Our Love

Our Love
Part 23



"Begini papa dan mama sudah membicarakan ini dan Tasya juga. Kalau...kalau kami berniat menjadikan Livia sebagai anak angkat dari papa dan mama."


"Apa ??" Livia dan Jimmy saling menatap.


Mereka tidak salah mendengar 'kan ?


"Om dan tante pasti bercanda ?"


"Kami sedang tidak bercanda Livia, lagi pula kami sudah mengenalmu sejak kecil juga orang tuamy, Tasya juga ingin sekali punya kakak perempuan."


"Pa, kenapa tidak mendiskusikannya terlebih dahulu padaku ?" Jimmy berkomentar.


"Ya sekarang papa mendiskusikannya. Jadi, bagaimana apakah kalian setuju ?"


Tentu saja Livia tidak setuju akan hal itu.


"Sa..saya masih ingin tahu kenapa tiba-tiba om dan tante ingin saya menjadi anak angkat kalian?"


Papa Jimmy mendesah berat, "Kau pasti tahu kan kalau om adalah sekertaris pribadi papamu bahkan sejak dari kamu lahir. Karena kami harus pindah ke Singapore sejak Jimmy berumur 17 tahun. Kami merasa bahwa kami sudah tidak mungkin mempunyai anak lagi terkadang kami merasa kasihan pada Tasya yang sangat menginginkan kakak perempuan. Namun, kami tidak bisa untuk sembarangan menjadikan seseorang itu sebagai anak angkat kami. Ketika kami bertemu lagi denganmu, dan Tasya sangat akrab denganmu juga. Ya, kenapa tidak kalau kami menjadikanmu sebagai anak angkat kami."


"Jimmy setuju-setuju saja kalau Livia jadi adik angkatku." ia tersenyum menatap gadis itu. Bukankah bagus ? Jika Livia berada di dekatnya setiap hari maka akan lebih mudah membalaskan dendamnya.


Livia ingin cepat-cepat selesai OJT agar bisa menjauh dari pria itu sekarang malah memintanya menjadi adik angkatnya ?


Astaga...


"Tapi om..."


"Livia, om mohon kau terima permintaan ini mau 'kan ?"


Walaupun memang ia sebenarnya tak mau..


Namun, di sisi lain tak ada salahnya ia menerimanya. Ambil-lah sisi positifnya Livia. Kesempatan emas tidak akan datang untuk kedua kalinya.


Dia bisa bekerja mengumpulkan uang lalu ia tak perlu lagi memikirkan setiap bulan harus membayar uang kost-kostan kemudian begitu wisuda berakhir maka ia akan pergi ke luar negeri atau luar kota untuk menjauh dari Jimmy. Lagi pula ada hal yang ingin ia cari dari keluarga itu...


Semoga keputusan yang aku ambil benar...


Livia mendesah pelan, "Baiklah." Satu jawaban singkat membuat seluruh keluarga itu bahagia terutama Jimmy.


"Kyaaaaa... akhirnya aku punya kakak perempuan.." Tasnya memeluknya.


"Baiklah kalau begitu, om dan tante akan segera mengurusnya. 3 bulan kemudian, tepat di hari ulang tahun perusahaan om akan mengenalkanmu pada semua karyawan dan media bahwa kau adalah anak angkat kami."


Sore harinya di kantin kampus, Robert menemani Livia makan tak lama teman-teman Livia datang. Mereka memesan makanan terlebih dahulu lalu duduk bersama Livia dan Robert. "Cieee.. berduaan terus nih." Goda Nia yang duduk di samping Livia.


"Uda kalian balikan aja." Narul duduk berhadapan dengan Nia. Disusul Hanna, Ai, dan Yeni yang duduk berhadapan dengan Nia, Livia dan Robert.


"Sudah ditanya tadi mau balikan atau tidak ? Malah dijawab mau fokus dulu ama tugas akhir." Robert menjelaskan.


"Kenapa tidak terima aja ?" Hanna membuka minumannya. Tak lama pesanan mereka pun tiba.


Livia menatap sekeliling. Kantin sepi. Baguslah, "Aku ada 2 kabar penting. 1 sih lebih tertuju ke Yeni."


"Apa ?" Yeni menatapnya.


"Jimmy bilang kalau Tiara sudah tak mau berpacaran lagi dengannya dan wanita itu cari orang baru."


Belum selesai Livia mengatakan sudah dipotong oleh Yeni, "Kenapa kau bilang itu ke aku ? Mana ada untungnya."


"Ash.. jangan dipotong dulu omonganku. Jadi gini, Jimmy bilang pria inceran Tiara yang baru adalah kakakmu."


Yeni tersendak minuman, "Apa ??"


"Tiara sendiri yang mengatakannya pada Jimmy."


"Wanita gilaaa.. nanti akan aku ceritakan ke kakakku. Makasih atas infonya."


"Info 1 lagi apa ?" Tanya Narul.


Livia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Gimana bilangnya ya.."


"Buruan katakan 1 lagi berita apaan ?"


"Apa !!!" Teriak mereka bersamaan.


