Our Love

Our Love
Part 33



"Kenapa kau begitu melindunginya ? Oh, kau menyukainya ?"


"Itu bukan urusanmu." Jimmy pergi meninggalkan Tiara sendirian.


Wanita itu mengepalkan kedua tangannya, "Semua ini karena Livia dan teman-temannya. Lihat saja. Aku akan membalas kalian semua !!"


Di kamar Livia....


"Ash.. wanita gila itu menggangu tidurku saja." Gerutu Yeni.


"Kenapa sih tak kau usir saja dia, Yen ?" Tanya Narul.


"Kalau dia aku usir nanti akan muncul berita yang tidak-tidak."


Jimmy masuk dalam kamar sambil membawa teh hangat, "Minumlah."


"Hei.. pria gila..Kenapa kau bisa membawa mantanmu kemari, hah ?" Tanya Yeni menatapnya tajam.


"Aku punya nama bukan pria gila. Tiara ingin bertemu dengan Raka ya apa salahnya aku sekalian bawa dia disini."


"Sudah jelas kakakku dan Nia pacaran. Untuk apa kau bawa wanita lain ? dan lihat sekarang apa yang dia lakukan pada Via."


"Ya mana aku tahu kalau mereka pacaran."


"Sudahlah Yen. Selama ada kita disini juga dia tidak akan berani macam-macam juga." Ai Chan mencoba menenangkan Yeni.


"Aku mau mandi saja." Yeni mengambil beberapa baju dan masuk ke kamar mandi. "Oh iya, kalian semua mandi lah. Jam 6 pagi kita akan sarapan bersama." Ia menutup pintu kamar mandi.


"Bagaimana mau mandi kalau kamar mandinya kau pakai ?" Gerutu Narul.


"Mandi aja di kamar mandi yang lain. Villa ini ada banyak kamar kok." Ujar Raka yang berdiri di depan pintu.


"Iya benar. Kalian mandi saja dulu. Aku tidak apa-apa kok." ujar Livia.


"Kau yakin ?" Robert memandang khawatir.


"Iya. Ada kak Raka kok disini dan Yeni sedang mandi." Mereka semua pun terdiam dan pergi bersiap-siap untuk sarapan nanti.


"Minumlah teh hangatmu." Raka tersenyum pada Livia lalu pergi dari kamar tersebut. Tak lama, gadis itu keluar menuju dapur. Sudah lama sekali ia tak berkunjung ke Villa ini.


Dulu, Yeni sering mengajaknya dan yang lain untuk menginap disini saat weekend atau liburan panjang kuliah. Para pelayan juga sangat mengenal Livia dan teman-temannya. Tak heran para pelayan menggangap mereka juga adalah majikannya. "Bibi." Livia memanggil seorang pelayan wanita paruh baya.


"Ya non ? Ada apa ?"


"Bibi buat sarapan apa aja ?"


Pelayan tersebut tersenyum, "Seperti biasa. Buah-buahan, susu, jus jeruk, bubur dan beberapa roti serta selai. Non, mau makan apa nanti bibi buatkan ?"


"Nasi goreng bi. Sudah lama tak makan nasi goreng buatan bibi."


Pelayan itu tersenyum, "Baiklah. Non, tunggu aja di meja makan nanti akan bibi antar."


"Makasih bi." Livia menuju meja makan.


Tiara datang duduk di samping Livia, "Kau terlihat baik-baik saja."


Nia, Raka dan Narul turun menuju meja makan. "Bibi, buat apa ?" mereka masuk dalam dapur.


"Nasi Goreng untuk Non Livia. Non dan Tuan Muda mau ?"


"Mau bi.." Ujar Nia.


"Mau juga Bibi." jawab Narul.


"Saya juga." Raka pun sama.


"Baik. Non dan Tuan Muda bisa menunggu di meja makan nanti akan bibi antar." Mereka bertiga menuju meja makan.


"Raka sayang...."Tiara segera berlari memeluknya.


Nia dan Narul duduk di samping kiri dan kanan Livia. "Kau tidak diapa-apain kan olehnya ?" tanya Narul.


