
Tubuh Livia bergetar, "Tidak.. Aku bukan pembunuh..."
"Mana ada maling ngaku. Yang ada penjara penuh. Aku tak menyangka di kantor kita ada seorang pembunuh yang masih bebas berkeliaran selama ini."
"Aku bukan pembunuh !!!"
"Apa-apaan ini !!!" Bu Sarah baru saja datang bersama orang tua Jimmy, Papa Yeni dan Hanna.
Mama Jimmy berlari menghampiri Livia, "Ya ampun. Kenapa Livia jadi seperti ini ?"
"Tante, dia sudah menuduh Livia sebagai pembunuh orang tuanya sendiri." Robert menatap tajam ke Rini.
"Benarkah itu Rini ?" Bu Sarah memastikan.
"Bu, di berita kini tengah mempertanyakan apakah Livia adalah ahli waris perusahaan Wijaya atau bukan. Saya tidak salah donk bu."
Papa Jimmy, Yeni dan Hanna saling memandang. "Ma, Papa dan yang lain mau meeting dulu di ruangan Jimmy. Kau temani saja Livia dulu."
"Iya Pa." Jawab mama Jimmy. "Kamu.. Jangan sekali-kali menuduh sesuatu yang belum tentu ada buktinya. Saya tidak suka ya.. ada karyawan yang tukang fitnah seperti anda. Robert, kau bawa Livia ke ruanganmu nanti tante nyusul."
"Baik tante." Robert membawa Livia pergi.
"Tante ini siapa sih ? Kami yang karyawan sini pun tak mau punya rekan kerja pembunuh seperti Livia." Balas Rini.
"Rini, jaga ucapanmu !!!" Bu Sarah memperingatkan.
"Memang kenapa sih bu ? Kenapa ibu Sarah jadi membelanya ?"
"Tidak ada yang membela Livia. Coba kau berada di posisi Livia, disaat kecil kau melihat orang tuamu sendiri meninggal tepat di depanmu. Lalu, semua orang menuduhnya sebagai pembunuh. Apakah kau tidak sedih melihatnya seperti itu !!!!" Mama Jimmy menatap tajam ke arahnya.
"Kalau saya di posisi Livia. Maka, saya akan bunuh diri."
Mama Jimmy tersenyum merendahkan, "Ibu mu mengandungmu selama 9 bulan, orang tuamu bersusah payah membiayaimu dan membesarkanmu seperti sekarang. Lalu, kau membalas semua kebaikan mereka dengan cara bunuh diri ?? Kalau aku punya anak sepertimu dari pada sia-sia aku besarkan lalu dia bunuh diri lebih baik aku gugurkan dia sejak dia dalam kandungan. Karena aku ingin melihat anakku sukses bukannya menghabisi nyawanya sendiri seakan tak menghargai apa yang selama ini orang tuanya lakukan."
Rini terdiam.
"Kalau kau tak mau berkerja disini, lebih baik dipecat saja. Saya tidak mau karyawan saya jadi orang yang suka menuduh tanpa ada buktinya atau kau memang orang yang tak bisa cari terlebih dahulu apakah berita tersebut benar atau tidak. Mba, jangan suka makan berita HOAX jaman sekarang. Pintarlah cari dulu kebenaran berita tersebut ya..Percuma anda kerja disini tapi..." Mama Jimmy menunjuk kepalanya, lebih tepatnya ke arah otak. "Ini-nya dipakai Mba. Bukan mulut mba." Mama Jimmy pergi.
Bu Sarah menggeleng pelan, "kamu masuk ke dalam."
Rini menuruti ucapan Bu Sarah lalu masuk ke dalam ruangan dimana karyawan devisi tersebut berkumpul. "Saya akan berikan kamu SP (Surat Peringatan) 3 atas kejadian hari ini."
"Tapi bu..."
