu Robert. Dia sudah tahu mamanya sangat sayang pada Livia.
Dia anak tunggal, maka dari itu mamanya sudah sayang pada Livia seperti puteri kandungnya sendiri. "Ayo kau juga ke ruang keluarga." Papa Robert merangkul putera satu-satunya.
"Jadi, kenapa kau tiba-tiba membawa Livia kemari ?" Tanya Mama Robert yang duduk disebelah gadis itu.
Robert dan Livia saling menatap, "Kami sudah berpacaran kembali."
Orang tua Robert sangat terkejut dengan apa yang dikatakan puteranya, "Sungguh ?" Mama Robert menatap Livia.
Gadis itu mengganguk, "Iya tante. Baru hari ini kami memutuskan untuk kembali berpacaran."
"Kyaaa.." Mama Robert memeluk Livia, "Akhirnya setelah sekian lama, aku mendapatkan anak perempuan. Kami sangat senang karena kalian kembali berpacaran."
"Iya tante." Jawab Livia tersenyum.
"Mulai hari ini kau tidak boleh memanggil kami om dan tante. Kamu harus panggil papa dan mama." Ujar papa Robert.
"B...baik pa." Ucap Livia gugup. Keluarga Robert memang murni sayang pada Livia. Mereka keluarga yang cukup berada. Maka dari itu, bagi mereka kekayaan bukanlah segalanya. Robert merupakan putera tunggal mereka, tentu saja dengan semuua kekayaan yang dimiliki membuat orang tuanya sangat memanjakan puteranya dari kecil. Segala kemauannya mereka turuti hingga duduk di bangku SMA. Robert mernjadi pria yang dimana 'apa yang dia inginkan maka semuanya harus dituruti', membuat orang tuanya terkadang bingung bagaimana caranya merubah sifat putera mereka yang satu ini.
Beruntungnya Livia adalah gadis satu-satunya yang bisa merubah sifat yang dimiliki Robert itu. Mereka tahu akan semua hal yang menimpa gadis itu dari Robert sendiri. Livia yang sejak kecil hingga SMA mencari uang sendiri dengan berbagai pekerjaan yang halal tentunya. Semakin lama mereka berteman semakin membuat Robert perlahan-lahan sadar bahwa semua hal yang kita inginkan tak harus terpenuhi.
Cinta pertama Robert adalah Livia begitupun sebaliknya. Mereka sangat senang karena Livia membawa pengaruh baik bagi putera mereka. Ketika mereka putus karena Robert menginginkan kuliah di Luar Negeri dan Livia tidak mau ikut dengannya membuat pria itu kembali
"Kalian belum makan kan ? Livia, ayo bantu mama masak di dapur."
"Baik ma."
"Ma, kenapa kau bawa kabur dia sih ? Tidak bisa biarkan puteranya senang dikit." Gerutu Robert.
"Mama pinjam bentar. Ayo Via." Mama Robert membawa Livia ke dapur.
Papa Robert menatap puteranya, "Bagaimana kondisi Livia akan pengakuan dari wanita bernama Tiara itu ?"
"Dia bilang kalau tak mau memikirkannya, karena ada hal lain yang lebih membuatnya terkejut dari pengakuan palsu Tiara."
"Apa itu ?"
"Livia menemukan dokumen yang disembunyikan oleh keluarga Kurniawan (nama keluarga Jimmy), yang dimana perusahaan mereka memang aslinya adalah milik orang tua Livia lalu mereka mengubahnya."
Papa Robert membulatkan matanya, "Sungguh ?"
Robert mengganguk, "Ya." Dia menatap Livia yang sibuk membantu mamanya memasak. Dapur di rumahnya memang terletak tak jauh dari ruang keluarga. "Dia sangat shock akan hal itu."
Ya.
Dan cuma dia satu-satunya pria, dimana saat gadisnya tengah mengalami musibah, dia malah menyatakan cintanya.
"Mama.. kalian sedang membuat apa sih lama banget ?" Robert berjalan menghampiri mereka.
"Sabaran dikit napa. Mama sedang masak sayur kesukaanmu, ikan asam manis dan sayur asem."
Robert memeluk Livia dari belakang, "Cocok sekali jadi ibu rumah tangga."
Mama Robert memukul puteranya, "Jangan memeluk Via dari belakang." Ujarnya.
Robert merintih kesakitan, "Sakit ma. Tega sekali memukul puteranya sendiri." Keluh pria itu pada mamanya.
"Siapa suruh kau menggangu Livia. Sana pergi." Usir mama Robert.
"Jadi mama ngusir aku ?" Tanya Robert.
