Our Love

Our Love
Part 64



Ya.


Ayah Tiara adalah Pak Rahmad.


Orang yang Livia cari selama bertahun-tahun.


Orang itu pernah bertemu dengan Livia sekali, namun sebelum sempat mengatakan hal penting. Beliau sudah dipecat dari jabatannya.


Orang yang setiap tahun selalu datang ke pemakaman orang tua Livia dan menaruh bunga disana.


Diantara semua orang kepercayaan papa Livia, beliau lah yang tidak jahat sama sekali.


Justru sangat baik pada orang-orang yang ada di sekitarnya.


Oleh Pak David (Papa Jimmy) karena takut orang itu akan membongkar rahasianya ke Livia.


Orang yang tahu akan semua rahasia perusahaan juga keluarga Wijaya selama bertahun-tahun.


Sejak meinggalnya orang tua Livia, beliau selalu menolak bahkan memarahi ketiga temannya karena sudah merencanakan kecelakaan itu dengan disengaja.


Alasannya cuma satu, yaitu Harta.


Agar seluruh harta bisa jatuh ke tangan mereka bertiga.


Namun, karena diancam akan dipecat dan kondisi keuangan keluarga Pak Rahmad saat itu sedang susah.


Maka dari itu, beliau memilih untuk diam dan merahasiakannya dari siapapun.


Tidak disangka puteri satu-satunya keluarga Wijaya masih hidup sampai sekarang.


Namun, tidak diketahui berada dimana.


Orang yang tiap tahun selalu datang bersama Tiara ke pemakaman orang tua Livia. "Ayah tidak pernah bersikap seperti itu padamu ? Bukankah dulu kau mendapatkan kasih sayang juga dari keluarga Wijaya ?" Ucap Pak Rahmad (Ayah Tiara) terduduk di sofa, "Ayah juga sangat kecewa padamu karena kau mengikuti jejak ibumu sebagai pengedar dan pengguna obat-obatan terlarang."


Jujur Pak Rahmad (Ayah Tiara) benar-benar tidak menyangka kalau puteri satu-satunya mengikuti jejak ibu kandungnya.


Beliau mengakui bahwa dia kurang memberikan perhatian dan kasih sayang lada puterinya selama bertahun-tahun karena selalu dihantui oleh para anak buah rekan-rekannya yang sesama orang kepercayaan keluarga Wijaya.


Kini dia kembali untuk menemui dan membalas kesalahan atas apa yang sudah diperbuatnya dulu.


Namun, Tiara malah memilih mengikuti jalan yang salah sampai sekarang.


Ketiga rekannya tahu akan hal ini.


Mereka bersikap biasa saja.


Seakan hal itu tidak pernah mereka lakukan.


Dan tidak pernah terjadi.


Puncaknya keluarga Kurniawan mengambil alih sebagian besar harta Wijaya dan mengubah nama perusahaan Wijaya menjad  perusahaan yang terkenal sekarang. Sapphire Blue Corp.


Pak Rahmad (Ayah Tiara) pernah bertemu dengan Livia satu kali di kantornya, Namun beliau tak begitu menyadari pada awalnya hingga dia menemukan foto-foto lama dirinya bersama keluarga Wijaya dari situlah dia sadar. Livia adalah penerus Wijaya yang dicarinya selama ini.


Disaat dia ingin bertemu dengan Livia di kantor itu dan menceritakan semuanya, beliau sudah dipecat dari kantornya dan diancam akan dibunuh. Oleh karena itu, sekarang beliau tinggal dengan puterinya. Karena dia yakin tempat ini akan aman.


Pak Rahmad (Ayah Tiara) merasa sedikit bersyukur karena setidaknya puterinya memiliki sedikit kebaikan hati.


Semoga saja cepat atau lambat Tiara akan bertobat dan berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.


Tiara terduduk disamping ayahnya mengatakan, "Ayah kira aku mau melakukan semua ini ? Aku sangat sedih sejak kematian orang tua Livia, ayah pergi menghilang entah kemana. Ayah sama sekali tidak menemanimu disaat aku sangat membutuhkan ayah. Aku tidak tahu ayah kemana. Saat aku masuk rumah sakit dan terduduk di kursi roda bahkan ayah tidak menjengukku apalagi merawatku." Ucap Tiara melampiaskan semua keresahan hatinya selama ini yang dia pendam.