"Kamu tadi pagi sudah membuat saya diomelin Pak Jimmy dan tadi kamu mempermalukan saya di hadapan Client besar perusahaan ini. Kau tahu siapa wanita yang membela Livia tadi ?" Rini menggeleng. "Astaga, kamu sudah berkerja disini selama 3 tahun masih tidak tahu ? Saya tidak mau tahu ya, kalau sampai kejadian seperti ini kamu akan saya pecat." Bu Sarah masuk ke ruangannya.
"Duh.. Rini, wanita paruh baya tadi adalah istri dari pemilik perusahaan ini gimana sih.." Dani menghampirinya.
"Argh..Livia !! Awas saja dia !!"
"Tapi, memang benar ya Livia pewaris perusahaan Wijaya yang masih hidup ?" Tanya karyawan yang lain.
"Memangnya kau tak lihat tadi reaksinya yang bilang dia bukan pembunuh. Dia itu kayak trauma sekali. Bukankah sudah jelas memang benar berita yang tersebar itu. Tapi kan, kau juga sih salah Rini. Beberapa tahun lalu kan, kepolisian sudah bilang kalau itu adalah kasus yang murni kecelakaan karena rem mobil rusak. Bukan salah Livia-lah." Ujar Karyawan yang lainnya.
"Kalau memang benar berita itu wajar lah teman-temannya anak perusahaan terkenal semua." Dani ikut berkomentar. "Lebih baik kau minta maaf lah padanya. Kau yang salah di situasi ini." Rini hanya terdiam.
******
"Siapa yang menyebarkan berita itu ? Kita kan sudah menutup identitasnya setelah sekian lama." Papa Yeni menatap bingung kedua temannya.
"Anak-anak kita tidak mungkin melakukan hal itu juga orang itu sudah aku pecat sejak lama." Ujar Papa Jimmy.
"Mungkinkah Tiara ?" Ucapan Papa Hanna membuat kedua temannya saling memandang.
"Wanita itu belum kalian habisi juga ?" Papa Jimmy memandang kedua temannya.
"Masalah itu nanti saja, sekarang pikirkan bagaimana kau akan memberikan respon atas pemberitaan itu." (Papa Hanna)
"Bukankah Ai Chan yang merupakan teman anak kalian punya koneksi dengan media. Suruh saja dia untuk menutup pemberitaan itu atau paling tidak munculkan pemberitaan baru untuk menutupinya." Papa Jimmy memberikan saran.
"Aku rasa Yeni akan mengurus hal itu. Mengingat setiap ada hal yang merugikan teman-temannya maka ia akan langsung turun tangan." Ujar Papa Yeni sambil minum. "Lebih baik kita pikirkan bagaimana tanggapan perusahaanmu akan hal itu. Walaupun berita itu dihilangkan dan digantikan dengan berita lain tapi pasti orang-orang tidak akan melupakannya begitu saja."
"Kau lihat tadi ? Livia seperti trauma karena dituduh sebagai pembunuh." (Papa Jimmy)
"Dari uang itu lah kalian bisa membangun perusahaan kalian hingga seperti sekarang." (Papa Jimmy)
"Sekarang pikirkan saja bagaimana Perusahaanmu harus merespon berita tersebut." (Papa Yeni)
"Aku tidak tahu."
Mama Jimmy masuk ke ruangan tersebut, "Robert membawa Livia keluar sebentar untuk menenangkannya. Lalu, apa yang akan kalian lakukan sekarang ?"
"Menghabisi nyawa Tiara yang kemungkinan besar dia lah yang menyebarkan berita tersebut." Jelas Papa Jimmy.