Livia benar-benar membuat mereka syok jantung setiap harinya. Bagaimana tidak sejak pertama kali interview di Sapphire Blue Corp, Lalu diterima, kemudian dia bekerja 1 ruangan dengan CEO tempatnya berkerja, tidak lupa kasus Livia yang dijambak oleh seorang wanita gila yang berujung mereka mengetahui akan masa gelap Livia, mengenai Jimmy yang gila memasang berita bahwa mereka pacaran, mengenai Jimmy dan Livia adalah teman dari kecil, mengenai Tiara akan menjadikan kakak Yeni sebagai target selanjutnya, dan sekarang Livia mau diangkat jadi anak oleh keluarga Kurniawan.


Sungguh jika harus diberi penghargaan maka Livia lah pemenangnya. "Gila kau ya.. setiap hari ketemu ada aja berita yang buat kita syok." Ujar Yeni pada Livia. "Lain kali kalau mau kasih berita jangan pada saat kita lagi makan atau minum."


"Hehe maaf."


"Lalu, kau terima ?"


"Ya. Karena kapan lagi kesempatan ini datang untuk kedua kalinya. Aku bisa memanfaatkan hal itu untuk mempelajari banyak hal disaat aku tak punya banyak uang selama ini. Aku ingin kursus masak, belajar make up, belajar bela diri, dan sebagainya yang membutuhkan banyak uang. Lagi pula, setelah aku sukses aku akan ke luar kota atau luar negeri untuk menjauh dari Jimmy. Dan juga... ada sesuatu hal yang ingin aku cari dari keluarga itu yang masih menganjal pikiranku."


"Apa itu ?"tanya Robert.


"Nanti akan aku ceritakan kalau sudah saatnya dan biarkan aku lakukan sendiri dulu. Kalau aku butuh bantuan aku akan meminta pada kalian."


"Kapan diumumin secara resmi ?" Ai pun bertanya.


"Tepat pada saat acara ulang tahun perusahaan itu dan OJT berakhir."


"Dan pria itu setuju gitu aja ?"


"Dia menyetujuinya."


Livia menatap Robert, "Kau habis ini pulang saja dan istirahat."


"Aku akan datang ke kelasmu."


"Kau tidak lelah ?"


"Kalian saja para gadis tidak lelah, kenapa aku juga tidak boleh seperti itu ? Nanti aku antar kau dan Nia pulang."


"Ya sudah."


"Yang masalah Tiara di kantormu itu bagaimana kelanjutannya, Yen ?"


"Karyawanku banyak yang memilih untuk memaafkannya, Liv. Mereka menggangap mungkin wanita itu sedang masa stress karena dia diabaikan oleh Jimmy dan tak bisa berjalan dengan normal selama 6 bulan."


Esok paginya, Sapphire Blue Corp...


"Padi adik angkat." Begitu masuk ke ruangan kerjanya Livia disambut oleh senyuman dan sapaan Jimmy yang membuatnya merinding.


"Jangan memanggilku begitu. Aku tak suka.".


"Kenapa ? kau memang sebentar lagi akan jadi adik angkatku."


Livia mengabaikannya. "Buatkan aku kopi." Gadis itu terdiam dan pergi ke luar untuk membuatkannya.


Bu Jasmine masuk untuk membacakan jadwalnya seperti biasa. Setelah selesai membacakan jadwal, Jimmy berbicara, "Saya hanya ingin memberikan info kalau Livia akan diangkat menjadi adikku. Tepat di hari ulang tahun perusahaan akan diumumkan secara resmi. Jangan beritahukan hal ini pada siapapun. Saya memberitahu anda karena pasti papa akan menyuruh anda untuk menyiapkan beberapa hal terkait dokumen tersebut."


"Baik pak. Ada lagi ? Nanti saya akan menginfokan mengenai meeting sebentar lagi. Permisi." Bu Jasmine keluar bersamaan dengan Livia masuk membawakan kopi.


"Ini kopi anda Bapak Jimmy." Livia tersenyum menatap pria itu meminum kopinya, tak lama ia muntahkan lagi.


"Kau sudah gila memasukkan garam ke kopi ini ?"


"Enak pak?" Livia tersenyum tanpa dosa.


Jimmy tersenyum mengambil cangkir kopi itu, "Bagaimana jika kamu mencobanya juga ?"


"Tidak mau. Itu kan bekas bapak."


Jimmy menarik tangan Livia, "Ini kopi buatanmu sendiri kenapa tidak kau coba ? Jika aku merasa keasinan maka kau juga harus merasakan hal yang sama." Jimmy memaksa Livia untuk meminum kopi asin itu hingga gadis itu memuntahkannya diatas lantai. "Bagaimana ? enak kan ?"


"Bapak sudah gila ?"


"Itu kalimatku Livia. Siapa suruh membuatkan ku kopi pakai garam." Saat Livia berbalik gadis itu terpeleset, Jimmy yang berniat menariknya ikut terpeleset hingga mereka terjatuh ke lantai dalam posisi Livia berada diatas Jimmy dan....


menciumnya.


-To Be Continue-