Buatnya wajar, disaat kamu tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuamu. Maka, pasti akan mencari orang lain yang bisa saja memberikan lebih banyak perhatian dan kasih sayang melebihi orang tua kandungmu sendiri.


Tidak ada anak di dinua ini yang tidak mau mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya.


Semua orang menginginkan hal itu.


Ya.


Dan wanita itu mendapatkannya dari orang tua Livia.


Tapi karena orang-orang yang gila harta itu.


Kasih sayang dari orang tua Livia hanya sebentar saja karena mereka sudah merencanakan  untuk membunuh mereka semua demi harta belaka.


Jika mengingat hal itu Tiara sangatlah kesal dan marah.


Sejak mengetahui hal itu dari ayahnya (Pak Rahmad), mulai lah dendam muncul dai dalam hatinya.


Bahkan sampai sekarang, wanita itu tidak akan tenang kalau mereka semua tidak hancur satu-persatu.


Ini sangat tidak adil baginya.


Disaat dirinya dan Livia tengah berada di titik terendah dalam hidup, justru orang-orang jahat itu bersenang-senang diatas penderiataannya.


Ini tidak bisa dimaafkan.


Sampai meninggal pun Tiara berjanji tidak akan pernah memaafkan mereka semua.


Dia sangat senang sekali hingga pada saat duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah pertama) di Malang. Wanita itu mendapatkan kabar dari ayahnya kalau orang tua Livia telah meninggal dalam kecelakaan yang sudah direncanakan oleh 3 orang kepercayaan keluarga Wijaya, salah satunya adalah papa Jimmy. Pria yang sangat disukainya.


Pria paruh baya itu merasa sangat bersalah pada anaknya, mungkin memang salah dirinya yang tidak terlalu memperhatikan pueteri semata-wayangnya sehingga wanita itu bisa masuk ke dalam dunia hitam dan tidak pernah bisa lepas sampai sekarang. "Ayah memang sangat ingin merawatmu, tapi ayah tidak bisa karena nyawa ayah juga terancam." Ucap Tiara. Ayah Tiara (Pak Rahmad) berjalan masuk ke sebuah kamar lalu menuju kearah sudut ruangan yang dimana terdapat meja dan diatasnya ada fotonya juga semua orang-orang kepercayaan keluarga Wijaya.


"Apa maksud ayah ?" Tanya Tiara.


Ayah Tiara (Pak Rahmad) mendesah pelan. Dia mengingat bagaimana sejak kematian orang tua Livia, beliau selalu dikejar-kejar dan diancam oleh orang-orang kepercayaan keluarga Wijaya. "Karena itulah, ayah tidak bisa menemanimu karena kau pasti akan ikut terancam oleh ayah." Jelas Ayah Tiara (Pak Rahmad) yang berdiri menghadap jendela, "Ayah tidak mau jika kau ikut terancam seperti ayah. Mereka sangat ingin membunuh ayah karena takut rahasia mereka akan terbongkar suatu hari nanti."


Ya.


Mana ada orang tua yang menginginkan putera atau puteri mereka celaka.


Semua orang tua pasti akan melakukan segala cara agar anaknya merasa aman dan damai.


Tiara tidak menyangka selama ini ayahnya jarang menemuinya karena hidupnya selalu dibayang-bayangin oleh orang-orang  itu. "Mereka sangatlah jahat. Lalu, apa yang akan ayah lakukan sekarang ?" Tanyanya.


Wania itu tidak menyangka akan apa yang sudah dialami oleh ayahnya.


Sungguh keterlaluan.


Tidak bisa dimaafkan.


Selama wanita itu masih hidup, dia berjanji akan membalas atas semua orang yang sudah perbuat pada ayahnya termasuk orang-orang yang sudah membunuh orang tua Livia.


Memang itu sebenarnya bukan urusan Tiara.


Jika seandainya mereka masih hidup sampai sekarang..


Mungkin saja...


Mungkin saja Tiara akan mendapatkan kasih sayang berlimpah sampai sekarang.


Karena orang-orang jahat itu.


Dia harus kehilangan sumber kasih sayang yang diberikan orang tua LIvia padanya.


Karena manusia gila harta itu...


Wanita itu berjanji..


Akan menghancurkan mereka..