"Tidak kok." Livia menuangkan jus jeruk dalam gelasnya.


Raka melepaskan tangan Tiara dan menuju meja makan, "Nia sayang, kenapa kau duduknya jauh sih ?"


Semua orang pun turun dan menuju meja makan. "Mau disini kak." Jawab Nia.


Raka duduk di tengah karena ia yang paling tua, disebelah kirinya ada Yeni, Nia, Livia, Narul, Hanna, Ai Chan. Sedangkan di sisi kanannya ada Tiara, 1 bangku kosong, Jimmy dan Robert. "Kenapa kalian berdua duduk jauh begitu ?"


"Aku tak mau duduk disamping wanita itu." Ujar Jimmy.


"Siapa juga yang mau duduk dekat kau. Aku kan mau duduk dengan Raka. Ya 'kan sayang ?" Tiara tersenyum memandang Raka yang mengabaikannya.


Pelayan mengantarkan nasi goreng untuk Livia, Nia, Narul dan Raka. "Makasih bibi." Ujar mereka secara bersamaan.


Semua orang memandang porsi nasi goreng yang begitu besar milik Livia, kecuali Tiara. "Pasti nasi gorengnya tidak akan habis dimakan." Ujar mereka bersamaan.


Livia menatap bingung namun seketika ia tersenyum kecil. Mereka sangat tahu kalau gadis itu tidak bisa makan dalam porsi yang terlalu besar. Raka sering ikut liburan di Villa bareng Yeni dan teman-temannya jadi ia hafal bagaimana porsi makan gadis itu. Terlebih lagi Jimmy yang teman kecilnya Livia dan Robert sebagai mantan kekasihnya.


"Bibi, minta piring kosong dan sendok ya." Ujar Robert.


"Saya juga bi." Jimmy tak mau kalah.


"Baik. Sebentar ya." Pelayan itu masuk ke dapur dan tak lama ia kembali memberikan 2 piring kosong dan sendok ke Robert dan Jimmy.


"Sini aku ambil sedikit nasi gorengmu." Ujar Robert.


"Aku juga." Jimmy tak mau kalah.


"Oh iya, kalian mau kemana nanti 'Yen?"


"Belum tahu kak."


"Ke Trans Studio Bandung Yuk." Ajak Ai Chan.


"Aku ama Robert mau pergi ke suatu tempat, Ai. Kalau sempat nanti kita nyusul kalian." Ujar Livia.


"Ciee.. iya deh yang mau berduaan." Ejek Nia.


"Nia sayang, bagaimana juga kita pergi berduaan hari ini ?" Tanya Raka.


"Aku mau pergi ke Trans Studio Bandung."


Tiara memegang tangan Raka, "Bagaimana kalau kau pergi denganku saja ?"


Raka menjauhkan tangan Tiara, "Aku sudah punya pacar. Berhenti mengganguku. Ganggu Jimmy saja yang kesepian."


"Enak saja."


"Tentu saja aku lebih memilih kau lah, Raka. Kau lebih kaya dan tampan, baik pula."


"Kau memilih kakakku karena dia lebih kaya dari Jimmy ?"


"Tentu saja. Mana ada orang tua yang mau anaknya pacaran ama pria miskin. Terlebih lagi seperti temanmu Livia dan Nia yang bukan dari kalangan kelas atas."


"Kalau kau menghina mereka lagi maka akan aku usir." Raka menatapnya tajam.


"Kau itu kenapa sih ? Aku berkata sebenarnya. Livia adalah mantan kekasih Robert yang anak dari dokter ternama di Jakarta, Jimmy adalah anak dari salah satu pemilik perusahaan yang masuk dalam 5 besar sebagai perusahaan terkaya se-Indonesia. Terlebih lagi kau sebagai anak tertua dari yang punya perusahaan nomor 1. Bagaimana bisa seorang gadis miskin seperti Livia bisa berdekatan dengan mereka semua ?"


"Karena sifatnya Livia lebih baik dari kau." Jawab Yeni.