"Mengenai pemberitaan tersebut ?" (Mama Jimmy)
"Kenapa waktu itu tidak sekalian saja kita bunuh Livia ? Kalau anak itu tidak ada maka kita tak perlu pusing seperti ini." (Papa Hanna)
"Apakah kau sudah gila ?" (Papa Jimmy)
"Aku kan sudah merencanakan agar orang tua Livia meninggal agar terkesan murni kecelakaan mobil biasa. Untuk paman dan bibinya memang aku juga namun secara tak langsung. Tapi kan, kalian semua juga menikmati hasilnya sampai sekarang. Bahkan perusahaan Wijaya pun tidak aku dapatkan. Kalau aku masuk penjara maka aku seret kalian semua." Jelas papa Hanna lalu pergi.
******
"Aku ingin ke psikiater." Livia menatap ke arah luar mobil.
Robert menatapnya bingung, "Kenapa tiba-tiba kau..."
Livia memotong pembicaraannya, "Aku ingin sembuh. Sejak aku kerja disana mulai bermunculan masalah dan berita sehingga hampir semua kau, dan teman-temanku yang mengurusinya." Ia mendesah pelan, "Aku tak ingin terus bergantung pada mereka. Aku ingin coba diterapi agar sembuh."
"Baiklah. Setiap weekend aku juga akan mengajakmu jalan-jalan agar kau bisa refreshing."
"Makasih ya.. kau selalu ada saat aku butuh." Livia tersenyum pada Robert.
Robert memegang rambutnya, "Aku masih sangat mencintaimu. Jadi, aku tak mau kau bersedih dan terus ketakutan akan traumamu itu."
"Semua orang sudah tahu akan berita itu. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa saat di kampus dan kantor nanti."
"Tadi pass aku cek kembali beritanya sudah hilang di semua portal berita online."
"Seharusnya jangan langsung hilang begitu saja, semua orang makin merasa curiga." Livia menelepon Yeni, "Yen.. mau tanya, berita itu kau yang suruh Ai atau Hanna hapus ya ?"
"Iya, kenapa ?"
"Bukannya semua nanti pada curiga kenapa beritanya hilang begitu saja. Ntar muncul masalah baru, Yen."
"Dan kau mau semua orang bertanya-tanya akan kejadian yang menimpa orang tuamu juga kemana perusahaan Wijaya sekarang gitu ?"
"Ya tidak gitu juga, Yen."
"Biarkan saja beritanya hilang. Toh juga yang dikejar-kejar perusahaan Jimmy ini. Kau dimana sekarang ?"
"Mau ke psikiater. Aku mau minta terapi agar bisa terbebas dari trauma itu."
"Oke. Good luck. Uda dulu ya.. masih ada banyak kerjaan nih."
"Bye." Livia mematikan panggilan tersebut. "Nanti kau tinggalkan saja aku di tempat Psikiater itu."
"Tapi..."
"Tak apa. Pasti akan lama lagi pula kau juga ada banyak kerjaan."
"Baiklah kalau gitu. Nanti telepon ya jika sudah selesai."
"Oke."
******
Tampak dari kejauhan sebuah mobil hitam mengikuti mobil Robert dari tadi. "Oke. Gadis itu sendirian. Sekarang rencana B." Ujar seorang pria berbaju hitam dan bertubuh besar pada kedua anak buahnya.
"Baik bos." Mereka berdua keluar mengikuti Livia yang masuk ke dalam sebuah gedung. Salah seorang diantara mereka melihat keadaan sekeliling dan seorang lagi pergi entah kemana. Begitu keadaan terlihat sepi pria kurus berbaju hitam mengeluarkan rokok dan menghisapnya. Asap yang keluat dari rokok tersebut otomatis membuat alarm kebarakan berbunyi membuat semua orang berlarian keluar. Livia yang mencoba untuk keluar langsung dipukul dari belakang hingga pingsan oleh anak buah pria bertubuh besar dan membawanya ke dalam mobil yang tadi mereka naiki yang tengah parkir di pintu belakang
"Bagus. Sekarang kita harus kembali ke tempat persembunyian lalu menukar gadis ini dengan wanita bernama Tiara itu."
-To Be Continue-