Our Love

Our Love
Part 24



Jimmy menarik tangan Livia, "Ini kopi buatanmu sendiri kenapa tidak kau coba ? Jika aku merasa keasinan maka kau juga harus merasakan hal yang sama." Jimmy memaksa Livia untuk meminum kopi asin itu hingga gadis itu memuntahkannya diatas lantai. "Bagaimana ? enak kan ?"


"Bapak sudah gila ?"


"Itu kalimatku Livia. Siapa suruh membuatkan ku kopi pakai garam." Saat Livia berbalik gadis itu terpeleset, Jimmy yang berniat menariknya ikut terpeleset hingga mereka terjatuh ke lantai dalam posisi Livia berada diatas Jimmy dan....


menciumnya.


Dengan segera Livia langsung berdiri. "M..maaf pak saya tidak sengaja."


Jimmy berdehem sejenak, "Kau suruh Joko datang untuk mengepel lantai."


"B..baik pak." Gadis itu keluar. Jimmy hanya tersenyum sambil memegang bibirnya. Di luar ruangan, Livia memukul kepalanya sendiri.


*Dasar bodoh.. bodoh..


Kenapa aku bisa menciumnya ?


Ash.. aku pasti sudah gila..


Mau ditaruh dimana coba mukaku ?


Ash...*


"Mba Livia, ada yang bisa saya bantu ?" Tanya Joko membuat Livia tak sadar ia sudah di pantry.


"Ehm.. Pak Jimmy menyuruh anda mengepel lantai karena kopi yang tadi saya bawakan tumpah."


"Baik mba." Livia langsung kembali ke ruangan itu disusul Joko di belakangnya.


"Permisi pak." Joko mulai mengepel lantai sementara Livia bersiap untuk berkerja.


"Ya. Silakan."


Bu Jasmine mengetok pintu setelah mendapatkan jawaban beliau masuk, "Rapatnya akan segera dimulai pak." Joko pun selesai mengepel dan pamit keluar.


Jimmy berdiri menatap Livia, "Kau jaga ruangan ini jangan biarkan orang lain masuk. Kalau ada yang minta tanda tangan suruh mereka tunggu di luar."


"Berapa lama bapak meeting ? Maksud saya, kalau saya tiba-tiba mau ke toilet kan ruangan sini tidak ada yang menjaganya."


"Kau bisa pakai toilet di kamar itu. Ingat, pintu ini dikunci dulu sebelum kau ke toilet."


"Baik pak." Mereka pergi meninggalkan Livia sendiri.


Livia kembali berkerja selama 5 menit, lalu ia mengunci pintu ruangan tersebut dan menuju meja Jimmy untuk mencari sesuatu. Setiap laci di meja Jimmy ia bongkar untuk mencari hal yang selama ini membuatnya penasaran. Bahkan paman dan bibinya pun tak mau menjawab ketika gadis itu bertanya pada mereka. Ketika tidak dapat menemukan dokumen itu Livia mencari ke seluruh penjuru ruangan.


Di ruang meeting, Jimmy tidak fokus mendengarkan karyawannya presentasi. Mata hitamnya menatap layar ponselnya melihat Livia mengunci pintu dan mengobrak abrik seluruh ruangannya.


Tentulah ia tak bodoh membiarkan Livia sendirian. Dari dulu memang sudah ada CCTV di ruangan itu, awalnya ia bingung dan merasa aneh kenapa papa nya memasang CCTV di ruangan kerjanya sendiri. Dan sekarang, hal itu berguna juga.


Apa yang dia cari ?


10 menit berlalu, Livia tampak membuka kunci pintu dan terduduk di mejanya tampak frustasi.


Sepertinya barang yang ia cari tidak ada. Tapi apa ??


Jika ia bertanya langsung mana mau gadis itu menjawabnya. "Pak Jimmy...Pak..." Bu Jasmine memegang bahu atasannya yang dari tadi sibuk menatap ponselnya dan melamun. Dengan segera Jimmy memasukkan ponselnya ke kantong baju untuk kembali fokus meeting.


Livia merasa frustasi dengan hal yang ia cari namun tak ditemukan disini.


Apa mungkin di rumah mereka ?


Mata Livia menatap ke sekeliling dari atas hingga bawah untuk memastikan bahwa semuanya sudah dia cari. Matanya membulat menatap adanya CCTV di ruangan ini...


Sial...


Ia tidak menyangka bahwa akan ada CCTV disana.


Apakah pria itu melihat apa yang dia lakukan dari CCTV ??


Ahh.. sudahlah.. lebih baik ia kembali berkerja saja. Kalau dia melihat dan bertanya Livia mungkin akan menjawab dengan jujur.


1 Jam berlalu, Jimmy masuk ke ruangannya mendapati Livia tengah fokus akan perkerjaannya. Pria itu mendekat melihat bagaimana hasil editan video calon adik angkatnya itu, "Sudah selesai ?"


Liva terkejutkan Jimmy yang sangat dekat dengannya, "Ash.. Bapak bikin kaget saja. Beri saya 30 menit lagi ya pak."


"Oke." Jimmy menuju mejanya.


Sepertinya pria itu tidak melihat CCTV. Syukurlah...


Di Perusahaan Kusuma...


Resepsionis menatap sinis kepada Tiara yang baru datang. Walaupun wanita itu sudah dimaafkan namun, mereka sangat tidak suka padanya. "Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu ?" Ucapnya tersenyum. Walau tak suka, resepsionis harus bersikap profesional.


"Saya ingin menemui CEO disini."


"Maaf, sudah membuat janji sebelumnya ?"