Se-hancur hancurnya..


Mereka harus berada di titik paling bawah dalam hidupnya..


Mereka tidak mengerti akan rasa sakit yang sudah dialaminya..


Buat Tiara, manusia-manusia seperti mereka seharusnya segera dimusnahkan saja dari muka bumi ini.


Aku..


Aku tidak akan pernah membuat mereka hidup dengan tenang atas apa yang sudah mereka lakukan...


Mereka harus merasakan hal yang sama.


Aku akan membuat mereka kehilangan orang-orang yang mereka cintai..


Sama persis dengan apa yang sudah mereka lakukan padaku.


Om.. Tante yang berada di Surga..


Tenang saja..


Aku akan membalaskan dendamku pada mereka. 


Aku akan menghancurkan mereka secara perlahan-lahan..


Mereka harus mati. 


"Maka dari itu, kenapa kau mengaku-ngaku sebagai pewaris terakhir keluarga Wijaya?" Ujar Papa Tiara atau Pak Rahmad sambil menatap puteri tunggalnya.


Tiara terdiam sejenak, lalu mengatakan, "Akan ada saatnya aku menceritakan dibalik kenapa Tiara  melakukan semua ini."


"Ayah berharap kau melakukan hal yang baik kali ini untuk membalas budi orang tua Livia. Kau sudah tahu siapa orang-orang jahat itu ? Dari mana kau mengetahuinya, ayah sama sekali tidak memberitahumu." Jelas papa Tiara (Pak Rahmad).


"Aku mencari tahunya sendiri. Orang itu adalah orang tua dari Jimmy, Hanna dan Yeni. Benar'kan ? Mereka yang sudah membuat rencana pembunuhan orang tua Livia juga meneror ayah sampai sekarang ?" Ujar Tiara berdiri disamping ayahnya. "Ayah ada disaat mereka semua membagi-bagikan kepemilikan saham. Ayah tidak tahu kenapa bisa keluarga Kurniawan yang memiliki perusahaan tersebut dan mengganti namanya. Tapi, satu hal yang papa masih ingat." Ayah Tiara (Pak Rahmad) menatap sendu ke puterinya, "Dan karena hal yang ayah ingat itu. Kau harus lebih berhati-hati sekarang karena nyawamu mungkin akan lebih terancam dari ayah."


"Apa itu ?" Tanya Papa Tiara (Pak Rahmad)


"Sebelum papa Livia meninggal beliau pernah menulis surat wasiat. Setelah pemberitaan mereka meninggal, seorang pengacara datang menemui ayah dan orang-orang kepercayaan papa Livia yang lainnya. Pengacara tersebut membacakan salah satu isi surat wasiat yang dimana jika seluruh kekayaan Wijaya jatuh kepada Livia. Jika Livia meninggal maka, seluruh kekayaan jatuh pada kami berempat. Ayah, Papa Hanna, Papa Jimmy dan Papa Yeni. Akhirnya, mereka berempat tidak mengajak ayah dalam perbincangan akan pembagian kekayaan Wijaya sehingga yang ayah tahu pembagiannya jatuh kepada keluarga Kurniawan. Lalu, disaat sekarang kau tiba-tiba mengaku sebagai ahli waris palsu keluarga Wijaya yang masih hidup maka, mereka semua (Papa Hanna, Papa Jimmy dan papa Yeni) akan menghancurkanmu dari muka bumi ini atau...." Ucapan Tiara terhenti.


Ayah Tiara (Pak Rahmad) terduduk diatas kasur sambil memegang foto ia dan teman-temannya dulu, "Atau apa ayah ?" Tiara duduk disampingnya.


*****


Jimmy datang lebih awal ke kantornya, dari kemarin dia sudah menyuruh agar Livia berkerja di ruangannya kembali. Baru ia turun dari mobil, sudah disambut oleh beberapa wartawan.


"Bagaimana pendapat anda mengenai mantan kekasih anda mengaku sebagai pewaris terakhir Perusahaan Wijaya ?" Tanya seorang wartawan paruh baya.


"Apakah anda sudah tahu sejak lama akan hal ini ?" Tanya Wartawan wanita lainnya ikut bertanya.