"Ya. Sana pergi. Jangan ganggu kami." Tegas Mama Robert.
Robert menggerutu, "Aku yang bawa Livia seharusnya dia lebih banyak waktu denganku kenapa jadi mama yang menguasai Livia sih ?" Dia mencium pipi Livia lalu segera pergi.
"Ash.. anak itu benar-benar." Gumam mama Robert. "Mama senang banget kalian bisa kembali bersama. Kau tahu, Robert itu sangat frustasi ketika kalian putus."
"Oh ya ?" Tanya Livia.
Mama Robert mengganguk, "Ya. Dia kembali ke sifat lamanya. Tapi, ketika bersamamu dia berubah jadi anak yang sangat baik."
Syukurlah.
Mama Robert tersenyum kecil mengelus kepala Livia kemudian mengatakan, "Tentu saja tidak. Kami tidak membencimu. Justru kami sangat kangen padamu dan senang sekali mendengar kalian kembali bersama. Semoga kalian tidak akan berpisah sampai maut memisahkan ya." Ujar mama Robert.
Livia menagganguk lalu memeluk mama Robert sambil berkata, "Pasti Ma. Makasih.. Makasih banget. Livia jadi merasakan lagi bagaimana kasih sayang orang tua pada anaknya."
"Iya sayang. Kau bisa menggangap papa dan mama sebagai orang tua kandungmu sendiri." Ujar Mama Robert padanya.
"Robert juga mau memeluk kalian." Tiba-tiba saja Robert datang memeluk mama dan Livia.
"Ash.. kenapa kamu ikutan peluk-peluk ?" Tanya Mama Robert.
"Kan Robert juga mau dipeluk mama." Ujarnya sambil terkekeh kecil.
Mama Robert memukul pelan puteranya, "Kau ini. Ada Livia jangan manja gitu. Sana pergi." Usirnya.
"Iya.. Iya. Aku pergi." Gerutu Robert.
Livia tertawa kecil, "Dia lucu sekali kalau manja begitu. Biasnaya dia tak pernah manja seperti itu." Ujar gadis itu melihat tingkah kekasihnya.
"Biasa dia tak pernah begitu kalau ada teman-teman mama atau sepupunya. Dia akan begitu kalau di rumah ini hanya ada kita bertiga atau ada kamu seperti sekarang." Jelas Mama Robert padanya. "Mama, rasa dia pasti akan makin manja padamu saat mereka menikah."
"Oh gitu.." Ujar Robert membuat mamanya dan Livia menengok ke belakang, mendapati pria itu tengah duduk di meja makan yang letaknya persisi di depan dapur.
"Kenapa kau masih ada disini ?" Tegur mama Robert.
"Aku hanya ingin minum jus jeruk disini." Ujar Robert.
"Kau temani saja papamu di taman." Perintah Mama Robert.
"Tidak mau. Lebih enak disini, bisa melihat Livia masak." Gerutu Robert.
Mama Robert menggelengkan kepala, "Dia benar-benar susah sekali dibilangin."
"Aku dengar 'Ma." Ujar Robert.
"Beruntunglah mama tidak kesepian sekarang, Via kau harus sering-sering berkunjung kemari. Temani mama." Kata mama Robert.
Livia mengganguk dan mengatakan, "Iya Ma."
"Tidak bisa begitu donk 'Ma. Aku juga harus lebih sering bersama Livia dari pada mama." Ujar Robert tak mau kalah.
Baru saja pria itu dan Livia bersama masa iya harus dipisahkan lagi ?
Tidak.
"Kau harus kerja dan biarkan Livia disini dengan mama." Ujar Mama Robert.
"Tapi ma..." Keluh Robert.
"Tidak ada tapi-tapian.. Sekarang bantu mama menaruh makanan ini di meja." Perintah Mama Robert.
Robert cemberut namun menuruti apa perkataan mamanya, "Kalau kami menikah, aku tidak akan bawa Livia tinggal disini." Gumamnya pelan.
"No..no..no.. Saat kalian menikah nanti pokoknya Via harus tinggal dengan mama." Ujar mama Robert yang tidak menyetujuinya.
Livia tersenyum melihat perdebatan antara ibu dan anak itu, mata cokelatnya menangkap papa Robert tengah memanggilnya menggunakan bahasa isyarat. Dengan segera dia pergi menghampirinya, "Ya 'Pa ?"
"Duduklah disini." Livia menurutinya. "Papa sudah mendengar semuanya dari Robert mengenai apa yang terjadi padamu." Gadis itu terdiam. "Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang ?"
