
"Kau berbicara sesuatu?" tanya pria itu.
"Tidak. Bukan apa-apa. Oh iya, apa ada hal lain yang mau kau bicarakan atau tunjukkan padaku? Jika tidak ada, maka aku mohon ijin untuk pamit." ujar Livia sambil berdiri.
"Tunggu.. ada hal lain yang mau aku bicarakan lagi."
"Apa lagi? langsung to the point saja."
"Kau itu kenapa tidak sabaran banget sih, duduk dulu."
Dengan sangat terpaksa, ia menurutinya. "Cepat katakan."
"Judes amat sih. Santai dulu napa."
"Ada banyak hal yang harus aku kerjakan."
"Kau kira aku juga tidak ada banyak kerjaan? Ada banyak hal juga yang harus aku lakukan."
"Aku tidak perduli dan tidak mau tahu. Buruan."
Jason mengambil biskuit diatas meja yang memang sudah ada bahkan sejak sebelum gadis itu datang, memandang ke arah lain lalu bergumam, "Dia itu sedang PMS atau gimana sih, galak banget."
"Kau bilang apa!?"
Janson menatapnya, "Memangnya aku berkata sesuatu?"
"Jika tidak lalu kenapa kau mengalihkan kepalamu ke arah lain?"
"Ya suka-suka aku 'lah mau melihat kemana."
Livia bersandar di sofa sambil melipat kedua tangannya di dada, "Mengatakan orang lain tidak sopan padahal sendirinya begitu."
"Kau itu kenapa sih galak sekali jadi wanita?!"
"Aku memang galak, lalu kau mau apa?"
Janson menutup telinganya, ia menyesali keputusannya untuk menemui Livia dan mengajaknya ke rumah. "Jika kau ada urusan silakan pergi."
"Kau mengusirku?"
"Loh, bukannya kau dari tadi memang mau pergi ya aku persilahkan sekarang." jelasnya. Semakin lama bersama wanita ini akan membuatnya semakin ikutan gila.
"Gimana sih, kau yang mengundangku kesini, menahanku untuk pergi dan sekarang mengusirku?"
"Aku berubah pikiran."
"Kau mengatakan ada hal yang ingin dibicarakan."
"Tidak jadi. Lain kali saja. Kau boleh pergi, dan maaf aku tidak bisa mengantarmu sampai depan pintu."
"Tidak. Aku masih membutuhkan itu."
"Tapi, aku juga membutuhkannya. Kau fotocopy saja, dan aslinya untukku."
"Tidak. Aku ini pengacara, jelas aku lebih membutuhkannya untuk mengurus kasusmu."
"Sejak kapan kau jadi pengacaraku?"
"Sejak 2 Minggu lalu saat aku pulang ke Indonesia, ayahku yang awalnya merupakan pengacara keluargamu masih mengurusi ini sampai sekarang, karena aku melihat kasus ini menarik jadi, aku yang mengurusinya sekarang."
"Aku tidak butuh pengacara sepertimu. Aku bisa mencari yang lebih baik."
"Kau meragukan aku sebagai pengacara lulusan luar negeri?"
"Kalau iya kenapa? Bahkan pengacara yang bukan berasal dari luar negeri atau bahkan kampus yang tidak terkenal, masih bisa jadi pengacara hebat. Jika kau ingin mengubahnya, silakan berbicara pada ayahku. Namun, sayangnya sekarang beliau sedang tidur. Mungkin mau bisa datang lagi besok atau beberapa hari kemudian."
"Apa rencanamu pada kasusku?"
Jason menggeleng, "Belum tahu."
"Gimana sih jadi pengacara apa-apa tidak tahu?"
"Kau kira aku ini Tuhan yang tahu akan masa depan?"
"Ya sudah kalo gitu berhenti saja jadi pengacaraku. Aku bisa mengurus kasusku sendiri."
"Sudah beberapa bulan, tapi belum ada tindakan yang kau lakukan. Ah maaf, tindakanmu bahkan hanya membakar perusahaan yang sudah susah payah dibangun oleh orang tuamu, dan bukannya memperebutkan kembali akan apa yang menjadi milikmu?"
"Jangan suka menuduh seakan-akan kau tahu segalanya tentangku. Kita bahkan baru bertemu."
"Nah 'kan kau mengakui bahwa kita baru bertemu akan tetapi, sikapmu sudah sangat tidak sopan pada orang yang baru kau kenal."
"Tahu ah, aku lelah berdebat denganmu."
"Siapa juga yang mengajakmu berdebat? Bukankah kau duluan yang mengajakku berdebat?"
Livia menghentakkan kedua kakinya berkali-kali, "Ihh, dasar pria menyebalkan. Buang-buang waktu dan energiku saja." Dengan segera ia pergi keluar dari rumah itu.
Janson berteriak, "Seharusnya aku yang mengatakan kalimat itu padamu!"
Papa Janson turun dari lantai 2 menghampiri puteranya, "Kau berteriak pada siapa sih? sampai papa dengar dari lantai 2."
"Ada macan betina mengamuk tadi disini." ucap Janson meninggalkan sang papa yang bingung akan kalimat dari mulut puteranya.
-To Be Continue-