Tiara memasang wajah masam, "Paling kau dan semua orang disini kena pelet dari Nia atau Livia."


Yeni dengan sengaja menumpahkan jus jeruknya ke arah Tiara, "Ups maaf. Tak sengaja."


"Raka, lihat kelakuan adikmu. Rambut dan bajuku jadi lengket." Tiara mengaduh padanya.


Narulita tersenyum sinis, "Baru dikasih jus jeruk aja manjanya begitu banget. Livia yang kau dorong ke kolam ikan tak segitunya."


"Karena badanku dari atas hingga bawah selalu diberi perawatan mahal tentulah aku marah."


"Yeni kan sudah minta maaf. Jangan bahas lagi. Lebih baik kau minta maaf pada Livia karena sudah mendorongnya jatuh ke kolam." Ujar Raka membuat semua orang yang disana menahan tawa mereka.


Tiara menatap tajam ke Livia. Sial, karena gadis itu ia dipermalukan. "Baiklah." ia berjalan membelakangi badan Livia, menyiram gadis itu dengan segelas air. "Ups.. Maaf. Tak sengaja."


Semua orang langsung berdiri, "Apa-apaan kau ?" Ujar Robert pada Tiara.


Oke.. jika kau mau bermain seperti ini.


"Tak apa Robert. Aku mau ke dapur dulu minta pelayan ambilkan handuk kecil." Ujar Livia pergi.


Tiara tersenyum dan duduk kembali ke tempatnya semula.


"Kenapa kau sangat keterlaluan padanya ?" Jimmy menatapnya marah.


"Itu permintaan maafku padanya. Kyaaaaa..." Livia kembali menuju ruang makan lebih tepatnya ke tempat duduk Tiara menyiramnya dengan 1 ember air bekas kain pel.


Livia tersenyum, "Dan ini tanda aku memaafkanmu. Maaf, Yeni dan kak Raka atas kekacauan ini."


Yeni tersenyum sambil mengoleskan roti dengan selai cokelat, "Its okay. Aku suka itu." Lalu ia pergi. Semua orang juga pergi meninggalkan Tiara yang berteriak tak terima.


"Kyaaa.. Livia awas kau !!!"


********


"Jadi pada mau ke Trans Studio kecuali Livia dan Robert ?" Tanya Yeni.


"Iya Yen." Jawab Hanna.


"Ya uda. Nia, kau naik mobil bareng kak Raka. Hanna, Ai dan Narul ikut mobilku aja." Perintah Yeni masuk dalam mobil.


"Ayo kita juga harus pergi." Robert mengandeng tangan Livia.


"Tidak.. tidak.. Aku harus 1 mobil dengan Raka." Tiara langsung masuk dalam mobil Raka.


"Keluarlah Tiara. Aku ingin Nia duduk disana." Raka mencoba menarik Tiara keluar dari mobilnya.


"Tidak mau."


Raka menarik tangan Nia, "Kita pergi dengan mobil lain saja."


"Raka.. Raka.." Tiara keluar dari mobil namun terlambat. Mobil Raka dan Yeni sudah pergi begitu pula mobil Robert. "Jimmy.." Ia berbalik menatap pria itu. Namun, Jimmy segera masuk ke dalam mobilnya dan mengunci pintu secara otomatis. "Kau mau kemana ? Ajak aku Jimmy."


Jimmy membuka pintu kaca mobil, "Kau tak perlu tahu aku pergi ke mana." ia pergi meninggalkan Tiara sendirian.


"Ash.. kenapa dengan mereka semua ?" Gumam Tiara.


*******


Robert dan Livia sudah tiba di tempat yang mereka tuju. "Kau selalu kesini jika berada di Bandung." Livia berjalan beberapa langkah dan terduduk menatap sebuah pohon besar nan tua. Robert pun melakukan hal yang sama.


Livia tersenyum sedih, "Aku tak bisa melupakan tempat ini. Tempat dimana papa dan mama kecelakaan, tempat dimana aku dibenci oleh bibiku sendiri dan tempat dimana semua trauma itu dimulai." Mata cokelatnya memandang pohon.


-To Be Continue-