"Aku harus merebut kembali apa yang menjadi hakku dan juga mencari seseorang yang dulunya menjadi salah satu orang kepercayaan papa." Ujar Livia.
"Siapa dia ? Mungkin papa bisa membantu mencarikannya." Tanya Papa Robert.
Livia menggeleng pelan, "Tidak 'Pa, makasih. Tapi, Livia ingin mencarinya sendiri dan tidak mau menyusahkan orang lain lagi."
"Kami tidak merasa kau itu menyusahkan kami. Sebentar lagi kau akan menjadi keluarga kami." Ujar Papa Robert yang begitu perduli pada Livia. Papa dan Mama Robert sudah menggangap Livia sebagai puteri kandung mereka sendiri.
"Baiklah kalau memang itu keinginanmu. Papa tidak akan memaksamu." Ujar Papa Robert mengalah.
"Kamu mau mama dan papa kesepian di rumah sebesar ini ?" Ucapan mama Robert membuat suami dan Livia menatap mereka yang masih saja berdebat.
"Kan mama dan papa terbiasa berduaan di rumah sebesar ini." Ujar Robert.
"Sekarang kau sudah berbaikan dengan Livia, maka dari itu mama mau dia tinggal di rumah ini saat kalian menikah." Ujar Mama Robert.
"Tapi ma..." Keluh Robert.
"Tidak ada tapi-tapian.. suka sekali kau ajak mama berdebat." Kata mama Robert.
"Aku tidak mengajak mama berdebat justru mama yang mulai duluan." Balas Robert.
"Aku tidak pernah seperti itu." Kata mama Robert.
Papa Robert tertawa kecil membuat Livia menatapnya, "Sudah lama sekali mereka tidak berdebat sepreti ini. Makasih ya, karena kau membawa pengaruh baik pada putera kami."
Livia tersenyum menatap kolam ikan koi yang ada di depannya, "Justru Via lah yang harus berterima kasih pada papa dan mama. Karena sudah sayang padaku seperti anak kandung kalian sendiri. Sudah lama, Via tidak mendapatkan rasa kasih sayang seperti ini lagi."
Papa Robert menepuk pelan pundak Livia, "Anggaplah rumah ini sebagai rumah keduamu. Jika kau sedang sedih atau senang kau bisa datang kemari."
"Baik papa." Ucap Livia.
Robert memeluk Livia dari belakang, "Ash.. kau itu tidak bisa lepas sedikit dari pandanganku malah berduaan dengan papa disini."
"Robert jangan peluk puteri mama seprti itu." Mama Robert memukul bahu puteranya.
"Sakit ma." Robert melepaskan pelukannya.
Mama Robert menarik tangan Livia, "Ayo kita makan bersama." Mereka menuju meje makan. "Via, duduk sebelah mama ya."
"Via duduk denganku, Ma." Ujar Robert menatap mamanya.
"Dengan mama." Ucap mama Robert yang tak mau kalah.
Kenapa anak dan mama ini jadi berdebat begini ?
Livia menatap papa Robert seakan meminta pertolongan.
Namun, pria paruh baya itu cuek seakan hal itu sudah biasa terjadi.
Hah...
Livia diam saja kalau sudah begini.
Dia tidak mau ikut campur dalam urusan anak dan ibu kandung ini.
"Denganku Ma. Dia adalah pacarku sekarang." Ujar Robert.
"Dan Livia adalah calon menantu mama." Kekeh Mama Robert.
Papa Robert menggelengkan kepala, sungguh ia tak habis pikir akan tingkah isteri juga puteranya itu. Papa Robert duduk di tengah meja, isterinya duduk disebelah kiri dan Robert di sebelah kanan. "Robert tak apa, aku duduk disamping mamamu saja."
"Tuh dengar." Ujar mama Robert.
"Sayang.." Robert memelas wajah. "Ya sudah kalau begitu." Robert pindah duduk jadi sebelah Livia. Sekarang posisinya papa Robert berada di tengah, di kanannya seharusnya Robert namun puteranya pindah ke sebelah kiri yang dimana urutannya Mama Robert, Livia dan Robert puteranya.
Sungguh ajaib tingkah mereka.
Dan sangat kekanak-kanakan.
Tapi, lucu.
"Kenapa kau jadi duduk disana ? Ayo kembali ke tempat dudukmu." Perintah mama Robert.
"Tidak mau. Robert mau disini saja dekat Via." Ujar Robert tersenyum.
"Ash anak itu.." Gerutu mama Robert.
"Sudahlah sayang biarkan mereka." Papa Robert mencoba menenangkannya.
~To Be Continue~