Our Love

Our Love
Part 48



"Iya sih, lagipula aku juga penasaran siapa yang menculikku beberapa waktu yang lalu." Ucapan Livia membuat Hanna dan Yeni terdiam. Mereka sungguh tak ingin mengungkit masalah seperti itu. Sudah cukup kelakuan orang tua mereka terhadap keluarga Livia beberapa puluh tahun yang lalu. Dan mereka hanya bisa berharap agar Livia tidak mengetahui sama sekali mengenai hal itu. Biarkan itu terkubur sangat dalam.


Akan tetapi, bukankah ada pepatah sepandai-pandainya menyimpan bangkai akan tercium juga bau nya suatu hari nanti. Ya. Entah kapan suatu hari nanti yang jelas, Livia pasti akan mengetahui semua kebenaran ini. Saat waktu itu tiba, entah mereka harus bersiap jika Livia akan membenci mereka seumur hidupnya.


Esok harinya, mereka (Kecuali Hanna) berkumpul di kost-an Livia dan Nia baru setelah itu pergi dengan mobil Yeni. Sepanjang perjalanan di dalam mobil tak ada satupun suara. Mereka terlalu sibuk akan ponsel masing-masing. "Bentar lagi kita akan sampai." Ujar Yeni mengalihkan pembicaraan, "Makan dulu ya baru ke mall nanti."


"Oke. Ga masalah. Lagian sudah lama kita tak kumpul-kumpul lagi. Ya, walau tiap hari ketemu ama Yeni, Nia dan Hanna sih. Kan jarang ketemu ama Livia dan Narul." Jelas Ai Chan.


"Kalau di mall kita mampir ya ke satu toko, aku mau beli beberapa peralatan rumah tangga." Ujar Narul.


"Kau uda kayak emak-emak tahu, Rul. Pakai acara mau beli barang-barang begituan." Kata Nia yang sibuk bermain ponsel.


Livia yang duduk disamping Narul pun celetuk, "Bentar lagi kan emang uda mau jadi emak-emak, Nia."


"Oh iya ya ? Undangannya mana nih ? Kita sudah nunggguin loh." Yeni ikut menimpali.


"Eh, jangan salah loh. Ntar tiba-tiba Livia yang akan kawin duluan dibanding aku. Entah ama Robert atau Jimmy."


Livia hanya bisa tersenyum pasrah. Jika ia sudah menyindir salah seorang dari mereka pasti akan berbalik padanya juga. "Astaga kalian ini, itu masih lama banget."


"Aku lebih setuju kau sama Robert dibandingkan dengan CEO ajaib itu." Yeni membuka pintu mobil menandakan mereka telah tiba di tujuan.


"Wajahnya itu wajah playboy banget."


"Masa ? Lagipula juga tak mungkin sama dia juga. Sebentar lagi aku diangkat jadi anak angkat mereka."


Ai Chan yang berjalan di depan mereka berhenti dan berbalik, "Jadi, kalau kau tidak diangkat jadi anak angkat, kau mau dengan Jimmy ?"


"Ya tidak lah. Jangan ngaco. Ash, kenapa jadi bahas aku sih ? Bukankah kita kesini mau jalan-jalan ?" Livia mulai risih.


"Justru karena kita penasaran. Lagian kau juga jika tidak ditanya maka tidak akan mau cerita juga." Ucapan Nia membuat Livia terdiam. Ya memang benar adanya.


Mereka semua memang paling bisa membuat Livia tidak berkutik. Misal, ada lomba debat mungkin teman-temannya ini akan menang. Itulah salah satu penyebab Livia sangat pendiam. Ia takkan mampu. Ah tidak, tidak akan pernah bisa melawan teman-temannya dalam hal berbebat. Ia selalu kalah.


Walau begitu, ia sangat bersyukur mempunyai teman-teman seperti mereka. Dan akan selalu ia ingat sampai akhir hidupnya. Satu yang Livia harapkan dari mereka, jangan sembunyikan sebuah rahasia apapun darinya. Kau tahu, ada rasa dimana kau percaya penuh pada teman-teman terdekatmu lalu suatu ketika ternyata mereka menyembunyikan 1 rahasia besar yang akan berpengaruh terhadap hidupmu selama ini. Pasti akan merasa kecewa bukan ?


Sekalipun mereka berkata berbohong demi kebaikan kita. Ingat, Tidak ada yang namanya berbohong demi kebaikan. Sekali berbohong tetaplah berbohong. Livia akan lebih menghargai mereka jujur walau akan membuatnya sakit hati akan kejujuran itu. Bukankah semua orang punya pendapat tersendiri mengenai 'Berbohong demi kebaikan' ?


-To be Continue-