"Maaf, kami tidak bisa mempersilakan orang asing masuk tanpa membuat janji terlebih dahulu."


"Saya bukan orang asing. Sebentar lagi saya akan menjadi istrinya dan kalian berdua akan saya pecat."


"Sampai mati pun, aku tidak rela kau mendekati kakakku." Yeni baru saja tiba di kantor bersama bodyguardnya. Ternyata, info yang dia dapatkan dari Livia tidaklah main-main. Semua karyawan yang baru saja datang terdiam mendapatkan tontonan baru.


"Selamat pagi Bu Yeni." Ucap kedua resepsionis.


"Kau sudah putus dengan Jimmy Alexander Kurniawan sang CEO Sapphire Blue Corp dan sekarang mau mengincar kakakku." Yeni tertawa sinis. "Jangan berharap. Lagi pula aku yakin semua karyawan disini juga ogah punyai direktur sepertimu."


Tiara menahan amarahnya. Sial. Ia harus merendahkan dirinya dan rela dipermalukan asalkan ia bisa mendapatkan kakak Yeni


Awas saja jika aku mendapatkan kakakmu maka kau yang akan aku hancurkan.


"Jangan bersikap seperti itu pada calon kakak iparmu." Tiara mencoba tersenyum.


"Cih."


Nia, Hanna dan Ai Chan baru saja tiba di kantor. Tiara berjalan menghampiri mereka bertiga dengan masih memakai tongkat kruknya, "Kalian ini bisa-bisanya telat. Lihat lah boss kalian ini sudah tiba dari tadi."


Yeni hanya tertawa merendahkan, ia berjalan menghampirinya, "Kenapa kau sekarang bersikap seakan-akan kau yang punya perusahaan ?"


"Mereka itu karyawan yang telat. Dimana-mana karyawan yang datang terlebih dahulu dari pada bossnya."Tiara memandang rendah ketiga teman Yeni, "ini malah terbalik."


Semua karyawan lama hanya tersenyum, mereka sudah tahu jika Yeni dan 3 temannya selalu bersama kemana pun mereka pergi. Yeni kembali tertawa sambil menggelengkan kepala, "Mereka tadi datang bersamaku."


Hanna ikut tertawa, "Makanya jangan sok ya seakan-akan yang punya perusahaan ini. Jika saya menjadi anda sih maka, saya akan malu sekali."


Yeni tersenyum menepuk pundak Tiara "Kakakku berada di belahan dunia lain." Yeni berjalan merangkul Nia, "Nah, dia lah yang akan aku relakan menjadi kakak iparku dari pada kau." Semua orang menatap kaget akan pernyataan Yeni.


Malam sebelumnya, Yeni melakukan skype pada kakaknya di depan kedua orang tuanya. "Hai kak Raka."


'Yeni sayang.. kakak sangat merindukanmu juga papa dan mama. Bagaimana kabar kalian ?'


"Kami semua baik-baik saja. Gimana kabarmu ?" Tanya papa Yeni dan Raka.


Raka tersenyum, "Baik juga pa. Baru juga sampai di Kananda."


"Oh iya, mumpung ada papa, mama dan kak Raka. Ada yang mau aku ceritakan."


"Apa itu sayang ?" Mama Yeni mulai penasaran.


"Kalian tahu soal Tiara yang sempat mengamuk di kantor Jimmy Alexander Kurniawan dan kantor kita beberapa hari yang lalu."


"Iya papa tahu, memangnya kenapa ?"


"Tadi sore Livia memberikan ku info kalau Tiara dan Jimmy sudah putus."


"Apa hubungannya sama kita ?"


"Ihh, jangan potong dulu ucapanku, Ma. Jadi, karena sudah putus Tiara mengatakan kalau ia akan mencari pengganti yang jauh lebih baik dari Jimmy. Dan kalian tahu siapa ? Itu adalah kak Raka."


"Apa !!" Ucap mereka bertiga.


"Mama tak mau punya menantu seperti itu."


Raka merinding, "Ihhh.. kenapa harus kakak coba sasarannya ? Ogah.. Untung kakak tak berada di Jakarta sekarang."


"Bagaimana jika aku memberitahu kalau kakak ada kekasih jika wanita itu datang ke kantor kita lagi ?"


"Siapa Yeni ? Awas ya kalau yang jelek. Kakak tidak suka."


"Kalau Nia bagaimana, kak ?"


"Nia teman kamu ?" Papa Yeni menatapnya bingung.


"Iya pa. Nia yang kalian kenal, teman 1 geng aku."


"Kenapa harus dia ?" Mama Yeni bersuara.


Yeni tersenyum menatap kakaknya, "Bukankah kakak memang dari dulu suka padanya ? dari aku awal kuliah sampai sekarang. Karena kakak suka kan sama Nia ?"


Mama Yeni tersenyum, "Oh karena itu. Pantas saja. Mama restui lah kalau begitu dari pada Tiara. ihhh.."


"Papa juga setuju. Lagi pula, Nia juga anak yang baik kok."


Wajah Raka memerah, "Terserah lah kau atur."


Dan sekarang Yeni tersenyum menatap Tiara yang kaget mendengar ucapannya. Untungnya tadi pagi sebelum ke kantor ia sudah memberitahukan rencananya. Tapi, tidak dengan fakta kakak Yeni yang menyukai Nia. Biar itu jadi urusan mereka. Nia hanya tersenyum, "Pacaran aja belum, Yen." Ia mulai berakting.


"Kalian cocok tahu, Nia. Dari pada yang onoh." Ai Chan melirik sinis ke Tiara.


-To Be Continue-