Jimmy merasa risih tanpa menjawab pertanyaan mereka ia langsung masuk ke kantornya yang sudah disambut oleh Ibu Jasmine, "Maaf pak, mereka sudah ada sejak kemarin. Perlukah staff PR (Public Relation) yang mengurusinya ?"


"Biarkan saja lama-lama mereka juga akan lelah. Livia sudah datang ?" Tanya Jimmy pada sekertarisnya.


"Sudah pak dan orang tua bapak juga sudah tiba." Jawab sekertaris Jimmy, Bu Jasmine. Mereka masuk dalam lift menuju lantai paling atas. Begitu tiba di lantai atas, Jimmy melihat Livia bersama dengan kedua orang tuanya. "Apa yang papa dan mama lakkan disini ?"


Pak David (papa Jimmy) berdiri, "Kita harus membicarakan hal penting mengenai masalah Tiara."


"Livia juga ?" Tanya Jimmy memastikan.


"Tentu saja." Ujar mama Jimmy yang menarik  Livia masuk kedalam ruangan.


Jimmy berbalik menatap Bu Jasmine, seakan mengetahui seketarisnya telah berbicara, "Saya akan cancel meeting hari ini."


"Bagus." Jimmy masuk ke dalam. Tak lama dua orang OB (Office Boy) masuk mengantarkan makanan dan minuman, setelah selesai mereka pun pergi. "Apa yang papa dan mama mau bicarakan ? Mengenai masalah Tiara itu ?"


"Tentu saja. Papa dan mama tahu bahwa Livia adalah pewaris sesungguhnya." Ujar Jimmy. Livia hanya terdiam.


Ya.


Memang orang tua Jimmy adalah salah satu orang kepercayaan orang tuanya. Livia tidak mengetahui siapa orang kepercayaan papanya yang lain.


Maka dari itu, ia dan Jimmy begitu akrab sejak kecil.


"Lalu, apa yang papa dan mama mau lakukan sekarang ?" Tanya Jimmy pada orang tuanya.


Orang tua Livia menatap dua pasangan muda itu, "Papa tidak jadi mengangkat Livia sebagai anak angkat papa dan mama."


Livia dan Jimmy membulatkan matanya lalu saling memandang sekilas, "Sugguh ?"


****


Tiara masih tidak menyangka akan hal yang baru saja ia ketahui dari ayahnya semalam. Kalimat ayahnya itu sangat menghantui pikirannya.


"Atau mereka akan menikahkan putera mereka ke Livia agar seluruh harta bisa jatuh ke tangan Livia dan mereka akan membunuh Livia agar mendapatkan harta itu seutuhnya."


Aku harus melakukan sesuatu..


Tapi apa...


Apa yang harus dilakukannya sekarang..


Pikir..


Ayolah Tiara berpikir..


Wanita itu tidak boleh salah langkah.


Jika tidak, maka semuanya akan berantakan.


Bahkan bisa merugikan dirinya sendiri.


Aduh, tapi apa yang harus dia lakukan sekarang ?


Pak David (Papa Jimmy) sudah ada di penjara. Sekarang apa yang harus dia lakukan pada teman-teman nya yang lain, Papa yeni dan Papa hanna.


Apa yang harus Tiara lakukan pada mereka ?


Sebenarnya dibanding ketiga teman ayahnya (Pak Rahmad), hanya Pak David (Papa Jimmy) yang paling berbuat banyak dosa.


Kedua orang lainnya hanya mengambil sebagian harta keluarga Wijaya itu pun juga tidak banyak karena sebagian besarnya sudah diambil oleh keluarga Jimmy.


Namun, tidak ada salahnya juga.


Lagi pula Yeni juga suka sekali mencari gara-gara dengannya.


Tidak ada salahnya jika, Tiara sedikit memberikan 'hadiah' pada mereka.


Tapi apa ya...


Aduh, kenapa tidak ada ide satu pun sih ?


*****


"Ya. Tapi, kami berdua telah sepakat." Ucap Papa Jimmy menatap isterinya lalu memandang dua anak muda yang berada didepannya, "Kami akan menikahkan kalian."


"Apa ??"  teriak Livia dan Jimmy yang kompak berteriak bersamaan.


Menikah ?


Yang benar saja.


Mereka sedang tidak bercanda 'kan ?


Dulu meminta gadis itu untuk menjadi adik angkatnya.


Dan sekarang...


Malah disuruh menikah.


~To Be Continue~